Sunday, May 19, 2013

I Hear Your Voice



Title: I Hear Your Voice
Author: DEADBORN
Genre: Sad romance
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013


Saya suka suara kamu.
                Jangan pernah tanya mengapa dan bagaimana bisa, karena saya sendiri tak pernah tahu alasannya. Bukankah menyukai sesuatu tak memerlukan alasan? Sekalipun untuk kali ini rasanya aneh.
                Setiap hari, tak pernah terlewatkan. Ketika malam mulai merangkak naik, kamu akan mulai menyalakan laptop kamu. Dari situ, kamu mendengarkan lagu-lagu yang kamu suka. Seringkali kamu turut bernyanyi. Konser mini, katamu sambil bercermin, dengan senyum merekah sempurna. Cantik.
                Lagu-lagu yang kamu nyanyikan pun beragam. Berbagai bahasa, berbagai genre, berbagai emosi. Lagu lawas, lagu anyar. Tergantung suasana hati yang tengah kamu rasa. Kadang kamu mengulang satu lagu. Terus menerus kau nyanyikan hingga berminggu-minggu. Hingga kamu bosan dan akhirnya kembali menyanyikan lagu-lagu lain, atau mengulang satu lagu lain.
Namun terkadang, kamu tak bernyanyi. Entah karena tak ingin, atau pulang lebih larut dari jam yang seharusnya. Jika sudah begitu, biasanya kamu hanya duduk dihadapan laptopmu. Entah menonton atau sibuk dengan pekerjaanmu.
Saya memperhatikan kamu. Kamu yang ketika bernyanyi selalu menghadap cermin. Sambil tersenyum, sambil menggerak-gerakkan lenganmu. Berpura-pura sedang konser betulan. Kadang kamu gunakan spidol sebagai mic, kadang kamu berpura-pura sedang memetik gitar, membetot bass, menekan tuts piano atau menggebuk drum. Lucu sekali.
Saya diam-diam mengunjungi kamu. Mungkin tak bisa dikatakan diam-diam, karena saya rasa, kamu tahu saya hadir. Pada sudut kamar, atau mengintip pada sudut ventilasi pintu, atau dari celah-celah kecil dari barang-barang yang berada dikamar kamu, dimana saja asal saya bisa mendengar suara kamu dengan jelas. Lebih beruntung jika bisa melihat kamu juga. Terkadang jika kamu sadari saya sedang memperhatikan kamu, kamu akan mengernyitkan dahi. Lalu membuat gerakan seolah-olah hendak mengusir. Tapi saya akan tetap diam, bergeming. Saya masih ingin mendengar dan melihat konser mini yang kamu gelar kecil-kecilan. Bila sudah begitu, kamu akan membiarkan saya berada tetap di tempat saya. Sesekali kamu layangkan pandangan tak suka.
Saya tahu kamu tidak suka dengan kehadiran saya. Seperti benci, bahkan jijik. Tapi saya tak bisa apa-apa karena wujud saya yang membuatmu tak nyaman. Biarkan saya jadi fans kamu, agar dapat mengapresiasi kamu dengan satu-satunya cara yang saya bisa.
Seperti malam ini. Kamu mulai menggelar konser mini. Sebuah lagu bernada ceria. Kamu hentakkan tanganmu, kamu pandangi pantulanmu di cermin. Dan saya diam-diam berdiam di sudut ventilasi pintu kamar kamu. Berusaha agar kamu tidak melihat saya, agar kamu tidak merasa risih dengan kehadiran saya yang tak pernah menyenangkan hati kamu. Memandangi setiap gerak-gerik kamu, mendengar setiap nyanyian atau celotehan-celotehan yang keluar dari mulut kamu.  
                Dan ketika kamu selesai bernyanyi, sebagai ganti tepukan tangan untuk mengapresiasi kamu, saya akan berkata semampu saya; kamu hebat, saya suka.
Semoga kamu mendengarnya.
Oh, kamu pasti mendengarnya. Suara yang bersumber dari sudut ventilasi pintu kamar kamu. Karena ketika kamu mendengar suara itu, kamu mengalihkan pandanganmu dari layar laptop, ke arah tempat saya berada. Kamu lihat juga kan wujud saya? Wujud asli pemilik suara itu.
“Ck ck ck ck ck ck.”

