Senja memuram. Semesta seolah paham.
Setelah
sekian lama berjalan jauh bersama, kini setapak kita terbagi. Tak lagi kita
beriringan. Kamu lebih memilih dirinya yang kamu sadari memiliki lebih banyak
kelebihan daripada aku. Berpayungan kalian berdua dalam rintik hujan, sedang
aku menggigil mencari teduhan dari sisa-sisa kenangan usang. Yang mana air
mata, yang mana hujan, kamu pun tidak akan bisa bedakan air apa yang mengalir
di wajahku.
Senja
turut menangis bersama aku.
Hujaman
air mata langit turut menghancurkan pertahananku. Remah-remah hati berserakan. Tinggal
aku yang bingung, apakah harus kukumpulkan lagi atau kubiarkan saja luluh
lantak, mengalir begitu saja terbawa air mata yang kemudian bermuara pada
kubangan dendam.
Bukannya
aku ingin kalian berpisah. Sekalipun aku mendendam, tapi bukan itu yang aku
inginkan. Jika kamu lebih bahagia bersamanya, kenapa aku harus menahan
kebebasanmu? Lagipula, dia tidak memiliki salah apapun padaku. Kenal pun tidak.
Jadi kenapa aku harus membencinya pula? Bukan berarti aku benci padamu. Aku
tidak bisa benci meskipun ingin.
Tangis
langit menderas. Tangisku berhenti.
Kupikir,
sudah cukup aku menghabiskan stok air mata. Kubiarkan semua kenangan, semua
perasaan, semua rindu yang masih tersisa mengalir jauh bersama air hujan yang
akan kembali ke laut. Dan ketika nanti hujan kembali turun, kubiarkan kenangan
yang teresonansi dalam suara air hujan yang jatuh ke bumi meresapi hatiku, agar
aku bisa belajar dari sana.
Berhentilah
menangis, Semesta, terima kasih telah menemani aku dalam hati yang redam. Hari ini
kamu istirahatkan mentari, jadi biarkan besok ia bersinar seperti sedia kala. Jangan
egois dengan air matamu sekalipun air matamu menjadi pewarna tercantik yang
kemudian melukisi langit dengan warna senja terindah. Langit barat yang
kemerahan, seolah matahari melelehkan cahayanya pada sekelilingnya tersaput
abu-abu kebiruan gelap yang justru menjadikan wajah senjamu cantik, bukan
seperti aku yang selepas menangis berakhir dengan mata merah, wajah sembab
kemerahan dan sengguk tak usai. Tetapi tidak apa, aku terbebas kini.
Semesta
merajut malam, tanpa bulan, tanpa bintang.
Gelap meraja. Di langit,
di hati.
No comments:
Post a Comment