Ada saatnya ketika kau ingin menyumpah.
Kata makian yang
sudah siap kau muntahkan, berulang kali harus kau telan kembali
pahitnya. Hanya karena lingkaran yang keberadaannya tak mungkin bisa kau hapus.
Kau muak. Jengah.
Satu-satunya cara untuk menghilangkan luka di hatimu
hanyalah melukis.
Melukis dengan kuas dan cat merah diatas kanvas putih. Menutup
luka dengan luka.
Bahkan air mata sudah kehilangan artinya.
Buat apa menangis
jika luka dihati tak hilang perihnya?
Teriakanmu pun tenggelam dalam ketidakpedulian.
Siapa yang kini mempedulikanmu?
Kau kehilangan arah. Kini kau hanya bisa tertawa pahit. Kosong.
Siapa lagi yang bisa kau percayai jika bukan dirimu sendiri?
Siapa lagi yang bisa membahagiakan dirimu jika bukan dirimu
sendiri?
Selalu ada konsekuensi dalam setiap tindakan.
Selalu ada resiko dalam setiap keputusan.
Kau tak bisa menyalahkan siapa-siapa, maka tidak adil jika
hanya kau yang disalahkan.
Tapi siapa yang mau mengerti?
Bahkan sebuah koin pun memiliki sisi yang berbeda.
Tapi siapa yang peduli jika kau punya kambing hitam untuk
kau pecundangi?
Mari kita akhiri semuanya.
Kau menangis, tapi bukan berarti kau akan hancur dan mati.
No comments:
Post a Comment