Monday, May 13, 2013

Inside The Darkness



Title: Inside The Darkness
Author: DEADBORN
Genre: Sad romance
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013


Malam ini, saya kembali menangis.
                Saya tak bisa salahkan siapa-siapa. Salahkan diri sendiri saja tak bisa, apalagi kamu. Padahal kata orang, kita sama-sama salah. Tapi mereka kan tidak kenal kamu. Dan sepertinya saya pun juga mulai merasa demikian.
                Kamu berubah, itu yang saya tahu. Entah sejak kapan. Oh, sepertinya sejak beberapa minggu yang lalu. Sejak kamu kenal dengan orang itu. Saya tidak bisa apa-apa. Saya hanya ingin percaya bahwa diantara kalian tidak ada hubungan spesial, tapi rasanya sulit. Sulit jika saya lihat kalian jadi begitu dekat. Kamu yang kaku mendadak jadi hangat dihadapannya.
                Saya cemburu, sepertinya. Sungguh saya tak pernah ingin merasa demikian. Tapi hanya perasaan ini yang terpikirkan di kepala ketika hati terasa semakin menjadi-jadi geramnya jika melihat kalian bersama.
                Saya jadi tidak kenal kamu lagi. Dan puncaknya, kamu menghilang. Sekalipun saya tetap tahu keberadaan kamu. Kamu sudah menetap di hati saya, tapi perhatian kamu tak lagi berada pada saya.
                Malam itu, ketika gelap menguasai kamar, ketika langit-langit kamar terbias cahaya lampu jalan yang redup, saya menangis. Saya juga tak mengerti apa yang saya tangisi. Yang saya tahu, setiap kali saya memikirkan kamu, air mata ini selalu jatuh ke pipi. Awalnya setetes, lama-lama menderas.
                Malam berikutnya, kejadian itu berulang. Dan malam selanjutnya, dan selanjutnya. Begitu terus setiap malam. Setiap kali gelap menguasai kamar, ketika langit-langit kamar terbias cahaya lampu jalan yang redup, ketika saya teringat dengan kamu, saya akan menangis hingga lelah lalu lelap. Bahkan saya tak lagi berani berbaring lebih awal. Saya baru akan tidur jika kantuk sudah tiba. sehingga ketika kepala sudah menyentuh bantal, saya dapat langsung terlelap tanpa perlu ada air mata yang kembali membasahi bantal. Ya, segitu takutnya saya pada mata yang basah.
               Saya berusaha mencari tahu, kenapa saya menangis? apa yang saya tangisi? Malam demi malam, saya telusuri lorong hati yang gelap, berusaha mencari jawaban atas air mata yang meruah.
  Cemburu kah? Kehilangan kah?
  Saya lelah. Seandainya kamu rasa apa yang saya rasakan, tapi kata-kata itu rasanya terlalu egois. Mungkin saya hanya terlalu sensitif. Maaf. Tapi sungguh, saya capek menangis. Hanya saja, saya bisa apa lagi? Saya tanya kamu pun percuma. Kamu kan sudah tidak lagi ada untuk saya sekalipun bayang kamu tetap tinggal di hati.
 Jika semua memang sudah harus berakhir, baiklah. Kamu sudah duluan pergi, hanya saya yang masih bersikeras tinggal. Mungkin bagi kamu, saya sudah tidak cukup lagi untuk dipertahankan, saya bukan lagi yang kamu butuhkan. Saya tidak suka cara kamu pergi, tapi jika kamu pilih pergi, saya akan mengerti, meskipun itu sulit. Meskipun itu memerlukan waktu yang panjang untuk dapat memahaminya. Meskipun itu harus dibayar dengan deraian air mata.
Dan akhirnya, saat pagi tiba, saya seperti tersadar. Kini saya tahu apa yang saya tangisi.  
Saya menangis, untuk kamu yang berubah, untuk hati yang terluka, dan untuk perasaan yang tersia-sia.

