Title: Shadowplay
Author: DEADBORN
Genre: General
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013
Author: DEADBORN
Genre: General
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013
Pada
suatu malam, disebuah keramaian, aku lihat dia sedang sendirian.
Hal pertama yang aku sadari dalam
pencahayaan yang sengaja bikin mata jadi berpendar-pendar ini adalah, ia
sendirian. Semua orang yang berada disini, paling tidak, bersama dengan satu
atau bebeapa teman mereka. Berdiri maupun duduk, tak ada yang sendirian. Tapi
tidak dengan dirinya.
Dia berdiri, bersandar pada
salah satu tiang bangunan yang agak ke tengah ruangan. Dengan baju hitamnya,
seolah ingin ikut lebur bersama dalam bayang-bayang remang. Kamuflase yang
cukup unik, tapi belum cukup untuk mengelabui mataku. Ada sesuatu yang
membuatku tertarik. Entah apa.
Apa itu karena kesendiriannya? Ia
nampak begitu santai. Seolah tak terpengaruh oleh hingar sekeliling yang cukup
membuatku gerah dalam ruangan yang seharusnya dingin. Dalam keramaian sekitar,
kesendiriannya justru menjadi hal yang paling mencolok sekalipun ia berusaha
untuk tidak menonjol. Ataukah mungkin karena ekspresi wajahnya? Dalam pendar
cahaya, kulihat wajah itu meriak oleh emosi. Terkadang ia tersenyum melihat
pertunjukan yang tersaji dihadapannya. Terkadang ia berwajah cemas, entah
apakah ia cemas karena lakon yang ia tonton atau mungkin hal lain. Saru.
Lucunya, kemudian aku sadar,
bahwa selama pertunjukkan ini berlangsung, diam-diam aku memperhatikannya. Dari
balik bayang-bayang pendar cahaya yang memusingkan, dari keramaian bingar
sekitar, dari ratusan orang yang menyesaki ruangan dengan karbon dioksida,
dialah juara yang berhasil menyerap atensiku penuh, melebihi pertunjukkan yang
sudah hampir sebulan kutunggu.
Seharusnya aku menyesalinya. Aku
lebih menantikan acara ini daripada mencari jawaban atas rasa penasaranku
terhadap orang asing yang sendirian ditengah ramai. Tapi Semesta ternyata gemar
berlelucon. Pertunjukkan itu lewat berlalu begitu saja, dan pusat perhatianku
justru teralih pada orang asing. Bayangkan, orang asing yang baru saja kulihat
ditempat pertujukkan ini!
Apa menariknya coba memandangi
gerak-gerik seseorang yang asing, kemudian menerka-nerka apa yang sedang ia
pikirkan, apa yang akan ia lakukan, siapa yang sedang ia tunggu.... ah, siapa
tahu ia memang berniat menikmati acara ini sendiri. Kenapa aku jadi penasaran
sendiri?
Namun layaknya orang terkena sihir,
pandanganku tak dapat lepas dari tindak-tanduknya. Dan aku mulai keheranan
sendiri. Apa sih yang sedang aku lakukan? Lalu terlintas lagi satu pertanyaan
yang paling konyol yang bisa kupikirkan, apakah aku jatuh cinta pada pandangan
pertama?
Ya Tuhan, aku bukan lagi anak
kecil yang masih punya cinta monyet. Lagipula dia bukan tipeku. Tapi.... sekali
lagi, aku tidak tahu kenapa aku tak bisa memalingkan pandangan mataku darinya. Seharusnya
aku menikmati pertunjukkan ini, kan?!
Oke, kali ini aku akan berusaha
berkonsentrasi pada pertunjukkan yang sudah cukup lama aku nantikan. Satu
menit, dua menit, tiga menit.... dan aku menyerah pada menit kelima. Orang itu
memiliki daya tarik lebih besar. Atau mungkin rasa penasaranku yang membesar.
Jadi, haruskah aku
menghampirinya? Sekedar berdiri disampingnya atau.... berkenalan, mungkin?
Aku bangkit dari kursi, pamit
pada kawan disebelah kiriku. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Aku sudah
berada dibelakangnya. Dua langkah lagi, aku akan berdiri bersisian dengannya. Dia
tidak menyadari keberadaanku, seolah perhatiannya sudah terserap pada
pertunjukkan yang tersaji. Kini aku ikuti jejaknya, lebur dalam remang. Berusaha
menyatu dengan dirinya, sedekat yang kubisa raih. Aku dan kamu kini sama-sama
satu dalam permainan pendar cahaya yang meremang. Sama-sama tertuju pada apa
yang ada dihadapan.
Oh, lihat. Rupanya aku keliru. Sejurus
kemudian, seseorang datang menghampirinya, berdiri disebelahnya. Kurasa itu
temannya, karena beberapa kali mereka saling mendekatkan bibir mereka ke
telinga lawan bicaranya. Berusaha menyaingi hingar-bingar yang cukup untuk
membuat telinga pekak. Mereka berdiri bersisian hingga pertunjukkan usai.
Dan aku, aku masih mematung di tempat semula. Mataku belum
bisa lepas dari sosok yang kuikuti jejaknya, berusaha menyatu dalam bayang-bayang
remang. Satu-satunya caraku untuk bisa dekat dan melebur bersama dengannya,
paling tidak, untuk saat ini.
Penasaranku terjawab, harapanku
pupus. Ternyata dia tidak sendirian.
[end]
No comments:
Post a Comment