Tuesday, July 30, 2013

[FANFIC] Plastic Umbrella 4

Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 4/
7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013


Toshiya sedang bermalas-malasan menonton tv ketika didengarnya telepon genggamnya berbunyi. Dengan malas, ia meraih ponselnya. Ketika dilihatnya caller id yang muncul dilayar ponselnya, matanya langsung membulat. Ia segera menggeser panel hijau pada layarnya.
                “Halo!”
         Toshiya begitu senang menerima telepon itu. meskipun percakapan itu hanya berlangsung tidak lebih dari lima menit karena sepertinya si penelepon lebih ingin bercakap-cakap langsung dengan Toshiya.
                “Baik, pukul enam sore ini, ya? Oke, kutunggu di depan stasiun. Aku tahu kedai oden yang enak di dekat stasiun. Sampai nanti, Shin!” Toshiya menutup teleponnya dengan riang. Ia segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap menemui si penelepon yang ia sapa “Shin.”



                Toshiya dapat melihat stasiun yang kini hanya berjarak beberapa meter saja. Ia mempercepat langkahnya. Matanya menyapu muka stasiun, mencari seraut wajah yang berusaha ia ingat akibat nyaris terkikis waktu. Syukurlah wajah itu belum sepenuhnya hilang dari ingatannya dan pada kenyataannya, nyaris tidak ada yang berubah pada wajah itu.
                “Shinya!”
                Yang dipanggil menoleh ke arah suara. Dilihatnya teman masa kuliahnya berlari kecil sambil melambaikan tangan ke arahnya. Shinya balas melambaikan tangannya sambil tersenyum.
                “Maaf terlambat. Sudah lama menunggu?”
                “Aku juga baru sampai, kok. Totchi tidak berubah sama sekali, ya.”
                “Shin-chan juga. Ayo, kita segera ke kedai oden langgananku. Kamu pasti suka.”
                Shinya manut, ia berjalan disamping Toshiya. Temannya yang satu ini memang tidak berubah sama sekali. Sifat kekanakkannya pun belum hilang.
                “Tumben sekali kamu kemari. Apakah ada sesuatu?”
            “Iya. Aku baru saja menemui teman semasa kecilku. Dia sedang terkena musibah. Karena saat ini aku adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya, aku merasa harus menemaninya. Jadi aku memutuskan untuk mengambil cuti agar bisa menemaninya walau hanya sebentar.”
                “Shin-chan tidak berubah, ya. Baik sekali.”
         “Ah, bukan begitu. Aku hanya merasa pasti sulit sekali kehilangan orang yang benar-benar dicintai. Kita tidak bisa membiarkan orang yang sebetulnya membutuhkan bantuan kita, bukan? Sekalipun dari luar, orang tersebut terlihat tegar, namun orang yang seperti itu justru orang yang paling rapuh.”
                “Benar juga, sih. Eh, ini dia kedainya. Ayo.”
                Kedai oden itu kecil dan sedang tidak begitu ramai. Hanya ada dua-tiga orang yang sedang menikmati oden mereka. Toshiya dan Shinya mengambil tempat disisi lain gerobak.
                “Oh, Toshiya-kun. Sudah lama tidak mampir,” sapa paman pemilik kedai itu.
   “Yo, paman. Oden dua, ya.”
                “Yosh!”
           Sambil menunggu pesanan, Toshiya menuangkan air pada gelas dan menyorongkannya pada Shinya. Shinya menggumamkan terima kasih.
           “Silahkan oden-nya,” paman pemlik kedai meletakkan dua mangkuk oden panas di hadapan mereka.
                “Terima kasih, paman. Selamat makan.”
                Shinya mengambil tahu goreng lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, “enak.”
                “Benar kaan?” Toshiya tersenyum senang.
                “Um. Ngomong-ngomong, sekarang apa pekerjaanmu?”
                “Karyawan biasa di F Company. Kau, Shin?”
                “Aku sekarang mengajar di TK dekat rumahku. Eh? F Company?”
                “Yah. Ada apa?”
                “Tidak apa. Temanku itu juga bekerja di sana.”
                “Eh? Benarkah? Siapa namanya?”
