Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 1/on going
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC (Kasumi)
Finishing: July 2013
Note: Akhirnya, setelah sekian lama, saya kembali menulis fanfic, dan bersambung pula XD terima kasih, otak absurd! Selamat membaca :D
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 1/on going
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC (Kasumi)
Finishing: July 2013
Note: Akhirnya, setelah sekian lama, saya kembali menulis fanfic, dan bersambung pula XD terima kasih, otak absurd! Selamat membaca :D
Hari ini melelahkan, sekaligus membosankan. Hampir seperti hari-hari
sebelumnya. Mengerjakan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun, kehidupan
yang monoton, membosankan. Tidak ada celah untuk keluar dari rutinitas yang
menjemukan. Meskipun demikian, itulah dunianya. Itulah hidup yang ia miliki saat
ini.
Ia mempercepat
langkah kakinya. Ia dapat melihat gedung apartemennya yang tidak terlalu besar.
Sebuah bangunan tua yang menyerupai rumah yang terdiri dari dua lantai dengan
tangga diluar. Dari 14 kamar, 8 kamar terisi. Kamarnya terletak di ujung koridor
yang terbuka di lantai 2. Ia tak suka keributan. Suara derit kayu tua yang
terinjak orang saat melintas didepan kamar menurutnya sangat mengganggu ketika
ia menempati kamar yang berada ditengah gedung. Beruntung, kamar yang terletak
di sudut itu tak lama kemudian kosong selang sebulan semenjak kepindahannya
yang pertama ke gedung itu. Ia pun segera memutuskan untuk pindah dan tetap
tinggal di kamar paling ujung itu hingga saat ini.
Dengan langkah
pelan namun mantap, ia menjejaki satu persatu tangga. Berusaha untuk tidak
menimbulkan suara, meskipun rumah tua itu pasti selalu mengeluarkan
bunyi-bunyian jika tertiup angin. Lantai 2. Ia berjalan perlahan. Dari sinar
yang terlihat dari celah pintu, ia bisa tahu bahwa teman seapartemennya sedang
berada di dalam kamarnya atau tidak. Rupanya Die, yang kamarnya berada dua
pintu dari tangga, sudah pulang. Kamar sebelahnya, yang merupakan kamar yang
ditempati oleh Gara, gelap. Mungkin ia belum pulang, atau mungkin saja sedang
pergi. Biarkan saja, bukan urusannya juga. Ia mempercepat langkahnya. Lelah
mulai membayangi langkahnya.
Ia mengeluarkan
kunci dari kantung celananya. Suara klik pelan memberitahukannya bahwa pintu
sudah tak terkunci. Ia disambut oleh gulita. Tangannya meraba dinding sebelah
kanannya, mencari tombol lampu. Ketika lampu menyala, ia masuk. “Aku pulang.”
Suaranya terserap
dalam keheningan. Kamar itu sepi, sedikit berantakan, juga tidak terlalu besar,
dengan dapur berada disamping pintu masuk. Ia melepas sepatunya, berjalan
menuju ruang utama yang hanya seluas 3x3 meter. Disekelilingnya, bergeletakan
majalah, komik dan case dvd horor kegemarannya. Diatas meja kecil terdapat
sisa-sisa sarapannya yang praktis, yang belum sempat ia bereskan karena tadi
pagi ia terlambat bangun. Sekotak susu yang tinggal seperempat isinya, juga
sebuah bungkus roti yang sudah kosong. Selain itu, ada sebuah korek dan sekotak
rokok yang terbuka, isinya tinggal 6.
ia membuka pintu geser besar yang menuju
sebuah balkon kecil, membukanya. Membiarkan angin musim semi mengalir masuk
kedalam kamarnya yang pengap. Ia menarik nafas dalam-dalam, membiarkan
paru-parunya terisi udara malam yang penuh dengan harum musim semi, lalu membuangnya
dengan sebuah helaan berat. Langit mendung hari itu. Ia terduduk memandangi
aliran sungai yang mengalir tenang dari balkon kecilnya. Melamun.
Dibelakangnya, ia
bisa mendengar suara pintu terbuka, suara seseorang melepas sepatu, suara
langkah ringan yang dimiliki wanita dengan tubuh mungil yang mendekat ke
arahnya.
