Title: Pulang
Author: DEADBORN
Rating: PG13
Genre: Romance, Fluff
Chapter: One shot
Finishing: April 2013
Author: DEADBORN
Rating: PG13
Genre: Romance, Fluff
Chapter: One shot
Finishing: April 2013
Sudah lama sekali aku tak melihat dirinya. Mungkin sudah
hampir lima tahun sejak pertemuan kami yang terakhir. Itu pun tak lama. Tapi
tak mengapa, karena pada akhirnya kami bertemu kembali.
Senyum kamu mengembang ketika
akhirnya kamu melihatku. ‘Kamu semakin cantik,’ pujiku tulus. Tak sia-sia
penantian selama tiga jam di airport akibat pesawat yang delay karena masalah
cuaca. Menanti kepulangan dirinya yang akhirnya menyelesaikan studinya di luar
negeri.
‘Terima kasih,’ kulihat semburat
merah jambu menghias pipinya. Astaga, sejak kapan ia menjadi sebegitu
cantiknya?
‘Kamu pasti lelah. Kita langsung
pulang ke rumah, ya?’ ajakku. Tapi kamu menolak.
‘Ayo kita pergi kelaut’ ajakmu. Dan
aku dengan patuh akan mengantarmu meskipun khawatir. Tak apalah, mungkin kamu
bosan terkurung dalam pesawat selama 12 jam.
Diperjalanan, kamu lebih banyak
diam. Aku semakin khawatir. ‘Kamu benar ingin ke pantai?’
‘Iya. Aku kangen pantai di sini,’
jawabmu pendek. Matamu tak fokus. Aku tahu, lagi-lagi kamu mengembara jauh
dalam pikiranmu. Suatu kebiasaan yang tak memiliki penawar. Kapan pun dan
dimana pun, diam-diam kamu akan melandas bersama imajinasimu menuju suatu
tempat didalam kenangan. Mungkin pemandangan di kota ini memicu semua kenangan
yang tak ingin kamu ingat tapi selalu terbayang untuk dikenang. Dan kamu
tinggalkan aku bersama ragamu. Tapi tak mengapa, karena aku paham, kamu pasti
akan selalu pulang.
Kami sampai di pantai. Dalam
sekejap, kamu menjejak kembali ke alam nyata. Kamu buka pintu mobil dengan
penuh semangat. Kamu lepas sepatu, kemudian berlari keluar.
Melihatmu
berlarian dengan kaki telanjang diatas putihnya pasir yang halus. Tak kamu
pedulikan ranting-ranting tajam yang bisa saja melukai kakimu. Kamu memekik,
girang. Seperti anak kecil yang baru melihat laut.
Memandangi
kamu yang berjalan pelan-pelan pada pasir abu-abu yang basah di tepian pantai. Kamu
biarkan ombak kecil menelan jejak-jejak kakimu. Kamu melangkah pelan sekali,
seolah tak ingin kehilangan momen dimana ombak-ombak itu menyentuh halus
kulitmu. Padahal kamu tahu, mereka akan selalu kembali.
Kamu
mendesah pelan. Nafasmu dihela.
Kadang
aku bertanya-tanya, apa yang membuatmu begitu menyukai laut? Dulu pun demikian,
sebelum kamu pergi untuk melanjutkan studimu, kamu minta aku untuk
mengantarkanmu ke laut. Jauh sebelum itu pun, jika ada waktu luang, kamu selalu
minta ditemani ke laut. Ketika di luar negeri pun kamu selalu bercerita jika
ada waktu luang, kamu dan beberapa orang temanmu selalu bermain ke laut. Rasanya,
sejak aku mengenal kamu, sepuluh tahun yang lalu, kamu belum begitu tertarik
dengan laut. Tapi ketika suatu hari, tahun ketiga aku mengenalmu, ketika kamu
dirundung lara, hampir habis akalku untuk membuat senyummu kembali bersinar. Akhirnya,
aku coba bawa kamu ke laut untuk menghiburmu. Syukurlah kamu mulai bisa
tersenyum. Jadi, kenapa? Akhirnya kutanyakan juga pada dirinya, tadi.
Kamu tersenyum
sebelum menjawab, ‘karena semua air akan kembali mengalir menuju laut. Laut itu
seperti... rumah.’
