Tuesday, August 6, 2013

[FANFIC] Plastic Umbrella 5

Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 5/
7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013


Satu bulan berlalu sejak Die, Kaoru dan Toshiya mengetahui keadaan Kyo yang sebenarnya. Selama itu, Shinya masih belum bisa mengunjungi Kyo lagi. Menurut Toshiya, Shinya memang tengah sibuk dengan pekerjaannya sebagai guru Taman Kanak-kanak.
               Meskipun mereka tidak terlalu dekat, tapi Die, Kaoru dan Toshiya berusaha menghibur Kyo dengan segala cara yang mereka bisa lakukan. Mereka tidak ingin mengasihani Kyo karena tentu saja itu akan menyakiti hati Kyo. Mereka hanya ingin Kyo tetap menjalani hidupnya secara ‘normal’.
                Ya, normal tanpa harus dihantui oleh kenangan Kasumi lagi. Bukannya mereka ingin Kyo melupakan Kasumi, akan tetapi Kyo sudah melewati batas sehingga ia tak lagi bisa membedakan lagi antara realitas dan kenangan selalu hadir. Bukan hantu yang menghantuinya, melainkan kenangan yang enggan dilupakan.
                “Sudah satu bulan kita berusaha menghiburnya. Sudah hampir tiga bulan Kasumi meninggal, sedangkan dia belum ingin menjejak pada realitas! Apa lagi yang harus kita lakukan agar ia kembali menapak pada kenyataan?” keluh Toshiya. Ia masih bungkam pada Shinya mengenai tingkah laku Kyo karena tak ingin membuat temannya itu semakin khawatir.
                Die mengangkat bahunya, “entahlah, aku sendiri juga bingung. Aku tahu kehilangan itu memang suatu hal yang tidak menyenangkan, tapi apakah harus sampai seperti itu?”
                “Pikirkan lah, Die. Yang pergi itu orang yang paling kau cintai, tempatmu bergantung. Apa jadinya jika kehadirannya tak lagi ada? Bisa kubayangkan betapa hancurnya Kyo di dalam sana,” komentar Kaoru.
                “Aku tidak tahu apakah itu hebat atau tidak, tapi Kyo pandai sekali menyembunyikan perasaannya,” Toshiya setengah bergidik.
                “Aku rasa, dia tidak menyembunyikan apa-apa. Dia hanya menganggap Kasumi masih hidup, dan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa,” kata Kaoru pelan.



                Shinya sebetulnya khawatir sekali dengan Kyo. Sebagai sahabat sejak kecil, Shinya benar-benar memahami Kyo meskipun Kyo seorang yang tertutup. Shinya teringat dulu sekali, masa-masa ketika mereka harus berpisah karena Shinya melanjutkan studinya ke Osaka, sedangkan Kyo tetap di Kyoto. Terpisah selama 4 tahun, tapi komunikasi diantara mereka terjalin dengan baik. Sesekali Kyo mengunjungi Shinya di Osaka.
                Suatu waktu, Kyo datang ke Osaka bersama dengan seorang wanita.
                “Kenalkan, namanya Kasumi.”
Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan kurus. Wajahnya bulat dengan mata sipit yang memancarkan keramahan. Kasumi tersenyum pada Shinya. Cantik. Kyo bilang, mereka sudah saling mengenal sejak Kyo baru masuk kuliah. Tapi selama ini, Kyo tidak pernah bercerita apapun mengenai wanita itu sampai kemudian Kyo membawanya ke Osaka untuk dikenalkan langsung pada Shinya. Tidak masalah, selama Kyo bahagia.
                Sewaktu Shinya pergi ke Osaka, Kyo sudah tinggal dengan neneknya. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dan pada tahun pertama Kyo kuliah, Shinya mendapat kabar bahwa nenek Kyo meninggal. Mungkin karena itu, secara tidak langsung, Kyo menjadi bergantung pada Kasumi.
                Shinya sendiri baru tahu bahwa Kasumi juga hidup sendiri. Ia sudah tidak pernah menemui kedua orang tuanya lagi sejak memutuskan untuk pergi dari rumah. Kedua orang tuanya pun tidak bersusah payah untuk memintanya kembali, sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing.
                Kedua orang yang sama-sama hidup sendiri. Merasa saling membutuhkan hingga akhirnya mereka memutuskan untuk hidup bersama. Shinya bersyukur, paling tidak, ada yang menjaga Kyo.
                Ketika Shinya mendengar berita kecelakaan itu dari Kyo, ia sendiri menolak untuk percaya. Shinya segera berkemas menuju Tokyo. Menuju rumah sakit tempat Kyo dan Kasumi dirawat. Shinya bisa melihat dari mata Kyo, ia hancur perlahan. Melihat Kasumi yang terbaring tak sadarkan diri dihadapannya. Malam ketika Kasumi meninggal, Kyo duduk disisi tempat tidurnya. Membiarkan wajah Kasumi tak tertutup kain. Ia memandangi Kasumi terus. Shinya memintanya untuk pulang dan mengurus upacara pemakamannya, tapi Kyo marah. Dia bersikeras Kasumi hanya sedang tidur dan akan pulang. Ketika upacara pemakaman berlangsung, Kyo tetap tinggal di kamarnya. Menunggu Kasumi.
                Ketika Shinya bisa menemui Kyo kembali dua bulan setelah kematian Kasumi, Shinya tahu Kyo masih belum merelakan kepergiannya. Kyo masih terjebak dalam kesehariannya yang tak pernah lepas dari Kasumi. Shinya berusaha menyadarkan Kyo, tapi sesungguhnya usahanya tidak terlalu berhasil. Karena Kyo melakukan semuanya dalam keadaan sadar.
                Shinya bergidik. Kyo melakukan semua itu bukan semata-mata karena tidak sadar, tapi ia justru melakukannya dengan kesadaran penuh. Berusaha menghadirkan kembali sosok Kasumi. Berbicara seolah-olah Kasumi benar-benar berada di sana. Padahal percakapan itu hanya terjadi di dalam kepalanya. Ia hanya berbicara dengan dirinya sendiri.



