Tuesday, April 23, 2013

Bodoh



Title: Bodoh
Author: DEADBORN
Genre: Romance
Rating: PG13
Chapter: One shot
Finishing: April 2013

***

‘Kamu tahu, aku kesal.’ Kutatap kamu yang balas menatapku dengan wajah tak berdosa.
                ‘Kenapa?’ Tanyamu. Rupanya kamu benar-benar tak paham. Kuhela nafas kesal. ‘Kenapa, katamu? Hah?’ Aku mulai tak sabar.
                ‘Apa kamu pernah mencoba merasakan jadi aku? Apa kamu paham rasanya mengkhawatirkan seseorang yang bahkan tak mau repot-repot mempedulikan dirinya sendiri?’ Nada suaraku mulai meninggi. Aku betulan kesal.
                ‘Lantas, mengapa kamu masih khawatir? Kamu ‘kan sudah tahu bahwa orang yang kamu khawatirkan itu cuek,’ katamu dengan santai.
                ‘Kamu masih mau tanya kenapa?’ Geramku. ‘Kamu ini bodoh atau apa, sih?’ Aku benar-benar emosi.
                ‘Aku Cuma ingin jawaban, atau mungkin juga alasan. Apa sih yang membuatmu sekhawatir itu?’ Kali ini kamu menatapku dengan serius. Aku agak gelagapan. Aku tak suka jika ditatap dengan mata yang seperti itu.
                Aku terdiam sejenak. Haruskah kukatakan alasannya? Bukankah seharusnya dia sudah tahu? Sialan, ini pasti jebakan. Aku memberanikan diri membalas tatapanmu yang tak lepas dari mataku. Menatapku lekat, seolah takut kehilangan sebuah momen yang sudah lama dinantikan.
                Baiklah, akan kukatakan. Lagipula, aku sudah terlanjur emosi. Bodohnya aku. Lain kali, jangan terpancing emosi. Tapi apa boleh buat, ‘kan? Aku sudah sangat kesal sekali kali ini.
                ‘Tentu saja karena aku menyayangimu, makanya aku khawatir, paham?’
                Tawanya meledak. ‘Sayang? Memangnya aku ini siapamu, eh?’ Kamu tertawa hingga terbungkuk-bungkuk seolah-olah aku baru saja menceritakan sebuah lelucon yang paling lucu sedunia. ‘Ini lelucon yang sangat lucu!’ kamu berseru.
                Wajahku memerah. Entah karena malu atau semakin kesal. ‘Dengar, aku serius dan tidak sedang bercanda, oke? Jadi, bisa kamu hentikan tawamu sebentar?’
                Kamu berhenti tertawa. Kontras. Bahkan senyum sekalipun tak nampak. ‘Lanjutkan,’ katamu. Aku tak siap. ‘Apa yang harus kulanjutkan?’
                ‘Lanjutkan kata-katamu.’ Cara bicaramu mulai pongah. Aku tak suka.
                ‘Aku yang menunggu jawabanmu kali ini. Kutanya, apa kamu paham dengan kata-kataku barusan? Aku menyayangimu, itu sebabnya aku khawatir padamu,’ nada bicaraku mulai ketus.
                Kamu diam, masih terus menatapku lekat. Aku tak mau kalah, kubalas tatapanmu.
                ‘Kenapa?’
                ‘Hah?’ Aku tak mengerti. Dan seolah membaca pikiranku, kamu melanjutkan, ‘kenapa kamu bisa menyayangi aku?’
                Kali ini giliran aku yang tertawa terbahak-bahak. Ini konyol. ‘Kamu bodoh, ya?’ ejekku disela tawa. Kulihat wajahmu memerah, entah kesal atau malu, atau mungkin perpaduan keduanya. Tapi matamu masih memancarkan keseriusan.
                Kamu masih menunggu hingga kutuntaskan tawaku. Tersengal, kuambil nafas, kuhembuskan bersama sebuah pertanyaan ‘kamu masih perlu alasan untuk bisa menyayangi seseorang?’
                ‘Bukankah selalu ada alasan untuk setiap tindakan?’ kamu tak mau kalah. Susah payah kutahan tawa. Kamu kekanakkan sekali. Tapi aku tahu, itu bukan kamu yang mau. Kamu hanya ingin pembenaran, bukan? Kamu tutupi keingintahuanmu dengan sikap kekanakkan. Aku gemas.
                ‘Ya, kamu benar, selalu ada alasan untuk setiap tindakan. Tapi tidak untuk hal yang satu ini. Jauh lebih mudah untuk menemukan alasan untuk tidak menyukai sesuatu daripada untuk menyukai sesuatu, kamu paham?’
                Kamu diam. Dan aku seperti tahu apa yang ada dipikirannya.
                ‘Kamu ragu? Itu terserah padamu. Karena aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan kamu, jadi biarkan aku marah padamu ketika kamu bandel. Sekalipun kamu bertindak sebodoh yang kamu bisa lakukan, biarkan aku membencimu. Tapi kamu selalu tahu, betapapun aku membenci kamu yang tak memikirkan dirimu sendiri itu, rasa sayang itu akan selalu lebih besar.’
                Kamu diam. Mungkin kamu memang tak pernah diizinkan mencintai seseorang lagi sejak pengkhianatan yang dulu sekali pernah kamu alami. Mungkin itu sebabnya kamu skeptis, kamu tak pernah peduli lagi, bahkan untuk dirimu sendiri. Tapi jangan kamu lupakan, selalu ada orang lain yang akan mengkhawatirkan kamu. Biarkan itu jadi tugasku, dan tugasmu adalah terus berjalan dijalanmu.
                ‘Kamu tak lelah? Kamu terlalu baik...’ lirihnya.
                Aku tersenyum, ‘kenapa harus lelah? Terlalu baik? Mungkin baik dan bodoh tipis sekali irisannya. Tapi demi kamu, dibilang bodoh pun aku rela.’
                Kamu tertawa lagi. ‘Terima kasih. Aku paham. Kamu boleh marah, kamu boleh membenci aku, kamu boleh memaki-maki aku. Tapi bolehkah aku meminta kamu untuk sabar?’
                ‘Kenapa tidak?’
                Kali ini kita sama-sama tersenyum. Mungkin aku memang bodoh, tapi aku tak peduli. Kamu juga pasti paham alasannya.



[THE END]

No comments:

Post a Comment