Friday, May 3, 2013

[poem] Kompensasi

Ada saatnya ketika kau ingin menyumpah.
Kata makian yang  sudah siap kau muntahkan, berulang kali harus kau telan kembali pahitnya. Hanya karena lingkaran yang keberadaannya tak mungkin bisa kau hapus.

Kau muak. Jengah.
Satu-satunya cara untuk menghilangkan luka di hatimu hanyalah melukis. 
Melukis dengan kuas dan cat merah diatas kanvas putih. Menutup luka dengan luka.

Bahkan air mata sudah kehilangan artinya. 
Buat apa menangis jika luka dihati tak hilang perihnya? 
Teriakanmu pun tenggelam dalam ketidakpedulian.

Siapa yang kini mempedulikanmu?

Kau kehilangan arah. Kini kau hanya bisa tertawa pahit. Kosong.

Siapa lagi yang bisa kau percayai jika bukan dirimu sendiri?
Siapa lagi yang bisa membahagiakan dirimu jika bukan dirimu sendiri?

Selalu ada konsekuensi dalam setiap tindakan.
Selalu ada resiko dalam setiap keputusan.

Kau tak bisa menyalahkan siapa-siapa, maka tidak adil jika hanya kau yang disalahkan.
Tapi siapa yang mau mengerti?
Bahkan sebuah koin pun memiliki sisi yang berbeda.
Tapi siapa yang peduli jika kau punya kambing hitam untuk kau pecundangi?

Mari kita akhiri semuanya.
Kau menangis, tapi bukan berarti kau akan hancur dan mati.

No comments:

Post a Comment