Tuesday, December 31, 2013

[FANFIC] New Year's Wish



Title: New Year’s Wish
Author: DEADBORN
Rating: PG15
Genre: Fantasy
Fandom: Dir en Grey
Chapter: One shot
Finishing: December 2013

Note; I made it far before Kyo’s new project, sukekiyo, was announced and I’m too lazy to edit it lol. And it supposed to be posted on 31th December, but since my condition lately is not very well, so it’s postponed. Happy reading! :)





“10 menit menjelang tahun baru, guys!”
                Suara Toshiya tertelan di arena terbuka sebuah kuil yang disesaki ratusan manusia. Meskipun hujan salju terus turun, orang-orang nampak tak terlalu peduli. Mereka datang dengan keluarga, sahabat, atau pasangan, yang pasti, semuanya sama-sama ingin melewati pergantian tahun bersama-sama.
                Kyo menghela nafas panjang. Bukan inginnya datang ke tempat ini melainkan Die. Dasar Die, selalu saja punya akal untuk menarik Kyo keluar dari sarangnya. Dan kali ini pun Kyo terbujuk. Padahal rencananya, Kyo ingin menikmati tahun baru di flat kecilnya. Menikmati kelap-kelip kembang api yang terlihat dari kejauhan di beranda mungil flatnya ditemani mi soba panjang umur, segelas teh hijau hangat dan kerupuk sembei. Begitu tentu lebih hangat dibandingkan berada di luar pada musim seperti ini. Toh ia bisa melakukan Hatsumode* esok harinya.
                “10 menit lagi, Kyo. Ayolah. Tidak ada salahnya kan setahun sekali seperti ini?” Die menepuk pelan kepala Kyo. Kyo hanya mengusap kepalanya sambil memajukan bibirnya dengan ekspresi sebal. Memang sih, tidak ada salahnya juga sesekali o-mairi**. Tapi memang pada dasarnya Kyo kurang suka pada keramaian, jadi agak sulit baginya untuk dapat beradaptasi dengan cepat. Belum lagi udara malam hari di musim seperti ini benar-benar dingin.
                Kyo melirik ke arah jam tangannya, masih ada 8 menit lagi sampai tahun resmi berganti. Benar-benar waktu bagaikan berlari. Apa saja yang sudah ia lakukan selama setahun ini?
                Sekellingnya begitu ramai. Mereka yang datang beramai-ramai bersama teman-teman dekat mereka. Menghabiskan malam pergantian tahun bersama orang-orang yang mereka sayangi. Sedangkan dirinya? Sudah berapa lama ia tidak mengunjungi orang tuanya di Kyoto? Hanya selembar kartu pos tahun baru sebagai media komunikasi bahwa tahun ini keluarganya di sana masih sehat. Mungkin siang nanti ia akan menelepon rumah.
                Diliriknya Die yang asyik berbincang dengan Shinya. Kaoru dan Toshiya hilang entah kemana. Mungkin sedang mengantri untuk meminum sake manis nan hangat yang dibagikan gratis kepada para pengunjung kuil. Pelan-pelan, Kyo menyelinap pergi, mencari tempat sepi. Paling tidak, tempat dimana ia bisa duduk. Kakinya mulai terasa kebas.
                Sayangnya tidak ada tempat yang bisa ia jadikan sebagai tempat duduk. Jadi Kyo hanya berdiri menyandarkan tubuhnya di bawah pohon pinus kering yang agak jauh dari keramaian. Jauh dari bayang-bayang api unggun. Uap putih menghembus ketika ia menghela nafas. Diliriknya lagi jam tangannya. 5 menit menjelang tahun baru.
                Lima menit? Astaga. Rasanya baru kemarin ia sembuh dari sakit yang menyerang tenggorokannya. Kyo menatap langit gelap tak berbintang. Dalam hatinya, sebetulnya ia merasa bersyukur sekali karena masih bisa menikmati pergantian tahun kali ini.
                Ia belum punya rencana apapun selain menelepon orang tuanya. Karena kesibukannya akhir-akhir ini membuatnya tidak sempat berkomunikasi dengan keluarganya. Selebihnya... hmm... mungkin ia akan membuat atau mengerjakan proyek baru yang ia minati disamping kegiatan bermusiknya.
                “Oooiii, Kyooo! Kemariiii~”
