Title : Confession
Author : DEADBORN
Genre : Romance
Rating : PG13
Chapter(s) : oneshot
Fandom(s) : Dir en Grey
Pairing(s) : Die x Shinya
Finishing : February 2012
Mereka tak saling kenal, tapi
mereka menyadari kehadiran satu sama lain. Sudah berminggu-minggu sejak mereka
pertama kali berjumpa, dan kini Semesta mempertemukan mereka kembali ditempat
yang seringkali mereka berdua kunjungi. Dulu Semesta belum mengijinkan mereka
untuk bertatap muka, maka mereka tak pernah saling tahu.
Mereka seringkali bertukar
pandang. Terkadang hanya sekilas, terkadang cukup lama sampai salah satunya
merasa tersipu malu untuk kemudian memalingkan pandangannya kearah lain. Tapi
mereka berdua sama-sama tahu bahwa ada sesuatu dibalik tatapan itu. Maka
diam-diam, keduanya saling memperhatikan.
Apakah mereka saling mengetahui
nama satu sama lain? Mereka tak pernah tahu. Tapi masing-masing saling
bertanya, apakah ia tahu siapa aku? Apakah ia tahu siapa namaku meskipun aku
kini tahu siapa namanya dan seperti apa dirinya dalam pandangan orang-orang
yang kutanyai? Sampai suatu ketika, saat satu pandangan yang terasa berbeda
menyoroti keduanya, mereka sadar bahwa tak mungkin ia tak tahu apa yang
dirasakan dalam hati.
Mood dan pekerjaan merupakan
salah satu dari sekian banyak hal yang mempengaruhi rutinitas seseorang. Maka
ada kalanya salah satu dari mereka kurang mempedulikan keadaan sekelilingnya,
termasuk ia yang selalu memperhatikannya dikejauhan. Sadarkah ia?
Dan setelah sekian lama diam-diam
memperhatikan, tiba-tiba ia menghilang. Tak pernah hadir tepat waktu seperti
biasanya. Tak pernah lagi ada dia yang selalu hadir disudut yang selalu
dihapalnya untuk diam-diam memperhatikannya dari jauh seperti malam-malam
sebelumnya.
Ia merasa kehilangan, dan mulai
bertanya-tanya, apakah dia merasa kehilangan juga? Ataukah justru dia sengaja
untuk menghindarinya karena dirinya bukan yang diinginkannya?
Rasa rindu menyesakkan dadanya. Tak
ada yang bisa ia lakukan. Mereka hanya dua orang asing yang tak saling mengenal
namun diam-diam saling memperhatikan. Merasakan ketertarikan. Namun orang yang
diam-diam ia perhatikan lebih memilih untuk berhenti dan meminta dirinya dengan
caranya sendiri untuk juga berhenti mengharapkan dirinya. Begitukah?
Apakah ini cinta? Perasaan yang
tak sanggup ia deskripsikan mengganggu batinnya. Sudah banyak malam terlewati
sia-sia tanpa kehadirannya. Dan sebagai gantinya, rasa rindu mengambil alih
ruang kosong dihatinya. Pengap, ia ingin semua berakhir. Ia ingin lupa. Tapi
bayangan orang itu seolah bandel, tak pernah ingin pergi dari benaknya. Apa
yang harus ia lakukan kini?
Ia menatap langit malam yang
kemerahan. Mencari bulan separuh yang memburam karena selaput mendung menghias.
Haruskah aku melupakannya? Haruskah aku menghentikan semua ini bahkan meskipun
kami tak pernah saling mengenal? Layakkah kesempatan itu hadir? Akankah
kesempatan itu hadir?
Mereka saling bertanya diam-diam tanpa pernah
saling mengetahui satu sama lain.
