Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 5/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 5/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013
Satu bulan berlalu sejak Die, Kaoru dan Toshiya mengetahui keadaan Kyo
yang sebenarnya. Selama itu, Shinya masih belum bisa mengunjungi Kyo lagi.
Menurut Toshiya, Shinya memang tengah sibuk dengan pekerjaannya sebagai guru
Taman Kanak-kanak.
Meskipun mereka
tidak terlalu dekat, tapi Die, Kaoru dan Toshiya berusaha menghibur Kyo dengan
segala cara yang mereka bisa lakukan. Mereka tidak ingin mengasihani Kyo karena
tentu saja itu akan menyakiti hati Kyo. Mereka hanya ingin Kyo tetap menjalani
hidupnya secara ‘normal’.
Ya, normal tanpa
harus dihantui oleh kenangan Kasumi lagi. Bukannya mereka ingin Kyo melupakan
Kasumi, akan tetapi Kyo sudah melewati batas sehingga ia tak lagi bisa
membedakan lagi antara realitas dan kenangan selalu hadir. Bukan hantu yang
menghantuinya, melainkan kenangan yang enggan dilupakan.
“Sudah satu bulan
kita berusaha menghiburnya. Sudah hampir tiga bulan Kasumi meninggal, sedangkan
dia belum ingin menjejak pada realitas! Apa lagi yang harus kita lakukan agar
ia kembali menapak pada kenyataan?” keluh Toshiya. Ia masih bungkam pada Shinya
mengenai tingkah laku Kyo karena tak ingin membuat temannya itu semakin
khawatir.
Die mengangkat
bahunya, “entahlah, aku sendiri juga bingung. Aku tahu kehilangan itu memang
suatu hal yang tidak menyenangkan, tapi apakah harus sampai seperti itu?”
“Pikirkan lah,
Die. Yang pergi itu orang yang paling kau cintai, tempatmu bergantung. Apa
jadinya jika kehadirannya tak lagi ada? Bisa kubayangkan betapa hancurnya Kyo
di dalam sana,” komentar Kaoru.
“Aku tidak tahu
apakah itu hebat atau tidak, tapi Kyo pandai sekali menyembunyikan
perasaannya,” Toshiya setengah bergidik.
“Aku rasa, dia
tidak menyembunyikan apa-apa. Dia hanya menganggap Kasumi masih hidup, dan seolah-olah
tidak pernah terjadi apa-apa,” kata Kaoru pelan.
Shinya sebetulnya
khawatir sekali dengan Kyo. Sebagai sahabat sejak kecil, Shinya benar-benar
memahami Kyo meskipun Kyo seorang yang tertutup. Shinya teringat dulu sekali,
masa-masa ketika mereka harus berpisah karena Shinya melanjutkan studinya ke
Osaka, sedangkan Kyo tetap di Kyoto. Terpisah selama 4 tahun, tapi komunikasi
diantara mereka terjalin dengan baik. Sesekali Kyo mengunjungi Shinya di Osaka.
Suatu waktu, Kyo
datang ke Osaka bersama dengan seorang wanita.
“Kenalkan, namanya Kasumi.”
Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan kurus.
Wajahnya bulat dengan mata sipit yang memancarkan keramahan. Kasumi tersenyum
pada Shinya. Cantik. Kyo bilang, mereka sudah saling mengenal sejak Kyo baru
masuk kuliah. Tapi selama ini, Kyo tidak pernah bercerita apapun mengenai
wanita itu sampai kemudian Kyo membawanya ke Osaka untuk dikenalkan langsung
pada Shinya. Tidak masalah, selama Kyo bahagia.
Sewaktu Shinya
pergi ke Osaka, Kyo sudah tinggal dengan neneknya. Kedua orang tuanya sudah
meninggal. Dan pada tahun pertama Kyo kuliah, Shinya mendapat kabar bahwa nenek
Kyo meninggal. Mungkin karena itu, secara tidak langsung, Kyo menjadi
bergantung pada Kasumi.
Shinya sendiri
baru tahu bahwa Kasumi juga hidup sendiri. Ia sudah tidak pernah menemui kedua
orang tuanya lagi sejak memutuskan untuk pergi dari rumah. Kedua orang tuanya
pun tidak bersusah payah untuk memintanya kembali, sibuk dengan kehidupan
mereka masing-masing.
Kedua orang yang
sama-sama hidup sendiri. Merasa saling membutuhkan hingga akhirnya mereka
memutuskan untuk hidup bersama. Shinya bersyukur, paling tidak, ada yang
menjaga Kyo.
Ketika Shinya
mendengar berita kecelakaan itu dari Kyo, ia sendiri menolak untuk percaya.
