Title: Bodoh
Author: DEADBORN
Genre: Romance
Rating: PG13
Chapter: One shot
Finishing: April 2013
Author: DEADBORN
Genre: Romance
Rating: PG13
Chapter: One shot
Finishing: April 2013
***
‘Kamu tahu, aku kesal.’ Kutatap kamu
yang balas menatapku dengan wajah tak berdosa.
‘Kenapa?’
Tanyamu. Rupanya kamu benar-benar tak paham. Kuhela nafas kesal. ‘Kenapa,
katamu? Hah?’ Aku mulai tak sabar.
‘Apa kamu
pernah mencoba merasakan jadi aku? Apa kamu paham rasanya mengkhawatirkan
seseorang yang bahkan tak mau repot-repot mempedulikan dirinya sendiri?’ Nada
suaraku mulai meninggi. Aku betulan kesal.
‘Lantas,
mengapa kamu masih khawatir? Kamu ‘kan sudah tahu bahwa orang yang kamu
khawatirkan itu cuek,’ katamu dengan santai.
‘Kamu
masih mau tanya kenapa?’ Geramku. ‘Kamu ini bodoh atau apa, sih?’ Aku
benar-benar emosi.
‘Aku Cuma
ingin jawaban, atau mungkin juga alasan. Apa sih yang membuatmu sekhawatir itu?’
Kali ini kamu menatapku dengan serius. Aku agak gelagapan. Aku tak suka jika
ditatap dengan mata yang seperti itu.
Aku
terdiam sejenak. Haruskah kukatakan alasannya? Bukankah seharusnya dia sudah
tahu? Sialan, ini pasti jebakan. Aku memberanikan diri membalas tatapanmu yang
tak lepas dari mataku. Menatapku lekat, seolah takut kehilangan sebuah momen
yang sudah lama dinantikan.
Baiklah,
akan kukatakan. Lagipula, aku sudah terlanjur emosi. Bodohnya aku. Lain kali,
jangan terpancing emosi. Tapi apa boleh buat, ‘kan? Aku sudah sangat kesal
sekali kali ini.
‘Tentu
saja karena aku menyayangimu, makanya aku khawatir, paham?’
Tawanya
meledak. ‘Sayang? Memangnya aku ini siapamu, eh?’ Kamu tertawa hingga
terbungkuk-bungkuk seolah-olah aku baru saja menceritakan sebuah lelucon yang
paling lucu sedunia. ‘Ini lelucon yang sangat lucu!’ kamu berseru.
Wajahku
memerah. Entah karena malu atau semakin kesal. ‘Dengar, aku serius dan tidak
sedang bercanda, oke? Jadi, bisa kamu hentikan tawamu sebentar?’
Kamu
berhenti tertawa. Kontras. Bahkan senyum sekalipun tak nampak. ‘Lanjutkan,’
katamu. Aku tak siap. ‘Apa yang harus kulanjutkan?’
‘Lanjutkan
kata-katamu.’ Cara bicaramu mulai pongah. Aku tak suka.
‘Aku
yang menunggu jawabanmu kali ini. Kutanya, apa kamu paham dengan kata-kataku
barusan? Aku menyayangimu, itu sebabnya aku khawatir padamu,’ nada bicaraku
mulai ketus.
Kamu diam,
masih terus menatapku lekat. Aku tak mau kalah, kubalas tatapanmu.
‘Kenapa?’
‘Hah?’
Aku tak mengerti. Dan seolah membaca pikiranku, kamu melanjutkan, ‘kenapa kamu
bisa menyayangi aku?’
Kali
ini giliran aku yang tertawa terbahak-bahak. Ini konyol. ‘Kamu bodoh, ya?’
ejekku disela tawa. Kulihat wajahmu memerah, entah kesal atau malu, atau
mungkin perpaduan keduanya. Tapi matamu masih memancarkan keseriusan.
Kamu
masih menunggu hingga kutuntaskan tawaku. Tersengal, kuambil nafas, kuhembuskan
bersama sebuah pertanyaan ‘kamu masih perlu alasan untuk bisa menyayangi
seseorang?’
‘Bukankah
selalu ada alasan untuk setiap tindakan?’ kamu tak mau kalah. Susah payah
kutahan tawa. Kamu kekanakkan sekali. Tapi aku tahu, itu bukan kamu yang mau. Kamu
hanya ingin pembenaran, bukan? Kamu tutupi keingintahuanmu dengan sikap
kekanakkan. Aku gemas.
‘Ya,
kamu benar, selalu ada alasan untuk setiap tindakan. Tapi tidak untuk hal yang
satu ini. Jauh lebih mudah untuk menemukan alasan untuk tidak menyukai sesuatu
daripada untuk menyukai sesuatu, kamu paham?’
Kamu diam.
Dan aku seperti tahu apa yang ada dipikirannya.
‘Kamu
ragu? Itu terserah padamu. Karena aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan kamu,
jadi biarkan aku marah padamu ketika kamu bandel. Sekalipun kamu bertindak
sebodoh yang kamu bisa lakukan, biarkan aku membencimu. Tapi kamu selalu tahu,
betapapun aku membenci kamu yang tak memikirkan dirimu sendiri itu, rasa sayang
itu akan selalu lebih besar.’
Kamu
diam. Mungkin kamu memang tak pernah diizinkan mencintai seseorang lagi sejak
pengkhianatan yang dulu sekali pernah kamu alami. Mungkin itu sebabnya kamu
skeptis, kamu tak pernah peduli lagi, bahkan untuk dirimu sendiri. Tapi jangan
kamu lupakan, selalu ada orang lain yang akan mengkhawatirkan kamu. Biarkan itu
jadi tugasku, dan tugasmu adalah terus berjalan dijalanmu.
‘Kamu
tak lelah? Kamu terlalu baik...’ lirihnya.
Aku tersenyum,
‘kenapa harus lelah? Terlalu baik? Mungkin baik dan bodoh tipis sekali
irisannya. Tapi demi kamu, dibilang bodoh pun aku rela.’
Kamu tertawa
lagi. ‘Terima kasih. Aku paham. Kamu boleh marah, kamu boleh membenci aku, kamu
boleh memaki-maki aku. Tapi bolehkah aku meminta kamu untuk sabar?’
‘Kenapa
tidak?’
Kali
ini kita sama-sama tersenyum. Mungkin aku memang bodoh, tapi aku tak peduli. Kamu
juga pasti paham alasannya.
[THE END]
No comments:
Post a Comment