Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 2/on going
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 2/on going
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013
Kyo terbangun karena merasa kedinginan. ia tertidur dengan pakaian
lengkap. Semalam, sepulang kerja, ia tak sempat membersihkan dirinya dan jatuh
tertidur begitu saja ketika memandangi aliran sungai yang berada di belakang
kamar apartemennya. Yah, ia memang merasa sangat kelelahan, wajar saja ia jadi
begitu mudah tertidur.
Ia melirik jam
tangannya. Pukul 4 pagi. Pantas saja terasa dingin. Sekalipun musim semi sudah
akan berakhir, udara dini hari masih terasa dingin. Kyo menutup pintu geser
balkon, lalu memandang kesekeliling ruangan yang remang. Ia teringat tentang
percakapannya dengan Kasumi.
Rasanya
seperti mimpi, tapi begitu nyata. Pasti karena aku terlalu lelah, hal kecil
yang biasa kulakukan justru menjadi seperti tidak nyata.
Kyo membaringkan
tubuhnya kembali di atas bagian tatami sambil melepas dasi dan kemeja kerjanya
yang semalaman terpasang. Ia mendengar langkah ringan Kasumi yang berasal dari
arah toilet.
“Maaf,
jendelanya...”
“Tidak apa-apa,”
Kyo memotong kalimat Kasumi dengan cepat. “Seharusnya kututup sebelum aku
tidur.”
Kasumi berjalan
kearah Kyo dengan langkah ringan, lalu berlutut disisinya. Tanpa banyak bicara,
ia membantu melepas kancing kemeja Kyo.
“Terima kasih.”
“Seperti biasanya,
bukan?” Kasumi tersenyum. Kyo ikut tersenyum.
Ya,
seperti biasanya, tidak pernah berubah. Tidak akan pernah berubah.
Kyo menarik Kasumi kedalam dekapannya. Kasumi
bisa mendengar suara detak jantung Kyo. Ia memejamkan matanya, kesedihan
merambati hatinya. Syukurlah Kyo tidak bisa melihat air mukanya.
Kasumi menarik dirinya, “bangunlah. Jangan kembali
tidur karena kau bisa terlambat lagi. Aku juga akan bersiap-siap,” Kasumi
bangkit menuju kamar mandi. Kyo tetap berbaring, setengah mendongak, menatap
sosok Kasumi sampai wanita itu hilang dari pandangannya.
Satu lagi hari yang melelahkan. Satu lagi
hari membosankan yang harus ia lalui. Sampai kapan?
Kyo bangkit. Diambilnya sampah yang
berserakan, dibuangnya sampah itu ke tempat sampah yang terletak di dapur.
Ia bisa mendengar suara desau angin di luar.
Mungkin memang belum saatnya.
*
“Hey Kyo, malam ini mau ikut?” Toshiya
menepuk punggungnya.
Kyo menoleh dengan gerakan malas, memandangi
Toshiya yang memberinya gesture seolah sedang
memegang cangkir sake, “bar yang biasa? Bosan.”
“Ayolah Kyo, semakin ramai, semakin
menyenangkan, bukan?” bujuk Toshiya yang cukup keras kepala.
“Lain waktu saja, oke?”
“Tidak, aku tidak menerima penolakan kali
ini, Kyo. Kau harus ikut,” memang sulit sekali untuk menolak jika Toshiya yang
meminta, karena biasanya terkandung unsur paksaan dalam bujukannya.
“Die dan Kaoru yang menyuruhmu?”
“Iya, tapi aku pribadi juga ingin kau ikut. Ayolah,
Kyo. Sampai kapan kau mau-“
“Hei, Kyo! Toshiya! Ayo kita segera
berangkat,” Die memanggil mereka, memotong kalimat Toshiya.
“Ayo, Kyo. Mereka sudah menunggu,” Toshiya
mengedikan kepalanya kearah Die dan Kaoru.
Akhirnya Kyo terpaksa harus mengalah hari
itu. Diturutinya ajakan teman-teman baiknya meskipun tak cukup paham kenapa sebulan belakangan ini
mereka sering sekali memaksanya untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan mereka.
