Thursday, June 29, 2017

Argumen

"Kamu benar sudah pikirkan matang-matang?"

"Kamu harus tanya berapa kali supaya yakin?"

"Karena saya masih tidak paham, kamu yang begitu berlogika jadi buta karena hal yang dibilang 'cinta' itu!"

"Saya masih pakai logika."

"Di mana logika kamu kalau kamu masih mau sama dia yang masih belum bisa melupakan mantannya?!"

"Tenang. Logika saya masih aman di kepala saya. Sama amannya dengan keputusan saya yang berulang kali kamu tanya."

"Tapi, KENAPA?"

"Karena, setelah saya pikir secara matang berulang kali seperti pertanyaanmu, dia orang yang tepat untuk saya."

"Tepat darimana kalau mantannya saja masih dikangenin?!"

"Dengar, kita ini mahluk yang terbiasa menggunakan logika..."

"Aku tahu. Makanya-"

"Dengar dulu. Kamu pasti seringnya berpikir, yang berhubungan dengan cinta, selalu perasaan. Itu karena kamu belum pernah jatuh cinta pakai logika juga."

"..."

"Oke, mungkin tidak semua orang bisa menerima konsep ini. Tapi, saya harap kamu bisa."

"Jadi, maksudnya apa? Jatuh cinta dengan logika?"

"Kamu bisa mengukur seberapa jauh toleransimu ke orang itu dalam semua hal."

"Dan bagi kamu, itu artinya, seberapa jauh kamu bisa tahan dengar dia meratapi mantannya?"

"Kepergian mantannya bukan keinginan dia."

"Tidak ada orang yang mau ditinggalkan."

"Karena itu, saya berusaha untuk tetap mendukung dia semampu saya."

"Bagaimana kalau setelah sekian lama, kamu mulai tidak bisa menoleransi perbuatannya lagi?"

"Mungkin itu saatnya bagi saya untuk mengingat kembali kenapa saya merasa dia pilihan yang tepat."

"Itu cinta buta!"

"Bukan! Kalau buta, dia bilang semua buruk itu baik!"

"Apa bedanya dengan kamu yang sekarang?!"

"Saya tidak pernah bilang kalau meratapi mantannya itu hal yang baik! Tapi, setidaknya saya bisa bantu dia mengurangi rasa kesepiannya dan mungkin sebaliknya."

"Kamu kesepian?"

"Tidak kalau kita sedang berdebat hal tidak penting seperti ini."

"Nah, itu kamu tahu kalau saya ada."

"Kita sudah bukan anak-anak lagi. Mau kamu buang itu orang yang sudah berbulan-bulan kamu kencani demi saya?"

"Yah, bukan begitu..."

"Kamu egois, saya egois. Kita sama. Sama-sama mahluk kesepian. Sekarang bisa begini ribut, tapi ketika kembali masuk ke dalam kepala, kita masih sama kesepiannya."

"Kenapalah kita seaneh ini..."

"Mungkin karena kita alien..."

"..."

"..."

"Yah, saya bisa apa kalau kamu begitu berkeras."

"Kamu bisa biarkan saya dukung dia, sama seperti saya yang tahu kamu kencani anak itu hanya karena kesepian."

"..."

"..."

"Oke. Deal."

...

Si kucing hitam merenggangkan badannya setelah puas berjemur di tepi jendela dapur.

Setelah hening, dengan ringan ia melompat turun. Melenggang santai menuju sumber suara ramai beberapa saat lalu.

Dengkurannya menjadi tanda bahwa mereka tidak selalu kesepian.

Wednesday, June 28, 2017

Lari

Lari.

Terus berlari.

Lari dari cacing-cacing yang menggerogoti akal.

Cacing-cacing yang tidur di siang hari namun mengganas kala malam tiba.

Kemana pun berlari akan tetap hadir.

Tapi, kami di sini. Kamu tidak sendirian.

Sejauh apa pun kamu berlari, sebanyak apa pun cacing yang kau hindari, kami turut serta bersama derap sepatu lars-mu.

Siang dan malam, kita akan terus berlari.

Gagal

Kamu sibuk di depan laptopmu, aku sibuk dengan ponsel pintarku.

Di ruang keluarga yang tidak terlalu besar, kamu duduk di lantai dengan laptop di meja kopi yang terbuat dari kayu mahogani yang di pernis warna hitam. Aku bersandar di sofa putih yang kita beli di toko barang bekas dengan bekas cakaran kucing di salah satu sisinya.

