Title: When it Returns to Reality
Author: DEADBORN
Genre: bit angst, romance
Rating: PG13
Disclaimer: Cuma ada di otak absurd punya author XD
Summary: Saat ilusi itu menjadi wujud yang riil, aku ingin bertemu denganmu sekali lagi.
Pairing: Die X Shinya
Finishing: July 2009
Last Edited: March 2013
Note: coba harap dibaca sambil dengerin eyes of forest-rentrer en soi ya kalo bisa X3d
Saa, enjoy minna! 8D
Apakah ini hanya mimpi semata?
Aliran air seolah mengajak untuk terus larut dalam visualisasi tentang dirinya yang terpantul dari dalam air.
Senyummu.
Wajahmu.
Tawamu.
Dirimu.
Kamu.
Saat satu rasa mencapai klimaks namun benak tak mampu menamainya maka yang terjadi adalah kegelisahan yang menggeliat. Kesal. Resah. Ingin.
Jika memungkinkan, selamanya bisa memandang garis-garis tegas yang membentuk sebuah wajah dibalik pantulan jernih itu. Hanyut dalam khayal tanpa tepi.
“Shinya!”
Shinya tersentak saat namanya dipanggil. Menariknya kembali ke alam sadar. Memecahkan lamunan dan pikirnya.
“Apa yang kau lakukan ditepi sungai seorang diri seperti ini?”
Shinya mengerjapkan matanya. Sesaat ia lupa pada seseorang yang menyapanya itu, tapi ia segera mengendalikan dirinya sehingga sejurus kemudian ia kembali menjadi Shinya yang biasanya.
“Ah maaf, aku hanya sedang memperhatikan sungai saja, Kyo-kun.” Jawab Shinya dengan suara pelannya.
“Memperhatikan sungai? Memang ada hal menarik dari sungai ini?” tanya Kyo heran.
‘Ya, ada…’
“Ng… sepertinya tidak sih…” jawab Shinya ragu.
“Tentu saja tidak. Ayo kita pulang” ajak Kyo. Shinya menganggukkan kepalanya lalu bangkit berdiri mengikuti Kyo yang sudah jalan duluan.
Shinya menoleh ke arah sungai.
Bayangan itu masih disana.
Wajarkah jika kita mencintai seseorang yang bahkan belum pernah kita temui?
Shinya membasuh wajahnya dengan air dingin. Berusaha menyegarkan dirinya. Bayangan yang ia lihat di tepi sungai tadi masih lekat dalam ingatannya. Untuk satu hal yang tak ia mengerti, rasanya sulit sekali menghapus bayangan itu dari memori. Rasanya seperti menemukan kembali kepingan puzzle yang hilang. Pas. Tapi dirinya sendiri tak mengerti sejak kapan separuh memori yang bahkan tak pernah ia ingat itu ada?
Bayangan siapakah itu?
Apakah bayangan itu pernah mengunjungi salah satu mimpinya?
Shinya berusaha memasuki alam pikirnya. Mengais satu persatu arsip hidupnya. Mungkin saja ada yang terselip dalam benaknya. Tapi hasilnya nihil. Dan ia mendapati dirinya sendiri termangu didepan cermin.
Tangan kurus Shinya menggambar sesuatu didepan cermin. Bentuk mata, hidung, bibir... namun bukan miliknya. Jadi, milik siapa?
“Ugh!” Shinya kesal tak bisa mengingat apa-apa. Ia memukul dinding dengan kepalan tangannya. Dengan kesal ia kembali kekamarnya. Ia butuh beristirahat.
“Shinya...”
Kali ini, Shinya bahkan bisa mendengar suaranya. Sosok tampan dihadapannya mengulurkan tangannya dari tepi air yang jernih. Mengajaknya ikut. Shinya ragu. Haruskah ia menyambut uluran tangan itu?
Shinya akhirnya menggapai tangan itu. Senyum di bibir laki-laki itu semakin lebar. Tampan.
“Sebentar lagi ya?”
Apa maksudnya?
KRIIIIIIIIIIIIING~!
Shinya tersentak. Bunyi alarm itu membangunkannya. Shinya mendecak kesal. Sedikit lagi, mungkin ia bisa mengetahui jawaban atas hal-hal yang mengganggunya.
Jika saja waktu berdetak lebih lambat.
Jika saja waktu terhenti sesaat.
Shinya kembali ke rutinitas hariannya. Bangun, sarapan, bekerja, makan siang, bekerja, pulang. Membosankan. Tapi pikirannya seringkali mengawang. Memikirkan kata-kata asing yang diucapkan lelaki tampan dalam mimpinya. Apa maksudnya?
Shinya melamun selama berjalan pulang. Ia bahkan tak merasa bahwa dompetnya terjatuh. Sampai akhirnya, seseorang menepuk pundaknya.
“Maaf, ini, dompet anda tadi jatuh.”
”Ah, terim-“ Shinya tercekat melihat wajah orang yang mengembalikan dompetnya. Laki-laki itu! Laki-laki yang selalu hadir dalam mimpinya. Laki-laki yang selalu menemaninya dalam wujud bayangan.
“Ada apa?” pemuda itu memiringkan wajahnya, menatap Shinya dengan tatapan heran. Namun senyum dibibirnya tak berubah.
“Ng, ah, tidak apa-apa. Terima kasih banyak.”
“Sama-sama. Nah, saya permisi dulu.”
“Tunggu!”
Pemuda itu menoleh, “ya?”
“Nama. Beritahu namamu.”
Pemuda itu tersenyum. Sama seperti bayangannya yang selalu hadir dalam hari-hari sepi Shinya, “sebelum menanyakan nama orang lain, harus mengenalkan diri sendiri lebih dulu kan?”
Shinya bisa merasakan pipinya memanas, “Terachi Shinya. Dan namamu?”
Senyum di bibir pemuda itu semakin membuatnya terlihat tampan. Tapi ada seulas jahil yang tersirat, “Andou. Andou Daisuke. Kapan-kapan kita bertemu lagi ya?” lalu setelah melambaikan tangannya, ia berlalu.
Shinya masih mematung.
Benarkah yang barusan bukan semata-mata ilusi yang selalu ia lihat?
Bukankah itu memang wujud nyata seorang pemuda yang selalu membayangi Shinya?
Bayangan itu menjadi sebentuk wujud nyata. Utuh. Di tepi sungai Shinya berharap kata-kata pemuda bernama Daisuke itu menjadi nyata.
Saat ilusi itu menjadi wujud yang riil, aku ingin bertemu denganmu sekali lagi.
No comments:
Post a Comment