~*~
Shinya’s Confession
Aku
masih ingat ketika pertama kali aku melihatnya. Garis wajahnya yang tegas,
membuat aku segan berlama-lama menatapnya. Ia terlihat sibuk, bertemu dengan
orang-orang, berbicara dengan ekspresi wajah serius. Tapi diam-diam, sesekali
aku melirik kearahnya. Ada sesuatu yang kusukai dari dirinya. Apa itu, aku juga
kurang mengerti. Hanya saja, aku selalu mencari sosoknya dalam keramaian
sekeliling.
Aku rasa ia heran, bagaimana bisa
aku berada ditempat khusus pengisi acara sementara aku hanya pengunjung biasa? Itu
yang kubaca dari tatapannya ketika ia menatapku. Dan tak mungkin tiba-tiba aku
menjawab, bahwa aku sedang menemani seorang teman-Toshiya-, yang harus mewawancarai
salah satu pengisi acara malam itu. Lagipula, ia tak bertanya, jadi untuk apa
aku harus menjelaskan?
Setelah Toshiya menyelesaikan
tugasnya, kami keluar dari ruang ganti, menikmati acara. Dan aku tak melihatnya
lagi sampai berminggu-minggu kemudian.
Aku bukan tipe orang yang mudah
ingat wajah ataupun nama orang meskipun sebelumnya sudah pernah melihat atau
berkenalan. Tapi, kali ini aku dengan mudah mengingat wajahnya. Aku sendiri
cukup terkejut. Berminggu-minggu setelah pertama kali aku melihatnya, akhirnya
aku kembali melihatnya, duduk disudut kantin kampusku yang saat itu tak terlalu
ramai. Awalnya, aku hanya mengenalinya sebagai seseorang yang pernah kulihat
beberapa waktu lalu. Setiap kali aku melihatnya, entah kenapa aku merasa
senang. Dan kemudian baru kusadari, hampir setiap sore ia hadir disana. Disudut
kantin yang sama, dikelilingi kawan-kawannya yang tak kukenal.
Aku tak pernah melihatnya di
siang hari, tak pernah melihatnya di kampus saat jam kuliah, tapi ia selalu
hadir ketika hari menjelang malam, di kantin, disudut yang sama. Maka kutarik
kesimpulan sederhana, ia alumni kampusku. Ketika kutanyakan pada bibi kantin,
ternyata tebakanku benar, ia memang alumni kampusku. Sudah lama lulus –kira-kira
8 tahun yang lalu- namun hampir setiap hari datang ke kantin sehabis pulang
kerja. Dan dari bibi kantin pula aku berhasil mengetahui namanya. Daisuke. Lebih
sering dipanggil Die.
Tak perlu waktu lama sampai
akhirnya aku menyadari bahwa aku telah jatuh hati padanya. Dia, orang yang tak
pernah kukenal, yang hanya dapat kuamati diam-diam, ternyata berhasil mencuri
hatiku. Apakah ia menyadarinya? Apakah aku pernah melintas dalam benaknya?
Dan aku pun jadi lebih sering
pulang lebih malam hanya untuk bisa melihatnya diam-diam. Aku bersabar menunggu
sepanjang hari hanya untuk 1 sampai 2 jam yang bisa kuhabiskan hanya untuk
memperhatikannya dalam diam. Seringkali Toshiya ikut menemaniku. Ikut
memperhatikan Die dan mengambil kesimpulan yang cukup mengejutkanku. Bahwa Die
juga, beberapa kali, tertangkap basah sedang melihat kearahku. Awalnya aku tak
percaya. Bukannya aku tak mempercayai sahabatku terbaik, tapi aku merasa itu
sangat tak mungkin. Aku tahu tak mungkin ia tak sadar bahwa aku sudah cukup
sering melihatnya, dan jika ia melihatku pun, aku rasa itu hanya ia merasa
penasaran. Tapi Toshiya bersikeras bahwa ada yang berbeda dari cara ia
menatapku dan gerak-geriknya. Aku memutuskan untuk menyerah. Tak pernah aku
bisa menang jika beradu argumen dengan Toshiya. Memang sih, pernah suatu waktu,
ketika aku sedang menunggu Toshiya sendirian di kantin, teman Die yang tak
kutahu namanya, sehabis mengobrol dengan Die, seperti memanggil seseorang. Aku
memang sedang menggunakan headset, tapi volumenya tak kuperbesar. Apakah ia
memanggilku? Aku tak berani menoleh. Aahh bodoh. Harusnya aku menoleh.
