Thursday, March 28, 2013

[repost] Anomali

Title : Anomali
Author : DEADBORN
Genre : Angst
Rating : PG13
Chapter(s) : oneshot
Fandom(s) : Dir en Grey
Finishing : November 2012
Note : Mood itu berperan penting dalam menulis! Dan mood ketika mengerjakan ini adalah sedang ingin membunuh orang *ekspresi kalem* Enjoy!




Sudah tidak ada lagi cahaya. Semua gelap, hampa dan tak berarti.

“Maaf Kyo, ibu sudah tidak kuat...”

Ia bisa melihat air mata mengalir dari mata sayu wanita itu. ia tidak terlalu mengerti artinya maka ia tetap membisu. Wanita itu mengelus rambutnya, terus menangis, sementara dibelakangnya, seorang pria dengan ekspresi iba memandangnya.

“Maaf, Kyo. Kami akan sering mengunjungimu”, kata laki-laki itu.
 “Ayah... mengapa ibu menangis?” akhirnya Kyo bersuara. Ia tidak mengerti.

Lelaki yang dpanggil ayah itu maju, meremas pundaknya, “Ibu... ibu hanya sedang kurang enak badan. Itu sebabnya kau harus tinggal disini. Untuk sementara saja, Kyo, ayah janji. Hanya untuk sementara.”
“Ibu sakit apa?” tanya Kyo lagi.

Ayahnya mengusap wajahnya, “Ibu sakit... yah, pokoknya jadilah anak yang baik, oke? Kami harus pulang. Jangan nakal, kami akan sering mengunjungimu.”

Kemudian ayah bangkit, merangkul ibu, lalu pergi. Tanpa menoleh sekalipun. Pintu tertutup. 
Didalam ruangan serba putih itu, kini Kyo sendirian. Tapi kenapa?

Ibu sakit apa?
Kenapa aku ditinggal sendirian disini?

“Aaaahhhhh!! Ibu! Ibuuuu! Aku mau ibuuuu! Ibuuuu!!!!” Kyo menjerit-jerit tanpa henti. Memukul-mukul pintu yang terkunci. Membenturkan kepalanya pada pintu yang tetap kokoh. Beberapa orang berseragam hijau muda menerobos masuk. Dua orang memegangi lengannya. Kyo meronta sambil terus menjerit, memanggil ibunya. Satu orang lagi, dengan sigap mengeluarkan jarum suntik, dengan cekatan ia menusukkan jarum suntik pada lengan Kyo yang ditahan salah satu orang berbaju hijau muda itu.

“AAARRGHH!!”
  Tak sampai lima detik, Kyo jatuh lemas. Obat bius itu bekerja dengan baik. Kyo dibawa ke ranjangnya, ditidurkan disana.

“Kasihan ya pasien baru ini. bahkan orang tua-nya pun sudah tak sanggup mengurusnya,” celetuk salah seorang petugas sambil memandang iba kearah Kyo yang tertidur.
Pintu itu menutup, terkunci. Kyo terlelap dalam tidurnya. Kedalam mimpi buruk yang tak akan pernah berakhir.

***
Malam melarut. Kyo terjaga. Lampu kamar itu padam, tapi seulas cahaya membias kedalam kamar itu. Kyo berdiri mematung memandang jendela. Diluar kosong, sepi. Langitnya hitam, tanpa ada bintang ataupun bulan.

“Ibu....” Kyo berbisik lirih. “Ibu dimana? Kyo ingin ibu... Ayah... kenapa Kyo disini sendirian?”
Kyo berjalan menuju jendela, memandang kearah luar dengan penuh harap. Mungkin saja ibu dan ayah ada diluar sana. Tapi nihil. Kyo mulai menangis lagi.

“Kenapa Kyo sendirian? Ini dimana?”

Kyo semakin merasa sedih. Ia mulai mencakar-cakar dirinya sendiri. Terus menerus bahkan ketika terasa perih pun Kyo tidak berhenti.
Mentalnya memang terganggu, tetapi ia paham. Hatinya jauh lebih sakit daripada fisiknya.


