Title: Pada Suatu Senja
Author: DEADBORN
Rating: PG-15
Chapter: One Shot
Genre: Slice of Life, Society
Finishing: September 2013
Author: DEADBORN
Rating: PG-15
Chapter: One Shot
Genre: Slice of Life, Society
Finishing: September 2013
Ada kalanya saya merenung.
Senja
itu, di salah satu tempat menunggu bis pulang, saya terdiam memandangi lalu
lintas ibukota yang ramai, menanti kendaraan umum yang dapat cepat membawa saya
pulang ke rumah setelah satu hari yang melelahkan.
Diamnya
saya membuat otak saya memutar kembali peristiwa satu hari yang baru saja saya
lalui. Mungkin saya harus berterima kasih pada telepon genggam yang baterainya
akan segera mencapai titik penghabisan. Karena jika tidak, mungkin saya sama
seperti orang-orang di sekeliling saya. Sibuk dengan dunia maya tanpa
menghiraukan dunia nyata.
Hari
itu saya mendapat panggilan tawaran kerja. Pekerjaan yang sudah lama saya
inginkan dengan bulanan yang menggiurkan. Sayangnya, kemampuan saya
meluluh-lantakkan harapan saya. Terima nasib saja, pikir saya, meskipun saya
hanya bisa meringis. Kemudian kata ‘seharusnya tadi...’ mulai mengisi kepala
saya. Namun percuma saja.
Saya
perhatikan sekitar saya. Mereka yang turut menunggu kendaraan umum, mereka yang
berlalu-lalang. Pakaian rapi, necis, berkelas. Pegawai kantoran, mahasiswa,
murid sekolah menengah, mereka yang sekedar cuci mata di mall-mall besar.
Apakah
mereka bahagia dengan kehidupan mereka yang sekarang?
Bangun
pagi, meninggalkan hunian nyaman mereka untuk bertarung dengan individu lain
demi kelangsungan hidup di ibukota, lalu pulang dengan benak yang babak belur.
Begitu seterusnya sampai mereka menemukan satu saja lubang dalam rutinitas.
Tinggal mereka yang memilih, apakah mengabaikan lubang kecil itu, atau
melompati lubang itu sehingga rutinitas tak lagi mengekang.
Pernahkan mereka menyesali kehidupan mereka
yang seperti itu?
Perempuan muda yang
duduk di sebelah saya bangkit. Dari jauh, saya lihat bis berwarna putih
menghampiri tempat kami menunggu. Perempuan muda yang tadi duduk di sebelah
saya lalu kembali duduk di sebelah saya dengan wajah kecewa. Sepertinya bukan
bis itu yang ia tunggu. Dalam hitungan detik, si perempuan muda sudah tenggelam
kembali dalam dunia maya lewat telepon genggamnya.
Saya
melanjutkan lamunan saya. Penantian. Saya dan mereka sama-sama menanti
kendaraan. Mungkin perbedaannya adalah tujuan kami setelah ini, meskipun pada
akhirnya tujuan itu berakhir pada satu tempat, rumah.
Berapa
lama kita harus menunggu suatu hal yang hasilnya bisa saja berujung pada
kekecewaan?
Seperti
perempuan muda yang di samping saya. Entah sejak kapan ia menunggu, yang pasti
lebih lama dari saya. Mungkin sudah beberapa kali ia kecewa karena perkiraannya
akan bis yang datang bukanlah bis yang ia tunggu. Tetapi ia masih tetap sabar.
Padahal bisa saja ia minta seseorang menjemputnya, atau naik kendaraan lain
yang lebih nyaman dan bisa langsung sampai ke tempat tujuan. Tapi ia lebih
memilih untuk tetap menunggu bis. Ia paham, sekalipun lama dan bisa saja penuh,
tapi bis itu pasti datang. Ada berbagai kemungkinan yang saya pikirkan mengenai
perempuan muda dan bis yang ditunggunya. Lalu saya kembali pada diri saya.
Saya
pun bisa saja naik bis mana saja yang berhenti pada satu halte, lalu ganti
kendaraan umum beberapa kali. Lebih cepat sebetulnya. Tapi saya bersikeras
untuk menunggu bis lain yang lebih ingin saya tumpangi. Alasannya sederhana,
meskipun ongkosnya lebih mahal dari bis lain, tapi halte bus itu tidak terlalu
jauh dari rumah saya. Dan lagi, biasanya dari tempat saya menuggu, selalu ada
kursi kosong. Itulah yang membuat saya rela menunggu lama. Saya pun bisa saja
memilih kendaraan lain yang lebih nyaman, namun ongkosnya tentu saja jauh lebih
besar. Belum lagi jika dihadapkan pada kemacetan yang seringkali terjadi.
Lalu
pikiran saya melompat ke sektor lain. Menghadirkan suatu pertanyaan baru.
Apakah mereka sesabar itu menanti orang yang akan mendampingi hidup mereka?
Saya
berusaha menahan tawa. Jika kamu mau tertawa, silahkan saja. Otak saya kadang
memang seringkali tak terduga, tapi saya sudah terbiasa. Orang lain yang tidak.
Tapi tidak masalah. Saya tidak pernah meminta mereka paham, hanya harap maklum.
Kita
tidak akan pernah tahu bukan, dengan siapa kita menghabiskan hari tua kita
nanti. Sudah berapa kali kita terjebak dalam hubungan yang bukan dengan yang
seharusnya? Berapa kali kita menangisi orang-orang yang pergi begitu saja, yang
entah turut kehilangan juga seperti yang kita rasakan atau tidak. Sudah berapa
lama kita menunggu orang yang kita impikan untuk berada di sisi kita hingga
maut menjemput?
Jika
menunggu pasangan hidup dapat dilihat dari seberapa sabar menanti kendaraan
umum, mungkin saja saya termasuk orang yang lama mendapat jodoh. Karena seperti
yang saya bilang tadi, ada banyak alasan kenapa saya hanya ingin naik bis yang
saya tunggu itu. Ada banyak kriteria yang saya inginkan pada orang yang saya
pilih. Meskipun tidak ada yang sesempurna itu. Saya paham, namun
kekeras-kepalaan saya membuat saya terus menunggu.
Rasa
penasaran dan rasa percaya adalah dua rasa yang ampuh untuk membuat kita terus
menunggu atau memburu. Saya lebih milih untuk menunggu. Entah pada kamu.
Beberapa
menit kemudian, saya lihat bis yang ingin saya naiki. Namun, sebelum saya
berdiri, bis itu tidak berhenti alih-alih memasuki jalur cepat, lalu pergi.
Kemudian saya termangu. Mungkin begitu rasanya dikhianati. Setelah penantian
yang panjang, kepercayaanmu akan kedatangannya justru hancur karena ia pergi
begitu saja. Ya, persis! Mungkin begitu rasanya ditinggal pergi oleh seseorang
yang sudah lama kamu nantikan. Sesak, kesal, kecewa. Tapi entah kenapa, saya
tetap menunggu. Saya percaya, bis yang sama pasti akan lewat lagi. Dan jika
kamu pikir ulang, apa gunanya bersedih terlalu lama setelah harapanmu
dipalsukan oleh oknum tidak bertanggung jawab? Padahal selalu ada pengganti
yang Tuhan sudah siapkan. Segera setelah kamu siap, kamu akan dipertemukan lewat
cara-cara yang bisa saja belum pernah kamu pikirkan sebelumnya.
Bisa
saja ternyata ia adalah orang yang belum pernah kamu temui sama sekali. Lalu
suatu hari, kalian bertemu di suatu tempat, di suatu waktu. Atau bisa saja ia
adalah orang yang sudah kamu kenal lama. Saking lamanya, kalian sudah mengenal
satu sama lain seperti mengenal diri sendiri. Atau mungkin, bisa saja dia
adalah satu dari orang yang berlalu-lalang di depan kita, atau yang beberapa
jam yang lalu duduk di belakang kita ketika kita nonton di bioskop, atau salah
satu dari gerombolan remaja yang sedang makan sore di restoran cepat saji yang
kamu kunjungi sehabis dari bioskop.
Tidak ada yang
tahu, bukan? Inilah cara Semesta bermain dengan kita. Apakah kita ikut tertawa
atau justru menghujat, itu terserah kita.
Selang 15 menit, bis yang saya nanti tiba.
Saya cepat-cepat menuju ke arah pintu bis yang terbuka. Beruntung masih ada
tempat duduk kosong. Saya duduk di kursi paling belakang, bersama 5 orang
lainnya. Sepanjang perjalanan, saya tertidur sampai saya dibangunkan perempuan
bermasker disebelah saya yang hendak turun. Saya pindah ke tempat ia duduk, di
sebelah jendela. Saya memandangi pemandangan luar yang familiar. Gedung-gedung,
lampu lalu lintas, jalanan. Semua yang hampir setiap minggu saya lewati.
Sisa
seperempat perjalanan pulang saya habiskan dengan mendiamkan otak saya. Otak
saya pun butuh beristirahat, bukan? Setelah semua yang saya pikirkan sesorean
tadi. Mungkin saya akan menuliskan semua yang saya pikirkan ke dalam sebuah
jurnal. Ya, tentu saja. Kamu boleh baca. Jika kamu pikir membosankan, berhenti
di tengah pun tidak mengapa. Toh ini hanya renungan absurd dari separuh hari
yang sudah saya lewati. Dengan tema dan analogi yang aneh hasil kreatifitas
otak saya. Sekali lagi, saya tidak minta kamu paham, namun harap maklum.
Ketika
malam tiba, dengan segelas kopi hangat pada laptop tua, saya mulai menulis.
[THE END]
No comments:
Post a Comment