"Tolong tunggui sebentar. Aku ngantuk."

Aku duduk di lantai, kamu merebahkan diri di sofa putih. Si kucing hitam datang sambil menyapa, memberitahukan kehadirannya.

Setelah menajamkan kuku di sisi sofa yang ada bekas cakaran kucing, si kucing hitam kembali mengeong. Mata kuningnya seolah menuntut, "mana camilanku?"

Aku beranjak ke dapur, mengambil sekantung camilan stick ikan kering dan ku taruh di mangkuk makan si kucing. Dengan semangat, si kucing hitam melahap camilannya.

Seraya mengelus kepala si kucing hitam, aku kembali ke ruang tengah, mendapati kamu yang menatap layar laptop dengan tatapan kosong.

"Download-nya gagal di 99%."

Thursday, June 22, 2017

Absquatulate

Your back is the last time I see before we're apart.

I'd like to say sorry. For the selfish and unkind self of me.

I just want to be adored but maybe I'd better be ignorant on my own.

I begin to hate this sleepless city. Night deepens as I'm taking train back to home.

I drop my tired outer casing onto my bed and woken up by the phone rings.

"Happy birthday~"

My dad sings with all of his heart but out of tune.

"Thanks, dad."

I just want to be alone today.

Even though I'm still waiting a call from you.

Deceived

"Let's drown ourselves in Ingnerit tonight."

You say with your usual calm face.

Do you really mean it? I know it's been hard for us, but do we really should do this?

"I'll pick you up at 9 pm."

I don't know. I'm not ready yet. I do love you, but you took it to far.

The yellow crescent hanging upside down in the purple sky.

The boat we rent swaying as the wave comes by.

"Are you ready?"

No.

"Tell me, if I die first, could you follow me?"

I can feel the cold sea breeze in my sweating neck.

"If I die and you're not, will you still be able to lead a normal life?"

Of course not but for the sake of my love child.

"I love you."

Our love might be last forever. But your body will rot into the darkest depth of sea as I embrace a dark path of my future without you.

Half

"We shouldn't be together anymore..."

I want to be deaf. I don't want to hear those words.

But, I know, sooner or later, the day I hear those words will come.

The day when the brightest sun in August feel as cold as morning sun in December.

I don't want to ask, to beg or even to say anything.

"It's better to let you go first than to see you broken here with me."

How do you want me to react?

I'd better be broken here with you. But, making you even sadder is the last thing I want to do.

I know the end is around the corner. I want to spend our last day together, but I know it will broke your heart. You know it will broke my heart.

So I walk away. Leaving a piece of me and the person whom I spent the half of my live in the white cold room number 304.

...

I miss you, a lot.

I want you back.

But those time will never return.

You will never be return.

The half of my live. The love of my live.

Insomnia

Berendam air panas bukan sekedar mandi. Paling tidak, menurutku begitu.

Tidak perlu kelopak mawar, bath bomb, atau busa putih yang meluber dari tepi bak mandi.

Cukup air hangat dan lagu favorit. Bila sedang ingin, ku nyalakan lilin aromatherapy.

Daydreaming dari Radiohead mengalir. Ku setel mode repeat, lalu ku biarkan pikiranku melayang dan singgah ke berbagai tempat. Atau kembali ke kastil pikiran yang penuh dengan ruangan rahasia.

Si kucing hitam masih setia menemani di depan pintu, asik menjilati tubuhnya.

Segelas susu dingin setelah ini tentu menyegarkan.

Ku harap malam ini tidurku bisa nyenyak.

Monday, June 19, 2017

Romantisme

"Kenapa pantai di musim dingin?"

"Memang kenapa?"

"Pantai itu identik dengan musim panas, bukan musim dingin."

"Pantai di musim panas selalu ramai. Lagipula langit malam di musim dingin hampir selalu cerah."

"Kamu menunggu bintang jatuh?"

"Saya menunggu apapun yang hadir pada pantai di malam musim dingin."

"Kamu overdosis romantis."

"Saya romantis secukupnya, kok."

"..."

"..."

"Dingin, ya? Kamu tunggu di mobil saja."

"Saya masih penasaran dengan apa yang kamu tunggu di pantai malam-malam musim dingin begini."

"..."

"Saya temani sampai kamu bertemu dengan apapun itu."

"..."

"..."

"Terima kasih. Tapi, baiknya kamu lap dulu ingusmu itu."

