Title: The Unspoken
Author: DEADBORN
Rating: PG13
Genre: Sad romance
Chapter: One shot
Finishing: March 2013
***
Satu tahun sudah berlalu. Ingatkah kamu?
Kamu yang pendiam. Tapi aku tahu, selalu ada yang berbeda dari mata itu jika kita saling bertatapan. Aku yang egois, yang tak pernah paham inginmu.
Aku tahu, aku pun rasa.
Dalam bungkammu, justru kamu berbicara banyak. Pengharapan yang kamu miliki, cinta yang kamu rawat dalam kesendirian.
Aku paham. Kamu selalu hadir, setiap kali aku rindu. Didalam mimpi atau disudut kafe kecil tempat kita pertama kali berjumpa. Kamu selalu ada disana. menemani dalam diam. Hingga suatu hari, kusimpan bayanganmu untuk kubawa pulang. Bukan inginku, namun egoisku.
Salahkah?
Tak ada seorangpun yang perlu tahu.
Bagaimana kamu menangis, bagaimana kamu tersenyum, hanya dengan kelakuan bodohku. Maaf. Namun diam-diam, kurekam senyummu. Manis.
Bagaimana bisa kamu mencintai aku yang tak kau kenal? Tapi rasanya, aku seperti bertanya didepan cermin. Ya, bagaimana bisa aku mencintai kamu yang tak pernah kutahu namanya?
Inikah lelucon Semesta? Dua orang yang saling mabuk kepayang, namun tak pernah berani saling mengungkapkan isi hati. Tak pernah berani melangkahi batas yang telah tercipta.
Batas.
Kamu pasti sadar. Kita terhalang oleh satu cermin tipis yang aku maupun kamu tak pernah sekalipun ingin menembusnya.
Kamu membiarkan perasaan itu tumbuh begitu saja dalam sepi dan gelapnya hati. Mungkin memang bukan inginmu untuk merawat rasa itu, tapi rasanya, tanpa kamu sadari, kamu telah menumbuhkan satu perasaan yang tak sanggup lagi kamu hentikan.
Siapapun tak perlu tahu. Aku pun memiliki rasa serupa.
Apa yang lebih ironis dari perasaan yang semakin hari semakin kuat, tapi semuanya terasa salah? Itukah sebabnya kamu memilih untuk tetap mencinta dalam diam?
Rasa yang sedemikian dalam ini perlahan mulai mengambil alih kemudi hati. Ini salah, pikirku. Dan aku tahu kamupun rasa. Sudah saatnya kita menutup tirai dan mengakhiri pertunjukan ini sebelum semua terlambat.
Kini, satu tahun sudah terlewati.
Kamu masih berada disana, didalam mimpiku atau disudut kafe kecil tempat kita biasa berkomunikasi dalam diam. Aku tetap disini, didalam lingkaran tempat aku berdiam tanpa bisa melakukan apapun. Hanya rasa ini yang tetap kujaga baik-baik, sambil memperhatikan kamu yang tersenyum melihat aku yang sedang bermain dengan seorang anak kecil yang memanggilku dengan sebutan ‘papa’.
Kamu beranjak dari kafe kecil itu. Mungkin memang sudah saatnya kamu membiarkan rasa ini layu. Bukan inginku, namun egoisku. Tapi kamu masih bisa tersenyum dalam lara hatimu. Maaf.
Tak pernah ada yang salah. Mungkin memang sudah seharusnya demikian.
Tetaplah bungkam, jangan biarkan siapapun tahu tentang cinta kita yang tak akan pernah bersatu.
[THE END]
No comments:
Post a Comment