Shadowplay



Title: Shadowplay
Author: DEADBORN
Genre: General
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013


Pada suatu malam, disebuah keramaian, aku lihat dia sedang sendirian.
                Hal pertama yang aku sadari dalam pencahayaan yang sengaja bikin mata jadi berpendar-pendar ini adalah, ia sendirian. Semua orang yang berada disini, paling tidak, bersama dengan satu atau bebeapa teman mereka. Berdiri maupun duduk, tak ada yang sendirian. Tapi tidak dengan dirinya.
                Dia berdiri, bersandar pada salah satu tiang bangunan yang agak ke tengah ruangan. Dengan baju hitamnya, seolah ingin ikut lebur bersama dalam bayang-bayang remang. Kamuflase yang cukup unik, tapi belum cukup untuk mengelabui mataku. Ada sesuatu yang membuatku tertarik. Entah apa.
                Apa itu karena kesendiriannya? Ia nampak begitu santai. Seolah tak terpengaruh oleh hingar sekeliling yang cukup membuatku gerah dalam ruangan yang seharusnya dingin. Dalam keramaian sekitar, kesendiriannya justru menjadi hal yang paling mencolok sekalipun ia berusaha untuk tidak menonjol. Ataukah mungkin karena ekspresi wajahnya? Dalam pendar cahaya, kulihat wajah itu meriak oleh emosi. Terkadang ia tersenyum melihat pertunjukan yang tersaji dihadapannya. Terkadang ia berwajah cemas, entah apakah ia cemas karena lakon yang ia tonton atau mungkin hal lain. Saru.
                Lucunya, kemudian aku sadar, bahwa selama pertunjukkan ini berlangsung, diam-diam aku memperhatikannya. Dari balik bayang-bayang pendar cahaya yang memusingkan, dari keramaian bingar sekitar, dari ratusan orang yang menyesaki ruangan dengan karbon dioksida, dialah juara yang berhasil menyerap atensiku penuh, melebihi pertunjukkan yang sudah hampir sebulan kutunggu.
                Seharusnya aku menyesalinya. Aku lebih menantikan acara ini daripada mencari jawaban atas rasa penasaranku terhadap orang asing yang sendirian ditengah ramai. Tapi Semesta ternyata gemar berlelucon. Pertunjukkan itu lewat berlalu begitu saja, dan pusat perhatianku justru teralih pada orang asing. Bayangkan, orang asing yang baru saja kulihat ditempat pertujukkan ini!
                Apa menariknya coba memandangi gerak-gerik seseorang yang asing, kemudian menerka-nerka apa yang sedang ia pikirkan, apa yang akan ia lakukan, siapa yang sedang ia tunggu.... ah, siapa tahu ia memang berniat menikmati acara ini sendiri. Kenapa aku jadi penasaran sendiri?
                Namun layaknya orang terkena sihir, pandanganku tak dapat lepas dari tindak-tanduknya. Dan aku mulai keheranan sendiri. Apa sih yang sedang aku lakukan? Lalu terlintas lagi satu pertanyaan yang paling konyol yang bisa kupikirkan, apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama?
                Ya Tuhan, aku bukan lagi anak kecil yang masih punya cinta monyet. Lagipula dia bukan tipeku. Tapi.... sekali lagi, aku tidak tahu kenapa aku tak bisa memalingkan pandangan mataku darinya. Seharusnya aku menikmati pertunjukkan ini, kan?!
               Oke, kali ini aku akan berusaha berkonsentrasi pada pertunjukkan yang sudah cukup lama aku nantikan. Satu menit, dua menit, tiga menit.... dan aku menyerah pada menit kelima. Orang itu memiliki daya tarik lebih besar. Atau mungkin rasa penasaranku yang membesar.
                Jadi, haruskah aku menghampirinya? Sekedar berdiri disampingnya atau.... berkenalan, mungkin?
                Aku bangkit dari kursi, pamit pada kawan disebelah kiriku. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Aku sudah berada dibelakangnya. Dua langkah lagi, aku akan berdiri bersisian dengannya. Dia tidak menyadari keberadaanku, seolah perhatiannya sudah terserap pada pertunjukkan yang tersaji. Kini aku ikuti jejaknya, lebur dalam remang. Berusaha menyatu dengan dirinya, sedekat yang kubisa raih. Aku dan kamu kini sama-sama satu dalam permainan pendar cahaya yang meremang. Sama-sama tertuju pada apa yang ada dihadapan.
                Oh, lihat. Rupanya aku keliru. Sejurus kemudian, seseorang datang menghampirinya, berdiri disebelahnya. Kurasa itu temannya, karena beberapa kali mereka saling mendekatkan bibir mereka ke telinga lawan bicaranya. Berusaha menyaingi hingar-bingar yang cukup untuk membuat telinga pekak. Mereka berdiri bersisian hingga pertunjukkan usai.
Dan aku, aku masih mematung di tempat semula. Mataku belum bisa lepas dari sosok yang kuikuti jejaknya, berusaha menyatu dalam bayang-bayang remang. Satu-satunya caraku untuk bisa dekat dan melebur bersama dengannya, paling tidak, untuk saat ini.
                Penasaranku terjawab, harapanku pupus. Ternyata dia tidak sendirian.
                