Entah itu ajakan minum-minum sepulang kerja, ajakan menonton dvd bersama-sama
yang biasanya disponsori oleh Kaoru meskipun film yang ditonton merupakan
koleksi film horor favorit Kyo, sampai ajakan menonton konser-konser band indie
yang sedang naik daun. Kyo seringkali menolak ajakan itu, namun lebih sering ia
turut serta karena tentu saja teman-temannya memaksanya untuk ikut. Padahal
mereka tahu Kyo lebih senang berada di apartemennya, bersama dengan Kasumi.
Di dalam bar yang ramai, Kyo lebih banyak
diam. Ia mengamati sekitarnya. Hingar sekelilingnya membuatnya jengah. Baru
tegukan sakenya yang ketiga, ia sudah rindu kamarnya.
“Kyo, botol sakemu saja belum habis kau minum
dan kau sudah ingin pulang? Ayolah, kita bahkan belum mulai,” celetuk Kaoru
yang memang gemar minum.
“Kau tahu betul aku tidak suka keramaian, kenapa
kau masih bersikeras mengajakku?” Kyo meneguk sake keempatnya.
“Aku tahu, Kyo. Tapi sekali-sekali kau butuh
penyegaran, bukan?”
“Ya memang. Tapi kalian kan bisa kekamarku
saja. Kita bisa menonton dvd bersama-sama. Aku tidak suka tempat ramai seperti ini.”
“Baiklah, akhir minggu nanti kita nonton dvd,
oke? Dikamarku, seperti biasa. Bagaimana Totchi? Die?”
“Roger!” sahut Totchi sambil mengunyah kacang
kapri.
“Ketuk saja pintu kamarku, nanti aku akan
keluar,” Die menyulut rokoknya.
“Baiklah kalau begitu. Nah, bolehkah aku
pulang sekarang? Botol sakeku sudah kosong rasanya.”
“Kenapa begitu terburu-buru? Ayolah satu
botol lagi,” bujuk Die.
“Tidak bisa. Kasumi pasti sudah pulang. Aku tidak
ingin membuatnya menunggu. Kalian kan tahu sendiri dia tidak suka menunggu
sendirian,” Kyo tersenyum tipis, meminta pemakluman dari teman-temannya.
Ketiga pria yang mendengar ucapan Kyo tanpa
sadar diam dengan ekspresi aneh seperti mereka sudah memahami sesuatu, namun
Toshiya berhasil mengambil alih situasi, “oh ya, baiklah. Hati-hati dijalan,
oke? Sampaikan salam kami untuk Kasumi, ya.”
“Pasti. Terima kasih. Aku duluan, ya. Sampai
besok,” Kyo melambaikan tangannya sekilas sebelum membalikkan badannya.
Ketiga temannya menatap punggung pria kecil
itu hingga menghilang dibalik pintu bar.
“Pasti sulit sekali...” Toshiya membuka suara.
“Yah...” Die menghembuskan asap rokoknya,
“tidak mudah memang...”
Kaoru hanya diam sambil menyesap sakenya.
Ketiga pria itu tenggelam di dalam alam pikiran masing-masing. Berusaha
memahami.
*
Beruntung letak
apartemen Kyo hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari stasiun. Kyo
mempercepat langkahnya. Kasumi tidak suka sendirian di kamar. Ia seringkali
merajuk jika Kyo pulang larut. Kasumi bukan gadis penakut, ia hanya benci
sendirian. Mungkin karena masa lalunya dimana ia diabaikan oleh lingkungannya.
Kyo setengah
berlari menaiki tangga. Kamar-kamar di koridor itu gelap, tidak ada cahaya yng
terlihat dari kisi-kisi bawah pintu. Penghuninya belum ada yang pulang. Tiga
dari tujuh kamar diatas hanya ditempati oleh Die, Gara dan kyo sendiri. Die masih
bersama Kaoru dan Toshiya, sedangkan Gara pun belum pulang. Lampu kamarnya juga
gelap, tapi ia tahu Kasumi ada di dalam. Kasumi seringkali terlalu malas untuk
menghidupkan lampu kamar. Ia membiarkan kamar itu hanya diterangi cahaya dari
televisi dan lampu jalan yang redup dari seberang sungai yang berada di
belakang kamar.
Kyo lekas membuka
pintu, lalu masuk, “aku pulang.”
Televisi menyala
tanpa suara dalam ruangan yang gelap. Menampilkan sebuah acara olahraga. Di
samping meja, Kasumi berbaring telentang, kepalanya miring kearah kiri. Matanya
terpejam. Rambutnya berantakan disisi kepalanya, menutupi separuh wajahnya.
