Monday, March 4, 2013

A Short Moment of a Simple Happiness

Title : A Short Moment of a Simple Happiness
Author : DEADBORN
Genre : Angst, but not really sure....
Rating : PG13
Chapter(s) : oneshot
Fandom(s) : No Fandom
Finishing : 10 February 2013
Note : “Selamat ulang tahun.” :)


Seorang gadis termangu ditepi jendela. Satu tangannya menopang dagunya, dengan tatapan sendu, ia memperhatikan cipratan hujan yang mengalir perlahan pada kaca jendela.
                Segelas cappuccino panas yang menemaninya masih mengepulkan asap. Membuatnya urung untuk menyesap manisnya pahit kopi yang ia sukai. Biarlah, ia sedang ingin membiarkan pikirannya mengembara jauh, mengingat apa yang terlewati, untuk kemudian mengenangnya bersama hujan.
                Tempat itu hangat dan nyaman. Selain segelas cappuccino, setangkai bunga lily putih didalam vas ramping yang bening yang diletakkan ditengah meja kayu turut serta menemaninya dalam bisu. Hanya terdengar suara hujan yang dengan lembut mengetuk jendela.
                Benaknya mengembara entah kemana. Perlahan ia menyesap cappuccino yang mulai kehilangan panasnya. Hati dari foam-milk yang menghiasi permukaan cappuccinonya mulai berubah bentuk. Seperti sosok seseorang yang entah kenapa muncul dalam pikirannya.
Dia yang selalu hadir dalam mimpinya setiap malam, yang kian hari bayangannya terasa akrab dalam hati. Tanpa ia sadari, bibirnya melengkungkan senyum samar.
                Dia bisa melihat orang itu pada masa depannya. Bagaimana mereka bergandengan tangan, berpelukan, tertawa, menangis bersama-sama. Mungkinkah?
                Diteguknya lagi cappuccino hangat itu. Rasa pahit mengingatkannya akan sesuatu. Pada jarak yang terentang diantara mereka berdua. Tapi rasa manis meyakinkannya bahwa jarak bukanlah penghalang. Ia akan tiba. Entah darimana keyakinan itu datang, tapi ia tahu, ia sudah rasa, bahwa ia akan menjemputnya keluar dari mimpi. Menjejak pada dunia nyata.
                Cinta  yang seperti cappuccino, lirihnya, pahit-manis menjadi satu dalam penampilan yang indah serta rasa yang mebuatmu ketagihan. Tidak semua barista mampu membuat ‘gambar’ yang indah pada cappuccino dengan foam-milk. Karena pada keindahan penampilannyalah cappuccino dinilai. Para penikmat kopi tahu betul hal itu, begitupun gadis muda itu. Dia ingin menjadi barista yang mampu membuat tampilan cappuccinonya seindah mungkin, dengan rasa pahit dan manis yang seimbang, untuk cintanya, sehingga mereka akan ketagihan dan terus ketagihan mencicip rasa cinta yang ia persembahkan untuk dia yang akan segera ia temui.
                Dimeja persegi itu, ia tersenyum. Langit masih murung, titik-titik hujan masih mengetuk jendela dengan jenaka. Tapi tidak dengan si gadis, ia bahagia.
                “Selamat ulang tahun,” seorang pria menyodorkan sebuah kotak kecil berlapis beludru berwarna merah kehadapannya. Gadis itu terperangah sejenak, lalu tersenyum. “Bukalah.”
                Didalam kotak itu, sebuah cincin perak polos terselip manis. Si pria mengambil cincin itu, kemudian meraih tangan kanan si gadis dengan hati-hati, “kamu suka?”
                Si gadis mengangguk, senyumnya terkembang semakin lebar. “Terima kasih.”
                Keduanya duduk berhadapan dimeja persegi, disisi jendela yang masih melukiskan pemandangan hujan yang beku. Tapi tidak pada keduanya. Hangat meresap. Keduanya bertatapan penuh arti, komunikasi mereka sudah melampaui bahasa verbal. Lewat tatapan mata, mereka paham bahwa mereka saling mencintai. Ditemani rintik hujan, kedai kopi kecil itu menjadi saksi pertemuan mereka, dalam cinta yang bisu.
                Mimpi yang sempurna.
                Gadis itu terbangun. Untuk yang kesekian kalinya, ia memimpikan orang yang sama, ditempat yang sama. Lelaki itu, dikedai kopi dengan kopi favoritnya, cappuccino. Penggambaran yang semakin hari semakin menjelas dalam buramnya mimpi. Menetap didalam alam bawah sadarnya.
                Tapi siapa lelaki itu?
                Gadis itu menyimpan semua yang ia ingat pada mimpinya. Juga lelaki yang selalu ia mimpikan. Dia yang begitu jauh, tapi bayangnya enggan menjauh dari pikirannya. Memperdaya pikirannya.
                Tidak masalah jika itu hanya mimpi, untuk saat ini. Suatu hari nanti, pasti, doanya.

No comments:

Post a Comment