Tuesday, April 30, 2013

Kertas Kosong



Title: Kertas Kosong
Author: DEADBORN
Rating: PG13
Genre: Angst
Chapter: One shot
Finishing: April 2014


Disana aku duduk. Pada salah satu sudut sebuah ruang remang. Secarik kertas putih, sebatang pensil, sebuah penghapus berada di atas meja. Menunggu.
                Apa yang akan kutulis? Apa yang akan kulukis?
                Aku mengais setiap sudut ingatan. Berharap ada satu momen yang dapat kuabadikan menjadi suatu karya. Entah itu garis-garis yang saling menyambung dalam sebuah gambar utuh, atau mungkin untaian kata-kata yang terangkai rapi serupa puisi.
                Kuambil pensil mekanik. Sejenak aku meragu. Tapi, kenapa tak kucoba?
                Menit selanjutnya, aku membiarkan tanganku bekerja atas keinginannya sendiri. Satu, dua tiga, hingga menit ketigapuluh, sebuah karya menampakkan wujudnya.
                Satu garis-garis halus yang menyambung. Sebuah gambar. Lelaki dan perempuan. Aku dan kamu.
                Gambarku mungkin tak seindah Leonardo Da Vinci. Tapi bukan berarti se-abstrak lukisan Pablo Picasso. Aku hanya menggambar apa yang kurasa, apa yang kuingat, apa yang kuinginkan.
                Aku merasa rindu. Aku ingat kamu. Dan aku ingin kita bertemu.
                Maka kugambar saja seorang perempuan yang sedang memeluk seorang pria. Dengan senyum bahagia terpasang pada wajah mereka.
                Kupandangi gambar itu. Apakah kita dapat sebahagia gambar ini? batinku.
                Kuambil penghapus. Kuhapus gambar itu. Semua. Hingga kertas itu kembali menjadi kertas kosong, polos. Namun tak lagi sama dengan guratan-guratan kasar hapusan dan noda kehitaman yang samar.
                Itulah yang kurasa.
                Kutinggalkan kertas, pensil dan penghapus itu diatas meja. Aku beranjak menuju kamar.
                Biarkan aku tidur. Aku mengantuk.
                Biarkan aku lupa. Aku tersesat.
                Biarkan aku ingat. Aku terbebas.

Thursday, April 25, 2013

Pulang



Title: Pulang
Author: DEADBORN
Rating: PG13
Genre: Romance, Fluff
Chapter: One shot
Finishing: April 2013


