Ini pasar malam paling lucu yang pernah kudatangi.
Penjaga tiket masuknya adalah seorang perempuan muda. Manis dengan riasan seadanya dan senyum terkulum di dalam kotak sempit tinggi yang hanya cukup untuk dirinya duduk di depan mesin uang usang.
"Silakan masuk!" suara ceria dibuat-buat yang tak sesuai dengan senyumnya.
Cukup ramai meskipun tak berdesakan. Aku mulai melangkah.
Seorang lelaki berpakaian badut melintas. Rambut merah keritingnya terlihat kusam. Badut berwajah sedih itu membawa seikat balon warna-warni. Ia menatapku sebentar, lalu memalingkan wajahnya.
"Tunggu!"
"..."
"Saya mau balonnya, satu."
Ia berhenti. Lalu mengulurkan sebuah balon berwarna merah.
"Ambil saja." Katanya sambil berlalu.
Sambil menggumam "terima kasih," aku kembali berjalan.
Suara tawa anak-anak, suara wahana permainan, teriakan penjual makanan, decit mesin tua bekerja, semua suara itu mulai membuatku tak nyaman.
Aku melangkah untuk melihat salah satu stan permainan.
Anak-anak merubung di salah satu stan yang pemiliknya memakan topeng setan berwarna hijau.
"Sekali kena, dapat hadiah! Ayo main lemparan!"
Seorang anak berusia 7 tahun membidik target dengan sebuah pisau. Targetnya adalah sebuah boneka yang rambut pirangnya menipis dan hamoir botak dengan baju lusuh.
Kelebatan cahaya pisau melintas, menembus perut boneka. Kawan-kawan kecilnya gegap gempita melihatnya berhasil menusuk lawan.
"Bagus, nak! Ini hadiahmu!"
Penjual bertopeng setan hijau memberi anak itu uang. Si anak yang bangga, memamerkan uang itu kepada anak lainnya yang kemudian mengelu-elukan namanya.
Aku tersenyum melihatnya. Bukan, bukan karena aku turut bangga, tapi ada satu anak yang lebih fokus menatap boneka yang terhunus pisau.
Aku pindah ke komidi putar.
Komidi putar ini lucu. Bukan kuda yang anak-anak itu tunggangi, tapi manusia. Ya, replika manusia, dengan segala ekspresinya. Anak-anak itu juga tidak merasa ada yang aneh. Mereka tetap tertawa bahagia saat menduduki patung-patung manusia yang ekspresinya tak mereka pahami, dan tetap bernyanyi saat komidi putar berjalan.
Apa yang lebih lucu dari ini?
Bianglala tua berkarat yang setiap kali kau berada di atas, justru membuatmu tak pernah ingin kembali ke bawah?
Atau para penjaga staf pasar malam yang semuanya memakai topeng setan berwarna-warni? Yang memberikan kebahagiaan sekaligus menanamkan kebencian dalam anak-anak?
Aku.
Di pasar malam yang lucu ini, aku masih menunggu. Menunggu pagi agar segera bangun dari mimpi buruk ini.
Saat kulepas balon merah itu ke udara, langit malam yang kelam menelannya tanpa sisa.
No comments:
Post a Comment