Thursday, April 25, 2013

Pulang



Title: Pulang
Author: DEADBORN
Rating: PG13
Genre: Romance, Fluff
Chapter: One shot
Finishing: April 2013


Sudah lama sekali aku tak melihat dirinya. Mungkin sudah hampir lima tahun sejak pertemuan kami yang terakhir. Itu pun tak lama. Tapi tak mengapa, karena pada akhirnya kami bertemu kembali.
Senyum kamu mengembang ketika akhirnya kamu melihatku. ‘Kamu semakin cantik,’ pujiku tulus. Tak sia-sia penantian selama tiga jam di airport akibat pesawat yang delay karena masalah cuaca. Menanti kepulangan dirinya yang akhirnya menyelesaikan studinya di luar negeri.
‘Terima kasih,’ kulihat semburat merah jambu menghias pipinya. Astaga, sejak kapan ia menjadi sebegitu cantiknya?
‘Kamu pasti lelah. Kita langsung pulang ke rumah, ya?’ ajakku. Tapi kamu menolak.
‘Ayo kita pergi kelaut’ ajakmu. Dan aku dengan patuh akan mengantarmu meskipun khawatir. Tak apalah, mungkin kamu bosan terkurung dalam pesawat selama 12 jam.
Diperjalanan, kamu lebih banyak diam. Aku semakin khawatir. ‘Kamu benar ingin ke pantai?’
‘Iya. Aku kangen pantai di sini,’ jawabmu pendek. Matamu tak fokus. Aku tahu, lagi-lagi kamu mengembara jauh dalam pikiranmu. Suatu kebiasaan yang tak memiliki penawar. Kapan pun dan dimana pun, diam-diam kamu akan melandas bersama imajinasimu menuju suatu tempat didalam kenangan. Mungkin pemandangan di kota ini memicu semua kenangan yang tak ingin kamu ingat tapi selalu terbayang untuk dikenang. Dan kamu tinggalkan aku bersama ragamu. Tapi tak mengapa, karena aku paham, kamu pasti akan selalu pulang.
Kami sampai di pantai. Dalam sekejap, kamu menjejak kembali ke alam nyata. Kamu buka pintu mobil dengan penuh semangat. Kamu lepas sepatu, kemudian berlari keluar.
                Melihatmu berlarian dengan kaki telanjang diatas putihnya pasir yang halus. Tak kamu pedulikan ranting-ranting tajam yang bisa saja melukai kakimu. Kamu memekik, girang. Seperti anak kecil yang baru melihat laut.
                Memandangi kamu yang berjalan pelan-pelan pada pasir abu-abu yang basah di tepian pantai. Kamu biarkan ombak kecil menelan jejak-jejak kakimu. Kamu melangkah pelan sekali, seolah tak ingin kehilangan momen dimana ombak-ombak itu menyentuh halus kulitmu. Padahal kamu tahu, mereka akan selalu kembali.
                Kamu mendesah pelan. Nafasmu dihela.
                Kadang aku bertanya-tanya, apa yang membuatmu begitu menyukai laut? Dulu pun demikian, sebelum kamu pergi untuk melanjutkan studimu, kamu minta aku untuk mengantarkanmu ke laut. Jauh sebelum itu pun, jika ada waktu luang, kamu selalu minta ditemani ke laut. Ketika di luar negeri pun kamu selalu bercerita jika ada waktu luang, kamu dan beberapa orang temanmu selalu bermain ke laut. Rasanya, sejak aku mengenal kamu, sepuluh tahun yang lalu, kamu belum begitu tertarik dengan laut. Tapi ketika suatu hari, tahun ketiga aku mengenalmu, ketika kamu dirundung lara, hampir habis akalku untuk membuat senyummu kembali bersinar. Akhirnya, aku coba bawa kamu ke laut untuk menghiburmu. Syukurlah kamu mulai bisa tersenyum. Jadi, kenapa? Akhirnya kutanyakan juga pada dirinya, tadi.
                Kamu tersenyum sebelum menjawab, ‘karena semua air akan kembali mengalir menuju laut. Laut itu seperti... rumah.’