“Ayah.. apakah tindakan ini tepat? Ibu memang sudah tidak kuat mengurus Kyo, tapi ibu sayang sekali padanya. Haruskah kita memasukkannya kedalam rumah sakit jiwa seperti ini? Layakkah ia diperlakukan seperti itu?” ibu menangis ketika ayah membawanya pergi menjauhi kamar Kyo.
 “Bu, percayalah, ini tindakan tepat. Ayah juga sangat menyayangi Kyo, tapi kita tak bisa melakukan apapun. Kelakuannya sudah melebihi batas normal. Siapa yang bisa tahan jika setiap hari ia membawa pulang bangkai hewan yang ia bunuh? Belum lagi jika ia panik, atau ketika ia marah. Ibu sendiri sudah tidak bsia menanganinya. Percayalah bu, Kyo akan baik-baik saja,” ayah terus berusaha menenangkan ibu sepanjang perjalanan pulang. Ibu masih terlihat sedih.

Siapa yang tidak sedih jika anak semata wayang yang sangat disayangi memiliki gangguan mental?

Semua karena hari itu...

Kyo dulu memiliki seorang adik perempuan. Jarak umur mereka hanya terpaut 4 tahun. Kyo sayang sekali dengan adiknya itu. Ia selalu menggandeng tangan adiknya  kemanapun. Ketika berangkat sekolah, Kyo pasti mengantar adiknya, dan ketika pulang, Kyo yang akan menjemputnya. Mereka tampak tak terpisahkan.

Suatu hari, ketika Kyo berumur 12 tahun, ia dan adiknya sedang berjalan menuju rumah sepulang sekolah. Di perempatan jalan dekat rumah mereka ada seekor anak kucing yang berjalan tertatih. Kucing kecil itu seperti baru beberapa minggu lahir karena itu jalannya masih belum stabil. Adik Kyo berlari menuju kucing kecil itu, bermaksud membawanya ketepian jalan. Tapi naas, sebuah truk melintas dan tak sempat mengerem laju truknya sehingga menabrak adik Kyo. Tubuh mungil itu terlempar 3 meter dari tempat kejadian. Darah berceceran. Bahkan kucing kecil itu terciprat darah. Kyo segera berlari menuju tubuh adiknya. Supir truk itu dengan terburu-buru melajukan truknya, pergi meninggalkan gadis kecil yang sekarat. Kyo sudah tak peduli lagi. Ia berteriak, memanggil siapapun. Seorang bapak-bapak keluar dari sebuah rumah, melihat Kyo memeluk tubuh anak perempuan kecil penuh darah. Bapak itu segera menelepon ambulan. Tapi sayangnya, sebelum ambulan itu datang, adik Kyo sudah meregang nyawa. Didalam pelukan Kyo, bahkan tanpa sempat membisikkan kata-kata perpisahan. Ibu terus memeluk Kyo yang masih diam karena syok. Baju seragam itu masih penuh darah. Kyo tak bisa melakukan apa-apa selama satu minggu. Hanya diam didalam kamarnya. Menangis, berteriak, mengamuk. Begitu terus selama 4 tahun. Kyo berhenti sekolah karena disekolah pun Kyo tak bisa fokus. Ia menjadi sensitif sekali pada suara anak perempuan karena mengingatkan ia pada adiknya dan ia jadi benci sekali pada kucing.

Hanya ibu yang bisa menenangkannya. Namun semakin beranjak dewasa, rasanya kelakuan Kyo menjadi semakin parah. Ibu membawanya ke dokter, dan diagnosa dokter adalah Kyo menderita apa yang disebut dengan Post Traumatic Stress Disorder atau Gangguan Stres Pasca Trauma yang sudah akut . Trauma karena melihat langsung adiknya yang secara tak sengaja terbunuh dengan sadis didepan matanya sendiri. Siapa yang akan menyangka kejadian itu akan terjadi? Begitupula dengan Kyo. Tak ada yang pernah siap untuk kehilangan seseorang yang sangat disayangi, dengan cara apapun. Dan yang lebih parah, Kyo kehilangan adiknya dengan cara yang bisa dibilang sungguh mengerikan.

Hampir setiap malam Kyo tak dapat tidur tenang. Bayangan adiknya selalu membayangi. Kyo rindu sekaligus takut, dan ketika Kyo meledak dalam emosi, hanya ibu yang sabar menenangkannya dalam dekapannya. Tapi ibu semakin renta dan Kyo semakin kuat. Tenaga ibu sudah tak cukup untuk menahan emosi Kyo yang semakin kuat. Maka, jadilah Kyo dibawa ke rumah sakit jiwa atas saran ayah yang juga sudah tak sanggup merawat Kyo.

