Thursday, May 9, 2013

Maaf



Title: Maaf
Author: DEADBORN
Genre: Family
Rating: PG13
Chapter: One shot
Finishing: May 2013


Anakku, apa kabar?
                Mungkin ini aneh, tapi bukankah kita memang tak terbiasa bicara? Sehingga ayah memutuskan untuk menulis surat ini. Siapa tahu nanti ketika kamu membereskan barang-barang ayah yang tersisa dikamar, kamu menemukan surat ini. Surat pertama dan yang terakhir kalinya yang ayah tulis untuk kamu.
                Kamu anak perempuan ayah yang paling aneh. Dari semua anak-anak ayah, ayah tak pernah bisa menebak arah hidupmu. Terkadang kamu menurut saja keinginan mama dan ayah, tapi seringkali kamu seperti pemberontak yang mengamuk. Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menghentikan kamu jika kamu sudah bertekad. Gayamu juga tak seperti anak-anak ayah yang lain. Mungkin kamu tersugesti kata-kata mama, bahwa dulu ketika hamil kamu, mama kira kamu adalah anak lelaki. Bahkan kami sudah menyiapkan nama anak laki-laki. Tapi ternyata kamu ditakdirkan untuk menjadi seorang wanita.
 Maka, jadilah kamu anak perempuan yang tomboy. Kawanmu lebih banyak lelaki. Terkadang ayah was-was, tapi tentu saja ayah tetap percaya padamu. Kamu yang senang sekali menonton pertandingan sepak bola hingga dini hari. Kamu yang cara berjalannya tidak seperti gadis-gadis di catwalk. Bahkan terkadang ayah berpikir, mungkin alangkah lebih baik jika kamu benar anak lelaki. Ayah jadi terbantu.  
                Tapi ayah tetap bangga padamu, nak. Kamu mengingatkan ayah pada masa lalu. Ayah pun dulu demikian. Tapi tentu saja dalam perbedaan jaman, tak selalu sama. Apalagi ayah harus menanggung hidup tante dan om kamu karena mereka masih terlalu kecil. Dan sepertinya, ayah harus bersyukur karena kamu adalah perempuan. Ayah tak bisa bayangkan betapa sulitnya mengatur kamu. Kamu yang seorang perempuan saja tak pernah dapat ayah pahami sepak terjangnya, bagaimana jika kamu memang lelaki?
                Ayah tidak pernah benar-benar marah padamu. Maafkan sikap ayah yang keras ini. Mungkin ayah sedang menjalankan karma seorang ibu yang dikhianati gadis kecilnya. Gadis kecil kesayangannya yang pergi dibawa lelaki yang tak pernah disetujuinya. Ya, mama kamu.
                Ayah sekarang mengerti perasaan nenek kamu. Sekalipun sekarang nenek sudah mau menerima ayah, tapi ayah tahu, jauh dilubuk hatinya, nenek tetap tak bisa menerima ayah sepenuhnya. Ayah paham itu bukan salah nenek. Tapi ya sudahlah.
                Dan kini ayah melakukan hal serupa, padamu, nak. Maafkan ayah. Ayah tahu kamu mencintai lelaki yang sudah lama kamu tunggu. Hingga akhirnya kesabaranmu berbuah manis dan lelaki itu kini meminang kamu. Ayah memang tidak setuju kamu dengannya. Ingat pertengkaran kita waktu kamu bilang kamu akan menikah dengannya? Ayah marah sekali sampai tak sadar bahwa tangan ayah sudah melayang ke pipimu. Tapi kamu tidak menangis. Kamu tetap diam sambil memegangi pipimu. Kamu bilang, kamu akan tetap menikah dengan lelaki itu. Lalu kamu kawin lari dengannya.
                Kamu tahu ayah sangat sedih? Ayah tak bermaksud seperti itu. Sungguh. Mungkin ayah memang sudah gagal menjadi orang tua yang baik. Bertahun-tahun kamu hidup tanpa ayah, baru ketika kamu menginjak bangku SMA, ayah pulang. Tapi kamu tentu paham alasan ayah pergi, bukan? Tentu saja itu untuk kamu. Agar kamu bisa terus melanjutkan pendidikanmu. Ayah tidak ingin kamu mengulang kesalahan ayah yang memutuskan untuk berhenti kuliah. Tidak.
                Ayah tahu, seharusnya itu bukan alasan ayah untuk memukulmu. Maafkan ayahmu yang sudah uzur. Yang seringkali lupa dimana meletakkan kacamata baca. Ayah lupa kamu berbeda dengan anak-anak ayah yang lain. Si Pemberontak yang akan terus hidup dengan caranya sendiri. Si Pendiam yang tak suka merepotkan orang lain. Si Eksentrik yang penuh kejutan. Dan ayah sungguhan terkejut ketika kamu pulang kerumah dengan seorang teman lelaki yang terlihat jauh lebih tua dari kamu, dengan penampilannya yang juga tak lazim, yang berbeda dengan yang selama ini sering kamu ajak ke rumah, sekalipun banyak sekali kawan pria yang pernah kamu ajak ke rumah. Karena itukah kamu tertarik dengannya? Belum hilang kekagetan ayah, kamu bilang, kamu akan menikah dengannya.
               Sejujurnya ayah tak senang. Bisa apa lelaki itu untuk menghidupi kamu? itu yang membuat ayah tak setuju. Tapi... ah... maafkan ayah yang egois, nak. Ayah memang bukan Tuhan yang tahu segala, tapi ayah merasa lelaki itu tak akan pernah bisa membuatmu bahagia.
                Tapi kamu bersikeras dengan pendirianmu. Kamu pun pergi dari rumah bersama lelaki itu. Maafkan ego ayah yang terlalu besar ini, nak. Ayah tahu tak ada gunanya melarang kamu. Harusnya ayah paham bahwa kita itu sama. Sayangnya kita tak bisa memutar kembali waktu. Kini ayah menyesal. Sungguh, nak.
                Sejak saat itu, kamu tak lagi pulang. Tapi ayah tahu, kamu masih berhubungan dengan saudara-saudaramu yang lain. Mereka bilang, kamu sudah bahagia bersama lelaki itu. Ayah lega. Seharusnya ayah sudah tahu, dari dulu, kamu selalu bisa berjalan dengan kakimu sendiri. Kamu adalah anak ayah yang paling mandiri dari semua anak-anak ayah. Bangga rasanya memiliki anak yang berjiwa bebas namun selalu tahu bagaimana menangani kebebasan yang ia miliki. Ayah bangga sekali padamu, nak.
                Tahun lalu, kamu kirim foto kalian dan anakmu. Kamu sudah beri ayah cucu lelaki yang tampan. Mungkin kamu tak percaya, tapi ayah hapal nama panjang anakmu. Ayah ingin menimangnya, menggendongnya. Cuma anak kamu yang belum pernah ayah sentuh, tetapi kamu mash berpikir bahwa ayah masih marah padamu, hingga kamu tetap tidak pulang. Tidak, nak. Pulanglah.
                Ayah kini mengerti perasaan nenekmu. Sekalipun suamimu tak pernah benar-benar bisa ayah terima, tapi kamu tetap anak ayah. Seharusnya ayah senang karena akhirnya ada juga lelaki yang bisa menerima kamu apa adanya. Kamu yang tomboy, kamu yang eksentrik, kamu yang pendiam.
                Pulanglah, nak. Ayah ingin minta maaf padamu. Pada suamimu juga. Dan ayah ingin menggendong cucu lelaki ayah darimu. Maafkan keegoisan ayah selama ini.


