Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 4/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 4/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013
Toshiya sedang bermalas-malasan menonton tv ketika didengarnya telepon
genggamnya berbunyi. Dengan malas, ia meraih ponselnya. Ketika dilihatnya
caller id yang muncul dilayar ponselnya, matanya langsung membulat. Ia segera
menggeser panel hijau pada layarnya.
“Halo!”
Toshiya begitu
senang menerima telepon itu. meskipun percakapan itu hanya berlangsung tidak
lebih dari lima menit karena sepertinya si penelepon lebih ingin bercakap-cakap
langsung dengan Toshiya.
“Baik, pukul enam
sore ini, ya? Oke, kutunggu di depan stasiun. Aku tahu kedai oden yang enak di
dekat stasiun. Sampai nanti, Shin!” Toshiya menutup teleponnya dengan riang. Ia
segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap menemui si penelepon yang ia sapa
“Shin.”
Toshiya dapat
melihat stasiun yang kini hanya berjarak beberapa meter saja. Ia mempercepat
langkahnya. Matanya menyapu muka stasiun, mencari seraut wajah yang berusaha ia
ingat akibat nyaris terkikis waktu. Syukurlah wajah itu belum sepenuhnya hilang
dari ingatannya dan pada kenyataannya, nyaris tidak ada yang berubah pada wajah
itu.
“Shinya!”
Yang dipanggil
menoleh ke arah suara. Dilihatnya teman masa kuliahnya berlari kecil sambil
melambaikan tangan ke arahnya. Shinya balas melambaikan tangannya sambil tersenyum.
“Maaf terlambat.
Sudah lama menunggu?”
“Aku juga baru
sampai, kok. Totchi tidak berubah sama sekali, ya.”
“Shin-chan juga.
Ayo, kita segera ke kedai oden langgananku. Kamu pasti suka.”
Shinya manut, ia
berjalan disamping Toshiya. Temannya yang satu ini memang tidak berubah sama
sekali. Sifat kekanakkannya pun belum hilang.
“Tumben sekali
kamu kemari. Apakah ada sesuatu?”
“Iya. Aku baru
saja menemui teman semasa kecilku. Dia sedang terkena musibah. Karena saat ini
aku adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya, aku merasa harus
menemaninya. Jadi aku memutuskan untuk mengambil cuti agar bisa menemaninya
walau hanya sebentar.”
“Shin-chan tidak
berubah, ya. Baik sekali.”
“Ah, bukan begitu.
Aku hanya merasa pasti sulit sekali kehilangan orang yang benar-benar dicintai.
Kita tidak bisa membiarkan orang yang sebetulnya membutuhkan bantuan kita,
bukan? Sekalipun dari luar, orang tersebut terlihat tegar, namun orang yang
seperti itu justru orang yang paling rapuh.”
“Benar juga, sih.
Eh, ini dia kedainya. Ayo.”
Kedai oden itu
kecil dan sedang tidak begitu ramai. Hanya ada dua-tiga orang yang sedang
menikmati oden mereka. Toshiya dan Shinya mengambil tempat disisi lain gerobak.
“Oh, Toshiya-kun.
Sudah lama tidak mampir,” sapa paman pemilik kedai itu.
“Yo, paman. Oden dua, ya.”
“Yosh!”
Sambil menunggu
pesanan, Toshiya menuangkan air pada gelas dan menyorongkannya pada Shinya.
Shinya menggumamkan terima kasih.
“Silahkan
oden-nya,” paman pemlik kedai meletakkan dua mangkuk oden panas di hadapan
mereka.
“Terima kasih,
paman. Selamat makan.”
Shinya mengambil
tahu goreng lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, “enak.”
“Benar kaan?”
Toshiya tersenyum senang.
“Um.
Ngomong-ngomong, sekarang apa pekerjaanmu?”
“Karyawan biasa di
F Company. Kau, Shin?”
“Aku sekarang mengajar
di TK dekat rumahku. Eh? F Company?”
“Yah. Ada apa?”
“Tidak apa.
Temanku itu juga bekerja di sana.”
“Eh? Benarkah?
Siapa namanya?”
“Ng.. entahlah kau
mengenalnya atau tidak, karena ia tipe orang yang kurang suka bergaul dan
pendiam.”
“Katakan saja,
mungkin aku tahu,” desak Toshiya.
“Ng... Namanya
Kyo.”
“Kyo?!”
“Iya. Apakah
Totchi mengenalnya?”
“Apakah ia
bertubuh kecil dengan wajah murung?”
“Hmm bisa dibilang
demikian.”
“Iya, aku tahu.
Dia sering diajak Die dan Kaoru bergabung minum-minum sepulang kerja. Ia lebih
sering ikut karena terpaksa, sih. Hahahaha.”