                “Ng.. entahlah kau mengenalnya atau tidak, karena ia tipe orang yang kurang suka bergaul dan pendiam.”
                “Katakan saja, mungkin aku tahu,” desak Toshiya.
                “Ng... Namanya Kyo.”
                “Kyo?!”
                “Iya. Apakah Totchi mengenalnya?”
                “Apakah ia bertubuh kecil dengan wajah murung?”
                “Hmm bisa dibilang demikian.”
                “Iya, aku tahu. Dia sering diajak Die dan Kaoru bergabung minum-minum sepulang kerja. Ia lebih sering ikut karena terpaksa, sih. Hahahaha.”
                “Begitu, ya?”
                “Yaa. Padahal ia cukup menyenangkan, loh. Ia suka melontarkan komentar-komentar lucu. Tapi sayangnya ia seringkali pulang lebih awal karena ia bilang pacarnya tidak suka mendapati kamar dalam keadaan kosong ketika pulang. Padahal ia satu apartemen dengan Kaoru dan Die juga.” 
          “Oh, Kaoru. Aku sempat bertemu dengannya tadi sehabis menemani Kyo. Aku memintanya untuk menjaga Kyo karena sekarang Kyo sedang berduka.”
                “Eh? Berduka?”
                “Iya. Totchi tidak tahu? Kasumi sudah meninggal hampir dua bulan yang lalu. Apakah Kyo tidak bilang apa-apa?”
                Toshiya betulan terkejut mendengarnya, “tidak. Kyo tidak bilang apa-apa. Sungguh aku tidak tahu.”
                “Begitukah? Upacara pemakamannya sepi sekali. Kyo sendiri menolak datang. Hanya ada aku dan beberapa temen Kasumi. Kasumi sendiri memang sudah tidak memiliki keluarga lagi, kawannya pun sedikit. Ia hanya bergantung pada Kyo. Mereka saling bergantung karena kondisi yang serupa, sama-sama tidak memiliki kerabat.”
                Toshiya hanya diam mendengar penjelasan Shinya. Masih segar dalam ingatannya, empat hari yang lalu, ketika mereka sedang minum-minum sepulang kerja, Kyo lagi-lagi pamit duluan. Alasannya karena Kasumi sudah akan pulang. Begitupun hari-hari sebelumnya, selama dua bulan ini. Bulu kuduknya meremang.
                “Kyo sengaja tidak membuang barang-barang Kasumi alih-alih tetap menyimpannya. Sudah seringkali kubilang untuk tetap melanjutkan hidupnya tanpa Kasumi. Ia memang melanjutkan hidupnya, tapi ia terjebak di dalam kenangannya dengan Kasumi.”
                “Shin-chan, bagaimana Kasumi meninggal?”
                “Ia meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Hari itu hujan. Mereka pulang bersama. Ketika hendak menyeberang jalan, sebuah mobil kehilangan kendali atas mobilnya dan menabrak Kasumi. Kyo terserempet namun lukanya tidak terlalu parah dibandingkan luka yang dialami Kasumi karena saat itu Kasumi tertabrak langsung oleh mobil itu hingga akhirnya mobil itu menabrak pembatas jalan dengan benturan yang keras. Kyo, Kasumi dan pengemudi mobil itu segera dilarikan ke rumah sakit. Pengemudi mobil itu meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit. Kyo sendiri siuman malam itu. Ia sempat menunggui Kasumi yang belum siuman. Ia sudah diperbolehkan pulang, hanya saja ia bersikeras untuk menemani Kasumi. Kasumi sendiri sempat siuman pada keesokan paginya, tapi sayangnya malam harinya Kasumi meninggal.”
                Toshiya ingat. Kyo sempat tidak masuk kerja selama tiga hari. Die dan Kaoru pun tidak tahu menahu. Die bilang, ia sempat bertemu dengan Kyo sekali waktu itu di hari ketiga ia tak masuk kerja. Ketika ditanya, Kyo hanya menjawab bahwa ia sedang kurang enak badan. Die percaya. 
       “Totchi, jika kau benar mengenal Kyo, kumohon, jaga dia untukku, ya? Aku ingin menemaninya, tapi aku belum bisa meninggalkan pekerjaanku.”
             “Te-tentu saja, Shin-chan. Tenang saja,” Toshiya berusaha tersenyum. Ia belum sanggup menceritakan kebiasaan Kyo yang belum hilang jika ia hendak pamit pulang duluan sehabis minum-minum atau pergi dengan Die, Kaoru dan dirinya pada Shinya. Bisa ia bayangkan betapa khawatirnya Shinya jika ia tahu.



