Title: Please, Drown
Author: DEADBORN
Genre: Angst, sad romance
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: March 2013
***
Apakah kamu lelah?
Sekali saja, pernahkah kamu merasa ini semua tak ada artinya. Genggaman tangan kita yang kini semakin dingin. Masihkah mau bertahan?
Kamu bilang, kita bisa saja pergi. Tapi tak semudah itu, bukan?
Ini konyol, tapi rasanya aku setuju denganmu. Pergi kemanapun, katamu, berarti tak terkecuali menuju alam lain, begitu bukan?
Terkadang, aku ingin tertawa. Mentertawai kebodohan diriku yang begitu jatuh cinta pada dirimu, sehingga rasanya aku tak lagi mempedulikan logika. Tunggu dulu. Jangan kalian kira aku tak berlogika. Jika tidak, aku tak mungkin bisa mentertawai diriku sendiri yang begitu mabuk kepayang, bukan?
Jadi, bagaimana jika kita mengakhirnya bersama-sama?
Pilihanmu antara menenggelamkan diri di sungai pada malam hari atau sama-sama memotong urat nadi. Aku tertawa. Hey, tidak adakah cara lain yang lebih elegan?
Pilihanku, menenggak racun. Paling tidak, tidak perlu ada darah. Bunuh diri saja sudah cukup merepotkan orang lain. Menenggak racun saja kan tidak perlu harus membersihkan darahnya.
Dia balas mentertawaiku. Tapi busa yang keluar dari mulutmu itu menjijikan! Serunya. Apa bedanya dengan darah yang berceceran? Balasku.
Dia tersenyum. Kalau begitu, kita menenggelamkan diri saja di laut. Kita gunakan kapal kecil.
Aku balas tersenyum. Kurasa itu bukan ide yang buruk. Aku suka laut. Mungkin akan terasa lebih menyenangkan jika bisa mati ditempat yang kita sukai.
Dan kami mulai rencana kami. 2 hari lagi, ketika malam menjelang, bulan akan menyaksikan kisah drama tragedi yang romantis dari sepasang kekasih yang cintanya terbentur hal yang tak dapat diubah. Persetan dengan dosa. Kami sudah pasti akan menyeret kedua orang tua kami untuk turut mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka atas berakhirnya cinta kami didepan Raja Neraka.
Cinta?
Aku memang mencintainya. Tapi apakah ia mencintaiku seperti aku mencintainya?
Ada rasa ragu seketika menyelusup dalam celah logika.
Malam itu, hanya bulan yang menemani kami. Ditengah laut, kami berciuman untuk yang terakhir kalinya. Berdiri pada perahu kayu kecil yang berayun seirama ombak, kami berpelukan.
Seberapa besar nyalimu untuk melakukan ini? dalam gelap, aku berusaha mencari sorot matanya. Aku mencintaimu, tapi apakah kamu yakin?
Aku takut.
Jika salah satu dari kita selamat, sanggupkah ia menyusul yang lainnya?
Dalam samar cahaya bulan, aku bisa melihat wajahmu yang tegang. Siapkah?
Maaf, lirihnya. Dalam keterkejutanku, ia mendorongku.
Pengkhianat. Seharusnya aku sadar. Kamu yang menginginkan semua ini terjadi. Semua karena si jalang itu. Si jalang yang menghasutmu untuk meninggalkan aku. Dia yang turut menghasut orang-orang disekelilingmu untuk menyerah pada hubungan yang sudah kurawat dengan hati-hati.
Sebelum jatuh kedalam kegelapan, sekelebat, wajah sedihnya mengisi pandanganku. Apakah kamu menangis? Wajah yang terakhir kulihat sebelum aku semakin jauh tersedot dalam gelap dan dinginnya kematian.
Bisakah kamu hidup normal setelah aku mati?
Brengsek. Berapa kali lagi harus kurasakan dingin yang menusuk ini sebelum akhirnya aku terbebas dari kutukan Karma yang menginginkanku mati karena cinta?
[THE END]
No comments:
Post a Comment