                Pandanganmu menerawang jauh, menatap horison yang mulai memerah. Dan kemudian, kamu memekik girang, ‘lihat, Mas! Mataharinya akan terbenam! Bagus, ya?’ katamu dengan antusias. Aku paham betul, ini merupakan salah satu bagian favoritmu saat berada di pantai. Melihat matahari terbenam.
                ‘Rasanya tenang sekali berada di pantai, ditepi laut. Merasakan ombak yang menyapu kulit. Merasakan lembutnya pasir abu-abu, halusnya pasir putih. Aku seperti berada di rumah. Semua perasaan dan emosi negatif yang kurasakan seperti mendadak... hilang. Mungkin turut hanyut bersama ombak. Atau mungkin juga ikut terhela bersama angin. Rumah kan memang seharusnya menjadi tempat yang dapat menenangkanmu, menjadikanmu merasa aman dan bahagia,’ kamu berbicara dengan suara pelan. ‘Seringkali aku merasa kangen rumah. Maka aku akan pergi ke laut. Kutemukan ketenangan, rasa aman dan kebahagiaan yang sama seperti sedang berada di rumah. Itulah sebabnya aku suka laut, aku bisa menjadi diriku sendiri disana,’ kamu melanjutkan.
Tubuhmu disini, bersama aku, tapi pikiranmu mengembara kemana-mana, jauh. Mungkin berada dibalik lembayung senja yang meluruh bersama dengan datangnya malam. Menjelajahi kenangan yang kamu miliki tentang rumah. Tentang orang-orang yang dulu sekali pernah menunggu kamu, tapi kini semua lenyap. Sang Maut belum menginginkanmu. Maka ditinggalkannyalah kamu sendirian bersama kenangan tentang rumah.
 Aku paham itu. Dan aku akan selalu membiarkanmu mengembara jauh bersama pikiranmu. Tak apa, karena aku tahu kamu pasti akan pulang. Jadi aku akan menunggumu, disebelah ragamu, sambil ikut menikmati matahari dipenghabisannya.
                Sesaat setelah matahari menghilang dibalik warna keunguan yang melukisi langit, kamu pulang. Aku sudah tahu. Kamu genggam tanganku.
                ‘Terima kasih, Dimas,’ senyummu mengembang. Aku tertawa kecil. Kugenggam balik tangannya yang mungil. ‘Terima kasih karena kamu selalu ada untuk menunggu aku kembali pulang. Meskipun aku pergi jauh, sekalipun aku mengembara dalam waktu yang lama, tapi kamu tetap menunggu aku. Kamu selalu bisa menjadi alasan aku untuk kembali. Kamu membebaskan aku, tak seperti orang-orang yang dulu pernah bersamaku, yang ketakutan jika aku pergi dan tak akan kembali. Mereka tak mempercayai aku, iya kan? Aku tak suka karena akibat mereka tak mempercayaiku, justru mereka jadi mengikat aku. Tidak adil rasanya.
‘Tapi  kamu selalu tahu, Dimas. Kamu selalu percaya aku pasti akan pulang. Bersama kamu seperti sedang berada di pantai, tepi laut. Aku merasa seperti berada di rumah.’
                ‘Kamu tak perlu berterima kasih, untuk hal apapun, Inge. Kamu bebas pergi, mengembara, selama apapun, sejauh apapun. Jangan takut untuk kehilangan arah untuk pulang, karena kamu tahu persis kemana kamu harus kembali. Pulang ke rumah,’ kataku.
                ‘Sekarang aku sudah memiliki rumah, aku akan pulang. Tak perlu lagi ke laut, karena rumah itu adalah kamu,’ balas Inge. Senyumnya semakin mengembang. ‘Aku pulang.’
                Semesta menggelap ditemani kerlipan Bintang Selatan yang cemerlang. Malam tiba tepat waktu. Seperti kepulanganmu ke rumah, yang pasti akan tiba. Tidak peduli seberapa lama aku harus bersabar menunggu,  sejak sepuluh tahun yang lalu, hingga lima belas, atau lima puluh tahun kemudian sekalipun, aku tahu kamu pasti akan pulang. Kamu pun tahu persis kemana harus pulang. Aku percaya itu.
                ‘Selamat datang.’

No comments:

Post a Comment