Title : A Short Moment of a Simple Happiness
Author : DEADBORN
Genre : Angst, but not really sure....
Rating : PG13
Chapter(s) : oneshot
Fandom(s) : No Fandom
Finishing : 10 February 2013
Note : “Selamat ulang tahun.” :)
Seorang gadis termangu ditepi jendela. Satu tangannya
menopang dagunya, dengan tatapan sendu, ia memperhatikan cipratan hujan yang
mengalir perlahan pada kaca jendela.
Segelas
cappuccino panas yang menemaninya masih mengepulkan asap. Membuatnya urung untuk
menyesap manisnya pahit kopi yang ia sukai. Biarlah, ia sedang ingin membiarkan
pikirannya mengembara jauh, mengingat apa yang terlewati, untuk kemudian
mengenangnya bersama hujan.
Tempat
itu hangat dan nyaman. Selain segelas cappuccino, setangkai bunga lily putih
didalam vas ramping yang bening yang diletakkan ditengah meja kayu turut serta
menemaninya dalam bisu. Hanya terdengar suara hujan yang dengan lembut mengetuk
jendela.
Benaknya
mengembara entah kemana. Perlahan ia menyesap cappuccino yang mulai kehilangan
panasnya. Hati dari foam-milk yang
menghiasi permukaan cappuccinonya mulai berubah bentuk. Seperti sosok seseorang
yang entah kenapa muncul dalam pikirannya.
Dia yang selalu hadir dalam
mimpinya setiap malam, yang kian hari bayangannya terasa akrab dalam hati.
Tanpa ia sadari, bibirnya melengkungkan senyum samar.
Dia
bisa melihat orang itu pada masa depannya. Bagaimana mereka bergandengan
tangan, berpelukan, tertawa, menangis bersama-sama. Mungkinkah?
Diteguknya
lagi cappuccino hangat itu. Rasa pahit mengingatkannya akan sesuatu. Pada jarak
yang terentang diantara mereka berdua. Tapi rasa manis meyakinkannya bahwa
jarak bukanlah penghalang. Ia akan tiba. Entah darimana keyakinan itu datang,
tapi ia tahu, ia sudah rasa, bahwa ia akan menjemputnya keluar dari mimpi.
Menjejak pada dunia nyata.
Cinta yang seperti cappuccino, lirihnya, pahit-manis
menjadi satu dalam penampilan yang indah serta rasa yang mebuatmu ketagihan.
Tidak semua barista mampu membuat ‘gambar’ yang indah pada cappuccino dengan foam-milk. Karena pada keindahan
penampilannyalah cappuccino dinilai. Para penikmat kopi tahu betul hal itu,
begitupun gadis muda itu. Dia ingin menjadi barista yang mampu membuat tampilan
cappuccinonya seindah mungkin, dengan rasa pahit dan manis yang seimbang, untuk
cintanya, sehingga mereka akan ketagihan dan terus ketagihan mencicip rasa
cinta yang ia persembahkan untuk dia yang akan segera ia temui.
Dimeja
persegi itu, ia tersenyum. Langit masih murung, titik-titik hujan masih
mengetuk jendela dengan jenaka. Tapi tidak dengan si gadis, ia bahagia.
“Selamat
ulang tahun,” seorang pria menyodorkan sebuah kotak kecil berlapis beludru
berwarna merah kehadapannya. Gadis itu terperangah sejenak, lalu tersenyum.
“Bukalah.”
Didalam
kotak itu, sebuah cincin perak polos terselip manis. Si pria mengambil cincin
itu, kemudian meraih tangan kanan si gadis dengan hati-hati, “kamu suka?”
Si
gadis mengangguk, senyumnya terkembang semakin lebar. “Terima kasih.”
Keduanya
duduk berhadapan dimeja persegi, disisi jendela yang masih melukiskan
pemandangan hujan yang beku. Tapi tidak pada keduanya. Hangat meresap. Keduanya
bertatapan penuh arti, komunikasi mereka sudah melampaui bahasa verbal. Lewat
tatapan mata, mereka paham bahwa mereka saling mencintai. Ditemani rintik
hujan, kedai kopi kecil itu menjadi saksi pertemuan mereka, dalam cinta yang
bisu.
Mimpi
yang sempurna.
Gadis
itu terbangun. Untuk yang kesekian kalinya, ia memimpikan orang yang sama,
ditempat yang sama. Lelaki itu, dikedai kopi dengan kopi favoritnya,
cappuccino. Penggambaran yang semakin hari semakin menjelas dalam buramnya
mimpi. Menetap didalam alam bawah sadarnya.
Tapi
siapa lelaki itu?
Gadis
itu menyimpan semua yang ia ingat pada mimpinya. Juga lelaki yang selalu ia
mimpikan. Dia yang begitu jauh, tapi bayangnya enggan menjauh dari pikirannya. Memperdaya
pikirannya.
Tidak
masalah jika itu hanya mimpi, untuk saat ini. Suatu hari nanti, pasti, doanya.
No comments:
Post a Comment