Sunday, June 18, 2017

Hujan

Selalu hujan.

Di momen penting untukmu, hujan tak pernah alpa temani.

Saat kamu menyatakan perasaan pada cinta pertamamu. Saat kamu ditolak. Saat kamu kembali padaku.

Dan saya selalu disana. Selalu tahu kapan kamu datang. Menunggumu bersama hujan.

Sampai saat kamu bertemu dengannya. Saat kamu pergi melamarnya. Saat kamu kembali padaku dengan senyuman yang paling bahagia yang pernah kamu tunjukkan.

Di bawah gerimis, aku masih sama. Mendengar semua kisah dengan tenang. Turut berbahagia saat kamu umumkan pernikahanmu.

Dan di hari penting itu, hujan tidak pernah alpa menemani. Tidak seperti aku, yang memilih menghilang.

Pergi seperti pelangi sehabis hujan senja yang ditelan hitam malam.

Backwards

Let's turn back the time.

To our last meeting, seeing tears crawl back to your eyes. The candle start to build up. We're walking backwards from table no. 17 to home.

To our last quarrel. When your rusty voice echoed back inside your mouth. My broken mug start to stick together one more time. I'm walking backwards to my home with anger.

To our last kiss. When it's start to get bitter. Where you kissed someone else. Before I finally know the truth.

To our first kiss. To our first hug. To our first meeting.

We're moving backwards.

When you and me just a friend's friend. Without ever knowing each other's name.

Let's go back to be stranger again.

Hantu

Kamu percaya hantu?

Aku tidak. Tapi, dia hadir.

Sosok setipis kabut yang hadir di beranda, di bawah terik matahari akhir bulan Agustus.

Dengan mata sehitam bara, ia selalu menatap dengan wajah sendu.

Aku tidak percaya hantu. Tapi, dia ada.

Duduk diam temani sepi, mengusir lara.

Apakah aku mulai gila jika inginkan kamu selalu bersamaku?

Saturday, June 17, 2017

Probabilitas

Mobil yang ku kendarai hari ini  bukan mobilku yang biasa. Tapi, karena harus mencari uang, terpaksalah ku pinjam mobil kakakku yang kebetulan sedang tidak dipakai.

Jalanan Ibukota hari ini pun masih sama seperti biasanya. Macet, bising dan berpolusi.

Mendengarkan musik adalah sebuah penghiburan dari penat dan lelahnya mengemudi. Terkadang ku putar lagu dari telepon pintarku.

Dan hari ini, di tempat yang sangat familiar, lagu itu terputar dari pemutar lagu yang ku setel random.

Sungguh lucu. Lagu itu sudah lama sekali tidak ku dengarkan. Hanya karena kenangan lah lagu itu masih tersimpan.

Kenangan tentang sebuah keegoisan dan perasaan yang tidak pernah tersampaikan.

Tidak bisa tidak, aku jadi kembali teringat.

Ku pandangi pemotor di sekitar yang tertahan lampu merah.

Mungkinkah kamu salah satunya? Yang memakai sepatu converse ungu muda dan jaket abu-abu yang suka kamu pakai dulu?

Aku tertawa.

Apa Semesta bisa selawak itu?

...

Sebuah lagu tentang kamu yang secara acak terputar mengalun di earphone. Di tempat yang familiar untuk kita berdua.

Saya tersenyum kecil.

Seraya menyimpan kembali telepon pintar di saku jaket abu-abu yang biasa saya pakai, saya jejakkan kaki bersepatu converse ungu saya dan melaju.

Semoga kamu sudah bahagia.

Tuesday, June 13, 2017

Patah Hati

"Kamu kenapa?"

"Patah hati!"

"Kayak baru sekali patah hati saja."

"Tapi ini beda!"

"Apanya?"

"Rasanya!"

"Bedanya?"

"Saya enggak ngerasa apa-apa selain marah."

"Kamu beneran patah hati apa cuma kecewa?"

"Memang beda?"

"...Kayaknya beda, sih..."

"Pokoknya saya enggak mau ketemu dia lagi!"

"Yakin?"

"..."

"Kalau dia balik lagi?"

"..."

"Kamu masih sayang, 'kan?"

"..."

"Kita makan es krim, yuk. Aku traktir."

Buang

Kau tahu apa yang lucu?

Ketika satu keluarga saling duduk berhadapan, tertawa, bersenda gurau, bicara tanpa ada rasa sungkan.

Tapi bukan itu yang ku inginkan.

