Monday, July 29, 2013

[FANFIC] Plastic Umbrella 2

Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 2/on going
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013




Kyo terbangun karena merasa kedinginan. ia tertidur dengan pakaian lengkap. Semalam, sepulang kerja, ia tak sempat membersihkan dirinya dan jatuh tertidur begitu saja ketika memandangi aliran sungai yang berada di belakang kamar apartemennya. Yah, ia memang merasa sangat kelelahan, wajar saja ia jadi begitu mudah tertidur.
                Ia melirik jam tangannya. Pukul 4 pagi. Pantas saja terasa dingin. Sekalipun musim semi sudah akan berakhir, udara dini hari masih terasa dingin. Kyo menutup pintu geser balkon, lalu memandang kesekeliling ruangan yang remang. Ia teringat tentang percakapannya dengan Kasumi.
    Rasanya seperti mimpi, tapi begitu nyata. Pasti karena aku terlalu lelah, hal kecil yang biasa kulakukan justru menjadi seperti tidak nyata.
                Kyo membaringkan tubuhnya kembali di atas bagian tatami sambil melepas dasi dan kemeja kerjanya yang semalaman terpasang. Ia mendengar langkah ringan Kasumi yang berasal dari arah toilet.
                “Maaf, jendelanya...”
                “Tidak apa-apa,” Kyo memotong kalimat Kasumi dengan cepat. “Seharusnya kututup sebelum aku tidur.”
           Kasumi berjalan kearah Kyo dengan langkah ringan, lalu berlutut disisinya. Tanpa banyak bicara, ia membantu melepas kancing kemeja Kyo.
                “Terima kasih.”
                “Seperti biasanya, bukan?” Kasumi tersenyum. Kyo ikut tersenyum.
    Ya, seperti biasanya, tidak pernah berubah. Tidak akan pernah berubah.
   Kyo menarik Kasumi kedalam dekapannya. Kasumi bisa mendengar suara detak jantung Kyo. Ia memejamkan matanya, kesedihan merambati hatinya. Syukurlah Kyo tidak bisa melihat air mukanya.
   Kasumi menarik dirinya, “bangunlah. Jangan kembali tidur karena kau bisa terlambat lagi. Aku juga akan bersiap-siap,” Kasumi bangkit menuju kamar mandi. Kyo tetap berbaring, setengah mendongak, menatap sosok Kasumi sampai wanita itu hilang dari pandangannya.
  Satu lagi hari yang melelahkan. Satu lagi hari membosankan yang harus ia lalui. Sampai kapan?
  Kyo bangkit. Diambilnya sampah yang berserakan, dibuangnya sampah itu ke tempat sampah yang terletak di dapur.
  Ia bisa mendengar suara desau angin di luar.
  Mungkin memang belum saatnya.