“Begitu, ya?”
“Yaa. Padahal ia
cukup menyenangkan, loh. Ia suka melontarkan komentar-komentar lucu. Tapi
sayangnya ia seringkali pulang lebih awal karena ia bilang pacarnya tidak suka
mendapati kamar dalam keadaan kosong ketika pulang. Padahal ia satu apartemen
dengan Kaoru dan Die juga.”
“Oh, Kaoru. Aku
sempat bertemu dengannya tadi sehabis menemani Kyo. Aku memintanya untuk
menjaga Kyo karena sekarang Kyo sedang berduka.”
“Eh? Berduka?”
“Iya. Totchi tidak
tahu? Kasumi sudah meninggal hampir dua bulan yang lalu. Apakah Kyo tidak
bilang apa-apa?”
Toshiya betulan
terkejut mendengarnya, “tidak. Kyo tidak bilang apa-apa. Sungguh aku tidak
tahu.”
“Begitukah?
Upacara pemakamannya sepi sekali. Kyo sendiri menolak datang. Hanya ada aku dan
beberapa temen Kasumi. Kasumi sendiri memang sudah tidak memiliki keluarga
lagi, kawannya pun sedikit. Ia hanya bergantung pada Kyo. Mereka saling
bergantung karena kondisi yang serupa, sama-sama tidak memiliki kerabat.”
Toshiya hanya diam
mendengar penjelasan Shinya. Masih segar dalam ingatannya, empat hari yang
lalu, ketika mereka sedang minum-minum sepulang kerja, Kyo lagi-lagi pamit
duluan. Alasannya karena Kasumi sudah akan pulang. Begitupun hari-hari
sebelumnya, selama dua bulan ini. Bulu kuduknya meremang.
“Kyo sengaja tidak
membuang barang-barang Kasumi alih-alih tetap menyimpannya. Sudah seringkali
kubilang untuk tetap melanjutkan hidupnya tanpa Kasumi. Ia memang melanjutkan
hidupnya, tapi ia terjebak di dalam kenangannya dengan Kasumi.”
“Shin-chan,
bagaimana Kasumi meninggal?”
“Ia meninggal
karena kecelakaan lalu lintas. Hari itu hujan. Mereka pulang bersama. Ketika
hendak menyeberang jalan, sebuah mobil kehilangan kendali atas mobilnya dan
menabrak Kasumi. Kyo terserempet namun lukanya tidak terlalu parah dibandingkan
luka yang dialami Kasumi karena saat itu Kasumi tertabrak langsung oleh mobil
itu hingga akhirnya mobil itu menabrak pembatas jalan dengan benturan yang
keras. Kyo, Kasumi dan pengemudi mobil itu segera dilarikan ke rumah sakit.
Pengemudi mobil itu meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit. Kyo sendiri
siuman malam itu. Ia sempat menunggui Kasumi yang belum siuman. Ia sudah
diperbolehkan pulang, hanya saja ia bersikeras untuk menemani Kasumi. Kasumi
sendiri sempat siuman pada keesokan paginya, tapi sayangnya malam harinya
Kasumi meninggal.”
Toshiya ingat. Kyo
sempat tidak masuk kerja selama tiga hari. Die dan Kaoru pun tidak tahu menahu.
Die bilang, ia sempat bertemu dengan Kyo sekali waktu itu di hari ketiga ia tak
masuk kerja. Ketika ditanya, Kyo hanya menjawab bahwa ia sedang kurang enak
badan. Die percaya.
“Totchi, jika kau
benar mengenal Kyo, kumohon, jaga dia untukku, ya? Aku ingin menemaninya, tapi
aku belum bisa meninggalkan pekerjaanku.”
“Te-tentu saja,
Shin-chan. Tenang saja,” Toshiya berusaha tersenyum. Ia belum sanggup
menceritakan kebiasaan Kyo yang belum hilang jika ia hendak pamit pulang duluan
sehabis minum-minum atau pergi dengan Die, Kaoru dan dirinya pada Shinya. Bisa
ia bayangkan betapa khawatirnya Shinya jika ia tahu.
Hari itu mereka
pergi ke bar yang sama sepulang kerja. Tanpa Kyo yang kali ini berhasil
menghindar dari paksaan mereka bertiga. Mereka bertiga hanya diam sambil
sesekali menyesap sake. Tidak tahan dengan suasana yang aneh itu, akhirnya
Toshiya mulai buka suara.
“Tadi... apa
alasan Kyo untuk tidak ikut?”
Die menoleh, “kau
tahu, seperti biasa.... Kasumi...”
Toshiya menghela
nafasnya. Kaoru heran, “apa kau tahu sesuatu?”
