Saturday, July 27, 2013

[FANFIC] Plastic Umbrella 1



Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 1/on going

Fandom:
Dir en Grey
Pairing:
Kyo X OFC (Kasumi)
Finishing: July 2013
Note: Akhirnya, setelah sekian lama, saya kembali menulis fanfic, dan bersambung pula XD terima kasih, otak absurd! Selamat membaca :D


Hari ini melelahkan, sekaligus membosankan. Hampir seperti hari-hari sebelumnya. Mengerjakan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun, kehidupan yang monoton, membosankan. Tidak ada celah untuk keluar dari rutinitas yang menjemukan. Meskipun demikian, itulah dunianya. Itulah hidup yang ia miliki saat ini.
                Ia mempercepat langkah kakinya. Ia dapat melihat gedung apartemennya yang tidak terlalu besar. Sebuah bangunan tua yang menyerupai rumah yang terdiri dari dua lantai dengan tangga diluar. Dari 14 kamar, 8 kamar terisi. Kamarnya terletak di ujung koridor yang terbuka di lantai 2. Ia tak suka keributan. Suara derit kayu tua yang terinjak orang saat melintas didepan kamar menurutnya sangat mengganggu ketika ia menempati kamar yang berada ditengah gedung. Beruntung, kamar yang terletak di sudut itu tak lama kemudian kosong selang sebulan semenjak kepindahannya yang pertama ke gedung itu. Ia pun segera memutuskan untuk pindah dan tetap tinggal di kamar paling ujung itu hingga saat ini.
                Dengan langkah pelan namun mantap, ia menjejaki satu persatu tangga. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara, meskipun rumah tua itu pasti selalu mengeluarkan bunyi-bunyian jika tertiup angin. Lantai 2. Ia berjalan perlahan. Dari sinar yang terlihat dari celah pintu, ia bisa tahu bahwa teman seapartemennya sedang berada di dalam kamarnya atau tidak. Rupanya Die, yang kamarnya berada dua pintu dari tangga, sudah pulang. Kamar sebelahnya, yang merupakan kamar yang ditempati oleh Gara, gelap. Mungkin ia belum pulang, atau mungkin saja sedang pergi. Biarkan saja, bukan urusannya juga. Ia mempercepat langkahnya. Lelah mulai membayangi langkahnya.
                Ia mengeluarkan kunci dari kantung celananya. Suara klik pelan memberitahukannya bahwa pintu sudah tak terkunci. Ia disambut oleh gulita. Tangannya meraba dinding sebelah kanannya, mencari tombol lampu. Ketika lampu menyala, ia masuk. “Aku pulang.”
                Suaranya terserap dalam keheningan. Kamar itu sepi, sedikit berantakan, juga tidak terlalu besar, dengan dapur berada disamping pintu masuk. Ia melepas sepatunya, berjalan menuju ruang utama yang hanya seluas 3x3 meter. Disekelilingnya, bergeletakan majalah, komik dan case dvd horor kegemarannya. Diatas meja kecil terdapat sisa-sisa sarapannya yang praktis, yang belum sempat ia bereskan karena tadi pagi ia terlambat bangun. Sekotak susu yang tinggal seperempat isinya, juga sebuah bungkus roti yang sudah kosong. Selain itu, ada sebuah korek dan sekotak rokok yang terbuka, isinya tinggal 6.
ia membuka pintu geser besar yang menuju sebuah balkon kecil, membukanya. Membiarkan angin musim semi mengalir masuk kedalam kamarnya yang pengap. Ia menarik nafas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya terisi udara malam yang penuh dengan harum musim semi, lalu membuangnya dengan sebuah helaan berat. Langit mendung hari itu. Ia terduduk memandangi aliran sungai yang mengalir tenang dari balkon kecilnya. Melamun.