Aku ada bukan untuk menghidupimu.

Lantai kayu yang berderit tiap kali diinjak.

Kertas pelapis dinding yang lusuh dan lembab.

Menatapnya saja sudah membuat perasaanku tak nyaman.

Aku menghela nafas.

Mengertilah. Bukan hanya aku yang tidak suka.

Sambil melanjutkan membersihkan sisa-sisa benda merah lengket di lantai yang dingin, aku turut membuang semua perasaanku.

Besok hari pembakaran sampah.

Selamat tinggal.

Ulang

Angin sisa musim dingin berbisik lirih.

Meminta sehelai daun coklat menari di udara.

Menari.

Menari.

Sampai mati.

Kamu tertawa.

Setetes embun menitik.

Kamu terus menari tanpa peduli.

Rambut hitammu tergerai bebas.

Geligi putih yang berkilau di antara bibir semerah darah.

Mata hitam yang nyalang.

Malam begitu sunyi, tapi kamu belum berhenti menari.

Aku mengulang kenangan itu setiap hari.

Sunday, June 11, 2017

Dini Hari

Berjalan saat dini hari membantuku menjernihkan pikiran.

Setidaknya untuk kali ini.

Dengan tangan pada saku jaket, aku melewati rumah-rumah yang lampu tamannya menyala sendu.

Di atasku, langit keunguan membentang. Udara mulai dingin. Mungkin hujan akan turun.

Aku melangkah terus sampai ke mini market. Mengambil sari buah anggur dan sekotak rokok di kasir.

Kasir laki-laki muda itu nampak acuh saat aku membayar. Mungkin ia juga sedang punya masalah. Manusia selalu punya masalah untuk dipikirkan.

Hisapan rokok pertama. Aroma tembakau tipis memenuhi sekelilingku. Kulepas asap ke arah langit.

Suara sirene polisi mengalir di kejauhan.

Haruskah aku kembali pulang?

Ke ruangan sepi dan sempit tempatku mengenang suara dan sentuhanmu yang perlahan menghilang?

Pasar Malam

Ini pasar malam paling lucu yang pernah kudatangi.

Penjaga tiket masuknya adalah seorang perempuan muda. Manis dengan riasan seadanya dan senyum terkulum di dalam kotak sempit tinggi yang hanya cukup untuk dirinya duduk di depan mesin uang usang.

"Silakan masuk!" suara ceria dibuat-buat yang tak sesuai dengan senyumnya.

Cukup ramai meskipun tak berdesakan. Aku mulai melangkah.

Seorang lelaki berpakaian badut melintas. Rambut merah keritingnya terlihat kusam. Badut berwajah sedih itu membawa seikat balon warna-warni. Ia menatapku sebentar, lalu memalingkan wajahnya.

"Tunggu!"

"..."

"Saya mau balonnya, satu."

Ia berhenti. Lalu mengulurkan sebuah balon berwarna merah.

"Ambil saja." Katanya sambil berlalu.

Sambil menggumam "terima kasih," aku kembali berjalan.

Suara tawa anak-anak, suara wahana permainan, teriakan penjual makanan, decit mesin tua bekerja, semua suara itu mulai membuatku tak nyaman.

Aku melangkah untuk melihat salah satu stan permainan.

Anak-anak merubung di salah satu stan yang pemiliknya memakan topeng setan berwarna hijau.

"Sekali kena, dapat hadiah! Ayo main lemparan!"

Seorang anak berusia 7 tahun membidik target dengan sebuah pisau. Targetnya adalah sebuah boneka yang rambut pirangnya menipis dan hamoir botak dengan baju lusuh.

Kelebatan cahaya pisau melintas, menembus perut boneka. Kawan-kawan kecilnya gegap gempita melihatnya berhasil menusuk lawan.

"Bagus, nak! Ini hadiahmu!"

Penjual bertopeng setan hijau memberi anak itu uang. Si anak yang bangga, memamerkan uang itu kepada anak lainnya yang kemudian mengelu-elukan namanya.

Aku tersenyum melihatnya. Bukan, bukan karena aku turut bangga, tapi ada satu anak yang lebih fokus menatap boneka yang terhunus pisau.

Aku pindah ke komidi putar.

Komidi putar ini lucu. Bukan kuda yang anak-anak itu tunggangi, tapi manusia. Ya, replika manusia, dengan segala ekspresinya. Anak-anak itu juga tidak merasa ada yang aneh. Mereka tetap tertawa bahagia saat menduduki patung-patung manusia yang ekspresinya tak mereka pahami, dan tetap bernyanyi saat komidi putar berjalan.

