Thursday, August 15, 2013

[FANFIC] Plastic Umbrella 6

Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 6/
7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: Agustus 2013


                “Kyo-kun, sudah saatnya kau merelakan Kasumi...”
                “Aku... belum bisa, Shin. Berat sekali.”
                “Kau hanya belum ingin melupakannya,” tutur Shinya lembut.
                Seratus hari sudah Kasumi pergi. Shinya menggunakan hari liburnya untuk mengunjungi Kyo. Ia ingin menemani Kyo sesering yang ia bisa. Ketika ia tiba, Kyo memang terlihat baik-baik saja, namun Shinya tahu kesepian tengah menggerogoti jiwanya dari dalam dan membuatnya rapuh. Dan Kyo menutupnya rapat dengan penampilan yang seolah ia tak pernah mengalami hal yang mengerikan. 
                “Aku paham keinginanmu, tapi aku sudah memilih. Kau ingin aku terus melanjutkan hidup normalku seperti keinginan Kasumi sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, dan inilah yang kulakukan. Hidup normal seperti biasanya, seperti saat ada Kasumi.”
                “Tapi kau tidak menghilangkan kenangan tentang Kasumi.”
                “Karena dalam kehidupan normalku, Kasumi adalah bagian dari keseharianku, Shin. Sulit sekali melepaskan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan.”
                Kyo menghembuskan asap rokoknya sambil menatap sungai di luar jendela. Matahari sore memantul di permukaan sungai yang mengalir tenang.
                Shinya sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mungkin jika Kyo melakukannya secara tidak sadar, Shinya masih bisa menyadarkannya. Tapi Kyo tahu betul apa yang dilakukannya. Apa lagi yang bisa ia lakukan?



                “Psikiater?”
              “Ya, Shin. Bagaimana kalau kita bawa Kyo ke psikiater? Kurasa jiwanya terguncang hebat akibat kehilangan Kasumi..” tutur Toshiya. pada akhirnya Toshiya tahu bahwa Shinya sudah tahu perihal Kyo yang selalu menggunakan Kasumi sebagai alasan untuk menolak ajakan pergi.
                “Tapi kurasa itu akan menyakiti hati Kyo karena ia pikir kita menganggap dia sudah gila. Kau tahu, hampir sebagian besar orang berpikir bahwa orang yang membutuhkan psikiater adalah orang yang hampir kehilangan kewarasannya meskipun aku tahu bahwa pandangan itu keliru.”
                “Tapi hanya itu satu-satunya cara.”
                “Begitukah?” Shinya meragu. Ia ingin sekali membantu Kyo, tapi ia kurang setuju dengan saran Toshiya. Dengan teman terdekatnya saja Kyo jarang mengeluh, apalagi ini. Sama saja dengan menunjukkan luka bernanah pada orang yang tak kau kenal, memalukan, sekalipun ada kemungkinan orang asing itu memiliki obat untuk menyembuhkannya.
                “Kurasa, lebih baik kita lihat perkembangan Kyo dulu. Aku tidak ingin Kyo merasa terbebani dengan gagasan ini.”
                Shinya berada dalam posisi sulit. Ia paham Toshiya, Die dan Kaoru ingin membantu agar Kyo dapat lepas dari kenangan tentang Kasumi dapat melanjutkan hidup tanpa Kasumi, sama seperti dirinya. Akan tetapi, ia tahu betul Kyo bukan tipe orang yang dapat dipaksa melakukan hal yang tidak ia inginkan. Dan jika ia sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, ia akan terus melakukannya hingga merasa cukup dan akan berhenti jika ia menginginkannya, bukan karena orang lain. Ia tidak bisa memaksa Kyo untuk berhenti hidup dalam kenangannya dengan Kasumi.
                Shinya menghela nafas berat. Sebagai sahabat, tentu ia menginginkan apapun yang terbaik untuk Kyo. Jika hidup dalam kenangan Kasumi merupakan satu-satu jalan Kyo untuk dapat terus menjalani kehidupan normalnya, Shinya sudah pasti mendukungnya. Tapi kita tidak bisa terus menerus hidup dalam keadaan seperti itu bukan?
                Shinya benar-benar khawatir.


