Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 6/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: Agustus 2013
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 6/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: Agustus 2013
“Kyo-kun, sudah
saatnya kau merelakan Kasumi...”
“Aku... belum
bisa, Shin. Berat sekali.”
“Kau hanya belum
ingin melupakannya,” tutur Shinya lembut.
Seratus hari sudah
Kasumi pergi. Shinya menggunakan hari liburnya untuk mengunjungi Kyo. Ia ingin
menemani Kyo sesering yang ia bisa. Ketika ia tiba, Kyo memang terlihat
baik-baik saja, namun Shinya tahu kesepian tengah menggerogoti jiwanya dari
dalam dan membuatnya rapuh. Dan Kyo menutupnya rapat dengan penampilan yang
seolah ia tak pernah mengalami hal yang mengerikan.
“Aku paham
keinginanmu, tapi aku sudah memilih. Kau ingin aku terus melanjutkan hidup
normalku seperti keinginan Kasumi sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya,
dan inilah yang kulakukan. Hidup normal seperti biasanya, seperti saat ada
Kasumi.”
“Tapi kau tidak
menghilangkan kenangan tentang Kasumi.”
“Karena dalam
kehidupan normalku, Kasumi adalah bagian dari keseharianku, Shin. Sulit sekali
melepaskan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan.”
Kyo menghembuskan
asap rokoknya sambil menatap sungai di luar jendela. Matahari sore memantul di
permukaan sungai yang mengalir tenang.
Shinya sudah tidak
tahu harus berbuat apa lagi. Mungkin jika Kyo melakukannya secara tidak sadar,
Shinya masih bisa menyadarkannya. Tapi Kyo tahu betul apa yang dilakukannya.
Apa lagi yang bisa ia lakukan?
“Psikiater?”
“Ya, Shin. Bagaimana
kalau kita bawa Kyo ke psikiater? Kurasa jiwanya terguncang hebat akibat kehilangan
Kasumi..” tutur Toshiya. pada akhirnya Toshiya tahu bahwa Shinya sudah tahu
perihal Kyo yang selalu menggunakan Kasumi sebagai alasan untuk menolak ajakan
pergi.
“Tapi kurasa itu
akan menyakiti hati Kyo karena ia pikir kita menganggap dia sudah gila. Kau
tahu, hampir sebagian besar orang berpikir bahwa orang yang membutuhkan
psikiater adalah orang yang hampir kehilangan kewarasannya meskipun aku tahu
bahwa pandangan itu keliru.”
“Tapi hanya itu
satu-satunya cara.”
“Begitukah?”
Shinya meragu. Ia ingin sekali membantu Kyo, tapi ia kurang setuju dengan saran
Toshiya. Dengan teman terdekatnya saja Kyo jarang mengeluh, apalagi ini. Sama
saja dengan menunjukkan luka bernanah pada orang yang tak kau kenal, memalukan,
sekalipun ada kemungkinan orang asing itu memiliki obat untuk menyembuhkannya.
“Kurasa, lebih
baik kita lihat perkembangan Kyo dulu. Aku tidak ingin Kyo merasa terbebani
dengan gagasan ini.”
Shinya berada
dalam posisi sulit. Ia paham Toshiya, Die dan Kaoru ingin membantu agar Kyo
dapat lepas dari kenangan tentang Kasumi dapat melanjutkan hidup tanpa Kasumi,
sama seperti dirinya. Akan tetapi, ia tahu betul Kyo bukan tipe orang yang
dapat dipaksa melakukan hal yang tidak ia inginkan. Dan jika ia sudah
memutuskan untuk melakukan sesuatu, ia akan terus melakukannya hingga merasa
cukup dan akan berhenti jika ia menginginkannya, bukan karena orang lain. Ia
tidak bisa memaksa Kyo untuk berhenti hidup dalam kenangannya dengan Kasumi.
Shinya menghela
nafas berat. Sebagai sahabat, tentu ia menginginkan apapun yang terbaik untuk
Kyo. Jika hidup dalam kenangan Kasumi merupakan satu-satu jalan Kyo untuk dapat
terus menjalani kehidupan normalnya, Shinya sudah pasti mendukungnya. Tapi kita
tidak bisa terus menerus hidup dalam keadaan seperti itu bukan?
Shinya benar-benar
khawatir.
*
Satu tahun sudah
berlalu sejak kematian Kasumi. Tidak ada yang berubah. Kyo tetap menganggap
Kasumi masih tinggal bersamanya. Die, Kaoru dan Toshiya, meskipun tidak
sesering dulu, masih tetap mengajaknya minum-minum sepulang kerja atau menonton
dvd di kamar Kaoru. Setiap kali menolak, alasan Kyo tetap sama; ia ingin pulang
sebelum Kasumi pulang. Ketiga temannya itu sudah tahu dan paham meskipun
sesekali mereka tetap memaksa Kyo untuk ikut. Jika Kyo ikut, Kyo seperti biasa
akan melontarkan komentar-komentar jenaka yang memancing tawa pendengarnya.