[end]

[poem] Petak Umpet

Suatu hari, aku sadar bahwa selama ini kita bermain petak umpet.
Lucunya, kita sama-sama saling mencari satu sama lain.
Kita ini seperti Adam dan Hawa pada masa modern, berusaha saling menemukan dalam belantara massa.
Namun kamu selalu beri tanda dimanapun kamu berada agar aku tak kehilangan jejakmu.
Dan kini aku pun melakukan hal serupa, aku ingin kamu tahu aku ada dimana.
Aku harap kamu bisa mengerti tanda yang kuberi, seperti aku yang sedang berusaha memahami polahmu.
Agar suatu hari nanti, kita akan saling menemukan, saling melengkapi, dan permainan ini berakhir.
Tidak ada lagi pencarian.
Tidak ada lagi petak umpet.
Hanya kamu dan aku.



Thursday, May 9, 2013

Maaf



Title: Maaf
Author: DEADBORN
Genre: Family
Rating: PG13
Chapter: One shot
Finishing: May 2013


Anakku, apa kabar?
                Mungkin ini aneh, tapi bukankah kita memang tak terbiasa bicara? Sehingga ayah memutuskan untuk menulis surat ini. Siapa tahu nanti ketika kamu membereskan barang-barang ayah yang tersisa dikamar, kamu menemukan surat ini. Surat pertama dan yang terakhir kalinya yang ayah tulis untuk kamu.
                Kamu anak perempuan ayah yang paling aneh. Dari semua anak-anak ayah, ayah tak pernah bisa menebak arah hidupmu. Terkadang kamu menurut saja keinginan mama dan ayah, tapi seringkali kamu seperti pemberontak yang mengamuk. Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menghentikan kamu jika kamu sudah bertekad. Gayamu juga tak seperti anak-anak ayah yang lain. Mungkin kamu tersugesti kata-kata mama, bahwa dulu ketika hamil kamu, mama kira kamu adalah anak lelaki. Bahkan kami sudah menyiapkan nama anak laki-laki. Tapi ternyata kamu ditakdirkan untuk menjadi seorang wanita.
 Maka, jadilah kamu anak perempuan yang tomboy. Kawanmu lebih banyak lelaki. Terkadang ayah was-was, tapi tentu saja ayah tetap percaya padamu. Kamu yang senang sekali menonton pertandingan sepak bola hingga dini hari. Kamu yang cara berjalannya tidak seperti gadis-gadis di catwalk. Bahkan terkadang ayah berpikir, mungkin alangkah lebih baik jika kamu benar anak lelaki. Ayah jadi terbantu.  
                Tapi ayah tetap bangga padamu, nak. Kamu mengingatkan ayah pada masa lalu. Ayah pun dulu demikian. Tapi tentu saja dalam perbedaan jaman, tak selalu sama. Apalagi ayah harus menanggung hidup tante dan om kamu karena mereka masih terlalu kecil. Dan sepertinya, ayah harus bersyukur karena kamu adalah perempuan. Ayah tak bisa bayangkan betapa sulitnya mengatur kamu. Kamu yang seorang perempuan saja tak pernah dapat ayah pahami sepak terjangnya, bagaimana jika kamu memang lelaki?
                Ayah tidak pernah benar-benar marah padamu. Maafkan sikap ayah yang keras ini. Mungkin ayah sedang menjalankan karma seorang ibu yang dikhianati gadis kecilnya. Gadis kecil kesayangannya yang pergi dibawa lelaki yang tak pernah disetujuinya. Ya, mama kamu.
                Ayah sekarang mengerti perasaan nenek kamu. Sekalipun sekarang nenek sudah mau menerima ayah, tapi ayah tahu, jauh dilubuk hatinya, nenek tetap tak bisa menerima ayah sepenuhnya. Ayah paham itu bukan salah nenek. Tapi ya sudahlah.
