Title: Inside The Darkness
Author: DEADBORN
Genre: Sad romance
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013
Author: DEADBORN
Genre: Sad romance
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013
Malam ini, saya kembali menangis.
Saya
tak bisa salahkan siapa-siapa. Salahkan diri sendiri saja tak bisa, apalagi
kamu. Padahal kata orang, kita sama-sama salah. Tapi mereka kan tidak kenal
kamu. Dan sepertinya saya pun juga mulai merasa demikian.
Kamu
berubah, itu yang saya tahu. Entah sejak kapan. Oh, sepertinya sejak beberapa
minggu yang lalu. Sejak kamu kenal dengan orang itu. Saya tidak bisa apa-apa. Saya
hanya ingin percaya bahwa diantara kalian tidak ada hubungan spesial, tapi
rasanya sulit. Sulit jika saya lihat kalian jadi begitu dekat. Kamu yang kaku
mendadak jadi hangat dihadapannya.
Saya
cemburu, sepertinya. Sungguh saya tak pernah ingin merasa demikian. Tapi hanya
perasaan ini yang terpikirkan di kepala ketika hati terasa semakin menjadi-jadi
geramnya jika melihat kalian bersama.
Saya
jadi tidak kenal kamu lagi. Dan puncaknya, kamu menghilang. Sekalipun saya
tetap tahu keberadaan kamu. Kamu sudah menetap di hati saya, tapi perhatian
kamu tak lagi berada pada saya.
Malam
itu, ketika gelap menguasai kamar, ketika langit-langit kamar terbias cahaya
lampu jalan yang redup, saya menangis. Saya juga tak mengerti apa yang saya
tangisi. Yang saya tahu, setiap kali saya memikirkan kamu, air mata ini selalu
jatuh ke pipi. Awalnya setetes, lama-lama menderas.
Malam
berikutnya, kejadian itu berulang. Dan malam selanjutnya, dan selanjutnya. Begitu
terus setiap malam. Setiap kali gelap menguasai kamar, ketika langit-langit
kamar terbias cahaya lampu jalan yang redup, ketika saya teringat dengan kamu,
saya akan menangis hingga lelah lalu lelap. Bahkan saya tak lagi berani berbaring
lebih awal. Saya baru akan tidur jika kantuk sudah tiba. sehingga ketika kepala
sudah menyentuh bantal, saya dapat langsung terlelap tanpa perlu ada air mata
yang kembali membasahi bantal. Ya, segitu takutnya saya pada mata yang basah.
Saya
berusaha mencari tahu, kenapa saya menangis? apa yang saya tangisi? Malam demi
malam, saya telusuri lorong hati yang gelap, berusaha mencari jawaban atas air
mata yang meruah.
Cemburu kah? Kehilangan kah?
Saya lelah. Seandainya kamu rasa
apa yang saya rasakan, tapi kata-kata itu rasanya terlalu egois. Mungkin saya
hanya terlalu sensitif. Maaf. Tapi sungguh, saya capek menangis. Hanya saja,
saya bisa apa lagi? Saya tanya kamu pun percuma. Kamu kan sudah tidak lagi ada
untuk saya sekalipun bayang kamu tetap tinggal di hati.
Jika semua memang sudah harus
berakhir, baiklah. Kamu sudah duluan pergi, hanya saya yang masih bersikeras
tinggal. Mungkin bagi kamu, saya sudah tidak cukup lagi untuk dipertahankan,
saya bukan lagi yang kamu butuhkan. Saya tidak suka cara kamu pergi, tapi jika
kamu pilih pergi, saya akan mengerti, meskipun itu sulit. Meskipun itu
memerlukan waktu yang panjang untuk dapat memahaminya. Meskipun itu harus
dibayar dengan deraian air mata.
Dan akhirnya, saat pagi tiba,
saya seperti tersadar. Kini saya tahu apa yang saya tangisi.
Saya menangis, untuk kamu yang
berubah, untuk hati yang terluka, dan untuk perasaan yang tersia-sia.
No comments:
Post a Comment