Title: The Unborn
Author: DEADBORN
Genre: Angst
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013
Author: DEADBORN
Genre: Angst
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013
Note:
Ini adalah cerpen remake dari karya saya dulu sekali yang pernah saya post di
suatu blog yang kini sudah tewas. Karena remake, jadi ada beberapa penambahan
dan pengurangan. Semoga kalian suka. Selamat membaca :)
Seorang wanita berjalan seorang diri di trotoar salah satu
sudut kota yang sepi. Wajahnya cantik namun kosong tanpa ekspresi. Langkahnya
perlahan tapi pasti, seolah ia memang sudah berniat menuju tempat itu, menuju satu-satunya
tempat dimana ia bisa membuang beban yang bergayut dipundaknya yang kurus.
Satu-satunya harapan yang ia punya untuk lepas dari segala masalah yang
mengimpitnya. Beberapa langkah lagi ia akan sampai setelah berjalan cukup jauh.
Tempat tujuannya sebuah gedung yang cukup besar dan tak terlalu ramai, dengan
tanda salib berwarna merah terpatri di dinding atas gedung tersebut.
Ya, rumah sakit.
Ia masuk kedalam rumah sakit itu. Sore hari, rumah sakit
itu tampak lengang, tak banyak pasien atau pengunjung yang hendak membesuk. Wanita
muda itu berjalan perlahan, menuju ruang tunggu. Ia duduk didekat sepasang pria
dan wanita. Yang pria menundukkan wajahnya, yang wanita terlihat tengah hamil.
Sekitar 5 bulan. Tak ada yang berbicara. Hanya terdengar samar-samar suara
perawat-perawat yang berbicara dalam bisikan. Sepi.
Apakah pasangan ini juga ingin
melakukan apa yang ia juga ingin lakukan?
Wanita muda itu bangkit dari kursinya, berjalan menuju
suatu ruangan. Toilet. Setelah menutup pintunya, ia membungkuk diatas wastafel.
Ia merasa mual. Dinyalakannya keran agar deras suara air yang mengalir dapat
menyamarkan suara muntahnya. Beberapa kali ia muntah. Kepalanya agak pening. Ia
menyeka mulutnya, menegakkan tubuhnya kembali, lalu bercermin. Kedua matanya
yang berwarna hitam menatap pantulan wajahnya sendiri yang pucat dan sendu.
Berpikir.
Bimbang.
Tapi ia sendiri sudah tak sanggup. Ia meyakinkan dirinya
bahwa ini adalah keputusan yang tepat. Toh ia sudah membuat janji sejak jauh
hari dan sudah jauh-jauh datang ke tempat ini. Maka ia kembali ke ruang tunggu.
Pasangan itu masih ada disana. Mereka terlihat sedang bercakap-cakap dalam
suara pelan. Wanita muda itu sendiri tak ambil pusing apa yang mereka
bicarakan. Ia sibuk dengan pikirannya.
Beberapa saat kemudian, sebuah nama disebut. Pasangan itu
berdiri lalu berjalan masuk ke sebuah ruangan. Pintu itu menutup. Ruang tunggu
itu terasa lebih kosong daripada sebelumnya. Lebih sepi. Senja begitu cepat
turun. Ruangan itu terbias cahaya kebiruan.
Dingin.
Sepi.
Ia memejamkan matanya. Membiarkan perasaan dan pikirannya
tenggelam jauh ke sebuah lubang gelap tak berdasar. Dari biru menjadi hitam. Legam.
Itulah dirinya. Tenggelam dalam dosa. Menari bersama buih-buih kebencian
didalamnya.
Lama sekali. Sampai akhirnya namanya dipanggil. Akhirnya, setelah
lama ia menanti. Ia tak terkejut mendapati dirinya berjalan dengan tenang
menuju ruangan yang sama tempat pasangan yang sebelumnya masuk.