*

“Hey Kyo, malam ini mau ikut?” Toshiya menepuk punggungnya.
Kyo menoleh dengan gerakan malas, memandangi Toshiya yang memberinya gesture seolah sedang  memegang cangkir sake, “bar yang biasa? Bosan.”
“Ayolah Kyo, semakin ramai, semakin menyenangkan, bukan?” bujuk Toshiya yang cukup keras kepala.
“Lain waktu saja, oke?”
“Tidak, aku tidak menerima penolakan kali ini, Kyo. Kau harus ikut,” memang sulit sekali untuk menolak jika Toshiya yang meminta, karena biasanya terkandung unsur paksaan dalam bujukannya.
“Die dan Kaoru yang menyuruhmu?”
“Iya, tapi aku pribadi juga ingin kau ikut. Ayolah, Kyo. Sampai kapan kau mau-“
“Hei, Kyo! Toshiya! Ayo kita segera berangkat,” Die memanggil mereka, memotong kalimat Toshiya.
“Ayo, Kyo. Mereka sudah menunggu,” Toshiya mengedikan kepalanya kearah Die dan Kaoru.
Akhirnya Kyo terpaksa harus mengalah hari itu. Diturutinya ajakan teman-teman baiknya meskipun tak cukup paham kenapa sebulan belakangan ini mereka sering sekali memaksanya untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan mereka. Entah itu ajakan minum-minum sepulang kerja, ajakan menonton dvd bersama-sama yang biasanya disponsori oleh Kaoru meskipun film yang ditonton merupakan koleksi film horor favorit Kyo, sampai ajakan menonton konser-konser band indie yang sedang naik daun. Kyo seringkali menolak ajakan itu, namun lebih sering ia turut serta karena tentu saja teman-temannya memaksanya untuk ikut. Padahal mereka tahu Kyo lebih senang berada di apartemennya, bersama dengan Kasumi.
Di dalam bar yang ramai, Kyo lebih banyak diam. Ia mengamati sekitarnya. Hingar sekelilingnya membuatnya jengah. Baru tegukan sakenya yang ketiga, ia sudah rindu kamarnya.
“Kyo, botol sakemu saja belum habis kau minum dan kau sudah ingin pulang? Ayolah, kita bahkan belum mulai,” celetuk Kaoru yang memang gemar minum.
“Kau tahu betul aku tidak suka keramaian, kenapa kau masih bersikeras mengajakku?” Kyo meneguk sake keempatnya.
“Aku tahu, Kyo. Tapi sekali-sekali kau butuh penyegaran, bukan?”
“Ya memang. Tapi kalian kan bisa kekamarku saja. Kita bisa menonton dvd bersama-sama. Aku tidak suka tempat ramai seperti ini.”
“Baiklah, akhir minggu nanti kita nonton dvd, oke? Dikamarku, seperti biasa. Bagaimana Totchi? Die?”
“Roger!” sahut Totchi sambil mengunyah kacang kapri.
“Ketuk saja pintu kamarku, nanti aku akan keluar,” Die menyulut rokoknya.
“Baiklah kalau begitu. Nah, bolehkah aku pulang sekarang? Botol sakeku sudah kosong rasanya.”
“Kenapa begitu terburu-buru? Ayolah satu botol lagi,” bujuk Die.
“Tidak bisa. Kasumi pasti sudah pulang. Aku tidak ingin membuatnya menunggu. Kalian kan tahu sendiri dia tidak suka menunggu sendirian,” Kyo tersenyum tipis, meminta pemakluman dari teman-temannya.
Ketiga pria yang mendengar ucapan Kyo tanpa sadar diam dengan ekspresi aneh seperti mereka sudah memahami sesuatu, namun Toshiya berhasil mengambil alih situasi, “oh ya, baiklah. Hati-hati dijalan, oke? Sampaikan salam kami untuk Kasumi, ya.”
“Pasti. Terima kasih. Aku duluan, ya. Sampai besok,” Kyo melambaikan tangannya sekilas sebelum membalikkan badannya.
Ketiga temannya menatap punggung pria kecil itu hingga menghilang dibalik pintu bar.
“Pasti sulit sekali...” Toshiya membuka suara.
“Yah...” Die menghembuskan asap rokoknya, “tidak mudah memang...”
Kaoru hanya diam sambil menyesap sakenya. Ketiga pria itu tenggelam di dalam alam pikiran masing-masing. Berusaha memahami.