Ayah.

                       Pelan-pelan kulipat surat itu. Mataku terasa basah. Ternyata aku sudah terlambat. Ayah tak sempat bertemu dengan cucunya, aku dan suamiku.
            Maaf, ayah. Ternyata semua hanya kesalahpahaman yang sudah mengakar. Seandainya saja waktu itu aku tak tergesa-gesa pergi. Seandainya ada waktu untuk mejelaskan semuanya.
                    Tentu saja waktu tak bisa diputar ulang. Terlambat. Hanya surat ini yang mewakili segala perasaan ayah. Ah, seandainya....
               “Mama... kakek mana? Katanya kita mau bertemu kakek...” anakku merajuk di lenganku. Kuberikan senyum tipis.
                      “Kakek... sedang tidur, nak. Mungkin lain kali...” kuusap rambut anakku.
                  Suamiku mengusap lenganku yang satunya, “besok, kita ke makamnya. Aku juga ingin meminta maaf, sekalipun sudah terlambat.”
                Aku mengangguk. Surat itu kumasukkan lagi kedalam amplop putih yang sudah sebulan ini menjadi tempatnya. Kupeluk kakakku yang memberikan surat itu ketika aku tiba di rumah, beberapa saat yang lalu.
                   “Ayah sudah tak marah. Seandainya kamu lebih cepat pulang,” kata kakakku. Aku hanya mengangguk.
         Sayang, semua sudah terlambat.
                


No comments:

Post a Comment