Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 7/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: Agustus 2013
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 7/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: Agustus 2013
“Payung itu... masih ada.
Kuletakkan di sana. Temuilah dia.”
Hujan terus membasahi malam dengan irama yang konstan. Kyo berjalan
menembusnya, seolah rintikan hujan itu tidak ada. Langkahnya mantap, ia tahu
tujuannya. Selama berjalan, pikirannya penuh dengan monolog-monolog dua arah
yang saling berkaitan, menjadi suatu dialog yang ganjil. Antara dirinya dan
Kasumi yang hidup dalam kenangannya.
Lampu-lampu jalan
terlihat redup di dalam rinai hujan. Membuat kota terbungkus dalam
bayang-bayang suram. Hujan dan malam yang kian larut membuat jalanan menjadi
begitu sepi. Kyo mulai menggigil di balik jaketnya. Langkahnya melambat.
Sebentar lagi ia tiba di persimpangan jalan, tempat yang selalu hadir dalam
mimpinya.
Kyo berhenti di
sisi jalan. Di hadapannya lampu lalu lintas menyala hijau, namun tak ada satu
mobilpun yang lewat. Di bawah lampu lalu lintas itu terdapat setangkai bunga krisan
putih yang lazim ada dalam upacara pemakaman. Seseorang yang telah meletakkan
bunga itu di sana pasti tahu kejadian apa yang pernah terjadi di tempat itu
untuk menghormati mereka yang menjadi korban.
“Terima kasih..”
lirih Kyo, untuk siapapun yang meletakkan bunga itu. ia berjongkok, mengusap
bunga krisan yang terguyur hujan. Satu kelopaknya terlepas. Ia mengalihkan
pandangannya ke depan. Dihadapannya, terhampar jalanan yang sepi. Tapi ia bisa
melihat mobil yang rusak, menabrak pembatas sisi jalan satunya, dengan asap
hitam mengepul dari sela kap mobil. Ia bisa melihat dirinya yang tertelungkup,
berusaha dengan sisa-sisa tenaganya untuk melindungi Kasumi yang tergeletak tak
jauh darinya dengan cara yang sanggup ia lakukan. Mata Kasumi terpejam, darah
mengalir dari mulut dan hidung Kasumi. Darah dari luka di belakang kepala Kasumi
menyatu bersama air hujan.
Kyo merasa
ingatannya begitu kuat hingga ia dapat melihat semua itu sejelas ia melihat
bunga krisan puith. Seperti kembali ke hari terburuk sepanjang ia hidup, hanya
saja ia hanya dapat menjadi penonton.
Mereka berjalan berdampingan di bawah payung
bening yang memantulkan hujan. Sambil menunggu lampu lalu lintas berganti warna
menjadi hijau, mereka bercanda.
“Payung bening ini lucu, ya. Aku bisa melihat
butir-butir air yang jatuh di atasnya. Aku bisa melihat bagaimana ia
melindungiku dari hujan,” Kasumi mendongak menatap hujan yang jatuh di atas
payung bening itu sambil tersenyum.
“Kamu juga bisa melihatku melindungimu, kan?” balas
Kyo.
“Ahahaha iya, iyaa Kyo. Tapi aku juga ingin menjadi
seperti payung bening ini.”
“Tidak, selama aku masih bisa melindungimu.”
Mereka berdua tertawa-tawa. Kasumi mengaitkan
lengannya pada lengan Kyo. Lampu lalu lintas berganti warna. Sebuah mobil
berjalan dengan kecepatan penuh. Warna kuning berganti merah. Kasumi
melangkahkan kakinya, Kyo mengiringinya. Mobil itu tidak berhenti, tidak dapat
berhenti.
Kyo dapat mendengar suara pekikan Kasumi. ia tidak
sempat menarik tubuh Kasumi untuk menyingkir. Terdengar bunyi benturan keras.
Kyo bisa merasakan sesuatu menyambar lututnya. Bunyi decit rem lalu suara
benturan yang lebih keras. Suara hujan terdengar samar.
Kyo
bisa merasakan aspal yang basah dan dingin di bawah tubuhnya. Lututnya nyeri,
ia tak mampu berdiri. Kepalanya terasa berputar. Kyo dapat merasakan sesuatu
dalam genggamannya, ia menyipitkan matanya, gagang payung bening itu masih
berada dalam genggamannya. Dalam buram akibat hujan, ia berusaha menoleh ke
sisi satunya, mencari Kasumi. itu dia, tergolek tak berdaya dalam siraman
hujan. Kyo berusaha membalikkan tubuhnya. Berusaha memayungi Kasumi. Berusaha
melindunginya. Namun...
Visualisasi itu
terlihat sungguhan. Kyo berdiri diam di tempatnya, di samping bunga krisan
putih yang umurnya tak lama. Wajah Kyo kuyup oleh hujan dan air mata.
“Kamu sudah
memutuskan?”
“Aku lihat kamu
terbaring di sana. Tapi aku bisa apa?”
“Kamu bisa
lanjutkan hidup kamu.”
“Aku harus
memutuskan.”
“Payung bening itu
ada di sana.”
“Aku tahu. Dan
akan aku ambil.”
“Kita bertemu di
sana, ya?”
Kyo terhuyung.
Lampu lalu lintas itu berwarna merah. Tak ada satupun mobil yang melintas. Ia
menyebrangi jalan. Terus berjalan di dalam hujan yang belum ingin berhenti,
seolah masih ingin menemani.