*
               
         Beruntung letak apartemen Kyo hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari stasiun. Kyo mempercepat langkahnya. Kasumi tidak suka sendirian di kamar. Ia seringkali merajuk jika Kyo pulang larut. Kasumi bukan gadis penakut, ia hanya benci sendirian. Mungkin karena masa lalunya dimana ia diabaikan oleh lingkungannya.
        Kyo setengah berlari menaiki tangga. Kamar-kamar di koridor itu gelap, tidak ada cahaya yng terlihat dari kisi-kisi bawah pintu. Penghuninya belum ada yang pulang. Tiga dari tujuh kamar diatas hanya ditempati oleh Die, Gara dan kyo sendiri. Die masih bersama Kaoru dan Toshiya, sedangkan Gara pun belum pulang. Lampu kamarnya juga gelap, tapi ia tahu Kasumi ada di dalam. Kasumi seringkali terlalu malas untuk menghidupkan lampu kamar. Ia membiarkan kamar itu hanya diterangi cahaya dari televisi dan lampu jalan yang redup dari seberang sungai yang berada di belakang kamar.
        Kyo lekas membuka pintu, lalu masuk, “aku pulang.”
    Televisi menyala tanpa suara dalam ruangan yang gelap. Menampilkan sebuah acara olahraga. Di samping meja, Kasumi berbaring telentang, kepalanya miring kearah kiri. Matanya terpejam. Rambutnya berantakan disisi kepalanya, menutupi separuh wajahnya. Mulutnya sedikit terbuka, cairan merah gelap membekas disudut mulutnya dan juga dihidungnya.
        “KASUMI!”
   Kyo berlari panik menghampiri Kasumi. Ia mengangkat tubuh wanita muda itu, mengguncang-guncangkan tubuhnya.
       “Kasumi! Kasumi!”
     Kasumi membuka matanya, terkejut. “Kyo! Kamu sudah pulang? Kenapa membangunkanku seperti itu? Kamu mengejutkanku!”
        Kyo tertegun. Ditatapnya wajah Kasumi, bersih. Tidak ada setitikpun darah disana.
       “Kyo? Kamu habis minum sake? Aku bisa mencium bau sake dari tubuhmu. Berapa botol? Kamu mabuk ya? Kuambilkan minum ya?” Kasumi hendak berdiri, tapi Kyo menarik tangannya. Merengkuhnya di dalam pelukannya.
        “Jangan pergi...”
        “Kyo....?” Kasumi merasa heran dengan tingkah Kyo yang menurutnya tidak biasa.
        “Tolong jangan tinggalkan aku...”
        “A-aku mengerti. Tapi...”
        “Aku hanya minum satu botol dan aku tahu aku tidak mabuk. Aku serius.”
        “Baik, baik. Maaf....”
       Kyo melepaskan pelukannya, tersenyum pada Kasumi. Dibalasnya senyum Kyo. Amarah yang sempat ia rasakan karena Kyo membuatnya menunggu telah hilang begitu saja.
     “Kuambilkan minum untukmu, ya,” Kasumi bangkit berdiri menuju dapur untuk mengambilkan segelas air untuk Kyo. Kyo memandanginya lekat, seolah memastikan bahwa Kasumi tidak akan pergi jauh.
        Kasumi menyodorkan gelasnya pada Kyo, “minumlah.”
        Kyo meminumnya dalam dua tegukan. Diletakkannya gelas itu di atas meja. “Toshiya, Die dan Kaoru titip salam untukmu.”
      “Oh ya? Wah sudah lama sekali tidak bertemu dengan mereka, ya,” Kasumi tersenyum jenaka.
      "Akhir minggu ini Kaoru mengajak Toshiya, Die juga aku untuk nonton dvd lagi dikamarnya.”
       “Lagi-lagi aku tidak bisa...”
       “Lain kali...”
       “Ya... mungkin...”
       “Aku tidak ingin datang.”
       “Datanglah. Mereka ingin menghiburmu.”
       “Kenapa?”
       Kasumi diam. Ia menatap Kyo dengan ekspresi aneh. “Datang saja, ya?”
      Giliran Kyo yang diam. Kemudian ia merebahkan kepalanya dipangkuan Kasumi. Kasumi memainkan rambut Kyo. Ia merasa lebih baik. Jauh lebih baik. Ia ingin pergi, namun ia juga tidak ingin pergi.
        “Baiklah...”


   Di depan pintu kamarnya, Kyo tidak menyadari seseorang tengah berdiri disana. Mendengarkan suara-suara samar dari dalam sana. Orang itu menggelengkan kepalanya sebelum beranjak dari tempatnya.


[to be continued]

3 comments:

  1. Si Kasumi ini pasti adalah makhluk yg tidak nyata. Cuman, si Kyo ini terjebak pada halusinasi yg dia sendiri antara sadar dan tidak sadar bahwa sebetulnya si Kasumi itu sudah tiada.

    Lalu Toshiya, Die dan Kaoru sebetulnya tahu bahwa Kasumi itu memang sudah lama tiada, tapi melihat sikap Kyo yg sepertinya terjebak dan entah mampu melihat Kasumi yg tak kasat mata ataupun mereka paham dg watak dan kondisi kejiwaan Kyo seolah bungkam, dan mengiyakan kehadiran Kasumi.

    Satu lagi hal yg paling penting, MANA SHINYA?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. spoiler ih xD
      tenang, tenang, Shinya bentar lagi muncul xD

      Delete
    2. Loh TIDAK, AKOH GAK SPOILER!
      Ini adalah hasil pengamatanku sebagai reader! xDDD

      *pasang kacamata

      Delete