Ruangan itu remang-remang. Hanya sebuah lampu baca yang
dinyalakan diatas meja dokter. Seorang dokter pria dengan jas berwarna putih
duduk didepan meja tersebut seolah memang sudah menunggunya. Ia berjalan mantap
menuju kearah dokter itu. Lalu duduk tenang di kursi yang ada dihadapan dokter
itu.
Keduanya saling bertatapan dalam diam. Sepertinya dokter
itu ingin menganalisa perasaan si wanita muda.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu?" rupanya dokter
itu tak bisa menemukan apapun dalam wajah si wanita muda yang enggan
menunjukkan ekspresi itu.
Wanita itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab
dengan satu kata, "aborsi."
Dokter itu paham. Ia menggosok dagunya. "Kau
yakin?"
"Ya."
"Berapa usia kandunganmu?"
"4 bulan kurang."
"Apakah kau pernah punya anak sebelumnya?"
"Tidak."
"Apakah kau benar-benar telah mempersiapkan segala
sesuatunya? Memikirkan semua ini masak-masak? Ada kemungkinan kau tidak akan
bisa memiliki anak lagi."
Sunyi mengambil alih. Keduanya saling bertatapan. Herannya,
wanita muda itu tidak menunjukkan gejolak ekspresi apapun. Hanya diam.
"Aku tanya sekali lagi, apakah kau benar-benar
siap?" sang dokter memberikan penekanan dalam pertanyaannya.
"Ya," akhirnya wanita muda itu menjawab.
"Baiklah. Ikuti aku."
Wanita muda itu berdiri lalu
berjalan mengikuti sang dokter yang masuk ke salah satu ruangan yang lebih
kecil. Sebuah brankar besi berwarna putih dengan matras berwarna hijau tua
mengisi ruangan itu. Disekelilingnya ada barang-barang kedokteran yang tak ia tahu
namanya.
Ruang operasi.
“Tolong ganti pakaianmu dengan baju pasien disebelah sana,”
dokter itu menunjuk pada ruang ganti kecil disamping toilet yang berada didalam
ruangan itu. wanita muda itu menurut. Ia melepas pakaiannya. Tubuhnya hanya
ditutupi oleh sehelai kain berwarna turqoise.
Ia keluar dari ruang ganti. Wajahnya tetap sama, tanpa
ekspresi. Ia mendekati brankar, kemudian membaringkan dirinya disana. Kedua
kakinya berada dalam posisi terbuka, disanggah dan diikat agar mempermudah
jalannya operasi. Dokter tadi telah berganti pakaian. Ia memakai baju operasi
berwarna sama dengan selimut yang tengah menutupi tubuh wanita muda itu.
Seorang asisten berdiri disampingnya. Berpakaian sama dengan dokter itu.
Keduanya sama-sama bermasker. Keduanya tengah bersiap. Lampu operasi menyala.
Warnanya putih kebiruan dan menyilaukan.
Operasi akan dimulai.
Si asisten menyerahkan sebuah alat suntik. Obat bius. Ia
sudah meminta agar dibius lokal saja. Dokter itu setuju. Dan dalam waktu 5
menit saja, ia sudah tak merasakan apapun.
Sekarang, asisten itu menyerahkan sebuah gunting operasi.
Jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat gunting itu, tapi ia meyakinkan
dirinya. Toh ia tak bisa merasakan kulitnya yang akan sobek oleh gunting itu.
Dokter menyerahkan gunting yang berdarah itu ke asistennya.
Si asisten menerimanya lalu ganti mengulurkan alat lain semacam gunting dengan
pencapit diujungnya. Ia masih bisa merasakan ada sesuatu yang masuk, tapi ia
tak merasa sakit. Beberapa gerakan tapi terasa tak berarti.
Dipejamkan kembali matanya. Sekelilingnya berwarna biru
menyala. Dibiarkannya kembali pikiran dan perasaannya tenggelam. Lalu ia
teringat cerita kawan-kawannya. Mereka yang sudah pernah melakukan apa yang
kini sedang ia lakukan. Entah itu di rumah sakit, maupun dilakukan sendiri. Dan
setelahnya, mereka buang darah daging mereka sendiri kedalam kloset yang penuh
darah. Lalu tanpa rasa bersalah menekan tombol 'flush'. Membiarkan mahluk yang
bahkan belum bernyawa itu menyatu bersama kotoran. Seolah mahluk merah itu bukan
apa-apa, bukan merupakan bagian dari diri mereka.
