Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 3/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 3/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013
Die sedang menunggu Kaoru di sebuah kedai kopi sore itu. Ada sesuatu
yang harus mereka bicarakan, dan hal itu tidak bisa dibicarakan di kamar Die
maupun kamar Kaoru, meskipun kamar Kaoru berada di lantai bawah apartemen yang
Die tinggali. Riskan sekali.
Tidak lama
kemudian, pintu kedai kopi kecil itu terbuka. Die menoleh, syukurlah Kaoru yang
datang, bersama Toshiya. Kaoru mendatangi meja tempat Die duduk, lalu duduk
dihadapannya. Toshiya mengambil tempat di antara keduanya.
“Jadi? Apa yang
ingin kau bicarakan?”
“Kenapa kau ajak
dia?” Die melirik ke arah Toshiya.
“Aku ada perlu
dengannya tadi, jadi kuajak saja sekalian. Ada apa?” Kaoru tak berbasa-basi.
“Oh,” jawab Die
singkat dengan ekspresi jahil.
“Ayolah, Die. Ada
apa sebenarnya?”
Die diam sejenak,
menatap kedua pria itu dengan wajah tak yakin. “Aku ingin bicara tentang...”
Die menghentikan ucapannya. Seorang pelayan mendatangi meja mereka, menanyakan
pesanan. Setelah selesai mencatat pesanan, pelayan itu berlalu.
“Tentang apa?”
kali ini Toshiya yang penasaran.
“.....tentang
Kyo.”
“Kyo? Ada apa
dengannya?” Kaoru mengernyit keheranan.
“Kau tahu? Sudah sejak
beberapa minggu yang lalu aku sering mendengar suara-suara dari kamarnya. Bukan
Cuma aku, tapi Gara pun terkadang mendengarnya.”
“Lalu dimana letak
keanehannya? Siapa tahu ia sedang nonton tv kan?” giliran Toshiya mengernyitkan
dahinya.
“Awalnya aku pun
berpikir demikian. Tapi suatu kali, karena aku penasaran, aku mencoba mencuri
dengar dari pintu kamarnya. Aku tahu itu tindakan yang kurang ajar dan tidak
sopan, karena aku merasa suara itu aneh.”
“Lalu?” kali ini
Kaoru mulai penasaran. Meskipun mereka tinggal satu apartemen, Kaoru tidak
terlalu tahu kehidupan mereka yang tinggal di lantai atas, khususnya Kyo. Padahal
mereka satu tempat kerja, namun Kyo sangat tertutup. Dia bukan tipe orang yang
suka bicara dan lebih senang menyendiri. Tipikal orang aneh yang seringkali
dijauhi oleh orang yang tidak benar-benar mengenalnya.
Kaoru sendiri baru
benar-benar mengenal Kyo saat Die mengajaknya ikut minum-minum sepulang kerja.
Saat itupun Kyo tak banyak bicara, tapi sekalinya bicara, Kyo suka melucu.
Itulah sebabnya Kyo jadi sering diajak ikut. Dipaksa ikut lebih tepatnya. Kyo
sebenarnya orang yang menyenangkan, hanya saja ia terlalu diam. Tipe orang yang
baru berbicara jika ditanya atau ketika melihat atau mendengar suatu hal yang
unik, baru ia akan bersuara. Mengeluarkan komentarnya dengan gaya jenaka yang
tak dibuat-buat. Namun seringkali Kyo pamit duluan. Dia sering bilang, wanita
yang tinggal bersamanya tidak suka mendapati kamar yang kosong saat ia pulang.
Jadi Kyo harus pulang lebih awal sebelum wanita itu pulang.
“Aku tahu betul
itu suara Kyo. Ia seperti bicara dengan seseorang. Tapi aku tidak bisa
mendengar suara lawan bicaranya...”
“Ahahahaha! Die!
Kau habis nonton film apa sih? Bisa saja ia sedang bicara dengan seseorang
lewat telepon, bukan?” Toshiya tertawa geli mendengar cerita Die yang
dianggapnya konyol.
“Kyo tinggal
dengan seorang wanita, seingatku,” Kaoru akhirnya buka suara.
“Iya, aku tahu.
Wanita itu bernama Kasumi. Aku sempat beberapa kali berpapasan dengannya di
koridor. Tapi sudah hampir dua bulan ini aku tidak melihatnya. Pernah sekali
kutanya pada Kyo, apakah ia masih tinggal bersama Kasumi. Masih, katanya. Tapi
aku tidak pernah melihatnya lagi.”
“Ayolah, Die.
Hanya karena kau tidak pernah melihatnya lagi, bukan berarti ia tidak tinggal
lagi disana, bukan?”
“Tapi kenapa aku
tak mendengar suara Kasumi? Hanya suara Kyo yang kudengar. Gara juga begitu.
Dia hanya mendengar suara Kyo, tanpa lawan bicaranya,” Die bersikeras.