“Aku pulang, Kyo,” suara halus itu mengisi
telinganya. Ia bisa merasakan suhu tubuh orang itu. hangat pelukannya. Disentuhnya
lengan kurus yang memeluk lehernya, mengusapnya pelan, “selamat datang,” balas
Kyo dengan senyum lemah di bibirnya.
Si wanita muda mengecup telinga Kyo, “hari
ini melelahkan, ya? Seperti biasanya...” dilepasnya pelukannya. Wanita muda itu
membuka kancing bajunya satu persatu, tapi ia tidak menanggalkan pakaiannya,
memperlihatkan kaus dalam hitam favoritnya. Dikuncirnya rambut hitam sebahunya.
Kyo masih memandangi sungai dengan wajah
muram. Si wanita tentu menyadari ada sesuatu yang tengah Kyo pikirkan. Ia
mendekati Kyo, duduk disisinya.
“Kyo, apa ada hal yang meresahkanmu? Bicaralah
padaku, aku akan mendengarkanmu,” ditatapnya wajah lelah Kyo.
Kyo diam sejenak sebelum menjawab, “entahlah.
Aku pun tidak tahu apa yang tengah kurasakan selain... selain jenuh. Ya,
mungkin bisa kukatakan aku jenuh,” matanya tak lepas dari aliran sungai.
“Jenuh? Yah, inilah hidup kita, Kyo. Kita
yang memilih untuk hidup didalam belantara yang sekalipun sudah kita lihat
jejak nyata mereka yang tersesat didalamnya, namun tetap kita pilih. Inilah resiko.
Resiko dari apa yang sudah kamu pilih..” wanita muda itu ikut memandangi aliran
sungai. Malam menjadikan sungai terlihat seperti sutra hitam yang berkilau
ditimpa cahaya lampu jalan yang meredup.
“Ya, aku paham. Aku hanya... mungkin memang
sudah saatnya aku berhenti.”
“Belum, Kyo. Belum saatnya.”
Kyo mengalihkan pandangannya pada wanita muda
itu. Ia balas menatapnya, lebih tajam. “Aku sudah lelah.”
“Tapi belum saatnya.”
“Ah...” Kyo mengusap wajahnya dengan satu
tangannya. Kepenatan yang ia rasakan seperti sudah mencapai batasnya. Harus
berapa lama lagi ia menunggu?
Wanita muda itu menatap Kyo dengan wajah
sedih, “kemarilah,” ia menarik Kyo kedalam pelukannya. Diusapnya rambut Kyo
dengan penuh sayang seperti ibu yang tengah menenangkan anaknya. Kyo memejamkan
matanya. Merasakan lembutnya sentuhan dan kenyamanan yang dihadirkan oleh
wanita itu. ia mencintai wanita itu lebih dari apapun. Dan baginya, kehilangan
wanita itu berarti hidup sendirian, di dalam Neraka.
Kyo tertidur dipangkuannya karena kelelahan. Wanita
itu memandang wajah lelap Kyo sambil tersenyum. Namun dalam hitungan detik, ia
bisa merasakan air matanya mengalir dipipinya yang pucat. Angin musim semi
perlahan bertiup ke dalam ruangan. Ia tahu apa yang Kyo rasakan, tapi ia tidak
bisa melakukan apa-apa. Jika ada perasaan yang paling menyesakkan, itu adalah
ketika kau tak mampu melakukan apapun untuk orang yang kau cintai ketika kau
tahu betul bahwa ia membutuhkanmu. Itulah yang ia hadapi. Ia mengusap pelan
rambut Kyo, lalu mengecup dahinya.
“Selamat tidur. Sebentar
lagi hujan turun, tapi bukan sekarang. Jika sudah saatnya, ayo kita ambil
payung bening kita yang tertinggal di kota.”
Kyo bergerak
sedikit, menyebut sebuah nama dalam tidurnya. Sebuah nama yang mungkin saja
pemilik nama tersebut sedang bersama dengannya di dalam mimpi.
“Kasumi....”
[to be continued]
SIAPA WANITA MUDA ITU?! *horror
ReplyDeletesiapa yaa muhihihi
Delete