Padahal itu adalah buah dari dosa yang telah mereka lakukan
dengan penuh kesadaran. Tak ada perasaan. Yang ada hanyalah takut, kalut, dan
benci.
Ia sendiri merasa bersalah meskipun ia merasa heran bahwa
ternyata ia masih bisa merasa demikian. Bersalah pada si janin yang baru saja
ditiupkan nyawa. Bersalah pada dirinya sendiri yang begitu bodoh jatuh dalam
lembah hina. Tapi apa gunanya menyesal? Toh kini ia berenang didalam dosa,
berdansa bersama aliran penyesalan.
Dengan ini, ia ingin setidaknya 'membunuh' mahluk merah itu
dengan cara yang lebih 'terhormat'. Terdengar bodoh, memang. Tapi ia sendiri
merasa tak tega jika harus melakukannya sendiri dan membuangnya sendiri di kloset.
Tidak. Ia masih punya perasaan walaupun perasaan itu sendiri terasa hampir
membeku.
Hampir satu jam operasi itu berlangsung. Dokter itu
meletakkan potongan-potongan daging merah kedalam trash bag ukuran kecil.
Mengikatnya dan meletakkannya disudut. Menyuruh asistennya untuk membuangnya
sesegera mungkin.
Selesai.
Semua sudah selesai. Setelah dibersihkan, wanita itu
mengenakan pakaiannya kembali. Rasa sakit baru terasa setelah beberapa waktu.
Tapi ia tak menampakkan ekspresi apapun di wajahnya. Ia menganggap itu adalah
kompensasi yang pantas untuk dirinya.
Bahkan ia merasa bahwa seharusnya ia pantas mendapatkan
kompensasi yang lebih daripada itu. Hanya karena kebodohannya, hanya karena
kelemahan dirinya, ia harus mengorbankan nyawa darah dagingnya sendiri. Percuma
menangis karena luka ini akan selalu membekas, baik dihati maupun fisiknya.
Tapi harusnya ia menangis dan mati tenggelam dalam air matanya. Rasanya itu
lebih pantas sebagai kompensasi atas nyawa si janin yang belum sempat mencicip
nikmat yang seharusnya menjadi haknya.
Meskipun demikian, sebutir bening air mata turun membasahi
pipinya yang pucat. Tidak ada sengguk, hanya saja air mata itu menderas. Akhirnya
ia tak tahan lagi menahan luapan emosinya. Teringat kembali semua kenangan
pahit yang membuat menjadi seperti sekarang. Bukankah itu pelajaran?
Tak bisa lagi kembali. Maka kini ia harus kuat, paling
tidak untuk dirinya sendiri, sekalipun semua luka yang tertoreh dihati dan
tubuhnya mungkin tak akan dapat hilang atau disembuhkan oleh apapun dan
siapapun.
Ketika ia keluar dari ruang ganti, matanya tertumbuk pada
trash bag hitam yang dibawa asisten dokter itu.
'Maafkan aku, anakku yang tak pernah lahir.' Batinnya
melirih.
Ia terbaring dalam sebuah bangsal serba putih. Jendela
bangsal itu terbuka, memperlihatkan pemandangan malam. Langit hitam tanpa
bintang. Namun ada bulan separuh yang bersinar keperakan, yang cahayanya cukup
untuk menerangi remang bangsal itu.
Pada langit malam yang luas, ia seperti bulan separuh. Kehilangan
separuh jiwanya dan sendirian ditengah kegelapan.
Mungkin memang seharusnya ia menangis dan mati tenggelam
dalam air matanya sendiri.
Jika harapan telah mati, bisakah kamu terus mencintai?
No comments:
Post a Comment