Title: Luka
Author: DEADBORN
Rating: PG15
Genre: Angst
Chapter: One shot
Finishing: April 2014
Author: DEADBORN
Rating: PG15
Genre: Angst
Chapter: One shot
Finishing: April 2014
Aku hidup dengan luka. Dulu sekali.
Rasa sakit
itu menjadi kawan. Aku mencandu. Jika sakit adalah obat, maka aku bisa
dipastikan aku sakaw. Ingin.
Kamu
yang menjadi bandarnya. Berulang kali kamu tawarkan candu itu. Rasa sakit yang
kamu sembunyikan dalam bentuk yang tak masuk akal.
Bagaimana mungkin sebuah pertemuan dapat
meredam bara rindu?
Bagaimana mungkin sebuah kalimat
dapat memuaskan dahaga hati?
Bagaimana mungkin sebuah sentuhan
dapat menenangkan jiwa yang gelisah?
Bagaimana mungkin semua
pertemuan, kalimat dan sentuhan itu dapat menjadi racun?
Dan sekarat aku dibuatnya.
Tapi tak sekalipun aku berpikir
untuk berhenti. Kamu adalah bandar yang membuat racun laksana madu. Kamu
membuatku menjadi seorang pecandu. Candu akan sakit yang kamu tawarkan dalam
harapan yang tersirat.
Aku hidup dalam luka. Saat ini.
Sudah
tak terhitung luka yang kamu buat. Sudah tak kuhapal lagi berapa kali kamu
tawarkan rasa sakit yang kamu berikan dalam semunya bahagia.
Tapi
aku belum jera. Aku masih haus. Aku masih ingin. Aku masih candu.
Rasa sakit
itu selalu menyerang bagian paling halus yang kumiliki. Satu demi satu luka
mengoyak tirai-tirai halusnya, hingga tak tersisa apapun lagi selain
sobekan-sobekan kain yang tak berbentuk. Sakit. Sangat sakit.
Kali
ini, aku merasa harus berhenti. Tapi aku harus apa? Aku harus mencari obat lain
untuk mengobati luka-luka hati ini. Bagaimana caranya aku menghilangkan
luka-luka ini?
Pertama,
aku mencoba untuk berhenti menemuimu.
Aku menutup erat-erat kedua
telingaku dari bisik rayumu.
Kubalut tubuhku rapat dari
sentuhan nakalmu.
Tapi aku kalut. Aku sakaw. Hatiku
semakin sakit. Aku harus apa?
Aku tak bisa mengobati sendiri. harus
kukemanakan rasa sakit ini? Apakah jika kupindahkan ketempat lain, sakitnya
juga ikut berpindah?
Satu pemikiran tak masuk akal
merayapi benak. Tapi kenapa tak kucoba?
Maka kutorehkan sebuah sayatan
tipis pada pergelangan tangan kiriku. Aku meringis. Ngilu merambati ulu hati. Kulihat
merah merona pada segurat luka. Titik-titik merah muncul dengan cantik. Aku terpesona.
Kamu cantik, bisikku. Mengalirlah.
Bawalah pergi sakit ini bersama butirmu.
Sekali lagi, kutorehkan sebuah
garis melintang. Sedikit lebih dalam, beberapa mili saja dari garis pertama. Kali
ini bukan titik merah yang muncul melainkan segaris merah pekat merekah. Persis
mawar mekar di taman rumah dulu. Sekali lagi aku terpesona. Bersamaan dengan
ringisan perihku, luka hati terasa tawar.
Aku rasa, aku berhasil mengobati
luka hatiku, dengan luka fisikku.
Aku hidup bersama luka. Hingga nanti.
Kubilang,
aku mencandu dan kamulah bandarnya.
Kamu mengajari aku mencintai
dalam sakit, dengan luka. Kamulah jembatan pertemuanku dengan racun yang dengan
kejamnya merusak bagian terhalus dari diriku. Mengoyak hati, menghancurkan
raga. Tapi kamu tak harus bertanggung-jawab.
Tak perlu lagi aku menemui kamu
untuk mengecap remah pedih.
Aku ingin mengobati luka ini,
dengan caraku sendiri. Dengan mensubtitusinya dengan satu-satunya cara yang aku
tahu, dan aku bisa. Sehingga aku tak perlu lagi sakaw akan rasa sakit. Ya, aku
tahu caranya kini.
Aku menutup luka, dengan luka.
Sehingga aku bisa terus hidup
hingga nanti. Hingga aku cukup lelah untuk akhirnya menyerah dan mati sakaw
akan rinduku pada rasa sakit. Tanpa perlu lagi bertemu denganmu.
Rasa sakit menjadi pengganti
dirimu. Darah ini subtitusi sakit dalam hatiku.
Hidupku bersanding dengan luka. Pada hati yang terbebat,
pada tubuh yang tersayat. Selamanya.
No comments:
Post a Comment