Title: Spilled Milk
Author: Deadborn
Genre: Angst
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: March 2013
Disclaimer: Spilled Milk by Dir en Grey
Author: Deadborn
Genre: Angst
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: March 2013
Disclaimer: Spilled Milk by Dir en Grey
***
Seekor kucing hitam duduk ditepi jendela. Mata kuningnya
menatap aku yang sedang merangkak, berusaha membersihkan sisa-sisa pertengkaran
aku dan kamu siang tadi. Tumpahan makanan yang aku banting, pecahan piring yang
kamu lempar.
Hancur.
Remuk.
Kucing hitam itu mengeong. Sesosok
tubuh kurus masuk kedalam ruangan.
Aku menatapnya. Berantakan. Ia
tak ada bedanya dengan ruangan ini. Begitupula aku. Kami sama saja.
Kamu mulai berteriak. Mencaci,
memaki, menghujat, menghardik. Semua kata-kata kotor yang sanggup kamu katakan
dengan lancarnya keluar dari mulutmu. Aku masih diam.
Sekarang kamu menangis. Butir-butir
bening yang mengalir dari mata yang merah mulai membasahi pipi kurusmu. Membasahi
bagian depan pakaianmu. Kamu meraung. Tanganmu mengambil benda yang paling
dekat, sebuah mug. Mug yang kamu beli karena katamu mengingatkan kamu pada
kucingmu yang dulu mati diracun. Kamu banting mug itu didepan wajahku. Refleks,
aku menahan pecahannya agar tak mengenai mataku dengan lengan.
Aku masih tak paham. Mengapa
kamu begitu kacau? Padahal aku sudah bilang pada agar tidak melakukan hal yang
berlebihan, tapi sepertinya kata-kataku itu tak pernah didengar. Emosimu selalu
meledak-ledak.
Apakah aku yang kurang peka?
Aku berusaha menenangkan kamu,
kuraih tubuh kurus kamu yang berontak. Dalam dekapanku, kamu menjerit, memukul,
meronta dengan segenap kekuatan yang masih kamu miliki. Tapi kali ini aku tak
mau mengalah. Lebih erat aku mendekap hingga kamu berhenti berontak. Hingga
tangisan yang tersisa dalam ledakan amarah kamu.
Kenapa berbohong?
Pertanyaan itu tak pernah kamu
jawab. Pertanyaan yang serupa kartu mati untukmu. Kamu tersudut. Dalam emosi,
kamu mulai mengamuk. Tinggal aku yang diam. Menunggu jawaban. Pertanyaan yang
memulai segalanya.
Aku tahu tak pernah ada yang
berdiam dalam rahimmu. Jadi, untuk apa kamu marah? Apa yang kamu inginkan
sebenarnya?
Itukah cinta? Ataukah kamu hanya
ingin sekedar ucapan manis?
Kamu yang egois. Tidakkah ini
masih kurang bagimu? Semua yang sudah kuberikan padamu. Cintaku yang selalu kau
inginkan.
Tidurlah, cantik. Apakah kamu
senang?
Perlahan, aku mengeluarkan pisau
kecil yang diam-diam kumasukkan kedalam kantong celanaku.
Rasanya aku kembali jatuh cinta
pada dirimu saat aku melihat wajah tidurmu. Biarkan aku merasakan kembali
perasaan ini selamanya.
Maka, kugoreskan mata pisau itu
pada urat nadi lengannya. Segurat luka menganga dengan darah merah yang
mengalir. Tak ada jerit sakit, tak ada wajah yang kaget. Wajah tidurnya tak
berubah. Cantik.
Si kucing hitam kembali
mengeong, mungkin lapar.
Kukecup bibirmu perlahan sebelum aku bangkit untuk
mengambil susu dari kulkas. Kutuang susu itu dilantai, percikannya membasahi
celana panjangku. Seperti darah kamu yang terus menetes dari nadi yang bolong
dan menganga. Membasahi lantai dengan warna kehidupan yang pernah kamu miliki.
Genangan darah melebar.
Si kucing masuk dari
jendela, menghampiriku. Ia mengendus
genangan susu sebelum akhirnya mulai menjilatinya dengan lahap. Permalink
Aku berbaring miring didepan si kucing dan genangan susu
yang mulai mengecil, yang berbanding terbalik dengan genangan disisi tempat
tidur dimana kamu terlelap selamanya dalam kebohongan. Kutatap karangan bunga
yang tergeletak dikusen jendela. Terus menatap. Inikah cinta?
Si kucing hitam mengeong. Dengan sigap ia melompat kekusen jendela.
Sebelum melompat keluar, mata kuningnya dihadapkan padaku.
Dari mata itu, rasanya aku menyadari sesuatu.
Si kucing hitam pergi. Perlahan, aku bangkit. Kekacauan,
chaos. Hanya itu yang ada dihadapanku.
Kini aku berjalan menuju kegelapan.
[THE
END]
No comments:
Post a Comment