Tuesday, April 23, 2013

Luka



Title: Luka
Author: DEADBORN
Rating: PG15
Genre: Angst
Chapter: One shot
Finishing: April 2014



Aku hidup dengan luka. Dulu sekali.
                Rasa sakit itu menjadi kawan. Aku mencandu. Jika sakit adalah obat, maka aku bisa dipastikan aku sakaw. Ingin.
                Kamu yang menjadi bandarnya. Berulang kali kamu tawarkan candu itu. Rasa sakit yang kamu sembunyikan dalam bentuk yang tak masuk akal.
 Bagaimana mungkin sebuah pertemuan dapat meredam bara rindu?
Bagaimana mungkin sebuah kalimat dapat memuaskan dahaga hati?
Bagaimana mungkin sebuah sentuhan dapat menenangkan jiwa yang gelisah?
Bagaimana mungkin semua pertemuan, kalimat dan sentuhan itu dapat menjadi racun?
Dan sekarat aku dibuatnya.
Tapi tak sekalipun aku berpikir untuk berhenti. Kamu adalah bandar yang membuat racun laksana madu. Kamu membuatku menjadi seorang pecandu. Candu akan sakit yang kamu tawarkan dalam harapan yang tersirat.

Aku hidup dalam luka. Saat ini.
                Sudah tak terhitung luka yang kamu buat. Sudah tak kuhapal lagi berapa kali kamu tawarkan rasa sakit yang kamu berikan dalam semunya bahagia.
                Tapi aku belum jera. Aku masih haus. Aku masih ingin. Aku masih candu.
                Rasa sakit itu selalu menyerang bagian paling halus yang kumiliki. Satu demi satu luka mengoyak tirai-tirai halusnya, hingga tak tersisa apapun lagi selain sobekan-sobekan kain yang tak berbentuk. Sakit. Sangat sakit.
                Kali ini, aku merasa harus berhenti. Tapi aku harus apa? Aku harus mencari obat lain untuk mengobati luka-luka hati ini. Bagaimana caranya aku menghilangkan luka-luka ini?
                Pertama, aku mencoba untuk berhenti menemuimu.
Aku menutup erat-erat kedua telingaku dari bisik rayumu.
Kubalut tubuhku rapat dari sentuhan nakalmu.
Tapi aku kalut. Aku sakaw. Hatiku semakin sakit. Aku harus apa?
Aku tak bisa mengobati sendiri. harus kukemanakan rasa sakit ini? Apakah jika kupindahkan ketempat lain, sakitnya juga ikut berpindah?
Satu pemikiran tak masuk akal merayapi benak. Tapi kenapa tak kucoba?
Maka kutorehkan sebuah sayatan tipis pada pergelangan tangan kiriku. Aku meringis. Ngilu merambati ulu hati. Kulihat merah merona pada segurat luka. Titik-titik merah muncul dengan cantik. Aku terpesona.
Kamu cantik, bisikku. Mengalirlah. Bawalah pergi sakit ini bersama butirmu.
Sekali lagi, kutorehkan sebuah garis melintang. Sedikit lebih dalam, beberapa mili saja dari garis pertama. Kali ini bukan titik merah yang muncul melainkan segaris merah pekat merekah. Persis mawar mekar di taman rumah dulu. Sekali lagi aku terpesona. Bersamaan dengan ringisan perihku, luka hati terasa tawar.
Aku rasa, aku berhasil mengobati luka hatiku, dengan luka fisikku.

Aku hidup bersama luka. Hingga nanti.
                Kubilang, aku mencandu dan kamulah bandarnya.
Kamu mengajari aku mencintai dalam sakit, dengan luka. Kamulah jembatan pertemuanku dengan racun yang dengan kejamnya merusak bagian terhalus dari diriku. Mengoyak hati, menghancurkan raga. Tapi kamu tak harus bertanggung-jawab.
Tak perlu lagi aku menemui kamu untuk mengecap remah pedih.
Aku ingin mengobati luka ini, dengan caraku sendiri. Dengan mensubtitusinya dengan satu-satunya cara yang aku tahu, dan aku bisa. Sehingga aku tak perlu lagi sakaw akan rasa sakit. Ya, aku tahu caranya kini.
Aku menutup luka, dengan luka.
Sehingga aku bisa terus hidup hingga nanti. Hingga aku cukup lelah untuk akhirnya menyerah dan mati sakaw akan rinduku pada rasa sakit. Tanpa perlu lagi bertemu denganmu.
Rasa sakit menjadi pengganti dirimu. Darah ini subtitusi sakit dalam hatiku.

Hidupku bersanding dengan luka. Pada hati yang terbebat, pada tubuh yang tersayat. Selamanya.
               

No comments:

Post a Comment