Saturday, August 24, 2013

[FANFIC] Plastic Umbrella 7

Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 7/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: Agustus 2013



“Payung itu... masih ada. Kuletakkan di sana. Temuilah dia.”

Hujan terus membasahi malam dengan irama yang konstan. Kyo berjalan menembusnya, seolah rintikan hujan itu tidak ada. Langkahnya mantap, ia tahu tujuannya. Selama berjalan, pikirannya penuh dengan monolog-monolog dua arah yang saling berkaitan, menjadi suatu dialog yang ganjil. Antara dirinya dan Kasumi yang hidup dalam kenangannya.
                Lampu-lampu jalan terlihat redup di dalam rinai hujan. Membuat kota terbungkus dalam bayang-bayang suram. Hujan dan malam yang kian larut membuat jalanan menjadi begitu sepi. Kyo mulai menggigil di balik jaketnya. Langkahnya melambat. Sebentar lagi ia tiba di persimpangan jalan, tempat yang selalu hadir dalam mimpinya.
                Kyo berhenti di sisi jalan. Di hadapannya lampu lalu lintas menyala hijau, namun tak ada satu mobilpun yang lewat. Di bawah lampu lalu lintas itu terdapat setangkai bunga krisan putih yang lazim ada dalam upacara pemakaman. Seseorang yang telah meletakkan bunga itu di sana pasti tahu kejadian apa yang pernah terjadi di tempat itu untuk menghormati mereka yang menjadi korban.
                “Terima kasih..” lirih Kyo, untuk siapapun yang meletakkan bunga itu. ia berjongkok, mengusap bunga krisan yang terguyur hujan. Satu kelopaknya terlepas. Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Dihadapannya, terhampar jalanan yang sepi. Tapi ia bisa melihat mobil yang rusak, menabrak pembatas sisi jalan satunya, dengan asap hitam mengepul dari sela kap mobil. Ia bisa melihat dirinya yang tertelungkup, berusaha dengan sisa-sisa tenaganya untuk melindungi Kasumi yang tergeletak tak jauh darinya dengan cara yang sanggup ia lakukan. Mata Kasumi terpejam, darah mengalir dari mulut dan hidung Kasumi. Darah dari luka di belakang kepala Kasumi menyatu bersama air hujan.
                Kyo merasa ingatannya begitu kuat hingga ia dapat melihat semua itu sejelas ia melihat bunga krisan puith. Seperti kembali ke hari terburuk sepanjang ia hidup, hanya saja ia hanya dapat menjadi penonton.

                Mereka berjalan berdampingan di bawah payung bening yang memantulkan hujan. Sambil menunggu lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau, mereka bercanda.
                “Payung bening ini lucu, ya. Aku bisa melihat butir-butir air yang jatuh di atasnya. Aku bisa melihat bagaimana ia melindungiku dari hujan,” Kasumi mendongak menatap hujan yang jatuh di atas payung bening itu sambil tersenyum.
                “Kamu juga bisa melihatku melindungimu, kan?” balas Kyo.
                “Ahahaha iya, iyaa Kyo. Tapi aku juga ingin menjadi seperti payung bening ini.”
                “Tidak, selama aku masih bisa melindungimu.”
                Mereka berdua tertawa-tawa. Kasumi mengaitkan lengannya pada lengan Kyo. Lampu lalu lintas berganti warna. Sebuah mobil berjalan dengan kecepatan penuh. Warna kuning berganti merah. Kasumi melangkahkan kakinya, Kyo mengiringinya. Mobil itu tidak berhenti, tidak dapat berhenti.
                Kyo dapat mendengar suara pekikan Kasumi. ia tidak sempat menarik tubuh Kasumi untuk menyingkir. Terdengar bunyi benturan keras. Kyo bisa merasakan sesuatu menyambar lututnya. Bunyi decit rem lalu suara benturan yang lebih keras. Suara hujan terdengar samar.
  Kyo bisa merasakan aspal yang basah dan dingin di bawah tubuhnya. Lututnya nyeri, ia tak mampu berdiri. Kepalanya terasa berputar. Kyo dapat merasakan sesuatu dalam genggamannya, ia menyipitkan matanya, gagang payung bening itu masih berada dalam genggamannya. Dalam buram akibat hujan, ia berusaha menoleh ke sisi satunya, mencari Kasumi. itu dia, tergolek tak berdaya dalam siraman hujan. Kyo berusaha membalikkan tubuhnya. Berusaha memayungi Kasumi. Berusaha melindunginya. Namun...  