Apa lagi yang dapat dilakukan? Ibu pun hancur melihat Kyo yang kini menjadi anak semata wayangnya harus berakhir dibangsal suram bersama pesakitan mental lainnya. Ibu berkeras Kyo tidak gila. Ia hanya mengalami rasa sedih yang mendalam. Tapi apa lagi yang bisa ibu lakukan?

Ayah juga sangat sedih, tapi ayah mana yang tahan ketika anaknya, entah bagaimana bisa keluar rumah, kemudian kembali membawa bangkai kucing yang berlumuran darah yang kemudian diletakkan didepan pintu rumah. Ayah yang selalu membereskan bangkai kucing itu. Apa lagi yang bisa ayah lakukan?

***

Hanya 5 hari Kyo tinggal didalam bangsal yang meskipun bercat putih namun suram itu. Tak akan ada yang bisa mengerti perasaan ketakutan, kecemasan dan kerinduan yang mengusik hidupnya sejak adik yang disayanginya meninggal dengan cara yang mengerikan didepan matanya. Seharusnya mereka mengerti, tidak ada orang yang suka ditinggal sendirian. Tidak ada.

Malam kelima, Kyo mulai merasa kecemasannya bertambah. Keringat mengucur deras didahinya. Ia duduk memeluk lututnya, didepan jendela kamarnya. Didepan kamarnya, pohon sakura tengah mekar, warna pink-nya terlihat putih dilatari langit malam yang hitam pekat. Ia berayun maju mundur. Kyo mulai panik. Bayangan tubuh berlumuran darah itu sekonyong-konyong muncul kembali dalam pikirannya.

“I-ibu!” Kyo memanggil ibunya, tapi yang dipanggil tak kunjung datang. Bayangan itu semakin jelas tervisualisasi. Mata adiknya yang terbuka tapi tanpa cahaya. Kosong, mati.

“IBU!” Kyo berayun semakin cepat. Ia menyembunyikan kepalanya diantara kedua lututnya. Keringat semakin deras mengalir.

“ibu... Kyo takut... sudah tidak sanggup...” Kyo mulai menangis.
Setiap malam, rasa takut itu semakin menjadi. Kyo tak suka sendirian dikala malam. Ia mencoba tidur, tapi tidurnya pun tak pernah bisa nyenyak. Obat bius sekalipun tak pernah berhasil. Ia selalu bangun dengan nafas terengah, kuyup oleh keringat dan air mata yang entah sejak kapan mengalir.

Kyo pernah sekali mencoba mengakhiri hidupnya. Ia pun lelah harus berhadapan dengan wujud adiknya yang mengerikan didalam halusinasinya. Sekali  ia menorehkan gunting ke pergelangan tangannya. Beruntung, atau tidak, nyawanya masih bisa terselamatkan karena beberapa detik ia melakukan itu, ibu masuk kamar dan menemukan Kyo sudah berlumuran darah pada tangannya. Ibu segera memanggil dokter dan membebat luka Kyo. Hingga kini, bekas luka itu masih ada, dan tak akan hilang hingga beberapa tahun kedepan.

Kyo sudah lelah. Ia ingin mengakhiri semuanya. Ia menutup matanya. Gelap. Terbayang wajah ibu dan ayah. Tangisan ibu dihari terakhir ia melihat ibu. Tak akan ada lagi hari esok. Tidak, karena ia sudah tak sanggup lagi menghadapi semua ini. Lelah. Terisolasi, sendirian menghadapi entah apa dihari esok yang mungkin tak akan pernah tiba. Tapi tak ada benda tajam diruangan itu. semua benda tajam sudah disingkirkan. Maka....


Pada pagi harinya, petugas menemukan tubuh kurus pucat itu tak lagi bernyawa. Jendela kamar itu terbuka lebar. Angin sejuk musim semi membawa kelopak-kelopak sakura yang gugur terbawa angin masuk kedalam kamar dingin itu. Bertaburan diatas tubuhnya seperti percikan percikan darah. Aroma segar musim semi, juga kelopak sakura beserta harumnya bercampur dengan amis darah merah yang membasahi mulut, dagu dan bagian depan baju rumah sakit yang berwarna putih itu. Matanya menatap kosong, mulutnya yang penuh darah terbuka, memperlihatkan lidah yang tak lagi utuh. Entah dimana potongan lidah itu, tak pernah ditemukan.

[End]

No comments:

Post a Comment