Sudah lama sekali aku tak melihat dirinya. Mungkin sudah hampir lima tahun sejak pertemuan kami yang terakhir. Itu pun tak lama. Tapi tak mengapa, karena pada akhirnya kami bertemu kembali.
Senyum kamu mengembang ketika akhirnya kamu melihatku. ‘Kamu semakin cantik,’ pujiku tulus. Tak sia-sia penantian selama tiga jam di airport akibat pesawat yang delay karena masalah cuaca. Menanti kepulangan dirinya yang akhirnya menyelesaikan studinya di luar negeri.
‘Terima kasih,’ kulihat semburat merah jambu menghias pipinya. Astaga, sejak kapan ia menjadi sebegitu cantiknya?
‘Kamu pasti lelah. Kita langsung pulang ke rumah, ya?’ ajakku. Tapi kamu menolak.
‘Ayo kita pergi kelaut’ ajakmu. Dan aku dengan patuh akan mengantarmu meskipun khawatir. Tak apalah, mungkin kamu bosan terkurung dalam pesawat selama 12 jam.
Diperjalanan, kamu lebih banyak diam. Aku semakin khawatir. ‘Kamu benar ingin ke pantai?’
‘Iya. Aku kangen pantai di sini,’ jawabmu pendek. Matamu tak fokus. Aku tahu, lagi-lagi kamu mengembara jauh dalam pikiranmu. Suatu kebiasaan yang tak memiliki penawar. Kapan pun dan dimana pun, diam-diam kamu akan melandas bersama imajinasimu menuju suatu tempat didalam kenangan. Mungkin pemandangan di kota ini memicu semua kenangan yang tak ingin kamu ingat tapi selalu terbayang untuk dikenang. Dan kamu tinggalkan aku bersama ragamu. Tapi tak mengapa, karena aku paham, kamu pasti akan selalu pulang.
Kami sampai di pantai. Dalam sekejap, kamu menjejak kembali ke alam nyata. Kamu buka pintu mobil dengan penuh semangat. Kamu lepas sepatu, kemudian berlari keluar.
                Melihatmu berlarian dengan kaki telanjang diatas putihnya pasir yang halus. Tak kamu pedulikan ranting-ranting tajam yang bisa saja melukai kakimu. Kamu memekik, girang. Seperti anak kecil yang baru melihat laut.
                Memandangi kamu yang berjalan pelan-pelan pada pasir abu-abu yang basah di tepian pantai. Kamu biarkan ombak kecil menelan jejak-jejak kakimu. Kamu melangkah pelan sekali, seolah tak ingin kehilangan momen dimana ombak-ombak itu menyentuh halus kulitmu. Padahal kamu tahu, mereka akan selalu kembali.
                Kamu mendesah pelan. Nafasmu dihela.
                Kadang aku bertanya-tanya, apa yang membuatmu begitu menyukai laut? Dulu pun demikian, sebelum kamu pergi untuk melanjutkan studimu, kamu minta aku untuk mengantarkanmu ke laut. Jauh sebelum itu pun, jika ada waktu luang, kamu selalu minta ditemani ke laut. Ketika di luar negeri pun kamu selalu bercerita jika ada waktu luang, kamu dan beberapa orang temanmu selalu bermain ke laut. Rasanya, sejak aku mengenal kamu, sepuluh tahun yang lalu, kamu belum begitu tertarik dengan laut. Tapi ketika suatu hari, tahun ketiga aku mengenalmu, ketika kamu dirundung lara, hampir habis akalku untuk membuat senyummu kembali bersinar. Akhirnya, aku coba bawa kamu ke laut untuk menghiburmu. Syukurlah kamu mulai bisa tersenyum. Jadi, kenapa? Akhirnya kutanyakan juga pada dirinya, tadi.
                Kamu tersenyum sebelum menjawab, ‘karena semua air akan kembali mengalir menuju laut. Laut itu seperti... rumah.’
                Pandanganmu menerawang jauh, menatap horison yang mulai memerah. Dan kemudian, kamu memekik girang, ‘lihat, Mas! Mataharinya akan terbenam! Bagus, ya?’ katamu dengan antusias. Aku paham betul, ini merupakan salah satu bagian favoritmu saat berada di pantai. Melihat matahari terbenam.
                ‘Rasanya tenang sekali berada di pantai, ditepi laut. Merasakan ombak yang menyapu kulit. Merasakan lembutnya pasir abu-abu, halusnya pasir putih. Aku seperti berada di rumah. Semua perasaan dan emosi negatif yang kurasakan seperti mendadak... hilang. Mungkin turut hanyut bersama ombak. Atau mungkin juga ikut terhela bersama angin. Rumah kan memang seharusnya menjadi tempat yang dapat menenangkanmu, menjadikanmu merasa aman dan bahagia,’ kamu berbicara dengan suara pelan. ‘Seringkali aku merasa kangen rumah. Maka aku akan pergi ke laut. Kutemukan ketenangan, rasa aman dan kebahagiaan yang sama seperti sedang berada di rumah. Itulah sebabnya aku suka laut, aku bisa menjadi diriku sendiri disana,’ kamu melanjutkan.
Tubuhmu disini, bersama aku, tapi pikiranmu mengembara kemana-mana, jauh. Mungkin berada dibalik lembayung senja yang meluruh bersama dengan datangnya malam. Menjelajahi kenangan yang kamu miliki tentang rumah. Tentang orang-orang yang dulu sekali pernah menunggu kamu, tapi kini semua lenyap. Sang Maut belum menginginkanmu. Maka ditinggalkannyalah kamu sendirian bersama kenangan tentang rumah.
 Aku paham itu. Dan aku akan selalu membiarkanmu mengembara jauh bersama pikiranmu. Tak apa, karena aku tahu kamu pasti akan pulang. Jadi aku akan menunggumu, disebelah ragamu, sambil ikut menikmati matahari dipenghabisannya.
                Sesaat setelah matahari menghilang dibalik warna keunguan yang melukisi langit, kamu pulang. Aku sudah tahu. Kamu genggam tanganku.
                ‘Terima kasih, Dimas,’ senyummu mengembang. Aku tertawa kecil. Kugenggam balik tangannya yang mungil. ‘Terima kasih karena kamu selalu ada untuk menunggu aku kembali pulang. Meskipun aku pergi jauh, sekalipun aku mengembara dalam waktu yang lama, tapi kamu tetap menunggu aku. Kamu selalu bisa menjadi alasan aku untuk kembali. Kamu membebaskan aku, tak seperti orang-orang yang dulu pernah bersamaku, yang ketakutan jika aku pergi dan tak akan kembali. Mereka tak mempercayai aku, iya kan? Aku tak suka karena akibat mereka tak mempercayaiku, justru mereka jadi mengikat aku. Tidak adil rasanya.
‘Tapi  kamu selalu tahu, Dimas. Kamu selalu percaya aku pasti akan pulang. Bersama kamu seperti sedang berada di pantai, tepi laut. Aku merasa seperti berada di rumah.’
                ‘Kamu tak perlu berterima kasih, untuk hal apapun, Inge. Kamu bebas pergi, mengembara, selama apapun, sejauh apapun. Jangan takut untuk kehilangan arah untuk pulang, karena kamu tahu persis kemana kamu harus kembali. Pulang ke rumah,’ kataku.
                ‘Sekarang aku sudah memiliki rumah, aku akan pulang. Tak perlu lagi ke laut, karena rumah itu adalah kamu,’ balas Inge. Senyumnya semakin mengembang. ‘Aku pulang.’
                Semesta menggelap ditemani kerlipan Bintang Selatan yang cemerlang. Malam tiba tepat waktu. Seperti kepulanganmu ke rumah, yang pasti akan tiba. Tidak peduli seberapa lama aku harus bersabar menunggu,  sejak sepuluh tahun yang lalu, hingga lima belas, atau lima puluh tahun kemudian sekalipun, aku tahu kamu pasti akan pulang. Kamu pun tahu persis kemana harus pulang. Aku percaya itu.
                ‘Selamat datang.’

