Friday, April 12, 2013

[poem] Existence



Apa yang dunia harapkan darimu?

Seorang yang bahkan suaranya diabaikan oleh sekitarnya. Minoritas. Siapa yang peduli padamu?
Kau berjuang untuk eksistensimu yang perlahan tenggelam dalam waktu.
Masihkah kau ingin  berusaha?

Ketika keringatmu tak berarti apa-apa bagi orang lain, kau boleh menangis. Karena tak ada yang akan mengerti arti tangisanmu.
Seperti anak kecil yang terluka, tentu saja kau akan menangis. Tapi luka itu akan membekas selamanya dihati.
Kau enggan membagi airmatamu karena entah bagaimana kau tahu apa yang akan mereka katakan.
Kau tak butuh penghiburan, apalagi cercaan.
Kau hanya butuh didengarkan.

Ketika ketidaktahuanmu menjerumuskanmu, kau boleh menangis. Tapi kau tak bodoh. Kau akan belajar dari sana. Meskipun kau akan tetap dibodoh-bodohi, dicaci, dihina.
Kau boleh menangis karena lukanya bertambah. Luka yang akan terus membekas dihati.

Sekalipun kau bosan menangis, apalagi yang bisa kau lakukan untuk memberitahu pada dirimu kalau lukamu kini bertambah?  Ketika sakitnya tak lagi tertahankan, kau hanya bisa diam. Dan dalam diam air mata kembali mengalir. Tapi apa gunanya?

Apa yang dunia kini tengah harapkan padamu?
Padahal kau tak mengharap apapun.
Kau hanya ingin hidup. Kau ingin ada untuk dirimu sendiri. Dan mungkin untuk seseorang  yang begitu tulus kau cintai meskipun terhalang ruang dan waktu, tapi kau percaya, cintamu mampu menembus itu semua.

Kini kau sadar. Keberadaanmu kini bukan untuk siapapun. Bukan untuk menjadi apa yang diharapkan dunia. Masyarakat pun tak peduli, jadi untuk apa kau peduli?

Egoismu.

Bahkan seekor kucing pun akan berlaku egois demi kepentingan dirinya sendiri. Jadi bukankah egois itu sifat dasar semua mahluk di semesta ini? Maka, sesekali egois pun tak apa. Untukmu yang selalu tertindas dalam keegoisan masyarakat.

Kau tak perlu membuktikan apapun pada dunia.
Untuk apa jika keberadaanmu hanya dianggap sampah, tak berguna?
Atau mungkin mereka yang dibutakan oleh keegoisan diri mereka sendiri jadi mereka tak bisa melihat apapun selain diri mereka sendiri. Serakus babi. Sebodoh keledai.

Persetan dengan masyarakat.

Kau adalah dirimu sendiri. Kau yang menentukan dirimu. Bukan orang lain.
Ketika kau disakiti untuk yang kesekian kalinya, itulah bukti bahwa mereka iri pada kebebasanmu.
Dan dengan lantang, kau akan berkata  “AKU TAK PEDULI.”

Dan dunia akan tertawa.
Harapannya terjawab sudah.
Bukti nyata yang tanpa disadari muncul.
Satu lagi mahluk di semesta ini yang eksistensinya tak hancur oleh ulah sampah masyarakat.

No comments:

Post a Comment