                Apa rasanya memiliki dua kubu yang bertentangan di dalam pikiranmu? Itulah yang seringkali Kyo hadapi. Biasanya, Kasumi akan membantunya. Tapi kali ini Kasumi tidak ada untuk membantunya. Ia harus melakukan semuanya sendiri.
                Ia menerka-nerka, inikah pendapat yang akan Kasumi kemukakan? Atau yang seperti itu? Atau mungkin Kasumi akan memberi masukan baru? Hidup bersama dengan Kasumi selama 10 tahun membuat Kyo hapal semua tingkah lakunya. Dan ia berusaha menghadirkan itu kembali, semampunya.
                Ia tahu Kasumi sudah tiada, tapi sebagian dari dirinya bersikeras bahwa Kasumi pasti akan kembali, dan semua yang sudah terjadi itu tidak nyata. Menyangkal tidak ada gunanya. Kasumi memang sudah meninggal. Kesepian dan kehilangan membuatnya gila. Sebagian dari dirinya ingin segera menyusul Kasumi, tapi bagian dirinya yang lain memaksanya untuk terus hidup. Mungkin itu adalah salah satu keinginan Kasumi yang menetap dalam dirinya, seperti kutukan yang tersegel di dalam dirinya, tanpa bisa ia hapus dan hampir gila Kyo dibuatnya.
                Shinya tidak salah untuk memintanya kembali pada realitas. Tidak. Ia sadar betul dirinya sedang hidup di dalam realitas, tapi di satu sisi ia juga tidak bisa menyalahkan tindakannya, meskipun bukan berarti ia mendapatkan pembenaran atas tindakannya. Ia sudah memilih untuk hidup bersama kenangan Kasumi, dan inilah konsekuensinya. Bangun setiap pukul 4 pagi dengan peluh disekujur tubuhnya. Siksaan berupa mimpi buruk yang tak seperti mimpi. Seperti kembali ke hari-hari indah yang ia habiskan bersama Kasumi dan berakhir dengan melihat Kasumi yang tergeletak tak berdaya dengan mata terpejam dan darah yang mengalir dari hidung dan sudut mulutnya.
                Tidak ada yang bisa Kyo lakukan. Kyo tidak bisa meminta pada dewa untuk menghidupkan Kasumi kembali. Kyo tidak percaya akan hantu. Kyo hanya ingin Kasumi hadir disisinya, utuh. Tapi itu kini merupakan hal yang mustahil.
                Kini ia hanya dapat menunggu saatnya kembali hidup bersama dengan Kasumi. Kapanpun itu. Jika saatnya tiba, ia pasti akan segera pergi, meskipun itu harus mengotori tangannya sendiri.
                Aku memang berharap kamu kembali meskipun itu tidak mungkin, apakah aku mulai gila? Mungkin saja. Payung bening yang kita cari itu, sampai kapan ia menunggu kita kembali berteduh dibawahnya?

[to be continued]

No comments:

Post a Comment