Toshiya tahu ia
harus membicarakan ini dengan kedua temannya. Apalagi mereka tinggal satu
apartemen dengan Kyo.
“Kalian tahu?
Kasumi sebetulnya... sudah meninggal.”
Die menepukkan
tangan ke dahinya, “sudah kuduga...” gumamnya.
“Apa maksudmu,
Die? Kau sudah tahu?”
“Begini, Totchi,
beberapa hari yang lalu, Die mendatangi kamarku. Dia bilang, dia habis dari
kamar Kyo. Sebelum ia mengetuk pintu kamar Kyo, ia lagi-lagi mendengar
suara-suara aneh yang waktu itu ia ceritakan pada kita. Namun ketika pintu
kamar itu dibuka, ia tidak melihat siapapun selain Kyo.”
“Itu kan bisa saja
dia menerima telepon dari seseorang, kan?”
“Dan kau belum
mendengar ceritaku. Sebelumnya, aku bertemu dengan seseorang bernama Shinya-“
“Itu temanku
semasa kuliah,” potong Toshiya, “ia teman masa kecil Kyo, dia juga yang
menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.”
“Yah. Dia bilang
dia teman lama Kyo. Dia memintaku untuk menjaga Kyo karena ia sedang berada
dalam masa sulit, kehilangan seseorang yang dicintai. Dan Shinya menambahkan
bahwa ia tidak lagi memiliki kerabat. Kita semua tahu bahwa Kyo tinggal dengan
Kasumi. Secara otomatis, Kasumi lah orang terdekat dengan Kyo. Siapa lagi yang
dekat dengan Kyo disini? Bahkan kita pun tidak sedekat itu dengannya. Shinya,
sekalipun ia teman lama, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk menjadi
tempat bergantung bagi Kyo. Terlebih lagi Shinya bilang orang yang dicintai,
sudah pasti untuk Kyo yang tidak lagi memiliki kerabat, itu adalah Kasumi.”
“Kaoru awalnya
tidak begitu percaya. Tapi kau dengar sendiri kan, Kao? Shinya adalah teman
masa kecil sekaligus teman Toshiya semasa kuliah. Shinya yang bilang bahwa
Kasumi sudah meninggal. Jadi itu tidak mungkin bohong,” kata Die.
“Coba ceritakan
pada kami apa yang Shinya ceritakan, Totchi,” pinta Kaoru. Maka Toshiya
menceritakan semuanya. Dari awal, hingga akhir tanpa ada bagian yang terlewat.
Kaoru dan Die mendengarkan dengan serius. Mereka bisa merasakan bulu kuduk
mereka meremang di balik kemeja mereka.
Lagi-lagi dihantui
mimpi buruk. Atau mungkin itu memang bukan mimpi. Pukul 4 pagi, dengan nafas
terengah-engah Kyo terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi sekujur
tubuhnya.
“Kyo.”
“Mimpi yang sama.
Atau aku memang tidak bermimpi?”
“Tenangkan
dirimu.”
“Kembalilah.”
“Tidurlah
kembali.”
“Jangan pergi.’
Kepalanya terasa
sakit.
“Aaarrrgh!”
Ia tidak bisa
menghentikan pikirannya sendiri yang menunjukkan gambaran-gambaran yang pernah
terekam matanya.
Kilatan cahaya.
Langit dan gedung yang berputar dalam hujan. Tubuh kurus Kasumi yang tergeletak
di aspal yang keras dan basah. Rintikan hujan yang membasahi tubuh Kasumi.
Genangan darah yang melebar dan bercampur dengan hujan disekelilingnya. Wajah
pucat Kasumi dengan mata terpejam, dan ada darah di sudut bibir dan hidungnya.
Rumah sakit. Profil Kasumi yang pucat dan lemah. Kasumi yang menutup mata dan
tak pernah lagi membuka matanya lagi.
Rasa pusing itu
menurunkan tingkat kesadarannya. Dalam sisa-sisa kesadarannya, ia bisa melihat
wajah khawatir Kasumi disisinya. Kyo tersenyum.
Apakah sudah saatnya, Kasumi? Payung bening
itu ada dimana? Ayo kita ambil.
Dilihatnya Kasumi
menutup matanya lalu menggelengkan kepalanya. Pandangannya menggelap. Ia masih
bisa merasakan bibir Kasumi mengecup matanya yang kini terpejam sebelum
kesadarannya benar-benar hilang.
[to be continued]
Payung bening? Kamu mau mokat ya Kyo? IYA KAN?! *jambak kerah bajunya
ReplyDeletekyo: aku hanya ingin bersama dengan Kasumi.. *memandang sungai dengan tatapan sendu*
ReplyDelete