Title: Maaf
Author: DEADBORN
Genre: Family
Rating: PG13
Chapter: One shot
Finishing: May 2013
Author: DEADBORN
Genre: Family
Rating: PG13
Chapter: One shot
Finishing: May 2013
Anakku, apa kabar?
Mungkin
ini aneh, tapi bukankah kita memang tak terbiasa bicara? Sehingga ayah
memutuskan untuk menulis surat ini. Siapa tahu nanti ketika kamu membereskan barang-barang
ayah yang tersisa dikamar, kamu menemukan surat ini. Surat pertama dan yang
terakhir kalinya yang ayah tulis untuk kamu.
Kamu
anak perempuan ayah yang paling aneh. Dari semua anak-anak ayah, ayah tak
pernah bisa menebak arah hidupmu. Terkadang kamu menurut saja keinginan mama
dan ayah, tapi seringkali kamu seperti pemberontak yang mengamuk. Tidak ada
yang bisa kami lakukan untuk menghentikan kamu jika kamu sudah bertekad. Gayamu
juga tak seperti anak-anak ayah yang lain. Mungkin kamu tersugesti kata-kata
mama, bahwa dulu ketika hamil kamu, mama kira kamu adalah anak lelaki. Bahkan
kami sudah menyiapkan nama anak laki-laki. Tapi ternyata kamu ditakdirkan untuk
menjadi seorang wanita.
Maka, jadilah kamu anak perempuan yang tomboy.
Kawanmu lebih banyak lelaki. Terkadang ayah was-was, tapi tentu saja ayah tetap
percaya padamu. Kamu yang senang sekali menonton pertandingan sepak bola hingga
dini hari. Kamu yang cara berjalannya tidak seperti gadis-gadis di catwalk. Bahkan
terkadang ayah berpikir, mungkin alangkah lebih baik jika kamu benar anak
lelaki. Ayah jadi terbantu.
Tapi
ayah tetap bangga padamu, nak. Kamu mengingatkan ayah pada masa lalu. Ayah pun
dulu demikian. Tapi tentu saja dalam perbedaan jaman, tak selalu sama. Apalagi
ayah harus menanggung hidup tante dan om kamu karena mereka masih terlalu
kecil. Dan sepertinya, ayah harus bersyukur karena kamu adalah perempuan. Ayah tak
bisa bayangkan betapa sulitnya mengatur kamu. Kamu yang seorang perempuan saja
tak pernah dapat ayah pahami sepak terjangnya, bagaimana jika kamu memang
lelaki?
Ayah
tidak pernah benar-benar marah padamu. Maafkan sikap ayah yang keras ini.
Mungkin ayah sedang menjalankan karma seorang ibu yang dikhianati gadis
kecilnya. Gadis kecil kesayangannya yang pergi dibawa lelaki yang tak pernah
disetujuinya. Ya, mama kamu.
Ayah
sekarang mengerti perasaan nenek kamu. Sekalipun sekarang nenek sudah mau
menerima ayah, tapi ayah tahu, jauh dilubuk hatinya, nenek tetap tak bisa
menerima ayah sepenuhnya. Ayah paham itu bukan salah nenek. Tapi ya sudahlah.
Dan
kini ayah melakukan hal serupa, padamu, nak. Maafkan ayah. Ayah tahu kamu
mencintai lelaki yang sudah lama kamu tunggu. Hingga akhirnya kesabaranmu
berbuah manis dan lelaki itu kini meminang kamu. Ayah memang tidak setuju kamu
dengannya. Ingat pertengkaran kita waktu kamu bilang kamu akan menikah
dengannya? Ayah marah sekali sampai tak sadar bahwa tangan ayah sudah melayang
ke pipimu. Tapi kamu tidak menangis. Kamu tetap diam sambil memegangi pipimu. Kamu
bilang, kamu akan tetap menikah dengan lelaki itu. Lalu kamu kawin lari
dengannya.
Kamu
tahu ayah sangat sedih? Ayah tak bermaksud seperti itu. Sungguh. Mungkin ayah
memang sudah gagal menjadi orang tua yang baik. Bertahun-tahun kamu hidup tanpa
ayah, baru ketika kamu menginjak bangku SMA, ayah pulang. Tapi kamu tentu paham
alasan ayah pergi, bukan? Tentu saja itu untuk kamu. Agar kamu bisa terus
melanjutkan pendidikanmu. Ayah tidak ingin kamu mengulang kesalahan ayah yang
memutuskan untuk berhenti kuliah. Tidak.