Shinya segera berkemas menuju Tokyo. Menuju rumah sakit tempat Kyo dan Kasumi
dirawat. Shinya bisa melihat dari mata Kyo, ia hancur perlahan. Melihat Kasumi
yang terbaring tak sadarkan diri dihadapannya. Malam ketika Kasumi meninggal, Kyo
duduk disisi tempat tidurnya. Membiarkan wajah Kasumi tak tertutup kain. Ia
memandangi Kasumi terus. Shinya memintanya untuk pulang dan mengurus upacara
pemakamannya, tapi Kyo marah. Dia bersikeras Kasumi hanya sedang tidur dan akan
pulang. Ketika upacara pemakaman berlangsung, Kyo tetap tinggal di kamarnya.
Menunggu Kasumi.
Ketika Shinya bisa
menemui Kyo kembali dua bulan setelah kematian Kasumi, Shinya tahu Kyo masih
belum merelakan kepergiannya. Kyo masih terjebak dalam kesehariannya yang tak
pernah lepas dari Kasumi. Shinya berusaha menyadarkan Kyo, tapi sesungguhnya
usahanya tidak terlalu berhasil. Karena Kyo melakukan semuanya dalam keadaan
sadar.
Shinya bergidik.
Kyo melakukan semua itu bukan semata-mata karena tidak sadar, tapi ia justru
melakukannya dengan kesadaran penuh. Berusaha menghadirkan kembali sosok
Kasumi. Berbicara seolah-olah Kasumi benar-benar berada di sana. Padahal
percakapan itu hanya terjadi di dalam kepalanya. Ia hanya berbicara dengan
dirinya sendiri.
Apa rasanya
memiliki dua kubu yang bertentangan di dalam pikiranmu? Itulah yang seringkali
Kyo hadapi. Biasanya, Kasumi akan membantunya. Tapi kali ini Kasumi tidak ada
untuk membantunya. Ia harus melakukan semuanya sendiri.
Ia menerka-nerka,
inikah pendapat yang akan Kasumi kemukakan? Atau yang seperti itu? Atau mungkin
Kasumi akan memberi masukan baru? Hidup bersama dengan Kasumi selama 10 tahun
membuat Kyo hapal semua tingkah lakunya. Dan ia berusaha menghadirkan itu
kembali, semampunya.
Ia tahu Kasumi sudah
tiada, tapi sebagian dari dirinya bersikeras bahwa Kasumi pasti akan kembali,
dan semua yang sudah terjadi itu tidak nyata. Menyangkal tidak ada gunanya.
Kasumi memang sudah meninggal. Kesepian dan kehilangan membuatnya gila. Sebagian
dari dirinya ingin segera menyusul Kasumi, tapi bagian dirinya yang lain
memaksanya untuk terus hidup. Mungkin itu adalah salah satu keinginan Kasumi
yang menetap dalam dirinya, seperti kutukan yang tersegel di dalam dirinya,
tanpa bisa ia hapus dan hampir gila Kyo dibuatnya.
Shinya tidak salah
untuk memintanya kembali pada realitas. Tidak. Ia sadar betul dirinya sedang
hidup di dalam realitas, tapi di satu sisi ia juga tidak bisa menyalahkan
tindakannya, meskipun bukan berarti ia mendapatkan pembenaran atas tindakannya.
Ia sudah memilih untuk hidup bersama kenangan Kasumi, dan inilah
konsekuensinya. Bangun setiap pukul 4 pagi dengan peluh disekujur tubuhnya.
Siksaan berupa mimpi buruk yang tak seperti mimpi. Seperti kembali ke hari-hari
indah yang ia habiskan bersama Kasumi dan berakhir dengan melihat Kasumi yang
tergeletak tak berdaya dengan mata terpejam dan darah yang mengalir dari hidung
dan sudut mulutnya.
Tidak ada yang
bisa Kyo lakukan. Kyo tidak bisa meminta pada dewa untuk menghidupkan Kasumi
kembali. Kyo tidak percaya akan hantu. Kyo hanya ingin Kasumi hadir disisinya,
utuh. Tapi itu kini merupakan hal yang mustahil.
Kini ia hanya
dapat menunggu saatnya kembali hidup bersama dengan Kasumi. Kapanpun itu. Jika
saatnya tiba, ia pasti akan segera pergi, meskipun itu harus mengotori
tangannya sendiri.
Aku memang berharap kamu kembali meskipun
itu tidak mungkin, apakah aku mulai gila? Mungkin saja. Payung bening yang kita
cari itu, sampai kapan ia menunggu kita kembali berteduh dibawahnya?
[to be continued]
No comments:
Post a Comment