Title: Moon’s Dream
Author: DEADBORN
Rating: PG13
Genre: Fluff, Romance
Chapter: One shot
Finishing: April 2013
***
Hari ini aku mimpi. Ada kamu disana. Kita bicara banyak, akrab, layaknya kawan lama yang kembali bersua. Kita tertawa bersama, dan aku selalu suka caramu tertawa.
Kamu bilang, kamu punya sesuatu untukku. Lalu kamu tulis sebuah puisi pendek. Untuk kamu, katamu sambil tersenyum. Aku merona. Sungguh, bagiku itu sangat manis. Katakanlah aku kelewat romantis, namun sebuah puisi dari kamu pun rasanya cukup untuk membuatku merasa istimewa.
Puisi itu bercerita tentang malam. Tentang bulan yang setia menanti dalam gelap, bertemankan kelipan bintang. Menanti apa? Tanyaku tak paham. Kamu tersenyum. Menanti matahari, jawabmu. Kenapa? Bukankah mereka tidak akan bisa bersua? Aku tak mengerti.
Kata siapa mereka tak bisa bersua? Kamu lihat gerhana matahari? Saat bulan menutupi sinar mentari ke bumi, saat itulah bulan melepas rindunya yang terpendam pada matahari. Lihat, selalu ada buah yang manis dari sebuah penantian. Tak peduli berapa lama bulan menunggu, selalu akan tiba saat baginya untuk dapat bertemu dengan matahari yang selalu ia rindukan.
Begitukah?
Lagi-lagi kamu hanya tersenyum. Aku pun demikian. Terima kasih, puisi ini indah sekali. Kamu hanya mengangguk samar dengan senyum terus terpasang dibibir. Hal terakhir yang mampu kuingat dari mimpi ini karena setelahnya, aku terbangun. Sayang sekali semua hanya mimpi.
Aku tercenung cukup lama. Berusaha mengingat setiap detil yang mampu kurekam dalam ingatanku yang terbatas. Tentang kamu, puisi mengenai bulan dan matahari, juga satu hal yang menggelitik benak.
Penantian. Itukah yang ingin kamu sampaikan padaku? Itukah yang kamu inginkan dariku? Sabarku untuk terus menunggu kamu yang tak kutahu kapan saat akan tiba? Seperti bulan yang selalu sabar menantikan pertemuannya dengan sang surya.
Jika itu inginmu, kenapa tidak? Kamu bilang, selalu ada buah yang manis dari sebuah penantian. Katakan aku naif, tapi kamu tahu aku ada, bukan? Kita sama-sama tahu, suatu saat nanti, akan tiba hari dimana garis kita akan saling bersinggungan atas izin Semesta. Tak ada yang tak mungkin.
Entah sudah berapa kali aku memimpikanmu. Kata orang, jika kita memimpikan seseorang, orang yang kita mimpikan yang merindukan kita. Apakah kamu merindukan aku? Jika iya, kata ‘bahagia’ rasanya kurang cukup untuk menggambarkan perasaanku. Karena rasa yang kusimpan untukmu bukan sekedar picisan sederhana. Rasa ini begitu rumit, bahkan aku sendiri kurang paham, mengapa Semesta menginginkan aku mencicip sekelumit rasa ini. Indah, namun menyakitkan.
Baiklah. Aku akan menunggu. Seperti puisi yang kamu tulis padaku di mimpi, aku akan setia menanti kamu dalam kelamnya lorong penantian, ditemani kelap-kelip pengharapan diujung sana yang akan menjadi pemanduku untuk berjalan hingga nanti, disisi sana, kita bisa bersisian. Sama seperti mimpi-mimpiku yang seringkali kamu kunjungi.
Mungkin aku memang terlampau polos. Percaya pada mimpi, seperti mereka yang mempercayai ramalan. Mimpi ‘kan hanya bunga tidur, celetuk mereka. Tapi kadang, bukankah itu bisa menjadi suatu pertanda. Bahkan penyemangat untuk terus berjalan sekalipun rintangan menyulitkan langkah.
Jadi, biarkan aku terus menunggu kamu. Biarkan keyakinan ini tertanam dihatiku. Karena aku tahu, kamu pun rasa saat itu akan tiba. Meskipun saat ini, kita hanya dapat bertemu melalui mimpi, itu bukan masalah. Paling tidak, eksistensi yang serupa ilusi itu sudah cukup untuk memecut kaki yang lemah melangkah untuk terus berjalan menggapai tujuan, kamu.
Sekalipun nanti satu kehidupan telah terlewati, aku tak keberatan. Karena mencintaimu memang tak akan pernah cukup untuk satu kehidupan.
[THE END]
No comments:
Post a Comment