Suasana terasa lebih menyenangkan jika Kyo ikut. Namun, Kyo lebih memilih untuk
tinggal bersama kenangannya.
Shinya berusaha sesering
mungkin mengunjungi Kyo. Menemaninya disela kesibukannya. Kyo sangat menghargai
usaha yang dilakukan Shinya untuk menghiburnya, tapi ia tetap belum bisa lepas
dari kenangan tentang Kasumi yang begitu kuat.
Shinya tidak pernah membicarakan masalah
gagasan Toshiya pada Kyo karena ia yakin betul Kyo tidak akan mau. Selama
setahun ini, yang Shinya bisa lakukan hanyalah menemani Kyo sesering yang ia
bisa atau meminta Toshiya, Die atau Kaoru untuk menemaninya. Toshiya sendiri
juga tidak berani menyarankan Kyo langsung untuk ke psikiater. Mereka bertiga
lebih memilih untuk tetap bungkam dan bersikap tidak tahu menahu mengenai
kematian Kasumi. Lebih baik Kyo tidak tahu jika mereka tahu sehingga
ajakan-ajakan main mereka terasa lebih natural dan Kyo tidak perlu merasa bahwa
ia tengah dikasihani sekalipun mereka bertiga tidak ada niat untuk mengasihani
Kyo. Mereka hanya ingin Kyo menjalani kehidupan yang normal.
Malam itu hujan
turun. Kyo menatap butir-butir air yang menempel pada kaca pintu gesernya.
Kamarnya terbias cahaya dari televisi yang volumenya dimatikan. Kasumi turut
memandang butiran air hujan sambil tiduran dipangkuan Kyo. Mereka diam,
menikmati suara air hujan yang tengah memerciki wajah sungai. Kasumi menutup
matanya.
“Kamu tahu?
Seharusnya aku benci hujan.”
“Kenapa?”
“Karena kita
berpisah saat hujan.”
“Kita tidak pernah
berpisah.”
“Kyo...”
“Kamu ada. Selalu
ada.”
“Eksistensiku
hanya serupa hantu. Aku hidup namun tidak nyata karena aku hanya hidup di dalam
kenanganmu.”
“Itu sudah cukup.”
“Itu tidak sehat.”
“Aku tidak peduli.
Bagiku, kamu ada, dan itu cukup.”
“Kyo, kamu tidak
bisa terus-terusan seperti ini. Kamu punya kehidupan yang harus kamu jalani. Kenapa
kamu tidak mau membuka diri pada orang lain?”
“Ayolah, Kasumi.
Kita sudah hidup bersama selama 10 tahun dan kamu masih belum paham?”
“Tapi kamu bisa
mempercayaiku.”
“Karena kamu mau
dan bisa memahamiku. Tidak banyak orang yang mau dan bisa memahami orang yang
sulit sepertiku.”
“Kamu tidak akan
pernah tahu diluar sana masih ada yang mau peduli padamu jika kamu tidak
mencoba.”
“Aku tidak mau
mengambil resiko dengan sakit hati atau yang lebih parah, kehilangan lagi.
Tidak. Kehilanganmu sudah sangat berat.”
Kasumi bangkit
dari posisinya. Ia menatap mata Kyo.
“Kamu terlalu
menutup diri.”
“Aku hanya
melindungi diriku sendiri dengan satu-satunya cara yang aku tahu.”
“Resiko ada untuk
dihadapi, bukan dihindari.”
“Dan aku memilih
resiko yang lain. Yang lebih sanggup untuk kujalani.”
Kyo mengalihkan
pandangannya dari Kasumi. menatap rintik hujan yang tersinari lampu jalan,
membentuk tirai tipis.
“Aku selalu ingat
kata-katamu ketika kamu terbangun di rumah sakit pagi itu.”
“Bahwa aku akan
pulang bersama denganmu.”
“Kamu memang
pulang, tapi tidak ke kamar ini dan tanpa aku.”
“Kamu harap apa?
Itu sudah kehendak-Nya.”
“Dan aku selalu
yakin kamu akan kembali.”
“Padahal kamu tahu
aku tidak akan pernah pulang secara utuh.”
Keduanya diam.
Membiarkan kembali suara hujan menghancurkan keheningan yang mereka bangun. Kyo
jengah.
“Aku tidak suka.”
“Semua berubah.
Kamu yang memutuskan, apakah itu baik atau tidak.”
“Aku tidak tahu.
Aku hanya tidak suka perubahan ini.”
“Suka atau tidak,
kamu toh harus menghadapinya.”
“Rasanya seperti
tersesat.”
“Kamu selalu tahu
di mana pintu keluarnya.”
“Temani aku.”
“Selalu.”
Kyo bangkit untuk
berpakaian, ia hanya menggunakan jaketnya untuk menghadapi derasnya hujan.
Kasumi mengikutinya.
Ia sudah tahu kemana Kyo akan pergi.
Ayo kita ambil payung bening itu sekarang.
Sudah terlalu lama dia menunggu.
[to be continued]
No comments:
Post a Comment