Monday, May 13, 2013

Inside The Darkness



Title: Inside The Darkness
Author: DEADBORN
Genre: Sad romance
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013


Malam ini, saya kembali menangis.
                Saya tak bisa salahkan siapa-siapa. Salahkan diri sendiri saja tak bisa, apalagi kamu. Padahal kata orang, kita sama-sama salah. Tapi mereka kan tidak kenal kamu. Dan sepertinya saya pun juga mulai merasa demikian.
                Kamu berubah, itu yang saya tahu. Entah sejak kapan. Oh, sepertinya sejak beberapa minggu yang lalu. Sejak kamu kenal dengan orang itu. Saya tidak bisa apa-apa. Saya hanya ingin percaya bahwa diantara kalian tidak ada hubungan spesial, tapi rasanya sulit. Sulit jika saya lihat kalian jadi begitu dekat. Kamu yang kaku mendadak jadi hangat dihadapannya.
                Saya cemburu, sepertinya. Sungguh saya tak pernah ingin merasa demikian. Tapi hanya perasaan ini yang terpikirkan di kepala ketika hati terasa semakin menjadi-jadi geramnya jika melihat kalian bersama.
                Saya jadi tidak kenal kamu lagi. Dan puncaknya, kamu menghilang. Sekalipun saya tetap tahu keberadaan kamu. Kamu sudah menetap di hati saya, tapi perhatian kamu tak lagi berada pada saya.
                Malam itu, ketika gelap menguasai kamar, ketika langit-langit kamar terbias cahaya lampu jalan yang redup, saya menangis. Saya juga tak mengerti apa yang saya tangisi. Yang saya tahu, setiap kali saya memikirkan kamu, air mata ini selalu jatuh ke pipi. Awalnya setetes, lama-lama menderas.
                Malam berikutnya, kejadian itu berulang. Dan malam selanjutnya, dan selanjutnya. Begitu terus setiap malam. Setiap kali gelap menguasai kamar, ketika langit-langit kamar terbias cahaya lampu jalan yang redup, ketika saya teringat dengan kamu, saya akan menangis hingga lelah lalu lelap. Bahkan saya tak lagi berani berbaring lebih awal. Saya baru akan tidur jika kantuk sudah tiba. sehingga ketika kepala sudah menyentuh bantal, saya dapat langsung terlelap tanpa perlu ada air mata yang kembali membasahi bantal. Ya, segitu takutnya saya pada mata yang basah.
               Saya berusaha mencari tahu, kenapa saya menangis? apa yang saya tangisi? Malam demi malam, saya telusuri lorong hati yang gelap, berusaha mencari jawaban atas air mata yang meruah.
  Cemburu kah? Kehilangan kah?
  Saya lelah. Seandainya kamu rasa apa yang saya rasakan, tapi kata-kata itu rasanya terlalu egois. Mungkin saya hanya terlalu sensitif. Maaf. Tapi sungguh, saya capek menangis. Hanya saja, saya bisa apa lagi? Saya tanya kamu pun percuma. Kamu kan sudah tidak lagi ada untuk saya sekalipun bayang kamu tetap tinggal di hati.
 Jika semua memang sudah harus berakhir, baiklah. Kamu sudah duluan pergi, hanya saya yang masih bersikeras tinggal. Mungkin bagi kamu, saya sudah tidak cukup lagi untuk dipertahankan, saya bukan lagi yang kamu butuhkan. Saya tidak suka cara kamu pergi, tapi jika kamu pilih pergi, saya akan mengerti, meskipun itu sulit. Meskipun itu memerlukan waktu yang panjang untuk dapat memahaminya. Meskipun itu harus dibayar dengan deraian air mata.
Dan akhirnya, saat pagi tiba, saya seperti tersadar. Kini saya tahu apa yang saya tangisi.  
Saya menangis, untuk kamu yang berubah, untuk hati yang terluka, dan untuk perasaan yang tersia-sia.

No comments:

Post a Comment