Sejujurnya, aku senang ketika
Toshiya bilang bahwa ia juga tengah menatapku. Tapi aku tak bisa percaya. Lebih
tepatnya, aku tak mau percaya. Aku takut ketika aku percaya, tapi kenyataan
yang terjadi tidak seperti yang kuharapkan, dan aku terpuruk jatuh mencium
tanah kesia-siaan. Tidak, aku tidak mau! Menyakitkan sekali. Memikirkannya saja
membuatku sedih.
Tapi rasanya, rasa suka yang
kurasakan semakin hari semakin membesar. Rasa rindu yang menyesakkan terasa
setiap kali akhir pekan datang. Karena tak ada perkuliahan, maka aku tak pernah
datang ke kampus saat akhir pekan. Saat-saat seperti itulah yang membuatku
jengah. Tak sabar aku menanti hari Senin.
Seringkali aku bertanya-tanya,
sudah sejauh manakah perasaanku ini padanya? Toshiya menyarankan aku untuk tak
melihatnya selama seminggu agar aku tahu perasaanku padanya. Aku menurutinya. Namun
ada satu pertanyaan menggantung di benak, apakah yang akan aku lakukan jika aku
telah mengetahui perasaanku? Sulit sekali untuk menahan rasa untuk tidak
melihatnya. Aku INGIN melihatnya. Apakah ia menyadari bahwa aku menghilang? Tak
pernah lagi aku datang untuk menatapnya diam-diam. Sampai pernah aku sedang di
kantin sore itu, ternyata ia datang lebih awal. Aku tak tahu apakah ia
melihatku, tapi kurasa ia melihatku bergegas pergi dari sana. Apakah ia merasa
aku tengah menghindar?
Sejak kejadian itu, aku jarang
melihatnya lagi di kantin. Disudut tempat ia biasa duduk bersama
kawan-kawannya. Apakah itu karena aku? Apakah ia juga ingin menghindariku atau
ia memang tengah sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia datang sedikit lebih
larut?
Toshinya pernah menyarankan aku
untuk minta dikenalkan melalui pacarnya, Kaoru. Dulu Kaoru memang dekat dengan
Die, kata Toshiya. Aku merasa itu lebih baik karena tak mungkin aku tiba-tiba
mendatanginya, menjulurkan tanganku padanya, lalu mengajaknya berkenalan. Tidak,
aku tidak cukup berani untuk melakukan itu. Sayangnya, ketika aku meminta Kaoru
untuk mengenalkannya padaku, Kaoru tak dapat menyanggupinya karena mereka sudah
lama tak bertegur sapa.
Aku merajut kecewa.
Mungkin memang ia tengah
menghindariku. Mungkin itu caranya untuk mengatakan, padaku yang tak
dikenalnya, untuk berhenti menatap dirinya dalam diam, berhenti untuk berharap
pada dirinya untuk bisa mengenalnya. Karena ia tak mungkin tak tahu apa yang
kurasakan, apa yang tersirat dalam mataku ketika kami pernah saling bertatapan
dulu.
Dan kini, aku tak tahu apa yang
harus kulakukan. Apakah kubunuh saja perasaan ini, sama seperti sebelumnya? Mempabrikasi
diri dengan kekecewaan yang terajut rapi dalam jalinan perih akibat rindu yang
tertahan. Aku masih menunggunya, masih ingin menatapnya diam-diam. Walaupun
menyakitkan, tapi satu pengharapanku belum bisa sirna. Aku masih ingin
mengenalnya. Aku ingin bisa lebih dari sekedar menatap dari balik bayangan
diam-diam.
Akankah hari itu tiba?
Die’s Confession
Aku ingat gadis muda itu.