 *


                Satu tahun sudah berlalu sejak kematian Kasumi. Tidak ada yang berubah. Kyo tetap menganggap Kasumi masih tinggal bersamanya. Die, Kaoru dan Toshiya, meskipun tidak sesering dulu, masih tetap mengajaknya minum-minum sepulang kerja atau menonton dvd di kamar Kaoru. Setiap kali menolak, alasan Kyo tetap sama; ia ingin pulang sebelum Kasumi pulang. Ketiga temannya itu sudah tahu dan paham meskipun sesekali mereka tetap memaksa Kyo untuk ikut. Jika Kyo ikut, Kyo seperti biasa akan melontarkan komentar-komentar jenaka yang memancing tawa pendengarnya. Suasana terasa lebih menyenangkan jika Kyo ikut. Namun, Kyo lebih memilih untuk tinggal bersama kenangannya.
                Shinya berusaha sesering mungkin mengunjungi Kyo. Menemaninya disela kesibukannya. Kyo sangat menghargai usaha yang dilakukan Shinya untuk menghiburnya, tapi ia tetap belum bisa lepas dari kenangan tentang Kasumi yang begitu kuat.
Shinya tidak pernah membicarakan masalah gagasan Toshiya pada Kyo karena ia yakin betul Kyo tidak akan mau. Selama setahun ini, yang Shinya bisa lakukan hanyalah menemani Kyo sesering yang ia bisa atau meminta Toshiya, Die atau Kaoru untuk menemaninya. Toshiya sendiri juga tidak berani menyarankan Kyo langsung untuk ke psikiater. Mereka bertiga lebih memilih untuk tetap bungkam dan bersikap tidak tahu menahu mengenai kematian Kasumi. Lebih baik Kyo tidak tahu jika mereka tahu sehingga ajakan-ajakan main mereka terasa lebih natural dan Kyo tidak perlu merasa bahwa ia tengah dikasihani sekalipun mereka bertiga tidak ada niat untuk mengasihani Kyo. Mereka hanya ingin Kyo menjalani kehidupan yang normal.



                Malam itu hujan turun. Kyo menatap butir-butir air yang menempel pada kaca pintu gesernya. Kamarnya terbias cahaya dari televisi yang volumenya dimatikan. Kasumi turut memandang butiran air hujan sambil tiduran dipangkuan Kyo. Mereka diam, menikmati suara air hujan yang tengah memerciki wajah sungai. Kasumi menutup matanya.
                “Kamu tahu? Seharusnya aku benci hujan.”
                “Kenapa?”
                “Karena kita berpisah saat hujan.”
                “Kita tidak pernah berpisah.”
                “Kyo...”
                “Kamu ada. Selalu ada.”
                “Eksistensiku hanya serupa hantu. Aku hidup namun tidak nyata karena aku hanya hidup di dalam kenanganmu.”
                “Itu sudah cukup.”
                “Itu tidak sehat.”
                “Aku tidak peduli. Bagiku, kamu ada, dan itu cukup.”
                “Kyo, kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kamu punya kehidupan yang harus kamu jalani. Kenapa kamu tidak mau membuka diri pada orang lain?”
                “Ayolah, Kasumi. Kita sudah hidup bersama selama 10 tahun dan kamu masih belum paham?”
                “Tapi kamu bisa mempercayaiku.”
                “Karena kamu mau dan bisa memahamiku. Tidak banyak orang yang mau dan bisa memahami orang yang sulit sepertiku.”
                “Kamu tidak akan pernah tahu diluar sana masih ada yang mau peduli padamu jika kamu tidak mencoba.”
                “Aku tidak mau mengambil resiko dengan sakit hati atau yang lebih parah, kehilangan lagi. Tidak. Kehilanganmu sudah sangat berat.”
                Kasumi bangkit dari posisinya. Ia menatap mata Kyo.
                “Kamu terlalu menutup diri.”
                “Aku hanya melindungi diriku sendiri dengan satu-satunya cara yang aku tahu.”
                “Resiko ada untuk dihadapi, bukan dihindari.”
                “Dan aku memilih resiko yang lain. Yang lebih sanggup untuk kujalani.”
               Kyo mengalihkan pandangannya dari Kasumi. menatap rintik hujan yang tersinari lampu jalan, membentuk tirai tipis.
                “Aku selalu ingat kata-katamu ketika kamu terbangun di rumah sakit pagi itu.”
                “Bahwa aku akan pulang bersama denganmu.”
                “Kamu memang pulang, tapi tidak ke kamar ini dan tanpa aku.”
                “Kamu harap apa? Itu sudah kehendak-Nya.”
                “Dan aku selalu yakin kamu akan kembali.”
                “Padahal kamu tahu aku tidak akan pernah pulang secara utuh.”
                Keduanya diam. Membiarkan kembali suara hujan menghancurkan keheningan yang mereka bangun. Kyo jengah.
                “Aku tidak suka.”
                “Semua berubah. Kamu yang memutuskan, apakah itu baik atau tidak.”
                “Aku tidak tahu. Aku hanya tidak suka perubahan ini.”
                “Suka atau tidak, kamu toh harus menghadapinya.”
                “Rasanya seperti tersesat.”
                “Kamu selalu tahu di mana pintu keluarnya.”
                “Temani aku.”
                “Selalu.”
                Kyo bangkit untuk berpakaian, ia hanya menggunakan jaketnya untuk menghadapi derasnya hujan. Kasumi mengikutinya.
    Ia sudah tahu kemana Kyo akan pergi.

                Ayo kita ambil payung bening itu sekarang. Sudah terlalu lama dia menunggu.


[to be continued]

No comments:

Post a Comment