Apa yang lebih lucu dari ini?

Bianglala tua berkarat yang setiap kali kau berada di atas, justru membuatmu tak pernah ingin kembali ke bawah?

Atau para penjaga staf pasar malam yang semuanya memakai topeng setan berwarna-warni? Yang memberikan kebahagiaan sekaligus menanamkan kebencian dalam anak-anak?

Aku.

Di pasar malam yang lucu ini, aku masih menunggu. Menunggu pagi agar segera bangun dari mimpi buruk ini.

Saat kulepas balon merah itu ke udara, langit malam yang kelam menelannya tanpa sisa.

Secret

She's the loveliest girl you'll ever see.

With her cheerful voice and her dazzling smile as warm as the spring sun.

Her friends love her. Bunch of man would send her love letters, asking her for a date.

She always help anyone, even a little arrogant young boy which ball stuck on a tree.

You could never imagine that someone would hate that kind of girl.

Nobody.

But, one day, she decided to hung herself in her room last night, 5 days after she was missing, 2 days after she's found in an abandoned old hospital near town.

And nobody knows the reason.

Maybe...

Except me.

Pisah

Di luar hujan.

Derasnya cukup untuk sampai bergaung dalam hati yang kini kosong.

Melarutkan jejak yang pernah ada.

Tidak ada lagi mata yang saling memandang, hanya punggung yang saling menghadap.

Kemana kita kembali?

Berpisah tidak pernah menjadi pilihan. Melepasmu bukan mauku.

Tapi jejak yang terhapus tak akan pernah bisa kembali utuh.

Mungkin kita bisa bertemu lagi setelah musim berganti di tempat yang sama, untuk sekali lagi bergandengan tangan.

Sampai kita berpisah kembali.

Saturday, June 10, 2017

Aneh

2:45.

Ddrrrtt... Ddrrrrtt..

Klik.

"Saya kangen kamu."

Hahh..

Klik.

...

"Mantan kamu kirim pesan semalam."

"..."

"Dia bilang kangen."

"..."

"Tapi kirimnya kenapa ke saya?"

"..."

"..."

"Mungkin dia... entahlah. Dia memang aneh."

"Kamu masih suka ketemu?"

"Tidak. Aku tidak pernah berhubungan dengan mantan setelah berpisah."

"..."

"Dia memang aneh..."

Lampu Merah

125 detik.

2 menit 5 detik.

Asap rokok menguar dari sisi kiri, diikuti asap knalpot kendaraan umum yang berwarna kontras dari segala sisi.

Mesin yang menderum rendah sampai berhenti.

Motor-motor yang meliuk lincah, mencari start aman paling depan.

Seorang pedagang tisu menghampiri, lalu pergi karena minimnya reaksi.

Samar terdengar bunyi kerincing kasar pengamen anak-anak di salah satu kendaraan umum. Menyatu dalam deru kendaraan yang lancar berlalu lalang.

3... 2... 1

Belum sempat angka berganti 0, klakson menjerit. Lampu kembali hijau. Aku melaju.

Kuharap kamu sudah sampai rumah dan tak lupa memberi makan si kucing hitam.

Wednesday, June 7, 2017

Pertanyaan

Apa yang mau kamu sampaikan ke kamu yang masih kanak-kanak?

...

Terima kasih.

Karena masa-masa itu adalah proses yang membentuk aku yang sekarang.

Dengan segala masalah dan kebahagiaannya.

Dan aku menyukai diriku yang sekarang ini.

Ah, mungkin satu saja. Banyaklah bersyukur.

Itu saja.

Don't Cry Over Spilt Milk

"Don't cry over spilt milk"

No. I'm not crying. And I won't.

Why should I cry over something that even a cat won't even bother to give a single glance?

Just effin' clean the milk on the floor with a mop, put the mop back in the janitor room and get a cup of coffee instead.

Funny. Let the cat lick the milk until it satisfied.

And here, we just watch the cat licking the milk with a mop in your hand, in case the cat won't finished the milk.

Tuesday, June 6, 2017

Selamat Pagi

Secangkir susu putih hangat.

Secangkir kopi sachet dengan uap mengepul.

Sepiring biskuit gandum cokelat.

Sinar matahari pukul 9 pagi yang masuk tanpa permisi dari jendela yang belum terpasang tirai.