“Mungkin suaranya
kecil sekali. Ayolah, Die. ini seperti bukan dirimu saja,” Kaoru berusaha
menyudahi pembicaraan yang baginya tak ada keanehan sama sekali.
“Entahlah...
Mungkin memang aku yang terlalu perasa.”
Tapi Die yakin
sekali memang ada hal yang aneh.
Dua hari setelah
Die memintanya bertemu di kedai kopi, Kaoru yang baru pulang dari mini market
selihat seorang pemuda berparas manis yang belum pernah ia lihat turun dari
tangga apartemen. Pemuda itu berambut ikal pirang dengan poni menutupi sebelah
matanya. Ketika mata mereka bertemu, pemuda itu menganggukkan kepalanya. Kaoru
balas mengangguk.
“Habis menemui
saudara?” tanya Kaoru.
“Oh, aku habis
menemui teman lamaku yang tinggal di kamar yang berada di ujung koridor,” jawab
pemuda itu dengan suaranya yang pelan.
“Oh, kau temannya
Kyo?”
“Iya, namaku
Shinya. Terima kasih sudah menjaga temanku,” pemuda itu membungkukkan badannya.
“Eh, tak perlu
begitu. Aku Kaoru,” Kaoru merasa sikap Shinya begitu formal.
“Tidak apa-apa.
Karena Kyo sedang dalam masa sulit sekarang ini,” lanjut pemuda itu.
“Masa sulit?”
“Ya. Kehilangan
orang yang dicintai tentu berat bukan?”
“Ah, ya. Tentu
saja,” apakah Kyo baru saja kehilangan salah satu anggota keluarganya? pikir
Kaoru. Kyo benar-benar tertutup, tidak ada yang tahu apa yang sedang ia
pikirkan atau rasakan.
“Terlebih lagi
untuk orang yang sudah tak memiliki kerabat lagi. Tolong jaga Kyo, ya. Karena
aku belum bisa sering-sering mengunjunginya. Untung sekali kali ini aku bisa
ambil cuti untuk menemuinya. Aku permisi dulu, lain waktu kuusahakan datang
lagi,” sebelum Kaoru dapat mencerna kalimatnya, Shinya sudah pamit.
Kaoru diam cukup
lama sampai akhirnya ia merasa kakinya pegal karena terlalu lama berdiri. Ada
yang aneh dari kata-kata seseorang bernama Shinya itu. Sulit bagi Kaoru untuk
memahami kalimatnya apalagi suara Shinya begitu pelan dan kecil.
Awalnya, saat
mendengar suara Shinya, Kaoru pikir, dia lah yang Die bicarakan dua hari lalu.
Seorang lawan bicara yang suaranya tak terdengar. Atau nyaris tak terdengar,
begitu pendapat Koru waktu itu. Tapi barusan, jika Kaoru tidak salah dengar,
dia bilang Shinya tak bisa sering datang berkunjung. Sudah pasti itu bukan
Shinya.
Bukankah masih ada
Kasumi? Aneh bukan jika mereka tinggal sekamar tapi tidak bercakap-cakap? Tapi
suara Kasumi tidak sepelan itu. Memang Kaoru sudah lama tidak bertemu lagi
dengan Kasumi. Kaoru pikir, mungkin memang Kasumi pulang larut. Lagipula, Kyo
pernah bilang, Kasumi tidak suka pulang dengan keadaan kamar kosong, jadi bisa
saja ia pulang lebih dulu daripada Kaoru yang jam kerjanya sama dengan Kyo
sehingga mereka tidak pernah bertatap muka lagi.
Semakin Kaoru pikirkan,
semakin ia merasakan kejanggalan. Benar kata Die. Ada yang aneh.
Kyo merebahkan
tubuh lelahnya disamping Kasumi yang sedang duduk menonton acara lawak di tv
dengan volume kecil. Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Seperti
biasa, Kasumi membiarkan kamar itu berpenerangan remang dari tv dan cahaya
lampu jalan yang jauh di seberang sungai. Tidak apa-apa, Kyo tidak keberatan.
Kasumi tertawa.
Suara tawa Kasumi begitu khas sampai-sampai Kyo turut tersenyum hanya karena
mendengar suara tawanya. Setiap minggu, Kasumi tidak pernah melewatkan acara
lawak itu. ia suka tertawa, ia suka lelucon. Dan Kyo sering berlelucon untuk
membuatnya tertawa, untuk mendengar suara tawanya yang khas.
“Jangan terlalu
serius, Kyo. Sini, ikut nonton denganku,” Kasumi menarik tangan Kyo.
“Aku selalu
berpikir, apakah ini benar?”
Kasumi menghela
nafasnya, “tidak ada benar dan salah, bukan? Konsekuensi, resiko, atau apapun
namanya, ada untuk dijalani. Bukan untuk dinilai kebenaran atau kesalahannya.
Berhentilah menakar benar atau salah, Kyo.”
“Kamu paham, bukan
itu maksudku.”