                Dan kini ayah melakukan hal serupa, padamu, nak. Maafkan ayah. Ayah tahu kamu mencintai lelaki yang sudah lama kamu tunggu. Hingga akhirnya kesabaranmu berbuah manis dan lelaki itu kini meminang kamu. Ayah memang tidak setuju kamu dengannya. Ingat pertengkaran kita waktu kamu bilang kamu akan menikah dengannya? Ayah marah sekali sampai tak sadar bahwa tangan ayah sudah melayang ke pipimu. Tapi kamu tidak menangis. Kamu tetap diam sambil memegangi pipimu. Kamu bilang, kamu akan tetap menikah dengan lelaki itu. Lalu kamu kawin lari dengannya.
                Kamu tahu ayah sangat sedih? Ayah tak bermaksud seperti itu. Sungguh. Mungkin ayah memang sudah gagal menjadi orang tua yang baik. Bertahun-tahun kamu hidup tanpa ayah, baru ketika kamu menginjak bangku SMA, ayah pulang. Tapi kamu tentu paham alasan ayah pergi, bukan? Tentu saja itu untuk kamu. Agar kamu bisa terus melanjutkan pendidikanmu. Ayah tidak ingin kamu mengulang kesalahan ayah yang memutuskan untuk berhenti kuliah. Tidak.
                Ayah tahu, seharusnya itu bukan alasan ayah untuk memukulmu. Maafkan ayahmu yang sudah uzur. Yang seringkali lupa dimana meletakkan kacamata baca. Ayah lupa kamu berbeda dengan anak-anak ayah yang lain. Si Pemberontak yang akan terus hidup dengan caranya sendiri. Si Pendiam yang tak suka merepotkan orang lain. Si Eksentrik yang penuh kejutan. Dan ayah sungguhan terkejut ketika kamu pulang kerumah dengan seorang teman lelaki yang terlihat jauh lebih tua dari kamu, dengan penampilannya yang juga tak lazim, yang berbeda dengan yang selama ini sering kamu ajak ke rumah, sekalipun banyak sekali kawan pria yang pernah kamu ajak ke rumah. Karena itukah kamu tertarik dengannya? Belum hilang kekagetan ayah, kamu bilang, kamu akan menikah dengannya.
               Sejujurnya ayah tak senang. Bisa apa lelaki itu untuk menghidupi kamu? itu yang membuat ayah tak setuju. Tapi... ah... maafkan ayah yang egois, nak. Ayah memang bukan Tuhan yang tahu segala, tapi ayah merasa lelaki itu tak akan pernah bisa membuatmu bahagia.
                Tapi kamu bersikeras dengan pendirianmu. Kamu pun pergi dari rumah bersama lelaki itu. Maafkan ego ayah yang terlalu besar ini, nak. Ayah tahu tak ada gunanya melarang kamu. Harusnya ayah paham bahwa kita itu sama. Sayangnya kita tak bisa memutar kembali waktu. Kini ayah menyesal. Sungguh, nak.
                Sejak saat itu, kamu tak lagi pulang. Tapi ayah tahu, kamu masih berhubungan dengan saudara-saudaramu yang lain. Mereka bilang, kamu sudah bahagia bersama lelaki itu. Ayah lega. Seharusnya ayah sudah tahu, dari dulu, kamu selalu bisa berjalan dengan kakimu sendiri. Kamu adalah anak ayah yang paling mandiri dari semua anak-anak ayah. Bangga rasanya memiliki anak yang berjiwa bebas namun selalu tahu bagaimana menangani kebebasan yang ia miliki. Ayah bangga sekali padamu, nak.
                Tahun lalu, kamu kirim foto kalian dan anakmu. Kamu sudah beri ayah cucu lelaki yang tampan. Mungkin kamu tak percaya, tapi ayah hapal nama panjang anakmu. Ayah ingin menimangnya, menggendongnya. Cuma anak kamu yang belum pernah ayah sentuh, tetapi kamu mash berpikir bahwa ayah masih marah padamu, hingga kamu tetap tidak pulang. Tidak, nak. Pulanglah.
                Ayah kini mengerti perasaan nenekmu. Sekalipun suamimu tak pernah benar-benar bisa ayah terima, tapi kamu tetap anak ayah. Seharusnya ayah senang karena akhirnya ada juga lelaki yang bisa menerima kamu apa adanya. Kamu yang tomboy, kamu yang eksentrik, kamu yang pendiam.
                Pulanglah, nak. Ayah ingin minta maaf padamu. Pada suamimu juga. Dan ayah ingin menggendong cucu lelaki ayah darimu. Maafkan keegoisan ayah selama ini.