Pandanganmu
menerawang jauh, menatap horison yang mulai memerah. Dan kemudian, kamu memekik
girang, ‘lihat, Mas! Mataharinya akan terbenam! Bagus, ya?’ katamu dengan
antusias. Aku paham betul, ini merupakan salah satu bagian favoritmu saat
berada di pantai. Melihat matahari terbenam.
‘Rasanya
tenang sekali berada di pantai, ditepi laut. Merasakan ombak yang menyapu
kulit. Merasakan lembutnya pasir abu-abu, halusnya pasir putih. Aku seperti
berada di rumah. Semua perasaan dan emosi negatif yang kurasakan seperti
mendadak... hilang. Mungkin turut hanyut bersama ombak. Atau mungkin juga ikut
terhela bersama angin. Rumah kan memang seharusnya menjadi tempat yang dapat
menenangkanmu, menjadikanmu merasa aman dan bahagia,’ kamu berbicara dengan
suara pelan. ‘Seringkali aku merasa kangen rumah. Maka aku akan pergi ke laut. Kutemukan
ketenangan, rasa aman dan kebahagiaan yang sama seperti sedang berada di rumah.
Itulah sebabnya aku suka laut, aku bisa menjadi diriku sendiri disana,’ kamu
melanjutkan.
Tubuhmu disini, bersama aku, tapi
pikiranmu mengembara kemana-mana, jauh. Mungkin berada dibalik lembayung senja
yang meluruh bersama dengan datangnya malam. Menjelajahi kenangan yang kamu miliki
tentang rumah. Tentang orang-orang yang dulu sekali pernah menunggu kamu, tapi
kini semua lenyap. Sang Maut belum menginginkanmu. Maka ditinggalkannyalah kamu
sendirian bersama kenangan tentang rumah.
Aku paham itu. Dan aku akan selalu
membiarkanmu mengembara jauh bersama pikiranmu. Tak apa, karena aku tahu kamu
pasti akan pulang. Jadi aku akan menunggumu, disebelah ragamu, sambil ikut
menikmati matahari dipenghabisannya.
Sesaat
setelah matahari menghilang dibalik warna keunguan yang melukisi langit, kamu
pulang. Aku sudah tahu. Kamu genggam tanganku.
‘Terima
kasih, Dimas,’ senyummu mengembang. Aku tertawa kecil. Kugenggam balik
tangannya yang mungil. ‘Terima kasih karena kamu selalu ada untuk menunggu aku
kembali pulang. Meskipun aku pergi jauh, sekalipun aku mengembara dalam waktu
yang lama, tapi kamu tetap menunggu aku. Kamu selalu bisa menjadi alasan aku untuk
kembali. Kamu membebaskan aku, tak seperti orang-orang yang dulu pernah
bersamaku, yang ketakutan jika aku pergi dan tak akan kembali. Mereka tak
mempercayai aku, iya kan? Aku tak suka karena akibat mereka tak mempercayaiku,
justru mereka jadi mengikat aku. Tidak adil rasanya.
‘Tapi kamu selalu tahu, Dimas. Kamu selalu percaya
aku pasti akan pulang. Bersama kamu seperti sedang berada di pantai, tepi laut.
Aku merasa seperti berada di rumah.’
‘Kamu
tak perlu berterima kasih, untuk hal apapun, Inge. Kamu bebas pergi,
mengembara, selama apapun, sejauh apapun. Jangan takut untuk kehilangan arah
untuk pulang, karena kamu tahu persis kemana kamu harus kembali. Pulang ke
rumah,’ kataku.
‘Sekarang
aku sudah memiliki rumah, aku akan pulang. Tak perlu lagi ke laut, karena rumah
itu adalah kamu,’ balas Inge. Senyumnya semakin mengembang. ‘Aku pulang.’
Semesta
menggelap ditemani kerlipan Bintang Selatan yang cemerlang. Malam tiba tepat
waktu. Seperti kepulanganmu ke rumah, yang pasti akan tiba. Tidak peduli
seberapa lama aku harus bersabar menunggu,
sejak sepuluh tahun yang lalu, hingga lima belas, atau lima puluh tahun kemudian
sekalipun, aku tahu kamu pasti akan pulang. Kamu pun tahu persis kemana harus
pulang. Aku percaya itu.
‘Selamat
datang.’
No comments:
Post a Comment