Thursday, March 28, 2013

[repost] Confession

Title : Confession
Author : DEADBORN
Genre : Romance
Rating : PG13
Chapter(s) : oneshot
Fandom(s) : Dir en Grey 
Pairing(s) : Die x Shinya
Finishing : February 2012
  


Mereka tak saling kenal, tapi mereka menyadari kehadiran satu sama lain. Sudah berminggu-minggu sejak mereka pertama kali berjumpa, dan kini Semesta mempertemukan mereka kembali ditempat yang seringkali mereka berdua kunjungi. Dulu Semesta belum mengijinkan mereka untuk bertatap muka, maka mereka tak pernah saling tahu.
Mereka seringkali bertukar pandang. Terkadang hanya sekilas, terkadang cukup lama sampai salah satunya merasa tersipu malu untuk kemudian memalingkan pandangannya kearah lain. Tapi mereka berdua sama-sama tahu bahwa ada sesuatu dibalik tatapan itu. Maka diam-diam, keduanya saling memperhatikan.
Apakah mereka saling mengetahui nama satu sama lain? Mereka tak pernah tahu. Tapi masing-masing saling bertanya, apakah ia tahu siapa aku? Apakah ia tahu siapa namaku meskipun aku kini tahu siapa namanya dan seperti apa dirinya dalam pandangan orang-orang yang kutanyai? Sampai suatu ketika, saat satu pandangan yang terasa berbeda menyoroti keduanya, mereka sadar bahwa tak mungkin ia tak tahu apa yang dirasakan dalam hati.
Mood dan pekerjaan merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang mempengaruhi rutinitas seseorang. Maka ada kalanya salah satu dari mereka kurang mempedulikan keadaan sekelilingnya, termasuk ia yang selalu memperhatikannya dikejauhan. Sadarkah ia?
Dan setelah sekian lama diam-diam memperhatikan, tiba-tiba ia menghilang. Tak pernah hadir tepat waktu seperti biasanya. Tak pernah lagi ada dia yang selalu hadir disudut yang selalu dihapalnya untuk diam-diam memperhatikannya dari jauh seperti malam-malam sebelumnya.
Ia merasa kehilangan, dan mulai bertanya-tanya, apakah dia merasa kehilangan juga? Ataukah justru dia sengaja untuk menghindarinya karena dirinya bukan yang diinginkannya?
Rasa rindu menyesakkan dadanya. Tak ada yang bisa ia lakukan. Mereka hanya dua orang asing yang tak saling mengenal namun diam-diam saling memperhatikan. Merasakan ketertarikan. Namun orang yang diam-diam ia perhatikan lebih memilih untuk berhenti dan meminta dirinya dengan caranya sendiri untuk juga berhenti mengharapkan dirinya. Begitukah?
Apakah ini cinta? Perasaan yang tak sanggup ia deskripsikan mengganggu batinnya. Sudah banyak malam terlewati sia-sia tanpa kehadirannya. Dan sebagai gantinya, rasa rindu mengambil alih ruang kosong dihatinya. Pengap, ia ingin semua berakhir. Ia ingin lupa. Tapi bayangan orang itu seolah bandel, tak pernah ingin pergi dari benaknya. Apa yang harus ia lakukan kini?
Ia menatap langit malam yang kemerahan. Mencari bulan separuh yang memburam karena selaput mendung menghias. Haruskah aku melupakannya? Haruskah aku menghentikan semua ini bahkan meskipun kami tak pernah saling mengenal? Layakkah kesempatan itu hadir? Akankah kesempatan itu hadir?
 Mereka saling bertanya diam-diam tanpa pernah saling mengetahui satu sama lain.

~*~

Shinya’s Confession

                Aku masih ingat ketika pertama kali aku melihatnya. Garis wajahnya yang tegas, membuat aku segan berlama-lama menatapnya. Ia terlihat sibuk, bertemu dengan orang-orang, berbicara dengan ekspresi wajah serius. Tapi diam-diam, sesekali aku melirik kearahnya. Ada sesuatu yang kusukai dari dirinya. Apa itu, aku juga kurang mengerti. Hanya saja, aku selalu mencari sosoknya dalam keramaian sekeliling.
Aku rasa ia heran, bagaimana bisa aku berada ditempat khusus pengisi acara sementara aku hanya pengunjung biasa? Itu yang kubaca dari tatapannya ketika ia menatapku. Dan tak mungkin tiba-tiba aku menjawab, bahwa aku sedang menemani seorang teman-Toshiya-, yang harus mewawancarai salah satu pengisi acara malam itu. Lagipula, ia tak bertanya, jadi untuk apa aku harus menjelaskan?
Setelah Toshiya menyelesaikan tugasnya, kami keluar dari ruang ganti, menikmati acara. Dan aku tak melihatnya lagi sampai berminggu-minggu kemudian.
Aku bukan tipe orang yang mudah ingat wajah ataupun nama orang meskipun sebelumnya sudah pernah melihat atau berkenalan. Tapi, kali ini aku dengan mudah mengingat wajahnya. Aku sendiri cukup terkejut. Berminggu-minggu setelah pertama kali aku melihatnya, akhirnya aku kembali melihatnya, duduk disudut kantin kampusku yang saat itu tak terlalu ramai. Awalnya, aku hanya mengenalinya sebagai seseorang yang pernah kulihat beberapa waktu lalu. Setiap kali aku melihatnya, entah kenapa aku merasa senang. Dan kemudian baru kusadari, hampir setiap sore ia hadir disana. Disudut kantin yang sama, dikelilingi kawan-kawannya yang tak kukenal.
Aku tak pernah melihatnya di siang hari, tak pernah melihatnya di kampus saat jam kuliah, tapi ia selalu hadir ketika hari menjelang malam, di kantin, disudut yang sama. Maka kutarik kesimpulan sederhana, ia alumni kampusku. Ketika kutanyakan pada bibi kantin, ternyata tebakanku benar, ia memang alumni kampusku. Sudah lama lulus –kira-kira 8 tahun yang lalu- namun hampir setiap hari datang ke kantin sehabis pulang kerja. Dan dari bibi kantin pula aku berhasil mengetahui namanya. Daisuke. Lebih sering dipanggil Die.
Tak perlu waktu lama sampai akhirnya aku menyadari bahwa aku telah jatuh hati padanya. Dia, orang yang tak pernah kukenal, yang hanya dapat kuamati diam-diam, ternyata berhasil mencuri hatiku. Apakah ia menyadarinya? Apakah aku pernah melintas dalam benaknya?
Dan aku pun jadi lebih sering pulang lebih malam hanya untuk bisa melihatnya diam-diam. Aku bersabar menunggu sepanjang hari hanya untuk 1 sampai 2 jam yang bisa kuhabiskan hanya untuk memperhatikannya dalam diam. Seringkali Toshiya ikut menemaniku. Ikut memperhatikan Die dan mengambil kesimpulan yang cukup mengejutkanku. Bahwa Die juga, beberapa kali, tertangkap basah sedang melihat kearahku. Awalnya aku tak percaya. Bukannya aku tak mempercayai sahabatku terbaik, tapi aku merasa itu sangat tak mungkin. Aku tahu tak mungkin ia tak sadar bahwa aku sudah cukup sering melihatnya, dan jika ia melihatku pun, aku rasa itu hanya ia merasa penasaran. Tapi Toshiya bersikeras bahwa ada yang berbeda dari cara ia menatapku dan gerak-geriknya. Aku memutuskan untuk menyerah. Tak pernah aku bisa menang jika beradu argumen dengan Toshiya. Memang sih, pernah suatu waktu, ketika aku sedang menunggu Toshiya sendirian di kantin, teman Die yang tak kutahu namanya, sehabis mengobrol dengan Die, seperti memanggil seseorang. Aku memang sedang menggunakan headset, tapi volumenya tak kuperbesar. Apakah ia memanggilku? Aku tak berani menoleh. Aahh bodoh. Harusnya aku menoleh.
Sejujurnya, aku senang ketika Toshiya bilang bahwa ia juga tengah menatapku. Tapi aku tak bisa percaya. Lebih tepatnya, aku tak mau percaya. Aku takut ketika aku percaya, tapi kenyataan yang terjadi tidak seperti yang kuharapkan, dan aku terpuruk jatuh mencium tanah kesia-siaan. Tidak, aku tidak mau! Menyakitkan sekali. Memikirkannya saja membuatku sedih.
Tapi rasanya, rasa suka yang kurasakan semakin hari semakin membesar. Rasa rindu yang menyesakkan terasa setiap kali akhir pekan datang. Karena tak ada perkuliahan, maka aku tak pernah datang ke kampus saat akhir pekan. Saat-saat seperti itulah yang membuatku jengah. Tak sabar aku menanti hari Senin.
Seringkali aku bertanya-tanya, sudah sejauh manakah perasaanku ini padanya? Toshiya menyarankan aku untuk tak melihatnya selama seminggu agar aku tahu perasaanku padanya. Aku menurutinya. Namun ada satu pertanyaan menggantung di benak, apakah yang akan aku lakukan jika aku telah mengetahui perasaanku? Sulit sekali untuk menahan rasa untuk tidak melihatnya. Aku INGIN melihatnya. Apakah ia menyadari bahwa aku menghilang? Tak pernah lagi aku datang untuk menatapnya diam-diam. Sampai pernah aku sedang di kantin sore itu, ternyata ia datang lebih awal. Aku tak tahu apakah ia melihatku, tapi kurasa ia melihatku bergegas pergi dari sana. Apakah ia merasa aku tengah menghindar?
Sejak kejadian itu, aku jarang melihatnya lagi di kantin. Disudut tempat ia biasa duduk bersama kawan-kawannya. Apakah itu karena aku? Apakah ia juga ingin menghindariku atau ia memang tengah sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia datang sedikit lebih larut?
Toshinya pernah menyarankan aku untuk minta dikenalkan melalui pacarnya, Kaoru. Dulu Kaoru memang dekat dengan Die, kata Toshiya. Aku merasa itu lebih baik karena tak mungkin aku tiba-tiba mendatanginya, menjulurkan tanganku padanya, lalu mengajaknya berkenalan. Tidak, aku tidak cukup berani untuk melakukan itu. Sayangnya, ketika aku meminta Kaoru untuk mengenalkannya padaku, Kaoru tak dapat menyanggupinya karena mereka sudah lama tak bertegur sapa.
 Aku merajut kecewa.
Mungkin memang ia tengah menghindariku. Mungkin itu caranya untuk mengatakan, padaku yang tak dikenalnya, untuk berhenti menatap dirinya dalam diam, berhenti untuk berharap pada dirinya untuk bisa mengenalnya. Karena ia tak mungkin tak tahu apa yang kurasakan, apa yang tersirat dalam mataku ketika kami pernah saling bertatapan dulu.
Dan kini, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Apakah kubunuh saja perasaan ini, sama seperti sebelumnya? Mempabrikasi diri dengan kekecewaan yang terajut rapi dalam jalinan perih akibat rindu yang tertahan. Aku masih menunggunya, masih ingin menatapnya diam-diam. Walaupun menyakitkan, tapi satu pengharapanku belum bisa sirna. Aku masih ingin mengenalnya. Aku ingin bisa lebih dari sekedar menatap dari balik bayangan diam-diam.
Akankah hari itu tiba?
Die’s Confession
Aku ingat gadis muda itu.
Ia yang pernah hadir dalam acara yang diadakan di kampus beberapa waktu lalu. Aku, sebagai ketua pelaksana acara tersebut, agak heran bagaimana bisa seorang pengunjung biasa berada di ruang ganti pengisi acara. Tapi aku tak punya banyak waktu untuk bertanya-tanya. Aku sibuk. Dan aku tak melihat gadis itu lagi sampai beberapa minggu kemudian, ketika aku sedang bersantai di kantin seperti yang biasa kulakukan setiap hari sehabis pulang kerja, aku melihatnya.
Ia dan kawan-kawannya tertawa-tawa, bercanda-canda, khas anak-anak perempuan jika sedang berkumpul bersama. Tapi ketika kuperhatikan, gadis itu terlihat lebih diam daripada kawan-kawannya yang lain. Tanpa sadar, aku menatapnya terlalu lama, sampai akhirnya, sepertinya ia merasa kuperhatikan. Ia balas menatapku. Aku sedikit terkejut dan segera membuang pandanganku ke sembarang arah. Sempat kulihat bibirnya melengkungkan senyum kecil. Apakah ia tahu jika aku memperhatikannya?
Seringkali aku menangkap basah dirinya tengah menatapku. Dan ada yang berbeda dalam tatapannya. Ada kilau bening disana, yang membuatku penasaran sekaligus bertanya-tanya. Kenapa dia selalu menatapku.
Oke, bodoh rasanya jika aku terlalu lama menyadari bahwa gadis itu mungkin saja menyukaiku. Pernah sekali waktu, aku bercerita pada Kyo tentang gadis itu, yang akhirnya kuketahui bernama Shinya. Bagaimana aku bisa tahu? Itu mudah. Kawan-kawannya selalu berbicara dengan suara yang keras, dan waktu aku sedang melihatnya, seorang temannya memanggilnya. Shinya. Dan nama itu mulai membekas dalam ingatanku. Jadi, waktu aku bercerita dan menunjukkan gadis itu pada Kyo, Kyo memanggilnya. Tentu saja Kyo hanya mau mengolok-olok diriku karena Kyo tak memanggil Shinya dengan namanya. Shinya tak menoleh. Wajar saja, waktu itu ia mengenakan headset. Jadi kurasa, ia tak mendengar panggilan Kyo.
Pernah juga suatu waktu, seorang kawannya mendatangiku ketika aku sedang merokok sendirian diluar kantin. Katanya, aku dapat salam dari temannya. Reaksiku hanya kaget. Mungkin wajahku terlihat bodoh waktu itu. Gadis itu mengulang kata-katanya. Aku hanya mengangguk sambil menggumam iya. Ternyata benar dugaanku.
Aku tak tahu, tapi entah kenapa aku merasa jika ia menghindariku beberapa waktu belakangan ini. Aku jarang melihatnya lagi disudut tempat ia biasa bersama kawan-kawannya. Apakah aku merasa kehilangan? Mungkin saja. Karena rasanya ganjil jika menyadari dia tak ada disana. Dan aku mulai bertanya-tanya dalam hati, kemana dirinya. Apakah sekarang aku mulai merindukannya? Karena ketika kini kusadari, hampir setiap menjelang tidur, ada yang ribut disudut hati, bertanya-tanya apakah gadis itu juga tengah memikirkanku?
Perkerjaanku menuntutku untuk lebih sibuk. Tapi tak apa, komisinya cukup besar hingga sayang untuk dilewatkan. Jadi aku bekerja lebih keras. Sebagai akibatnya, tentu saja aku jadi jarang ke kampus lagi. Kalaupun bisa, itu sudah malam sekali, dan kurasa, ia sudah pulang. Lagipula, beberapa kali aku datang, dia tak pernah ada lagi di sudut yang sama. Aku sudah jarang sekali melihatnya. Apakah ia sengaja melakukannya? Untuk apa?
Yah, mungkin memang salahku. Aku sudah tahu isi hatinya. Aku tak sebodoh itu tak menyadari dibalik tatapan-tatapan yang sekilas itu, tersimpan rasa untukku yang disimpannya sendiri. Harusnya aku tahu, tak mungkin ia berani mendatangiku lalu mengulurkan lengan kurusnya untuk mengajakku berkenalan. Tak mungkin.
Tapi aku sendiri juga tak mengerti perasaanku. Apakah aku menyukainya? Meskipun aku mungkin memang merindukannya. Mungkin karena ego-ku, aku pun tak mau mendatanginya duluan, mengajaknya berkenalan. Ego seorang laki-laki. Tapi bukankah hal itu juga yang membuatku jadi kehilangan dia yang selalu menatapku penuh harap dalam diam?
Jahatkah aku?
Kyo bilang, selama aku tak bisa datang ke kampus, atau ketika aku baru bisa datang larut, Shinya sesekali masih berada di kantin. Terkadang dia melirik kearah tempat aku biasa duduk, lapor Kyo. Apakah ia menungguku?
Ketika sekali waktu aku dapat melihatnya lagi, walaupun hanya sekilas, tapi aku bisa merasakan ada rasa di hati yang membuatku ingin tersenyum. Tapi untungnya aku cukup bisa menahan diri untuk mengendalikan emosiku. Wajahku tetap datar dan tetap sibuk dengan handphone-ku, pengalih perhatian yang sangat ampuh. Apakah aku munafik?
Beberapa waktu yang lalu, Kaoru, teman lamaku, mengajakku ngobrol. Kami bicara banyak sampai akhirnya Kaoru menyebut-nyebut nama Shinya. Aku bilang, aku sudah tahu dia. Hanya sekedar tahu, tapi tak kukenal. Dan jika ia ingin mengenalku, aku ingin dia yang maju lebih dulu, tambahku. Oke, sekali lagi ego lelaki membuatku mengeluarkan keputusan yang bodoh yang pernah kuambil. Seharusnya aku tahu bahwa ia tak akan mungkin melakukan itu. Apa yang sudah kulakukan? Dan sepertinya Kaoru sudah menyampaikan pada Shinya. Belakangan ini, ia kembali jarang hadir di kantin. Pernah juga ketika aku datang lebih awal, kulihat ia sedang makan ditempat ia biasa duduk, tapi kemudian ia dan kawannya bergegas pergi dari kantin. Seperti menghindariku. Mungkin itu caranya untuk mengatakan bahwa dia sudah meyerah. Ia tak akan mungkin mendekatiku duluan, bagaimanapun caranya. Dan semua karena ego-ku.
Sekarang keadaan sudah berubah. Aku tahu ini adalah rasa kehilangan. Aku kehilangan seseorang yang mungkin saja teman hidupku untuk menjalani sisa umur. Apa ada lagi yang lebih buruk dari ini? oh, tentu saja ada.
Beberapa hari yang lalu, kulihat ia jalan berdua dengan seorang lelaki yang tak kukenal. Mungkin dia dari fakultas lain. Mereka terlihat akrab, tertawa bersama, bersenda gurau. Aku hanya bisa menatap kosong. Hampa. Bisa ditebak, moodku langsung memburuk. Aku baru saja tiba di kantin, tapi rasanya sudah ingin pulang.
Akhirnya aku merasakan apa yang pernah ia rasakan dulu ketika aku mengecewakan dirinya.
Aku jadi ingin mengulang waktu. Aku ingin membuang ego-ku agar aku bisa mengenalnya segera setelah aku mengetahui perasaannya. Seharusnya tak kubiarkan ia lama menunggu. Aku tahu aku menyesal. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Sekarang, justru aku yang ingin menunggunya.
Aku harap, kesempatan untuk bisa mengenalnya segera tiba.

No comments:

Post a Comment