Kasumi diam. Ia
mengarahkan tubuhnya kearah Kyo, manatapnya. “Kyo, ini adalah kenyataan, dan
kamu tinggal didalamnya.”
“Kalau begitu, aku
ingin mengajakmu tinggal disana juga.”
“Jangan bercanda.”
“Aku serius,
Kasumi.”
“Kamu tahu betul-“
Tok!Tok! Tok!
Kalimat Kasumi
terpotong oleh suara ketukan di pintu. Kyo bangkit menuju pintu, mengintip. Ia
melihat Die berdiri di depan pintu kamarnya. Membawa sesuatu di tangannya.
Kyo membuka pintu
kamarnya, “oh, Die. Ada apa?”
“Ah, maaf
mengganggu malam-malam. Ini, aku mau mengembalikan dvd yang beberapa waktu lalu
kupinjam. Kupikir, sudah saatnya kukembalikan,” Die menyerahkan beberapa buah
keping dvd pada Kyo.
“Terima kasih.
Padahal kau bisa mengembalikannya kapan saja, “ Kyo mengambil dvd itu dari
tangan Die.
“Aku hanya merasa
tidak enak sudah meminjamnya terlalu lama, Kyo. Baiklah, sampai besok, ya,” Die
menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju kamarnya.
Kyo menutup pintu
kamarnya. Kasumi sedang duduk menghadap balkon, melamun menatap langit malam
yang kemerahan.
“Kamu tahu?
Mungkin Shinya benar.”
“Apa?”
“Mungkin kamu
harus lebih sering bertemu dengan teman-temanmu. Tidak baik terus menerus
mengurung diri.”
“Aku tidak mau.”
“Paling tidak,
seminggu sekali.”
“Aku sudah sering
bertemu dengan mereka, di tempat kerjaku.”
“Kamu tahu bukan
itu yang kumaksud.”
“Kamu bilang, kamu
benci sendirian.”
“Memang. Dan
masih. Tapi aku tidak mau membawamu.”
“Kenapa?”
“Karena belum
saatnya...” Kasumi memutar tubuhnya, menghadap Kyo. Air mata mengalir di
pipinya yang pucat.
“Maaf...” Kyo
meraih wanita itu kedalam pelukannya.
“Aku tidak
membenci realitas, aku hanya tidak suka kamu yang belum bisa beradaptasi dengan
kehidupanmu yang sekarang.”
“Karena sulit
sekali. Seandainya kamu yang jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?”
Kasumi
menggelengkan kepalanya, “entahlah...”
“Kalau begitu,
paling tidak, biarkan aku hidup dalam kenanganku, bersama denganmu.”
Die mengetuk pintu
kamar Kaoru dengan tak sabar. Ia bisa mendengar suara langkah Kaoru yang
terburu-buru dari dalam kamarnya. Wajahnya terlihat sebal ketika melihat Die
yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Tidak bisa sabar
sedikit, ya?” gerutu Kaoru.
Die menyerbu masuk
ke dalam kamar Kaoru.
“Hey, ada apa?!”
Die menutup pintu
kamar Kaoru, lalu berbalik menghadap Kaoru. “Aku baru dari kamar Kyo.”
“Ya? Lalu?”
“Beberapa saat
sebelum aku mengetuk pintu kamarnya, aku sempat berdiri di depan pintu kamarnya.
Lagi-lagi aku mendengar suara bercakap-cakap dari dalam sana.”
“Jangan
bertele-tele, Die,” Kaoru mulai tidak sabar.
“Aku mendengar Kyo
menyebut nama Kasumi. Kupikir, Kasumi memang berada di dalam. Saat itu, kuketuk
pintu kamarnya. Ketika Kyo membuka pintu kamarnya, aku sempat melirik sekilas
ke dalam kamarnya. Dan kau tahu? Kamar itu kosong, Kao! Kosong! Kyo sedang
sendirian!”
“Mungkin Kasumi
sedang ke kamar mandi.”
“Tapi tidak dalam
waktu sesingkat itu, Kao.”
Tiba-tiba Kaoru
teringat pembicaraannya dengan Shinya.
“Die, aku baru
ingat, kemarin aku bertemu dengan seseorang yang mengaku teman lama Kyo. Dia
bilang namanya Shinya. Seingatku, Shinya bicara tentang kehilangan seseorang
yang dicintai. Sepertinya Kyo sedang berduka. Kupikir Kyo baru kehilangan salah
satu anggota keluarganya. Tapi kalimat lanjutan Shinya terasa janggal bagiku.”
“Apa katanya?”
“Dia bilang, Kyo
sudah tidak memiliki kerabat lagi.”
Dari air muka Die,
jelas sekali ia seperti menyadari sesuatu. “Kaoru. Apakah mungkin... apakah
mungkin Kasumi sudah...” Die menelan ludahnya sebelum melanjutkan kata-katanya,
“...meninggal?”
[to be continued]
No comments:
Post a Comment