Tuesday, October 8, 2013

[FANFIC] 24 Cylinders 1

Title: 24 Cylinders
Author: DEADBORN
Rating: NC-17
Chapter: 1/on going
Genre: Angst, Society, Crime, Drama

Finishing: Agustus 2013
Note: Sedang belajar membuat cerita berchapter. Nah, selamat membaca
:)



_CHAPTER 1_

“THE KINGDOM OF DEMONS”


Siang itu, matahari tak terlihat. Awan hitam berarak dari timur, sebentar lagi hujan akan tiba. Sambil memperhatikan gumpalan awan hitam, seorang anak kecil melihat sesuatu yang janggal. Sebenarnya sudah lama ia ingin menanyakan hal itu pada ibunya, dan hari ini ia memutuskan untuk bertanya.
                “Mamaaa..”
                “Ya, sayang?”
                “Itu apa?” jari mungil anak itu menunjuk pada tiang-tiang tinggi yang mencuat menghujam langit mendung. Anak itu sering melihat tiang-tiang ganjil itu dari taman bermain dekat rumahnya.
                “Hmm.. itu merupakan tempat yang menyeramkan, nak. Jangan sekalipun kamu melangkahkan kakimu ke sana, ya?”
                “Memang kenapa, mama?”
                “Karena mereka bilang tempat itu berhantu. Jadi, jangan pernah ke sana, ya?”
                Karena mendengar kata ‘hantu’, anak kecil itu bungkam. Ia menjawab permintaan ibunya dengan anggukan kepalanya. Namun matanya tak lepas dari tiang-tiang tipis yang menantang langit itu.
                Si ibu menyadari arah tatapan anaknya. Dalam hatinya mulai khawatir. Anaknya harus diperingatkan mengenai tempat itu, sesegera mungkin.



