Monday, May 13, 2013

Shadowplay



Title: Shadowplay
Author: DEADBORN
Genre: General
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013


Pada suatu malam, disebuah keramaian, aku lihat dia sedang sendirian.
                Hal pertama yang aku sadari dalam pencahayaan yang sengaja bikin mata jadi berpendar-pendar ini adalah, ia sendirian. Semua orang yang berada disini, paling tidak, bersama dengan satu atau bebeapa teman mereka. Berdiri maupun duduk, tak ada yang sendirian. Tapi tidak dengan dirinya.
                Dia berdiri, bersandar pada salah satu tiang bangunan yang agak ke tengah ruangan. Dengan baju hitamnya, seolah ingin ikut lebur bersama dalam bayang-bayang remang. Kamuflase yang cukup unik, tapi belum cukup untuk mengelabui mataku. Ada sesuatu yang membuatku tertarik. Entah apa.
                Apa itu karena kesendiriannya? Ia nampak begitu santai. Seolah tak terpengaruh oleh hingar sekeliling yang cukup membuatku gerah dalam ruangan yang seharusnya dingin. Dalam keramaian sekitar, kesendiriannya justru menjadi hal yang paling mencolok sekalipun ia berusaha untuk tidak menonjol. Ataukah mungkin karena ekspresi wajahnya? Dalam pendar cahaya, kulihat wajah itu meriak oleh emosi. Terkadang ia tersenyum melihat pertunjukan yang tersaji dihadapannya. Terkadang ia berwajah cemas, entah apakah ia cemas karena lakon yang ia tonton atau mungkin hal lain. Saru.
                Lucunya, kemudian aku sadar, bahwa selama pertunjukkan ini berlangsung, diam-diam aku memperhatikannya. Dari balik bayang-bayang pendar cahaya yang memusingkan, dari keramaian bingar sekitar, dari ratusan orang yang menyesaki ruangan dengan karbon dioksida, dialah juara yang berhasil menyerap atensiku penuh, melebihi pertunjukkan yang sudah hampir sebulan kutunggu.
                Seharusnya aku menyesalinya. Aku lebih menantikan acara ini daripada mencari jawaban atas rasa penasaranku terhadap orang asing yang sendirian ditengah ramai. Tapi Semesta ternyata gemar berlelucon. Pertunjukkan itu lewat berlalu begitu saja, dan pusat perhatianku justru teralih pada orang asing. Bayangkan, orang asing yang baru saja kulihat ditempat pertujukkan ini!
                Apa menariknya coba memandangi gerak-gerik seseorang yang asing, kemudian menerka-nerka apa yang sedang ia pikirkan, apa yang akan ia lakukan, siapa yang sedang ia tunggu.... ah, siapa tahu ia memang berniat menikmati acara ini sendiri. Kenapa aku jadi penasaran sendiri?
                Namun layaknya orang terkena sihir, pandanganku tak dapat lepas dari tindak-tanduknya. Dan aku mulai keheranan sendiri. Apa sih yang sedang aku lakukan? Lalu terlintas lagi satu pertanyaan yang paling konyol yang bisa kupikirkan, apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama?
                Ya Tuhan, aku bukan lagi anak kecil yang masih punya cinta monyet. Lagipula dia bukan tipeku. Tapi.... sekali lagi, aku tidak tahu kenapa aku tak bisa memalingkan pandangan mataku darinya. Seharusnya aku menikmati pertunjukkan ini, kan?!
               Oke, kali ini aku akan berusaha berkonsentrasi pada pertunjukkan yang sudah cukup lama aku nantikan. Satu menit, dua menit, tiga menit.... dan aku menyerah pada menit kelima. Orang itu memiliki daya tarik lebih besar. Atau mungkin rasa penasaranku yang membesar.
                Jadi, haruskah aku menghampirinya? Sekedar berdiri disampingnya atau.... berkenalan, mungkin?
                Aku bangkit dari kursi, pamit pada kawan disebelah kiriku. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Aku sudah berada dibelakangnya. Dua langkah lagi, aku akan berdiri bersisian dengannya. Dia tidak menyadari keberadaanku, seolah perhatiannya sudah terserap pada pertunjukkan yang tersaji. Kini aku ikuti jejaknya, lebur dalam remang. Berusaha menyatu dengan dirinya, sedekat yang kubisa raih. Aku dan kamu kini sama-sama satu dalam permainan pendar cahaya yang meremang. Sama-sama tertuju pada apa yang ada dihadapan.
                Oh, lihat. Rupanya aku keliru. Sejurus kemudian, seseorang datang menghampirinya, berdiri disebelahnya. Kurasa itu temannya, karena beberapa kali mereka saling mendekatkan bibir mereka ke telinga lawan bicaranya. Berusaha menyaingi hingar-bingar yang cukup untuk membuat telinga pekak. Mereka berdiri bersisian hingga pertunjukkan usai.
Dan aku, aku masih mematung di tempat semula. Mataku belum bisa lepas dari sosok yang kuikuti jejaknya, berusaha menyatu dalam bayang-bayang remang. Satu-satunya caraku untuk bisa dekat dan melebur bersama dengannya, paling tidak, untuk saat ini.
                Penasaranku terjawab, harapanku pupus. Ternyata dia tidak sendirian.
                

[end]

No comments:

Post a Comment