Saturday, December 7, 2013

Hujan Senja



Senja memuram. Semesta seolah paham.
                Setelah sekian lama berjalan jauh bersama, kini setapak kita terbagi. Tak lagi kita beriringan. Kamu lebih memilih dirinya yang kamu sadari memiliki lebih banyak kelebihan daripada aku. Berpayungan kalian berdua dalam rintik hujan, sedang aku menggigil mencari teduhan dari sisa-sisa kenangan usang. Yang mana air mata, yang mana hujan, kamu pun tidak akan bisa bedakan air apa yang mengalir di wajahku.
                Senja turut menangis bersama aku.
                Hujaman air mata langit turut menghancurkan pertahananku. Remah-remah hati berserakan. Tinggal aku yang bingung, apakah harus kukumpulkan lagi atau kubiarkan saja luluh lantak, mengalir begitu saja terbawa air mata yang kemudian bermuara pada kubangan dendam.
                Bukannya aku ingin kalian berpisah. Sekalipun aku mendendam, tapi bukan itu yang aku inginkan. Jika kamu lebih bahagia bersamanya, kenapa aku harus menahan kebebasanmu? Lagipula, dia tidak memiliki salah apapun padaku. Kenal pun tidak. Jadi kenapa aku harus membencinya pula? Bukan berarti aku benci padamu. Aku tidak bisa benci meskipun ingin.
                Tangis langit menderas. Tangisku berhenti.
                Kupikir, sudah cukup aku menghabiskan stok air mata. Kubiarkan semua kenangan, semua perasaan, semua rindu yang masih tersisa mengalir jauh bersama air hujan yang akan kembali ke laut. Dan ketika nanti hujan kembali turun, kubiarkan kenangan yang teresonansi dalam suara air hujan yang jatuh ke bumi meresapi hatiku, agar aku bisa belajar dari sana.
Berhentilah menangis, Semesta, terima kasih telah menemani aku dalam hati yang redam. Hari ini kamu istirahatkan mentari, jadi biarkan besok ia bersinar seperti sedia kala. Jangan egois dengan air matamu sekalipun air matamu menjadi pewarna tercantik yang kemudian melukisi langit dengan warna senja terindah. Langit barat yang kemerahan, seolah matahari melelehkan cahayanya pada sekelilingnya tersaput abu-abu kebiruan gelap yang justru menjadikan wajah senjamu cantik, bukan seperti aku yang selepas menangis berakhir dengan mata merah, wajah sembab kemerahan dan sengguk tak usai. Tetapi tidak apa, aku terbebas kini.
                Semesta merajut malam, tanpa bulan, tanpa bintang.
Gelap meraja. Di langit, di hati.
               

No comments:

Post a Comment