                Dibelakangnya, ia bisa mendengar suara pintu terbuka, suara seseorang melepas sepatu, suara langkah ringan yang dimiliki wanita dengan tubuh mungil yang mendekat ke arahnya.
“Aku pulang, Kyo,” suara halus itu mengisi telinganya. Ia bisa merasakan suhu tubuh orang itu. hangat pelukannya. Disentuhnya lengan kurus yang memeluk lehernya, mengusapnya pelan, “selamat datang,” balas Kyo dengan senyum lemah di bibirnya.
Si wanita muda mengecup telinga Kyo, “hari ini melelahkan, ya? Seperti biasanya...” dilepasnya pelukannya. Wanita muda itu membuka kancing bajunya satu persatu, tapi ia tidak menanggalkan pakaiannya, memperlihatkan kaus dalam hitam favoritnya. Dikuncirnya rambut hitam sebahunya.
Kyo masih memandangi sungai dengan wajah muram. Si wanita tentu menyadari ada sesuatu yang tengah Kyo pikirkan. Ia mendekati Kyo, duduk disisinya.
“Kyo, apa ada hal yang meresahkanmu? Bicaralah padaku, aku akan mendengarkanmu,” ditatapnya wajah lelah Kyo.
Kyo diam sejenak sebelum menjawab, “entahlah. Aku pun tidak tahu apa yang tengah kurasakan selain... selain jenuh. Ya, mungkin bisa kukatakan aku jenuh,” matanya tak lepas dari aliran sungai.
“Jenuh? Yah, inilah hidup kita, Kyo. Kita yang memilih untuk hidup didalam belantara yang sekalipun sudah kita lihat jejak nyata mereka yang tersesat didalamnya, namun tetap kita pilih. Inilah resiko. Resiko dari apa yang sudah kamu pilih..” wanita muda itu ikut memandangi aliran sungai. Malam menjadikan sungai terlihat seperti sutra hitam yang berkilau ditimpa cahaya lampu jalan yang meredup.
“Ya, aku paham. Aku hanya... mungkin memang sudah saatnya aku berhenti.”
“Belum, Kyo. Belum saatnya.”
Kyo mengalihkan pandangannya pada wanita muda itu. Ia balas menatapnya, lebih tajam. “Aku sudah lelah.”
“Tapi belum saatnya.”
“Ah...” Kyo mengusap wajahnya dengan satu tangannya. Kepenatan yang ia rasakan seperti sudah mencapai batasnya. Harus berapa lama lagi ia menunggu?
Wanita muda itu menatap Kyo dengan wajah sedih, “kemarilah,” ia menarik Kyo kedalam pelukannya. Diusapnya rambut Kyo dengan penuh sayang seperti ibu yang tengah menenangkan anaknya. Kyo memejamkan matanya. Merasakan lembutnya sentuhan dan kenyamanan yang dihadirkan oleh wanita itu. ia mencintai wanita itu lebih dari apapun. Dan baginya, kehilangan wanita itu berarti hidup sendirian, di dalam Neraka.
                 Kyo tertidur dipangkuannya karena kelelahan. Wanita itu memandang wajah lelap Kyo sambil tersenyum. Namun dalam hitungan detik, ia bisa merasakan air matanya mengalir dipipinya yang pucat. Angin musim semi perlahan bertiup ke dalam ruangan. Ia tahu apa yang Kyo rasakan, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Jika ada perasaan yang paling menyesakkan, itu adalah ketika kau tak mampu melakukan apapun untuk orang yang kau cintai ketika kau tahu betul bahwa ia membutuhkanmu. Itulah yang ia hadapi. Ia mengusap pelan rambut Kyo, lalu mengecup dahinya.
                “Selamat tidur. Sebentar lagi hujan turun, tapi bukan sekarang. Jika sudah saatnya, ayo kita ambil payung bening kita yang tertinggal di kota.”

                Kyo bergerak sedikit, menyebut sebuah nama dalam tidurnya. Sebuah nama yang mungkin saja pemilik nama tersebut sedang bersama dengannya di dalam mimpi.
                “Kasumi....”


[to be continued]

2 comments: