Title: I Hear Your Voice
Author: DEADBORN
Genre: Sad romance
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013
Author: DEADBORN
Genre: Sad romance
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013
Saya suka suara kamu.
Jangan
pernah tanya mengapa dan bagaimana bisa, karena saya sendiri tak pernah tahu
alasannya. Bukankah menyukai sesuatu tak memerlukan alasan? Sekalipun untuk
kali ini rasanya aneh.
Setiap
hari, tak pernah terlewatkan. Ketika malam mulai merangkak naik, kamu akan
mulai menyalakan laptop kamu. Dari situ, kamu mendengarkan lagu-lagu yang kamu
suka. Seringkali kamu turut bernyanyi. Konser mini, katamu sambil bercermin,
dengan senyum merekah sempurna. Cantik.
Lagu-lagu
yang kamu nyanyikan pun beragam. Berbagai bahasa, berbagai genre, berbagai emosi. Lagu lawas, lagu anyar. Tergantung suasana
hati yang tengah kamu rasa. Kadang kamu mengulang satu lagu. Terus menerus kau
nyanyikan hingga berminggu-minggu. Hingga kamu bosan dan akhirnya kembali
menyanyikan lagu-lagu lain, atau mengulang satu lagu lain.
Namun terkadang, kamu tak
bernyanyi. Entah karena tak ingin, atau pulang lebih larut dari jam yang
seharusnya. Jika sudah begitu, biasanya kamu hanya duduk dihadapan laptopmu. Entah
menonton atau sibuk dengan pekerjaanmu.
Saya memperhatikan kamu. Kamu
yang ketika bernyanyi selalu menghadap cermin. Sambil tersenyum, sambil
menggerak-gerakkan lenganmu. Berpura-pura sedang konser betulan. Kadang kamu
gunakan spidol sebagai mic, kadang
kamu berpura-pura sedang memetik gitar, membetot bass, menekan tuts piano atau
menggebuk drum. Lucu sekali.
Saya diam-diam mengunjungi kamu.
Mungkin tak bisa dikatakan diam-diam, karena saya rasa, kamu tahu saya hadir. Pada
sudut kamar, atau mengintip pada sudut ventilasi pintu, atau dari celah-celah
kecil dari barang-barang yang berada dikamar kamu, dimana saja asal saya bisa
mendengar suara kamu dengan jelas. Lebih beruntung jika bisa melihat kamu juga.
Terkadang jika kamu sadari saya sedang memperhatikan kamu, kamu akan
mengernyitkan dahi. Lalu membuat gerakan seolah-olah hendak mengusir. Tapi saya
akan tetap diam, bergeming. Saya masih ingin mendengar dan melihat konser mini
yang kamu gelar kecil-kecilan. Bila sudah begitu, kamu akan membiarkan saya
berada tetap di tempat saya. Sesekali kamu layangkan pandangan tak suka.
Saya tahu kamu tidak suka dengan
kehadiran saya. Seperti benci, bahkan jijik. Tapi saya tak bisa apa-apa karena
wujud saya yang membuatmu tak nyaman. Biarkan saya jadi fans kamu, agar dapat mengapresiasi
kamu dengan satu-satunya cara yang saya bisa.
Seperti malam ini. Kamu mulai
menggelar konser mini. Sebuah lagu bernada ceria. Kamu hentakkan tanganmu, kamu
pandangi pantulanmu di cermin. Dan saya diam-diam berdiam di sudut ventilasi
pintu kamar kamu. Berusaha agar kamu tidak melihat saya, agar kamu tidak merasa
risih dengan kehadiran saya yang tak pernah menyenangkan hati kamu. Memandangi
setiap gerak-gerik kamu, mendengar setiap nyanyian atau celotehan-celotehan
yang keluar dari mulut kamu.
Dan
ketika kamu selesai bernyanyi, sebagai ganti tepukan tangan untuk mengapresiasi
kamu, saya akan berkata semampu saya; kamu hebat, saya suka.
Semoga kamu mendengarnya.
Oh, kamu pasti mendengarnya. Suara
yang bersumber dari sudut ventilasi pintu kamar kamu. Karena ketika kamu
mendengar suara itu, kamu mengalihkan pandanganmu dari layar laptop, ke arah
tempat saya berada. Kamu lihat juga kan wujud saya? Wujud asli pemilik suara
itu.
“Ck ck ck ck ck ck.”
No comments:
Post a Comment