Ia yang pernah hadir dalam acara
yang diadakan di kampus beberapa waktu lalu. Aku, sebagai ketua pelaksana acara
tersebut, agak heran bagaimana bisa seorang pengunjung biasa berada di ruang
ganti pengisi acara. Tapi aku tak punya banyak waktu untuk bertanya-tanya. Aku
sibuk. Dan aku tak melihat gadis itu lagi sampai beberapa minggu kemudian,
ketika aku sedang bersantai di kantin seperti yang biasa kulakukan setiap hari
sehabis pulang kerja, aku melihatnya.
Ia dan kawan-kawannya
tertawa-tawa, bercanda-canda, khas anak-anak perempuan jika sedang berkumpul
bersama. Tapi ketika kuperhatikan, gadis itu terlihat lebih diam daripada
kawan-kawannya yang lain. Tanpa sadar, aku menatapnya terlalu lama, sampai
akhirnya, sepertinya ia merasa kuperhatikan. Ia balas menatapku. Aku sedikit
terkejut dan segera membuang pandanganku ke sembarang arah. Sempat kulihat
bibirnya melengkungkan senyum kecil. Apakah ia tahu jika aku memperhatikannya?
Seringkali aku menangkap basah
dirinya tengah menatapku. Dan ada yang berbeda dalam tatapannya. Ada kilau
bening disana, yang membuatku penasaran sekaligus bertanya-tanya. Kenapa dia
selalu menatapku.
Oke, bodoh rasanya jika aku
terlalu lama menyadari bahwa gadis itu mungkin saja menyukaiku. Pernah sekali
waktu, aku bercerita pada Kyo tentang gadis itu, yang akhirnya kuketahui
bernama Shinya. Bagaimana aku bisa tahu? Itu mudah. Kawan-kawannya selalu
berbicara dengan suara yang keras, dan waktu aku sedang melihatnya, seorang
temannya memanggilnya. Shinya. Dan nama itu mulai membekas dalam ingatanku. Jadi,
waktu aku bercerita dan menunjukkan gadis itu pada Kyo, Kyo memanggilnya. Tentu
saja Kyo hanya mau mengolok-olok diriku karena Kyo tak memanggil Shinya dengan
namanya. Shinya tak menoleh. Wajar saja, waktu itu ia mengenakan headset. Jadi
kurasa, ia tak mendengar panggilan Kyo.
Pernah juga suatu waktu, seorang
kawannya mendatangiku ketika aku sedang merokok sendirian diluar kantin. Katanya,
aku dapat salam dari temannya. Reaksiku hanya kaget. Mungkin wajahku terlihat
bodoh waktu itu. Gadis itu mengulang kata-katanya. Aku hanya mengangguk sambil
menggumam iya. Ternyata benar dugaanku.
Aku tak tahu, tapi entah kenapa
aku merasa jika ia menghindariku beberapa waktu belakangan ini. Aku jarang
melihatnya lagi disudut tempat ia biasa bersama kawan-kawannya. Apakah aku
merasa kehilangan? Mungkin saja. Karena rasanya ganjil jika menyadari dia tak
ada disana. Dan aku mulai bertanya-tanya dalam hati, kemana dirinya. Apakah
sekarang aku mulai merindukannya? Karena ketika kini kusadari, hampir setiap
menjelang tidur, ada yang ribut disudut hati, bertanya-tanya apakah gadis itu
juga tengah memikirkanku?
Perkerjaanku menuntutku untuk
lebih sibuk. Tapi tak apa, komisinya cukup besar hingga sayang untuk
dilewatkan. Jadi aku bekerja lebih keras. Sebagai akibatnya, tentu saja aku
jadi jarang ke kampus lagi. Kalaupun bisa, itu sudah malam sekali, dan kurasa,
ia sudah pulang. Lagipula, beberapa kali aku datang, dia tak pernah ada lagi di
sudut yang sama. Aku sudah jarang sekali melihatnya. Apakah ia sengaja
melakukannya? Untuk apa?