Ayah
tahu, seharusnya itu bukan alasan ayah untuk memukulmu. Maafkan ayahmu yang
sudah uzur. Yang seringkali lupa dimana meletakkan kacamata baca. Ayah lupa
kamu berbeda dengan anak-anak ayah yang lain. Si Pemberontak yang akan terus
hidup dengan caranya sendiri. Si Pendiam yang tak suka merepotkan orang lain.
Si Eksentrik yang penuh kejutan. Dan ayah sungguhan terkejut ketika kamu pulang
kerumah dengan seorang teman lelaki yang terlihat jauh lebih tua dari kamu,
dengan penampilannya yang juga tak lazim, yang berbeda dengan yang selama ini
sering kamu ajak ke rumah, sekalipun banyak sekali kawan pria yang pernah kamu
ajak ke rumah. Karena itukah kamu tertarik dengannya? Belum hilang kekagetan
ayah, kamu bilang, kamu akan menikah dengannya.
Sejujurnya
ayah tak senang. Bisa apa lelaki itu untuk menghidupi kamu? itu yang membuat
ayah tak setuju. Tapi... ah... maafkan ayah yang egois, nak. Ayah memang bukan
Tuhan yang tahu segala, tapi ayah merasa lelaki itu tak akan pernah bisa
membuatmu bahagia.
Tapi
kamu bersikeras dengan pendirianmu. Kamu pun pergi dari rumah bersama lelaki
itu. Maafkan ego ayah yang terlalu besar ini, nak. Ayah tahu tak ada gunanya melarang
kamu. Harusnya ayah paham bahwa kita itu sama. Sayangnya kita tak bisa memutar
kembali waktu. Kini ayah menyesal. Sungguh, nak.
Sejak
saat itu, kamu tak lagi pulang. Tapi ayah tahu, kamu masih berhubungan dengan
saudara-saudaramu yang lain. Mereka bilang, kamu sudah bahagia bersama lelaki
itu. Ayah lega. Seharusnya ayah sudah tahu, dari dulu, kamu selalu bisa
berjalan dengan kakimu sendiri. Kamu adalah anak ayah yang paling mandiri dari
semua anak-anak ayah. Bangga rasanya memiliki anak yang berjiwa bebas namun
selalu tahu bagaimana menangani kebebasan yang ia miliki. Ayah bangga sekali
padamu, nak.
Tahun
lalu, kamu kirim foto kalian dan anakmu. Kamu sudah beri ayah cucu lelaki yang
tampan. Mungkin kamu tak percaya, tapi ayah hapal nama panjang anakmu. Ayah
ingin menimangnya, menggendongnya. Cuma anak kamu yang belum pernah ayah
sentuh, tetapi kamu mash berpikir bahwa ayah masih marah padamu, hingga kamu
tetap tidak pulang. Tidak, nak. Pulanglah.
Ayah
kini mengerti perasaan nenekmu. Sekalipun suamimu tak pernah benar-benar bisa
ayah terima, tapi kamu tetap anak ayah. Seharusnya ayah senang karena akhirnya
ada juga lelaki yang bisa menerima kamu apa adanya. Kamu yang tomboy, kamu yang
eksentrik, kamu yang pendiam.
Pulanglah,
nak. Ayah ingin minta maaf padamu. Pada suamimu juga. Dan ayah ingin
menggendong cucu lelaki ayah darimu. Maafkan keegoisan ayah selama ini.
Ayah.
Pelan-pelan kulipat surat itu.
Mataku terasa basah. Ternyata aku sudah terlambat. Ayah tak sempat bertemu
dengan cucunya, aku dan suamiku.
Maaf, ayah. Ternyata semua hanya
kesalahpahaman yang sudah mengakar. Seandainya saja waktu itu aku tak
tergesa-gesa pergi. Seandainya ada waktu untuk mejelaskan semuanya.
Tentu saja waktu tak bisa
diputar ulang. Terlambat. Hanya surat ini yang mewakili segala perasaan ayah. Ah,
seandainya....
“Mama... kakek mana? Katanya
kita mau bertemu kakek...” anakku merajuk di lenganku. Kuberikan senyum tipis.
“Kakek... sedang tidur, nak. Mungkin
lain kali...” kuusap rambut anakku.
Suamiku mengusap lenganku yang
satunya, “besok, kita ke makamnya. Aku juga ingin meminta maaf, sekalipun sudah
terlambat.”
Aku mengangguk. Surat itu
kumasukkan lagi kedalam amplop putih yang sudah sebulan ini menjadi tempatnya. Kupeluk
kakakku yang memberikan surat itu ketika aku tiba di rumah, beberapa saat yang
lalu.
“Ayah sudah tak marah. Seandainya
kamu lebih cepat pulang,” kata kakakku. Aku hanya mengangguk.
Sayang, semua sudah terlambat.
No comments:
Post a Comment