Title : An Unforgettable Paces to the Glass Road
Author : DEADBORN
Genre : Angst, but not really sure....
Rating : PG13
Chapter(s) : oneshot
Fandom(s) : No Fandom
Finishing : February 2013
Note : “Selamat ulang tahun,
cermin hidupku.” :)
Hujan masih membayangi kota itu. Rintiknya halus namun
membekukan. Tapi lelaki itu seolah tak peduli. Dibawah payung putih, ia
berjalan dengan langkah ringan.
Sesekali
ia bermain dengan percikan air yang mengalir turun dari tepi payungnya. Tanpa
ia sadari, ia mulai bersenandung. Hujan itu seolah memainkan melodi yang indah,
dan ia tak tahan untuk tidak ikut bernyanyi bersama.
Ia
terus berjalan ditengah hujan. Ia tak tahu dimana dirinya berada, tapi
lingkungan sekitarnya begitu familiar. Kakinya pun seperti memiliki keinginan
tersendiri yang terpisah dari otak. Membawanya terus berjalan menuju suatu
tempat yang seolah-olah sudah dihapalnya. Seperti sudah ribuan kali ia
menyambangi tempat tujuannya itu.
Pada
satu sudut kota yang kelabu didalam tirai hujan.
Pada
sebuah kedai kopi kecil yang bersapukan kabut.
Pada
seorang gadis yang menunggu dirinya.
Ia
sedang jatuh cinta.
Ia tahu
itu rasanya aneh. Ia bahkan tidak menyadari hal itu sampai ia mulai sadar bahwa
ia tengah menyanyikan sebuah lagu yang secara perlahan memanggil seraut wajah
yang halus dalam benaknya. Wajah yang selama ini tak lelah singgah dalam
mimpinya.
Dimana cinta
dan harapan berubah bentuk menjadi sesuatu yang membuatnya berharap agar mimpi
itu ikut terbangun bersama dirinya yang harus menjejak kembali ke realita. Bukan
menjadi alunan melodi dusta yang ia dengar selagi ia terjaga.
Ia bisa
merasakannya. Sebentar lagi, ia akan tiba pada tikungan yang akan membawanya
menjumpai kedai kopi kecil itu. Jantungnya berdetak lebih keras, mungkin karena
ia sudah tahu apa yang akan terjadi. Siapa yang akan ia temui.
Itulah
dia, kedai kopi sederhana dengan interior kayu jati yang nyaman. Ia membuka
pintunya lalu masuk. Aroma kopi meruap. Ruangan sederhana itu terasa lengang,
sepi. Dan disalah satu sudutnya, ia bisa melihatnya. Pada sebuah meja kayu
persegi, dengan setangkai bunga lily yang menghiasi meja, ditemani secangkir
cappuccino yang masih mengeluarkan uap hangat, seorang gadis berparas halus duduk
ditepi jendela. Memandangi rintik hujan yang mengetuk kaca jendela dengan
senyum manis terkulum dibibirnya.
Ternyata
kamu masih sabar menunggu...
Ia
melipat payungnya yang basah, mengaitkannya pada tempat penitipan payung. Dengan
langkah perlahan, ia mendekati gadis itu. Sambil menahan degupan jantungnya
yang entah kenapa terpacu lebih cepat dari biasanya, ia mengeluarkan sebuah
kotak kecil berlapis beludru berwarna merah. Tepat didepan si gadis, ia
menyorongkan benda itu.
“Selamat
ulang tahun,” sapanya. Gadis itu menoleh, wajahnya nampak agak terkejut, tapi
sebuah senyuman kini muncul di bibirnya. “Bukalah.”
Si
gadis membuka kotak itu. Sebuah cincin perak polos. Wajah si gadis kini bersemu
kemerahan. Si lelaki mengambil cincin perak itu, kemudian mengangkat tangan
kanan si gadis dengan hati-hati sambil menyematkan cincin perak itu. “Kamu
suka?”
Senyum
si gadis entah kenapa membuatnya merasa bahagia bahkan tanpa perlu anggukan
persetujuan itu, si lelaki merasa menjadi orang yang paling bahagia. “Terima
kasih.”
Kini
mereka berdua duduk berhadapan di meja kayu persegi itu, saling bertatapan. Ia
sudah paham, begitupun si gadis. Cinta yang mereka miliki tak lagi memerlukan
bahasa verbal. Selama hati mereka berbicara, mereka paham. Mereka mengerti.
Tidak
ada lagi jarak. Gambar yang sempurna itu terekam dalam setiap rintik hujan yang
mengintip dari jendela. Dalam sebuah kedai kopi sederhana pada salah satu sudut
kota yang kelabu oleh hujan. Tapi semua itu lebur dalam satu warna.
Lagi-lagi
mimpi....
Ia
kembali terjada pada realitas. Sayang, mimpi itu tak berhasil dibawanya. Mungkin
belum saatnya. Ia menghela nafas. Lelah mungkin merupakan kata yang tepat untuk
dirinya yang sudah terlalu lama dipermainkan oleh gadis yang tinggal didalam
mimpinya. Egois memang, karena itu bukan sepenuhnya salah gadis itu. Tapi siapa
yang tidak lelah jika ia selalu memimpikan hal yang sama. Gadis yang sama, pada
tempat yang sama.
Tapi siapa
gadis itu?
Ia
hanya diam sambil berusaha mengingat setiap detil dari mimpinya. Merincinya
secara akurat, menjadikannya sebuah karya yang mungkin saja sampai pada gadis
dalam mimpinya. Sekalipun ia merasa egois meminta hal semuluk itu. Sekalipun
pengharapan itu membuatnya terlihat lemah.
Kini
bibirnya menyunggingkan senyum. Pasti. Doanya.
No comments:
Post a Comment