             Hari itu mereka pergi ke bar yang sama sepulang kerja. Tanpa Kyo yang kali ini berhasil menghindar dari paksaan mereka bertiga. Mereka bertiga hanya diam sambil sesekali menyesap sake. Tidak tahan dengan suasana yang aneh itu, akhirnya Toshiya mulai buka suara.
                “Tadi... apa alasan Kyo untuk tidak ikut?”
                Die menoleh, “kau tahu, seperti biasa.... Kasumi...”
                Toshiya menghela nafasnya. Kaoru heran, “apa kau tahu sesuatu?”
          Toshiya tahu ia harus membicarakan ini dengan kedua temannya. Apalagi mereka tinggal satu apartemen dengan Kyo.
                “Kalian tahu? Kasumi sebetulnya... sudah meninggal.”
                Die menepukkan tangan ke dahinya, “sudah kuduga...” gumamnya.
                “Apa maksudmu, Die? Kau sudah tahu?”
            “Begini, Totchi, beberapa hari yang lalu, Die mendatangi kamarku. Dia bilang, dia habis dari kamar Kyo. Sebelum ia mengetuk pintu kamar Kyo, ia lagi-lagi mendengar suara-suara aneh yang waktu itu ia ceritakan pada kita. Namun ketika pintu kamar itu dibuka, ia tidak melihat siapapun selain Kyo.”
                “Itu kan bisa saja dia menerima telepon dari seseorang, kan?”
                “Dan kau belum mendengar ceritaku. Sebelumnya, aku bertemu dengan seseorang bernama Shinya-“
                “Itu temanku semasa kuliah,” potong Toshiya, “ia teman masa kecil Kyo, dia juga yang menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.”
                “Yah. Dia bilang dia teman lama Kyo. Dia memintaku untuk menjaga Kyo karena ia sedang berada dalam masa sulit, kehilangan seseorang yang dicintai. Dan Shinya menambahkan bahwa ia tidak lagi memiliki kerabat. Kita semua tahu bahwa Kyo tinggal dengan Kasumi. Secara otomatis, Kasumi lah orang terdekat dengan Kyo. Siapa lagi yang dekat dengan Kyo disini? Bahkan kita pun tidak sedekat itu dengannya. Shinya, sekalipun ia teman lama, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk menjadi tempat bergantung bagi Kyo. Terlebih lagi Shinya bilang orang yang dicintai, sudah pasti untuk Kyo yang tidak lagi memiliki kerabat, itu adalah Kasumi.”
                “Kaoru awalnya tidak begitu percaya. Tapi kau dengar sendiri kan, Kao? Shinya adalah teman masa kecil sekaligus teman Toshiya semasa kuliah. Shinya yang bilang bahwa Kasumi sudah meninggal. Jadi itu tidak mungkin bohong,” kata Die.
                “Coba ceritakan pada kami apa yang Shinya ceritakan, Totchi,” pinta Kaoru. Maka Toshiya menceritakan semuanya. Dari awal, hingga akhir tanpa ada bagian yang terlewat. Kaoru dan Die mendengarkan dengan serius. Mereka bisa merasakan bulu kuduk mereka meremang di balik kemeja mereka.



                Lagi-lagi dihantui mimpi buruk. Atau mungkin itu memang bukan mimpi. Pukul 4 pagi, dengan nafas terengah-engah Kyo terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
                “Kyo.”
                “Mimpi yang sama. Atau aku memang tidak bermimpi?”
                “Tenangkan dirimu.”
                “Kembalilah.”
                “Tidurlah kembali.”
                “Jangan pergi.’
                Kepalanya terasa sakit.
                “Aaarrrgh!”
               Ia tidak bisa menghentikan pikirannya sendiri yang menunjukkan gambaran-gambaran yang pernah terekam matanya.
            Kilatan cahaya. Langit dan gedung yang berputar dalam hujan. Tubuh kurus Kasumi yang tergeletak di aspal yang keras dan basah. Rintikan hujan yang membasahi tubuh Kasumi. Genangan darah yang melebar dan bercampur dengan hujan disekelilingnya. Wajah pucat Kasumi dengan mata terpejam, dan ada darah di sudut bibir dan hidungnya. Rumah sakit. Profil Kasumi yang pucat dan lemah. Kasumi yang menutup mata dan tak pernah lagi membuka matanya lagi.
                Rasa pusing itu menurunkan tingkat kesadarannya. Dalam sisa-sisa kesadarannya, ia bisa melihat wajah khawatir Kasumi disisinya. Kyo tersenyum.
                 
                 Apakah sudah saatnya, Kasumi? Payung bening itu ada dimana? Ayo kita ambil.
               
           Dilihatnya Kasumi menutup matanya lalu menggelengkan kepalanya. Pandangannya menggelap. Ia masih bisa merasakan bibir Kasumi mengecup matanya yang kini terpejam sebelum kesadarannya benar-benar hilang.



[to be continued]

2 comments:

  1. Payung bening? Kamu mau mokat ya Kyo? IYA KAN?! *jambak kerah bajunya

    ReplyDelete
  2. kyo: aku hanya ingin bersama dengan Kasumi.. *memandang sungai dengan tatapan sendu*

    ReplyDelete