Thursday, March 28, 2013

An Unforgettable Paces to the Glass Road

Title : An Unforgettable Paces to the Glass Road
Author : DEADBORN
Genre : Angst, but not really sure....
Rating : PG13
Chapter(s) : oneshot
Fandom(s) : No Fandom
Finishing : February 2013
Note : “Selamat ulang tahun, cermin hidupku.” :)



Hujan masih membayangi kota itu. Rintiknya halus namun membekukan. Tapi lelaki itu seolah tak peduli. Dibawah payung putih, ia berjalan dengan langkah ringan.
                Sesekali ia bermain dengan percikan air yang mengalir turun dari tepi payungnya. Tanpa ia sadari, ia mulai bersenandung. Hujan itu seolah memainkan melodi yang indah, dan ia tak tahan untuk tidak ikut bernyanyi bersama.
                Ia terus berjalan ditengah hujan. Ia tak tahu dimana dirinya berada, tapi lingkungan sekitarnya begitu familiar. Kakinya pun seperti memiliki keinginan tersendiri yang terpisah dari otak. Membawanya terus berjalan menuju suatu tempat yang seolah-olah sudah dihapalnya. Seperti sudah ribuan kali ia menyambangi tempat tujuannya itu.
                Pada satu sudut kota yang kelabu didalam tirai hujan.
                Pada sebuah kedai kopi kecil yang bersapukan kabut.
                Pada seorang gadis yang menunggu dirinya.
                Ia sedang jatuh cinta.
                Ia tahu itu rasanya aneh. Ia bahkan tidak menyadari hal itu sampai ia mulai sadar bahwa ia tengah menyanyikan sebuah lagu yang secara perlahan memanggil seraut wajah yang halus dalam benaknya. Wajah yang selama ini tak lelah singgah dalam mimpinya.
                Dimana cinta dan harapan berubah bentuk menjadi sesuatu yang membuatnya berharap agar mimpi itu ikut terbangun bersama dirinya yang harus menjejak kembali ke realita. Bukan menjadi alunan melodi dusta yang ia dengar selagi ia terjaga.
                Ia bisa merasakannya. Sebentar lagi, ia akan tiba pada tikungan yang akan membawanya menjumpai kedai kopi kecil itu. Jantungnya berdetak lebih keras, mungkin karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi. Siapa yang akan ia temui.
                Itulah dia, kedai kopi sederhana dengan interior kayu jati yang nyaman. Ia membuka pintunya lalu masuk. Aroma kopi meruap. Ruangan sederhana itu terasa lengang, sepi. Dan disalah satu sudutnya, ia bisa melihatnya. Pada sebuah meja kayu persegi, dengan setangkai bunga lily yang menghiasi meja, ditemani secangkir cappuccino yang masih mengeluarkan uap hangat, seorang gadis berparas halus duduk ditepi jendela. Memandangi rintik hujan yang mengetuk kaca jendela dengan senyum manis terkulum dibibirnya.
                Ternyata kamu masih sabar menunggu...
                Ia melipat payungnya yang basah, mengaitkannya pada tempat penitipan payung. Dengan langkah perlahan, ia mendekati gadis itu. Sambil menahan degupan jantungnya yang entah kenapa terpacu lebih cepat dari biasanya, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru berwarna merah. Tepat didepan si gadis, ia menyorongkan benda itu.
                “Selamat ulang tahun,” sapanya. Gadis itu menoleh, wajahnya nampak agak terkejut, tapi sebuah senyuman kini muncul di bibirnya. “Bukalah.”
                Si gadis membuka kotak itu. Sebuah cincin perak polos. Wajah si gadis kini bersemu kemerahan. Si lelaki mengambil cincin perak itu, kemudian mengangkat tangan kanan si gadis dengan hati-hati sambil menyematkan cincin perak itu. “Kamu suka?”
                Senyum si gadis entah kenapa membuatnya merasa bahagia bahkan tanpa perlu anggukan persetujuan itu, si lelaki merasa menjadi orang yang paling bahagia. “Terima kasih.”
                Kini mereka berdua duduk berhadapan di meja kayu persegi itu, saling bertatapan. Ia sudah paham, begitupun si gadis. Cinta yang mereka miliki tak lagi memerlukan bahasa verbal. Selama hati mereka berbicara, mereka paham. Mereka mengerti.
                Tidak ada lagi jarak. Gambar yang sempurna itu terekam dalam setiap rintik hujan yang mengintip dari jendela. Dalam sebuah kedai kopi sederhana pada salah satu sudut kota yang kelabu oleh hujan. Tapi semua itu lebur dalam satu warna.
                Lagi-lagi mimpi....
                Ia kembali terjada pada realitas. Sayang, mimpi itu tak berhasil dibawanya. Mungkin belum saatnya. Ia menghela nafas. Lelah mungkin merupakan kata yang tepat untuk dirinya yang sudah terlalu lama dipermainkan oleh gadis yang tinggal didalam mimpinya. Egois memang, karena itu bukan sepenuhnya salah gadis itu. Tapi siapa yang tidak lelah jika ia selalu memimpikan hal yang sama. Gadis yang sama, pada tempat yang sama.
                Tapi siapa gadis itu?
                Ia hanya diam sambil berusaha mengingat setiap detil dari mimpinya. Merincinya secara akurat, menjadikannya sebuah karya yang mungkin saja sampai pada gadis dalam mimpinya. Sekalipun ia merasa egois meminta hal semuluk itu. Sekalipun pengharapan itu membuatnya terlihat lemah.
                Kini bibirnya menyunggingkan senyum. Pasti. Doanya.
               

No comments:

Post a Comment