Rintik hujan mulai turun perlahan. Jalanan mulai sepi, sebagian orang mencari tempat berteduh, sebagian lagi sudah aman di dalam rumah nyaman mereka. Matahari sudah lama kehilangan sinarnya semenjak mendung menggantikannya mewarnai hari. Kabut tipis menyelimuti senja, mengambang di antara gedung gedung pencakar langit, di antara ke-24 tiang silinder yang berdiri memagari taman hiburan tua yang terbengkalai di pusat kota.
Taman hiburan itu terlihat lengang, begitupun dengan pabrik-pabrik liar yang terbengkalai di sekeliling taman hiburan itu. Namun jika kau lihat lebih dekat, kau akan melihat kelebatan orang-orang yang sesekali melintas. Ya, tidak salah lagi, manusia. Beberapa orang menganggap bahwa bayang-bayang yang sesekali berkelebat itu merupakan hantu-hantu penunggu pabrik atau hantu korban kecelakaan fatal yang tak diharapkan dari taman bermain itu. Gosip mengenai hantu, yang entah sengaja atau tidak tersebar melalui mulut ke mulut, cukup ampuh untuk membuat penduduk kota menjauhi tempat tersebut. Terlebih lagi, gosip macam apapun pasti selalu dibumbui oleh hal-hal lain yang dapat membuat kenyataannya menjadi samar. Tidak ada yang cukup berani untuk mendekati bangunan-bangunan ganjil yang berada di pusat kota metropolis itu.
Hujan semakin menderas. Menghujam atap-atap kubah gudang-gudang besar tak berpenghuni di sekeliling taman hiburan yang mati. Di antara gudang-gudang itu, seorang pemuda jangkung berjalan dengan langkah cepat. Matanya memperhatikan sekelilingnya dengan awas. Ia tidak memedulikan tubuhnya yang mulai kuyup akibat hujan. Benda dalam dekapannya yang tersembunyi di balik kaus dan jaketnya lebih berharga ketimbang dirinya sendiri.
Ada seseorang di depan pintu sebuah gudang kecil. Pemuda jangkung itu menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih jelas dalam hujan. Orang yang diperhatikannya nampak tidak menyadari kehadiran si pria jangkung. Ia terduduk. Tubuhnya kotor, bajunya lusuh, dan jenggot kasar kelabu tumbuh di sisi wajahnya. Gelandangan, pikir si pemuda jangkung. Dengan berhati-hati, ia melangkah lebih cepat. Suara air hujan yang memerciki jalan dan atap meredam suara langkahnya.
            Mata si pemuda jangkung menelusuri gudang-gudang di sekelilingnya. Harusnya disekitar sini, pemuda jangkung itu merutuk. Hujan semakin lebat, dan ia semakin sulit bernapas. Ah, itu. sebuah gudang yang tak begitu besar dengan tulisan dari cat hijau bertuliskan [KR]. Akhirnya ia dapat menemukan tempat yang ia cari.
Pemuda jangkung itu memandangi sekeliling, memastikan tidak ada siapapun sebelum mendorong pintu gudang itu. Sebuah celah sempit saja sudah cukup baginya untuk dapat menarik dirinya masuk ke dalam pabrik. Ia mendorong pintu sampai menutup dengan tanpa suara. Gudang itu remang-remang. Samar-samar tercium bau rumah sakit. Di dalam terdapat tiga orang lelaki yang sedang bersantai bermain kartu. Salah satunya menghisap rokok yang tinggal setengah.
“Tendou Daisuke! Lama!” seorang pria bertubuh pendek membentak si pemuda jangkung tanpa melihatnya.
             “Jangan begitu, Gotoh. Hujan sudah cukup menyulitkannya,” si penghisap rokok melempar as clover ke tengah meja, diikuti erangan dari pria ketiga.
“Aku bahkan belum duduk, tapi sudah kena omel. Kalau kau masih mengomel setelah melihat apa yang kubawa untuk kalian, kucekoki mulut sampahmu itu dengan obat yang Tora buat sampai mulutmu berbusa hitam,” sambil berkata begitu, si pemuda jangkung mengeluarkan benda yang ia dekap sejak tadi. Sebuah buntalan berwarna hitam. Di bawanya buntalan itu ke tengah meja, lalu dihamburkan isinya disana. Uang-uang kertas menghujani meja. Ketiga orang yang sedang bermain kartu memandang takjub uang tersebut.
  “Die! Kau berhasil membawa uangnya?!” seru Gotoh.
             “Obat buatanmu rupanya mulai laris, ya?” si penghisap rokok membereskan uang yang berhamburan menjadi tumpukan-tumpukan yang rapi.
“Bukan aku yang membuatnya, hey Aoi. Aku hanya menjual. Dia yang meraciknya,” Die mengedikkan kepalanya pada pria ketiga yang terlihat lebih pendiam.
“Oi, Tora! Berkat kau, kita kaya raya sekarang! Hahahaha!” Aoi merangkul Tora. Tora hanya tersenyum.
 “Bukan masalah. Aku akan membuat lebih banyak lagi obat-obat penenang itu. Orang-orang bodoh itu akan menjadi ketagihan dan kita bisa jauh lebih kaya dari ini,” sekilas, Die dapat melihat kilatan cahaya dari mata Tora dalam remangnya ruangan. Tanpa disadari, tengkuk Die merinding.
“Nah, Gotoh, pergilah beli makanan. Kita harus merayakan hari ini!” Aoi menyerahkan beberapa lembar uang pada Gotoh yang bertubuh kecil.
“Nanti, setelah hujan reda. Lagipula aku juga sekalian mau ke Gate 24,” sahut Gotoh sambil membetulkan letak kacamatanya.
 “Baiklah, terserah. Hujan memang membuat siapapun enggan berpergian. Aku tahu, aku tahu...” Aoi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terus membereskan uang-uang di atas meja bersama Tora.
“Aku ke atas. Mau tidur,” pamit Die. Hanya anggukan yang ia terima dari ketiga temannya sebagai penanda mereka mendengarnya. Die menaiki tangga yang terkadang menderit karena bobot tubuhnya. Di atas, Die melepas pakaiannya yang basah, menggantinya dengan yang kering. Pakaian basahnya ia peras di kamar mandi. Setelah selesai menggantung pakaiannya di sisi ruangan, ia menggelar futonnya yang berbau debu. Sudah tiga hari ia meninggalkan gudang yang menjadi sudah ia anggap menjadi rumah selama 7 tahun ini bersama ketiga orang lainnya. Gudang yang mereka namakan [KR] Cube karena huruf [KR] yang tertulis di depan bangunan itu dan karena gudang-gudang itu menyerupai kubus-kubus besar. Tiga hari untuk transaksi obat penenang ilegal demi menyambung hidup.
Die merebahkan tubuh kurusnya. Pikirannya tak berfokus. Sebelum jatuh tertidur, otaknya dipenuhi berbagai kejadian dari masa lalunya hingga perasaan aneh yang kini ia rasakan.