Ayah.

                       Pelan-pelan kulipat surat itu. Mataku terasa basah. Ternyata aku sudah terlambat. Ayah tak sempat bertemu dengan cucunya, aku dan suamiku.
            Maaf, ayah. Ternyata semua hanya kesalahpahaman yang sudah mengakar. Seandainya saja waktu itu aku tak tergesa-gesa pergi. Seandainya ada waktu untuk mejelaskan semuanya.
                    Tentu saja waktu tak bisa diputar ulang. Terlambat. Hanya surat ini yang mewakili segala perasaan ayah. Ah, seandainya....
               “Mama... kakek mana? Katanya kita mau bertemu kakek...” anakku merajuk di lenganku. Kuberikan senyum tipis.
                      “Kakek... sedang tidur, nak. Mungkin lain kali...” kuusap rambut anakku.
                  Suamiku mengusap lenganku yang satunya, “besok, kita ke makamnya. Aku juga ingin meminta maaf, sekalipun sudah terlambat.”
                Aku mengangguk. Surat itu kumasukkan lagi kedalam amplop putih yang sudah sebulan ini menjadi tempatnya. Kupeluk kakakku yang memberikan surat itu ketika aku tiba di rumah, beberapa saat yang lalu.
                   “Ayah sudah tak marah. Seandainya kamu lebih cepat pulang,” kata kakakku. Aku hanya mengangguk.
         Sayang, semua sudah terlambat.