Yah, mungkin memang salahku. Aku
sudah tahu isi hatinya. Aku tak sebodoh itu tak menyadari dibalik
tatapan-tatapan yang sekilas itu, tersimpan rasa untukku yang disimpannya sendiri.
Harusnya aku tahu, tak mungkin ia berani mendatangiku lalu mengulurkan lengan
kurusnya untuk mengajakku berkenalan. Tak mungkin.
Tapi aku sendiri juga tak
mengerti perasaanku. Apakah aku menyukainya? Meskipun aku mungkin memang
merindukannya. Mungkin karena ego-ku, aku pun tak mau mendatanginya duluan,
mengajaknya berkenalan. Ego seorang laki-laki. Tapi bukankah hal itu juga yang
membuatku jadi kehilangan dia yang selalu menatapku penuh harap dalam diam?
Jahatkah aku?
Kyo bilang, selama aku tak bisa
datang ke kampus, atau ketika aku baru bisa datang larut, Shinya sesekali masih
berada di kantin. Terkadang dia melirik kearah tempat aku biasa duduk, lapor
Kyo. Apakah ia menungguku?
Ketika sekali waktu aku dapat
melihatnya lagi, walaupun hanya sekilas, tapi aku bisa merasakan ada rasa di
hati yang membuatku ingin tersenyum. Tapi untungnya aku cukup bisa menahan diri
untuk mengendalikan emosiku. Wajahku tetap datar dan tetap sibuk dengan
handphone-ku, pengalih perhatian yang sangat ampuh. Apakah aku munafik?
Beberapa waktu yang lalu, Kaoru,
teman lamaku, mengajakku ngobrol. Kami bicara banyak sampai akhirnya Kaoru
menyebut-nyebut nama Shinya. Aku bilang, aku sudah tahu dia. Hanya sekedar
tahu, tapi tak kukenal. Dan jika ia ingin mengenalku, aku ingin dia yang maju
lebih dulu, tambahku. Oke, sekali lagi ego lelaki membuatku mengeluarkan
keputusan yang bodoh yang pernah kuambil. Seharusnya aku tahu bahwa ia tak akan
mungkin melakukan itu. Apa yang sudah kulakukan? Dan sepertinya Kaoru sudah
menyampaikan pada Shinya. Belakangan ini, ia kembali jarang hadir di kantin. Pernah
juga ketika aku datang lebih awal, kulihat ia sedang makan ditempat ia biasa
duduk, tapi kemudian ia dan kawannya bergegas pergi dari kantin. Seperti
menghindariku. Mungkin itu caranya untuk mengatakan bahwa dia sudah meyerah. Ia
tak akan mungkin mendekatiku duluan, bagaimanapun caranya. Dan semua karena
ego-ku.
Sekarang keadaan sudah berubah. Aku
tahu ini adalah rasa kehilangan. Aku kehilangan seseorang yang mungkin saja
teman hidupku untuk menjalani sisa umur. Apa ada lagi yang lebih buruk dari
ini? oh, tentu saja ada.
Beberapa hari yang lalu, kulihat
ia jalan berdua dengan seorang lelaki yang tak kukenal. Mungkin dia dari
fakultas lain. Mereka terlihat akrab, tertawa bersama, bersenda gurau. Aku
hanya bisa menatap kosong. Hampa. Bisa ditebak, moodku langsung memburuk. Aku
baru saja tiba di kantin, tapi rasanya sudah ingin pulang.
Akhirnya aku merasakan apa yang
pernah ia rasakan dulu ketika aku mengecewakan dirinya.
Aku jadi ingin mengulang waktu. Aku
ingin membuang ego-ku agar aku bisa mengenalnya segera setelah aku mengetahui
perasaannya. Seharusnya tak kubiarkan ia lama menunggu. Aku tahu aku menyesal. Tapi
apa lagi yang bisa kulakukan? Sekarang, justru aku yang ingin menunggunya.
Aku harap, kesempatan untuk bisa
mengenalnya segera tiba.
No comments:
Post a Comment