Tuesday, April 23, 2013

[poem] Hujan

Tidak semua orang suka hujan.
                Ketika suara rintik hujan terdengar, orang-orang berlalu-lalang dalam ketergesaan. Mencari tempat berteduh dari dinginnya rintik hujan.
                Tapi kamu lain. Kamu menikmati setiap tetesan hujan yang menghujam lembut kulitmu. Kamu menyukai suara hujan yang menampar aspal. Kamu tak keberatan seluruh tubuhmu kuyup karena terlalu asik bercengkrama dengan peri-peri air yang datang bersama hujan.
                Kamu tahu? Aku kangen sekali melihat kamu yang seperti itu.
                Dulu, setiap kali hujan, aku selalu menanti saat-saat kamu bermain dengan para peri air dari sisi jendela besar. Meskipun aku takut dengan kilat dan guntur, tapi jika aku bisa melihat kamu, maka itu bukan masalah.
                Seringkali kamu sakit sehabis bermain hujan. Tapi kamu tak peduli. Kapanpun hujan datang, kamu dengan semangat akan keluar, menyambut peri-peri air yang datang bersama hujan. Menari dan tertawa bersama. Hanya kalian yang mengerti apa yang tengah ditertawakan.
                Aku iri. Ketika kamu bisa bermain diluar sana, aku hanya duduk diam disisi jendela. Melihatmu tertawa-tawa dari dalam. Tapi biarlah.
                Tapi semua tak lagi sama.
                Kita terikat dan terseret dalam arus waktu. Hidup bergulir. Dan aku kehilangan kamu. Kehilangan kamu yang dulu, yang suka sekali bermain hujan.
                Sampai sekarang, ketika hujan datang dan orang-orang mulai berlalu-lalang dalam ketergesaan, aku akan duduk disisi jendela. Menunggu titik-titik hujan mengetuk-ngetuk kaca jendela yang membiaskan bayangan kamu yang asik bercengkrama dengan para peri air. Karena memori tentang kamu sudah tersimpan dalam setiap rintik hujan.