Tepat sebelum Die terlelap, beberapa ratus meter dari tempat Die berbaring, di sebuah gudang besar di dekat pintu masuk taman hiburan terbengkalai, terdengar suara dering telepon. Seorang pria dengan lengan yang dipenuhi tato mengangkat telepon itu.
“Ya? Benar, ini Niihara Kaoru. Baik, dimana? Jam 9? Oke.” Lelaki yang dipanggil Kaoru itu lalu memutuskan percakapan. Percakapan itu begitu singkat. Setelah meletakkan telepon genggamnya di meja kecil, Kaoru berpaling pada deretan 4 bilah pisau dengan mata pisau berbeda dan 3 pucuk pistol koleksinya yang terhampar di meja. Tidak terlalu banyak, namun dengan pemakaian yang tepat, dapat mematikan.
Kaoru mengambil saputangan yang berada di samping sebuah pisau dengan mata pisau bergerigi. Sambil bersiul, ia membersihkan pisau itu agar semakin berkilau.
“Sepertinya hari ini akan mendapat pekerjaan lagi. Bersiaplah...” bisiknya sambil terus membersihkan pisau-pisau itu.  
“Pakai cara seperti apa? Hmm.. aku harus melihat dulu seperti apa rupanya agar aku tahu cara menghabisinya. Aku sudah tidak sabar...” Kaoru menyeringai. Ia dapat melihat pantulan wajahnya pada mata pisaunya.


Malam semakin larut. Gerimis tipis menemani malam bersama kabut yang menyelimuti sekeliling pabrik dan taman hiburan terbengkalai itu. Membuat suasana menjadi lebih mencekam. Seorang gelandangan berjalan sempoyongan di dalam taman hiburan. Samar-samar dapat terdengar suara percakapan atau suara dari radio. Beberapa titik lampu menyala. Si gelandangan mencari tempat yang gelap, paling tidak cukup hangat untuk mengistirahatkan dirinya malam itu.
Seorang pemuda memperhatikan gelandangan itu dari jendela. Pemuda kecil itu mematikan lampu tempel tempat ia tinggal, di sebuah ruangan yang dulunya merupakan kantin taman hiburan itu. Dengan sedikit kerja keras, ia menyulap bekas kantin itu menjadi sebuah tempat tinggal yang cukup untuk dirinya.
Si gelandangan tidak cukup sadar bahwa ia tengah di perhatikan. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, mencari tempat bernaung yang pas. Pemuda di balik jendela menjilat bibirnya yang merah.
“Hati... limpa... otak... makan besar....”


Hujan telah berhenti. Meninggalkan genangan-genangan yang melebar di beberapa sisi jalan. Dingin terasa menusuk, bahkan burung hantu sekalipun enggan berdekut. Seekor anjing kurus mendengking pelan ditempatnya bergelung mencari hangat karena melihat sepasang mata yang berkilauan dari jendela. Mata itu menyipit seolah tersenyum. Si anjing menutupi matanya dengan telinganya yang menjuntai.
24 Cylinders malam itu begitu sunyi meskipun setan-setan tengah berpesta pora di sana.




[TO BE CONTINUED]

No comments:

Post a Comment