Saturday, March 30, 2013

Spilled Milk

Title: Spilled Milk
Author: Deadborn
Genre: Angst
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: March 2013
Disclaimer: Spilled Milk by Dir en Grey
               
***
    Seekor kucing hitam duduk ditepi jendela. Mata kuningnya menatap aku yang sedang merangkak, berusaha membersihkan sisa-sisa pertengkaran aku dan kamu siang tadi. Tumpahan makanan yang aku banting, pecahan piring yang kamu lempar.
                Hancur.
                Remuk.
                Kucing hitam itu mengeong. Sesosok tubuh kurus masuk kedalam ruangan.
                Aku menatapnya. Berantakan. Ia tak ada bedanya dengan ruangan ini. Begitupula aku. Kami sama saja.
                Kamu mulai berteriak. Mencaci, memaki, menghujat, menghardik. Semua kata-kata kotor yang sanggup kamu katakan dengan lancarnya keluar dari mulutmu. Aku masih diam.
                Sekarang kamu menangis. Butir-butir bening yang mengalir dari mata yang merah mulai membasahi pipi kurusmu. Membasahi bagian depan pakaianmu. Kamu meraung. Tanganmu mengambil benda yang paling dekat, sebuah mug. Mug yang kamu beli karena katamu mengingatkan kamu pada kucingmu yang dulu mati diracun. Kamu banting mug itu didepan wajahku. Refleks, aku menahan pecahannya agar tak mengenai mataku dengan lengan.
                Aku masih tak paham. Mengapa kamu begitu kacau? Padahal aku sudah bilang pada agar tidak melakukan hal yang berlebihan, tapi sepertinya kata-kataku itu tak pernah didengar. Emosimu selalu meledak-ledak.
                Apakah aku yang kurang peka?
                Aku berusaha menenangkan kamu, kuraih tubuh kurus kamu yang berontak. Dalam dekapanku, kamu menjerit, memukul, meronta dengan segenap kekuatan yang masih kamu miliki. Tapi kali ini aku tak mau mengalah. Lebih erat aku mendekap hingga kamu berhenti berontak. Hingga tangisan yang tersisa dalam ledakan amarah kamu.
                Kenapa berbohong?
                Pertanyaan itu tak pernah kamu jawab. Pertanyaan yang serupa kartu mati untukmu. Kamu tersudut. Dalam emosi, kamu mulai mengamuk. Tinggal aku yang diam. Menunggu jawaban. Pertanyaan yang memulai segalanya.
                Aku tahu tak pernah ada yang berdiam dalam rahimmu. Jadi, untuk apa kamu marah? Apa yang kamu inginkan sebenarnya?
                Itukah cinta? Ataukah kamu hanya ingin sekedar ucapan manis?
                Kamu yang egois. Tidakkah ini masih kurang bagimu? Semua yang sudah kuberikan padamu. Cintaku yang selalu kau inginkan.
                Tidurlah, cantik. Apakah kamu senang?
                Perlahan, aku mengeluarkan pisau kecil yang diam-diam kumasukkan kedalam kantong celanaku.
                Rasanya aku kembali jatuh cinta pada dirimu saat aku melihat wajah tidurmu. Biarkan aku merasakan kembali perasaan ini selamanya.
                Maka, kugoreskan mata pisau itu pada urat nadi lengannya. Segurat luka menganga dengan darah merah yang mengalir. Tak ada jerit sakit, tak ada wajah yang kaget. Wajah tidurnya tak berubah. Cantik.
                Si kucing hitam kembali mengeong, mungkin lapar.
    Kukecup bibirmu perlahan sebelum aku bangkit untuk mengambil susu dari kulkas. Kutuang susu itu dilantai, percikannya membasahi celana panjangku. Seperti darah kamu yang terus menetes dari nadi yang bolong dan menganga. Membasahi lantai dengan warna kehidupan yang pernah kamu miliki.
    Genangan darah melebar.
    Si kucing masuk dari jendela,  menghampiriku. Ia mengendus genangan susu sebelum akhirnya mulai menjilatinya dengan lahap. Permalink
    Aku berbaring miring didepan si kucing dan genangan susu yang mulai mengecil, yang berbanding terbalik dengan genangan disisi tempat tidur dimana kamu terlelap selamanya dalam kebohongan. Kutatap karangan bunga yang tergeletak dikusen jendela. Terus menatap. Inikah cinta?
    Si kucing hitam mengeong. Dengan sigap ia melompat kekusen jendela. Sebelum melompat keluar, mata kuningnya dihadapkan padaku.
    Dari mata itu, rasanya aku menyadari sesuatu.
    Si kucing hitam pergi. Perlahan, aku bangkit. Kekacauan, chaos. Hanya itu yang ada dihadapanku.

    Kini aku berjalan menuju kegelapan.


[THE END]

No comments:

Post a Comment