Kini waktu berlari, meninggalkan apa yang seharusnya bisa
kita miliki.
Mungkin memang bukan inginmu, tapi kini semua seolah menjadi
transparan.
Hampa.
Kemana perginya detak-detik jantung yang selalu terpacu
lebih cepat ketika hangat tercipta?
Itukah kamu ataukah aku yang bertanggung jawab?
Adilkah jika kita berdua yang bertanggung jawab atas rasa
yang kini perlahan layu?
Apakah kini sudah saatnya aku mengucapkan kata-kata
perpisahan untuk kamu?
Bahkan aku sendiri belum yakin, tapi kamu tahu, rasa tak
akan berdusta.
Jadi, jika nanti kamu harus menghadapi punggungku yang
berjalan menjauh darimu, aku ingin kamu siap.
Satu harapanku, semoga tak ada kata terlambat, apalagi
penyesalan, sekalipun nanti kamu yang rasa.
No comments:
Post a Comment