Apa yang dunia harapkan darimu?
Seorang yang bahkan suaranya diabaikan oleh sekitarnya. Minoritas.
Siapa yang peduli padamu?
Kau berjuang untuk eksistensimu yang perlahan tenggelam
dalam waktu.
Masihkah kau ingin
berusaha?
Ketika keringatmu tak berarti apa-apa bagi orang lain, kau
boleh menangis. Karena tak ada yang akan mengerti arti tangisanmu.
Seperti anak kecil yang terluka, tentu saja kau akan
menangis. Tapi luka itu akan membekas selamanya dihati.
Kau enggan membagi airmatamu karena entah bagaimana kau tahu
apa yang akan mereka katakan.
Kau tak butuh penghiburan, apalagi cercaan.
Kau hanya butuh didengarkan.
Ketika ketidaktahuanmu menjerumuskanmu, kau boleh menangis. Tapi
kau tak bodoh. Kau akan belajar dari sana. Meskipun kau akan tetap
dibodoh-bodohi, dicaci, dihina.
Kau boleh menangis karena lukanya bertambah. Luka yang akan
terus membekas dihati.
Sekalipun kau bosan menangis, apalagi yang bisa kau lakukan
untuk memberitahu pada dirimu kalau lukamu kini bertambah? Ketika sakitnya tak lagi tertahankan, kau
hanya bisa diam. Dan dalam diam air mata kembali mengalir. Tapi apa gunanya?
Apa yang dunia kini tengah harapkan padamu?
Padahal kau tak mengharap apapun.
Kau hanya ingin hidup. Kau ingin ada untuk dirimu sendiri. Dan
mungkin untuk seseorang yang begitu
tulus kau cintai meskipun terhalang ruang dan waktu, tapi kau percaya, cintamu
mampu menembus itu semua.
Kini kau sadar. Keberadaanmu kini bukan untuk siapapun. Bukan
untuk menjadi apa yang diharapkan dunia. Masyarakat pun tak peduli, jadi untuk
apa kau peduli?
Egoismu.
Bahkan seekor kucing pun akan berlaku egois demi kepentingan
dirinya sendiri. Jadi bukankah egois itu sifat dasar semua mahluk di semesta
ini? Maka, sesekali egois pun tak apa. Untukmu yang selalu tertindas dalam
keegoisan masyarakat.
Kau tak perlu membuktikan apapun pada dunia.
Untuk apa jika keberadaanmu hanya dianggap sampah, tak
berguna?
Atau mungkin mereka yang dibutakan oleh keegoisan diri
mereka sendiri jadi mereka tak bisa melihat apapun selain diri mereka sendiri. Serakus
babi. Sebodoh keledai.
Persetan dengan masyarakat.
Kau adalah dirimu sendiri. Kau yang menentukan dirimu. Bukan
orang lain.
Ketika kau disakiti untuk yang kesekian kalinya, itulah
bukti bahwa mereka iri pada kebebasanmu.
Dan dengan lantang, kau akan berkata “AKU TAK PEDULI.”
Dan dunia akan tertawa.
Harapannya terjawab sudah.
Bukti nyata yang tanpa disadari muncul.
Satu lagi mahluk di semesta ini yang eksistensinya tak
hancur oleh ulah sampah masyarakat.
No comments:
Post a Comment