Mulutnya sedikit terbuka, cairan merah gelap membekas disudut mulutnya dan juga
dihidungnya.
“KASUMI!”
Kyo berlari panik
menghampiri Kasumi. Ia mengangkat tubuh wanita muda itu, mengguncang-guncangkan
tubuhnya.
“Kasumi! Kasumi!”
Kasumi membuka
matanya, terkejut. “Kyo! Kamu sudah pulang? Kenapa membangunkanku seperti itu?
Kamu mengejutkanku!”
Kyo tertegun.
Ditatapnya wajah Kasumi, bersih. Tidak ada setitikpun darah disana.
“Kyo? Kamu habis
minum sake? Aku bisa mencium bau sake dari tubuhmu. Berapa botol? Kamu mabuk
ya? Kuambilkan minum ya?” Kasumi hendak berdiri, tapi Kyo menarik tangannya.
Merengkuhnya di dalam pelukannya.
“Jangan pergi...”
“Kyo....?” Kasumi
merasa heran dengan tingkah Kyo yang menurutnya tidak biasa.
“Tolong jangan
tinggalkan aku...”
“A-aku mengerti.
Tapi...”
“Aku hanya minum
satu botol dan aku tahu aku tidak mabuk. Aku serius.”
“Baik, baik.
Maaf....”
Kyo melepaskan
pelukannya, tersenyum pada Kasumi. Dibalasnya senyum Kyo. Amarah yang sempat ia
rasakan karena Kyo membuatnya menunggu telah hilang begitu saja.
“Kuambilkan minum
untukmu, ya,” Kasumi bangkit berdiri menuju dapur untuk mengambilkan segelas
air untuk Kyo. Kyo memandanginya lekat, seolah memastikan bahwa Kasumi tidak
akan pergi jauh.
Kasumi menyodorkan
gelasnya pada Kyo, “minumlah.”
Kyo meminumnya
dalam dua tegukan. Diletakkannya gelas itu di atas meja. “Toshiya, Die dan
Kaoru titip salam untukmu.”
“Oh ya? Wah sudah
lama sekali tidak bertemu dengan mereka, ya,” Kasumi tersenyum jenaka.
"Akhir minggu ini
Kaoru mengajak Toshiya, Die juga aku untuk nonton dvd lagi dikamarnya.”
“Lagi-lagi aku
tidak bisa...”
“Lain kali...”
“Ya... mungkin...”
“Aku tidak ingin
datang.”
“Datanglah. Mereka
ingin menghiburmu.”
“Kenapa?”
Kasumi diam. Ia
menatap Kyo dengan ekspresi aneh. “Datang saja, ya?”
Giliran Kyo yang
diam. Kemudian ia merebahkan kepalanya dipangkuan Kasumi. Kasumi memainkan
rambut Kyo. Ia merasa lebih baik. Jauh lebih baik. Ia ingin pergi, namun ia
juga tidak ingin pergi.
“Baiklah...”
Di depan pintu
kamarnya, Kyo tidak menyadari seseorang tengah berdiri disana. Mendengarkan
suara-suara samar dari dalam sana. Orang itu menggelengkan kepalanya sebelum
beranjak dari tempatnya.
[to be continued]
Si Kasumi ini pasti adalah makhluk yg tidak nyata. Cuman, si Kyo ini terjebak pada halusinasi yg dia sendiri antara sadar dan tidak sadar bahwa sebetulnya si Kasumi itu sudah tiada.
ReplyDeleteLalu Toshiya, Die dan Kaoru sebetulnya tahu bahwa Kasumi itu memang sudah lama tiada, tapi melihat sikap Kyo yg sepertinya terjebak dan entah mampu melihat Kasumi yg tak kasat mata ataupun mereka paham dg watak dan kondisi kejiwaan Kyo seolah bungkam, dan mengiyakan kehadiran Kasumi.
Satu lagi hal yg paling penting, MANA SHINYA?!
spoiler ih xD
Deletetenang, tenang, Shinya bentar lagi muncul xD
Loh TIDAK, AKOH GAK SPOILER!
DeleteIni adalah hasil pengamatanku sebagai reader! xDDD
*pasang kacamata