Kamu ingat pertama kali aku mengucapkan kata-kata itu
padamu?
Tahun pertama, dengan rasa takut, malu, sekaligus cemas,
kutuliskan kata-kata itu pada selembar kertas buram yang kemudian diam-diam
kuselipkan didalam buku tugas milikmu.
Aku ingat raut wajahmu yang terkejut dan penuh selidik. Seolah
membaca pikiranmu, kupalingkan tatapanku. Tak perlu kamu tahu dari mana aku
tahu.
Tahun kedua, dengan rasa senang sekaligus malu, kembali
kutuliskan kata-kata itu pada selembar kertas putih. Diam-diam kutitipkan pada
teman sebangkumu. Bahkan tanpa perlu diberitahu pengirimnya pun kamu sudah
rasa. Tatapanmu melunak. Kala pertama kamu tersenyum padaku.
Tahun ketiga, tahun keempat dan tahun kelima. Waktu bergulir
begitu saja. Meninggalkan jejak anak-anak, dan kita mulai mendewasa. Sekalipun kukirimkan
terus surat-surat itu setiap tahun, tak sekalipun kamu balas. Aku masih sabar
menunggu.
Kamu boleh mengatakan aku bodoh karena masih bersikeras
menunggu kamu yang kini tengah memiliki kekasih, tetapi kamu tak bisa mematikan
perasaan ini begitu saja. Dan kamu berhasil membunuh aku perlahan dengan
kehadiran kekasihmu.
Aku yang kamu bunuh, bukan perasaan ini.
Tahun keenam, sebuah tanya hadir menghantui benak. Haruskah kukirimkan
lagi surat itu?
Seandainya kamu tahu, hari itu, tak sekalipun aku dapat
melakukan apapun. Aku hanya mampu terdiam, merenenung, menimbang, meskipun aku
tahu kini kamu tak lagi bersamanya. Aku ragu. Haruskah?
Tapi nampaknya, sudah saatnya aku berhenti menanti kamu.
Tak ada lagi surat. Tak ada lagi hari-hari yang kuhabiskan
untuk menunggu kamu yang akhirnya kusadari tak akan pernah singgahi ruang hati.
Aku menangis malam itu. Aku ingin kamu paham betapa berat
melakukan perpisahan yang dilakukan sendirian. Tapi biarlah. Kubiarkan airmataku
meluruh, bersama dengan semua rasa yang pernah kusimpan untukmu selama ini.
Tahun ketujuh. Kamu dan aku kini sudah berjalan dalam
setapak masing-masing. Apakah kamu bahagia? Kuharap iya. Sekalipun nanti jalan
kita saling silang, aku selalu tahu rasa ini tetap ada, tapi tak akan pernah
sama seperti yang pernah aku miliki beberapa tahun lalu.
Selamat ulang tahun untuk kamu dan semua kenangan manis yang
pernah kamu lukiskan dalam ingatanku selama ini. Kudoakan semua kebaikan
untukmu, dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Selalu...
No comments:
Post a Comment