Kyo berhenti di
depan sebuah tangga batu dengan gerbang merah besar di atasnya. Satu persatu,
dinaikinya tangga batu itu. ia berjalan terus ke dalam, berbelok ke sebelah
kiri, di mana penuh siluet-siluet persegi yang tinggi. Nisan-nisan batu yang
dingin dan basah dalam guyuran hujan. Kyo berjalan terus melewati nisan-nisan
batu itu. Pada nisan ke-sembilan, ia berhenti.
Ukuran batu nisan
itu tidak besar. Hanya seperti lempengan batu sederhana yang berdiri kokoh di
atas batu datar dengan dua vas putih di sisinya dan tempat dupa di tengahnya. Di
bawah tempat dupa itu, terdapat sebuah benda yang tak asing. Sebuah payung bening.
“Maaf, aku tidak
membawa apa-apa.”
Kyo berlutut di
hadapan nisan itu, tangannya menyapu nama yang terukir di atasnya.
Kurokawa
Kasumi.
Matanya menatap payung plastik yang teronggok
di bawah nisan Kasumi. Kyo mengambil payung itu perlahan, lalu membukanya. Kyo berdiri,
memayungi dirinya dengan payung bening yang kini kusam termakan cuaca. Ia
menatap nisan Kasumi yang memburam dalam air matanya.
“Selama setahun, payung ini menunggu kita
untuk kembali berteduh di bawah naungannya. Waktu kecelakaan itu terjadi, aku
terus menggenggam payung ini, berusaha menaungi kamu yang terkapar tak berdaya
dengan sisa tenagaku. Ketika aku sadar di rumah sakit, payung ini ada di sisi
tempat tidurku. Kupindahkan payung ini kekamarmu dengan harapan kamu sadar aku
selalu ada di sisimu untuk melindungimu. Kamu bangun pagi itu. Dengan tawa khas
kamu dan air mata dipelipismu ketika mendengar tangisanku.
“Kamu bilang, kamu senang aku selamat. Kamu senang karena kamu bisa
menjadi seperti payung bening ini, melindungi dan bisa dilihat oleh orang yang
kamu lindungi ketika kamu melindunginya. Aku tidak senang jika itu berarti kamu
harus terluka. Sore hari, kamu bilang kamu akan pulang. Kamu tidak bilang
kemana akan pulang, hanya saja kamu minta aku untuk hidup tanpa sesal karena
ketika kecelakaan itu terjadi, justru aku yang dilindungi kamu. Dan kalimat itu
menjadi kutukan bagiku setelah kamu pergi karena itu adalah permintaan
terakhirmu. Kamu memintaku tetap hidup sementara kamu mati.
“Aku menuruti inginmu. Aku tetap hidup, hingga saat ini. Dan kamu tidak
pernah mati. Kamu selalu ada, hadir dalam kepalaku yang dipenuhi kenangan
tentang kamu. Kamu hadir dalam monolog dua arah di dalam pikiranku, yang
kemudian kuvisualisasikan. Apakah aku sudah gila? Aku tidak tahu. Aku hanya terus
hidup, seperti yang kamu inginkan, dengan caraku sendiri.”
Kyo mendongakkan kepalanya. Menatap rintikan hujan yang jatuh
pada payung yang kini salah satu rusuknya patah.
“Aku kemari untuk mengambil payung ini. Aku
akan membereskan semua barang-barangmu. Aku akan membakar semuanya dan membawa
abunya kemari, kecuali payung bening ini. Sebagai pengingat bahwa kamu sudah
melindungi aku...”
Kasumi berdiri di belakang nisannya.
Tersenyum pada Kyo. Dalam hujan, ia nampak seperti sedang menangis.
“Inikah perpisahan yang kamu inginkan?”
“Tidak ada seorangpun yang menginginkan
perpisahan.”
“Semua monolog itu tidak akan berhenti. Tapi tidak
ada lagi namamu.”
“Aku paham.”
“Kamu selalu ada.”
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
“Aku hanya
meninggalkan jasadmu di tempat ini. Menerima kematianmu merupakan hal tersulit
yang pernah kulakukan selama aku hidup. Kenanganmu akan tetap hidup bersamaku,
tapi aku tak perlu membawamu serta ke dalam realitas seperti yang selama ini
aku coba untuk lakukan.”
“Jangan
khawatirkan aku.”
“Aku tidak bisa
bicara pada siapapun tentang ini sekalipun mereka mengerti kondisiku dan aku
tidak meminta mereka untuk mengerti. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun atas
semua yang sudah terjadi.”
“Tidak ada lagi
yang harus kamu katakan karena aku sudah paham. Kesempatan yang kuberikan
ketika aku melindungimu dulu tidak pernah kusesali, itu sebabnya aku meminta
kamu untuk hidup tanpa penyesalan juga. Semoga kamu mengerti.”
“Aku tidak akan
mengucapkan selamat tinggal.”
“Ini bukan
perpisahan. Bukan juga sebuah awal pertemuan. Kita hanya berlari di atas
punggung Ouroboros.”
Kyo berbalik.
Berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya. Kasumi
masih berdiri di sana, memandangnya sambil tersenyum. Kyo balas senyum. Ini
bukan akhir, juga bukan awal.
Kyo berjalan
pulang ke apartemennya di dalam tirai hujan dengan payung bening kusam dan
rusak menaunginya. Siluetnya semakin menjauh dan mengecil hingga akhirnya
menghilang sama sekali dalam hujan.
Jika
aku kembali nanti, aku pastikan kamu ada di sisiku, di bawah payung bening ini.
[THE END]
No comments:
Post a Comment