Luka



Title: Luka
Author: DEADBORN
Rating: PG15
Genre: Angst
Chapter: One shot
Finishing: April 2014



Aku hidup dengan luka. Dulu sekali.
                Rasa sakit itu menjadi kawan. Aku mencandu. Jika sakit adalah obat, maka aku bisa dipastikan aku sakaw. Ingin.
                Kamu yang menjadi bandarnya. Berulang kali kamu tawarkan candu itu. Rasa sakit yang kamu sembunyikan dalam bentuk yang tak masuk akal.
 Bagaimana mungkin sebuah pertemuan dapat meredam bara rindu?
Bagaimana mungkin sebuah kalimat dapat memuaskan dahaga hati?
Bagaimana mungkin sebuah sentuhan dapat menenangkan jiwa yang gelisah?
Bagaimana mungkin semua pertemuan, kalimat dan sentuhan itu dapat menjadi racun?
Dan sekarat aku dibuatnya.
Tapi tak sekalipun aku berpikir untuk berhenti. Kamu adalah bandar yang membuat racun laksana madu. Kamu membuatku menjadi seorang pecandu. Candu akan sakit yang kamu tawarkan dalam harapan yang tersirat.

Aku hidup dalam luka. Saat ini.
                Sudah tak terhitung luka yang kamu buat. Sudah tak kuhapal lagi berapa kali kamu tawarkan rasa sakit yang kamu berikan dalam semunya bahagia.
                Tapi aku belum jera. Aku masih haus. Aku masih ingin. Aku masih candu.
                Rasa sakit itu selalu menyerang bagian paling halus yang kumiliki. Satu demi satu luka mengoyak tirai-tirai halusnya, hingga tak tersisa apapun lagi selain sobekan-sobekan kain yang tak berbentuk. Sakit. Sangat sakit.
                Kali ini, aku merasa harus berhenti. Tapi aku harus apa? Aku harus mencari obat lain untuk mengobati luka-luka hati ini. Bagaimana caranya aku menghilangkan luka-luka ini?
                Pertama, aku mencoba untuk berhenti menemuimu.
Aku menutup erat-erat kedua telingaku dari bisik rayumu.
Kubalut tubuhku rapat dari sentuhan nakalmu.
Tapi aku kalut. Aku sakaw. Hatiku semakin sakit. Aku harus apa?
Aku tak bisa mengobati sendiri. harus kukemanakan rasa sakit ini? Apakah jika kupindahkan ketempat lain, sakitnya juga ikut berpindah?
Satu pemikiran tak masuk akal merayapi benak. Tapi kenapa tak kucoba?
Maka kutorehkan sebuah sayatan tipis pada pergelangan tangan kiriku. Aku meringis. Ngilu merambati ulu hati. Kulihat merah merona pada segurat luka. Titik-titik merah muncul dengan cantik. Aku terpesona.
Kamu cantik, bisikku. Mengalirlah. Bawalah pergi sakit ini bersama butirmu.
Sekali lagi, kutorehkan sebuah garis melintang. Sedikit lebih dalam, beberapa mili saja dari garis pertama. Kali ini bukan titik merah yang muncul melainkan segaris merah pekat merekah. Persis mawar mekar di taman rumah dulu. Sekali lagi aku terpesona. Bersamaan dengan ringisan perihku, luka hati terasa tawar.
Aku rasa, aku berhasil mengobati luka hatiku, dengan luka fisikku.

Aku hidup bersama luka. Hingga nanti.
                Kubilang, aku mencandu dan kamulah bandarnya.
Kamu mengajari aku mencintai dalam sakit, dengan luka. Kamulah jembatan pertemuanku dengan racun yang dengan kejamnya merusak bagian terhalus dari diriku. Mengoyak hati, menghancurkan raga. Tapi kamu tak harus bertanggung-jawab.
Tak perlu lagi aku menemui kamu untuk mengecap remah pedih.
Aku ingin mengobati luka ini, dengan caraku sendiri. Dengan mensubtitusinya dengan satu-satunya cara yang aku tahu, dan aku bisa. Sehingga aku tak perlu lagi sakaw akan rasa sakit. Ya, aku tahu caranya kini.
Aku menutup luka, dengan luka.
Sehingga aku bisa terus hidup hingga nanti. Hingga aku cukup lelah untuk akhirnya menyerah dan mati sakaw akan rinduku pada rasa sakit. Tanpa perlu lagi bertemu denganmu.
Rasa sakit menjadi pengganti dirimu. Darah ini subtitusi sakit dalam hatiku.

Hidupku bersanding dengan luka. Pada hati yang terbebat, pada tubuh yang tersayat. Selamanya.