Dan kamu yang sedang sibuk mencari gula di lemari dapur sebagai pemanis tambahan di tengah harum aroma kopi.

"Selamat pagi."

Monday, June 5, 2017

Malam Untukmu

Langit hitam.

Titik-titik cahaya dari gedung-gedung pencakar langit.

Terpaan angin.

Bising deru kendaraan.

Lampu jalanan yang terangi petaknya sendiri.

Kelip lampu kendaraan di kiri dan kanan.

Cahaya redup sabit kuning.

Ayo, kita pindah ke tempat dimana kamu bisa lihat pemandangan malam favoritmu.

Sunday, June 4, 2017

Komentar

Kamu bisa bilang saya jelek, hitam, bodoh.

Kamu bebas bilang saya tidak religius, kafir, kerak neraka jahanam.

Kamu bisa komentar saya tidak nasionalis, tidak paham agama, sombong, pongah, congkak.

Kamu bebas berkata apapun.

Karena sesungguhnya, saya tidak cukup peduli dengan kamu dan juga omongan kamu tentang saya.

Tapi saya cukup berterima kasih, atas perhatian kamu pada saya sampai kamu rela habiskan waktumu menilai saya.

Makasih, lho.

Saturday, June 3, 2017

Idea

"Dunia ideal kamu kayak apa?"
"Hmm.. Saya mau bawa keluarga saya pergi. Jauh dari sini. Ke luar negeri kalo bisa. Mau hidup damai sama keluarga saya aja."
"Hahaha. Saya ngerti."

...

"Kamu mau tinggal berdua sama saya, nggak?"

Friday, June 2, 2017

PLAK!!

PLAK!
Pipi kiri memanas.
"Aduh!!"
PLAK!!
Pipi kanan semerah tomat.
"Sakit!!"
Tangan itu melayang, siap mendarat entah di pipi sebelah mana.

"STOP!!"

Pemilik tangan itu tertawa terkekeh, "kenapa? Sakit? Ya, bagus. Sekarang saya tanya, kamu nyesal, ndak?"

"Siapa yang nyesel?! Lagian saya salah apa?!"

Makin ia terkekeh, "kamu ndak usah pura-pura ndak tau. Ndak usah pura-pura ndak punya dosa. Semua manusia pasti punya salah. Nah, kamu pikirlah sekarang, kamu pernah tampar siapa dulu yang sakitnya kira-kira sebanding sama sakitmu ini?"

Aku diam sambil memegangi kedua pipiku yang masih terasa panas.

"Mana saya tau! Lagian apa, sih, dateng-dateng asal tampar! Mau kamu dibalas karma?!"

Meledaklah tawanya.

"Kamu kok lucu? Sudah begini bawa-bawa karma. Waktu kamu tampar orang, pernah kepikir karma, ndak? Ha? Ndak, toh? Yawis, bukan urusan saya juga. Habis ini, urusan saya selesai, kok. Masih banyak orang macam kamu yang harus saya tampar juga. Biar belajar tau diri dan ndak semena-mena."

Lalu sekali lagi, tangan dingin itu mendarat di dahi yang berkeringat dingin ini.

PLAK!!

Katanya...

Merokok dalam diam setelah bekerja fisik memang nikmat. Kutatap sisa barang yang masih berserak, menunggu diletakkan di tempat yang seharusnya.

Dia masuk ke ruang tengah tempatku duduk terpekur melepas lelah. Memandang sekilas, lalu pergi ke dapur. Aku masih asyik dengan rokok dan dinding putih terbias cahaya lampu teras tempatku melabuhkan pandangan kosong di ruangan yang sengaja tak kuhidupkan lampunya.

Dia masuk lagi. Meletakkan secangkir cappucino sachet hangat di hadapanku seraya menarik rokok dari mulutku, menghisapnya sekali, lalu menekan baranya pada kotak rokok kosong yang kujadikan asbak. Asap rokok menguar dari mulutnya.

"Kamu 'nggak cocok sama rokok. Kopi juga 'nggak lebih baik, sih. Tapi lebih cocok buat kamu."

Setelah berkata itu, ia melengang kembali melanjutkan membereskan kamar tidur.

Thursday, June 1, 2017

Sama

Kamu sama dia sama.

Kamu pakai nama kamu dia bungkam.

Kamu jumawa dia bungkam.

Dia bersuara kamu bungkam.

Dia bersuara kamu selesai.

Dia kembali diam kamu termangu.

Saya dimana?