                Visualisasi itu terlihat sungguhan. Kyo berdiri diam di tempatnya, di samping bunga krisan putih yang umurnya tak lama. Wajah Kyo kuyup oleh hujan dan air mata.
                “Kamu sudah memutuskan?”
                “Aku lihat kamu terbaring di sana. Tapi aku bisa apa?”
                “Kamu bisa lanjutkan hidup kamu.”
                “Aku harus memutuskan.”
                “Payung bening itu ada di sana.”
                “Aku tahu. Dan akan aku ambil.”
                “Kita bertemu di sana, ya?”
                Kyo terhuyung. Lampu lalu lintas itu berwarna merah. Tak ada satupun mobil yang melintas. Ia menyebrangi jalan. Terus berjalan di dalam hujan yang belum ingin berhenti, seolah masih ingin menemani.
                Kyo berhenti di depan sebuah tangga batu dengan gerbang merah besar di atasnya. Satu persatu, dinaikinya tangga batu itu. ia berjalan terus ke dalam, berbelok ke sebelah kiri, di mana penuh siluet-siluet persegi yang tinggi. Nisan-nisan batu yang dingin dan basah dalam guyuran hujan. Kyo berjalan terus melewati nisan-nisan batu itu. Pada nisan ke-sembilan, ia berhenti.
                Ukuran batu nisan itu tidak besar. Hanya seperti lempengan batu sederhana yang berdiri kokoh di atas batu datar dengan dua vas putih di sisinya dan tempat dupa di tengahnya. Di bawah tempat dupa itu, terdapat sebuah benda yang tak asing. Sebuah payung bening.
                “Maaf, aku tidak membawa apa-apa.”
                Kyo berlutut di hadapan nisan itu, tangannya menyapu nama yang terukir di atasnya.
   Kurokawa Kasumi.
   Matanya menatap payung plastik yang teronggok di bawah nisan Kasumi. Kyo mengambil payung itu perlahan, lalu membukanya. Kyo berdiri, memayungi dirinya dengan payung bening yang kini kusam termakan cuaca. Ia menatap nisan Kasumi yang memburam dalam air matanya.
  “Selama setahun, payung ini menunggu kita untuk kembali berteduh di bawah naungannya. Waktu kecelakaan itu terjadi, aku terus menggenggam payung ini, berusaha menaungi kamu yang terkapar tak berdaya dengan sisa tenagaku. Ketika aku sadar di rumah sakit, payung ini ada di sisi tempat tidurku. Kupindahkan payung ini kekamarmu dengan harapan kamu sadar aku selalu ada di sisimu untuk melindungimu. Kamu bangun pagi itu. Dengan tawa khas kamu dan air mata dipelipismu ketika mendengar tangisanku.
              “Kamu bilang, kamu senang aku selamat. Kamu senang karena kamu bisa menjadi seperti payung bening ini, melindungi dan bisa dilihat oleh orang yang kamu lindungi ketika kamu melindunginya. Aku tidak senang jika itu berarti kamu harus terluka. Sore hari, kamu bilang kamu akan pulang. Kamu tidak bilang kemana akan pulang, hanya saja kamu minta aku untuk hidup tanpa sesal karena ketika kecelakaan itu terjadi, justru aku yang dilindungi kamu. Dan kalimat itu menjadi kutukan bagiku setelah kamu pergi karena itu adalah permintaan terakhirmu. Kamu memintaku tetap hidup sementara kamu mati.
  “Aku menuruti inginmu. Aku tetap hidup, hingga saat ini. Dan kamu tidak pernah mati. Kamu selalu ada, hadir dalam kepalaku yang dipenuhi kenangan tentang kamu. Kamu hadir dalam monolog dua arah di dalam pikiranku, yang kemudian kuvisualisasikan. Apakah aku sudah gila? Aku tidak tahu. Aku hanya terus hidup, seperti yang kamu inginkan, dengan caraku sendiri.”
Kyo mendongakkan kepalanya. Menatap rintikan hujan yang jatuh pada payung yang kini salah satu rusuknya patah.
“Aku kemari untuk mengambil payung ini. Aku akan membereskan semua barang-barangmu. Aku akan membakar semuanya dan membawa abunya kemari, kecuali payung bening ini. Sebagai pengingat bahwa kamu sudah melindungi aku...”
Kasumi berdiri di belakang nisannya. Tersenyum pada Kyo. Dalam hujan, ia nampak seperti sedang menangis.
“Inikah perpisahan yang kamu inginkan?”
“Tidak ada seorangpun yang menginginkan perpisahan.”
“Semua monolog itu tidak akan berhenti. Tapi tidak ada lagi namamu.”
“Aku paham.”
“Kamu selalu ada.”
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
             “Aku hanya meninggalkan jasadmu di tempat ini. Menerima kematianmu merupakan hal tersulit yang pernah kulakukan selama aku hidup. Kenanganmu akan tetap hidup bersamaku, tapi aku tak perlu membawamu serta ke dalam realitas seperti yang selama ini aku coba untuk lakukan.”
             “Jangan khawatirkan aku.”
             “Aku tidak bisa bicara pada siapapun tentang ini sekalipun mereka mengerti kondisiku dan aku tidak meminta mereka untuk mengerti. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun atas semua yang sudah terjadi.”
             “Tidak ada lagi yang harus kamu katakan karena aku sudah paham. Kesempatan yang kuberikan ketika aku melindungimu dulu tidak pernah kusesali, itu sebabnya aku meminta kamu untuk hidup tanpa penyesalan juga. Semoga kamu mengerti.”
             “Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal.”
             “Ini bukan perpisahan. Bukan juga sebuah awal pertemuan. Kita hanya berlari di atas punggung Ouroboros.”
             Kyo berbalik. Berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya. Kasumi masih berdiri di sana, memandangnya sambil tersenyum. Kyo balas senyum. Ini bukan akhir, juga bukan awal.
              Kyo berjalan pulang ke apartemennya di dalam tirai hujan dengan payung bening kusam dan rusak menaunginya. Siluetnya semakin menjauh dan mengecil hingga akhirnya menghilang sama sekali dalam hujan.

Jika aku kembali nanti, aku pastikan kamu ada di sisiku, di bawah payung bening ini.



[THE END]

No comments:

Post a Comment