                Itu suara Toshiya. Ternyata mereka menemukannya. Yah, tidak terlalu sulit menemukan Kyo. Cari saja tempat yang tak begitu ramai, malah cenderung sepi, di ruang terbuka yang ramai, maka hampir bisa dipastikan Kyo berada disana sendirian. Diam, merenung. Atau jika ia sedang membawa kamera, ia akan memotret hal-hal yang menarik perhatiannya.
                Kyo melangkahkan kakinya menuju teman-temannya yang sudah lebih dari 15 tahun bersama. Kali ini mereka memutuskan untuk merayakan tahun baru di kuil bersama-sama. Meskipun mereka sering keluar negeri, bukan berarti mereka melupakan budaya lama mereka. Mereka tetaplah orang Jepang yang mengikuti tradisi.
                Kyo mengekor di belakang keempat temannya kembali menuju keramaian. Lonceng tahun baru sudah dibunyikan sejak 10 menit yang lalu. Entah sudah hitungan ke berapa, yang pasti dentangnya akan menggenapi pergantian tahun hingga dentang ke-108.
                Orang-orang sudah ramai mengantri di depan kuil. Mereka berlima turut berbaris. Mereka semua ingin berdoa kepada Dewa untuk tahun yang lebih baik.
                “Semenit lagi!” pekik Toshiya girang. Sekeliling mereka pun mulai ramai. Mulai menghitung detik-detik pergantian tahun. Kyo memandangi sekelilingnya.
                “10... 9... 8... 7...”
                Anak-anak kecil dengan wajah polos yang digendong ayahnya. Keluarga  kecil yang bahagia. Gerombolan pemuda-pemudi dengan wajah penuh tawa. Pasangan-pasangan yang saling bergandengan tangan.
                “...6...”
                Kyo memandangi satu persatu wajah keempat rekannya.
                 “...5...”
                Kaoru menghembuskan uap putih ke udara. Melankolis. 
                “...4...”
                Toshiya turut menghitung detik-detik pergantian tahun dengan semangat.
                “...3...”
                Die juga ikut berseru menghitung. Wajahnya tampak sumringah.
                “...2...”
                Shinya tertawa melihat kelakuan Toshiya dan Die yang begitu bersemangat seperti anak kecil.
                Sesaat Kyo merasa seperti bermimpi. Detik tiba-tiba menjadi panjang.
                Waktu terhenti.
                Sekelilingnya membeku. Bahkan butiran salju mengapung dalam ruang terbuka. Mengerikan, namun begitu indah. Seperti lukisan.
                Apa yang terjadi?
                Dengan bingung Kyo melihat sekelilingnya. Tetapi semua diam, tidak bergerak. Apakah ini ilusi atau mimpi? Sihir apa yang mampu membekukan waktu? Dan mengapa hanya dirinya yang tidak terkena sihir itu?
                Lonceng kuil berbunyi, membuat Kyo menoleh. Adakah orang lain yang tidak terpengaruh sihir aneh ini?
                Dilihatnya seberkas cahaya disana.
                “Siapa disana?”
                Suara Kyo mengapung bersama butiran salju di udara. Dengan langkah pelan, ia berjalan melewati tubuh-tubuh yang tak bergerak menuju kuil. Wajah-wajah yang membeku dalam kebahagiaan.
                Semakin dekat, ia dapat melihat cahaya itu semakin terang. Sesosok tubuh sedang duduk di ujung tangga, tepat di bawah lonceng. Kyo tidak tahu ia lelaki atau perempuan. Rambutnya hitam panjang tergerai. Kulitnya putih, hampir transparan. Pakaiannya pun seperti yang pernah ia lihat di lukisan-lukisan yang menggambarkan dewa-dewi. Apakah ia Dewa?
                “Siapa kau?”
                Yang ditanya hanya tersenyum. “Katakan permintaanmu, aku akan mengabulkannya.”
                “Hah?”
                “Hari ini, semua orang yang berada di sini berdoa, memohon agar impian dan cita-cita mereka terkabul. Meskipun mereka tidak tahu apakah doa mereka akan terkabul di tahun selanjutnya atau mungin nanti. Kau tentu tak terkecuali, bukan? Nah, kau adalah orang yang beruntung dapat melihatku di sini. Jadi, aku akan mengabulkan satu permohonanmu.”
                Kyo memandangi orang –jika ia bisa dibilang manusia- itu dengan tatapan tidak mengerti. Ini mimpi bukan, sih? Tanyanya dalam hati.
                “Katakan saja, aku tidak bisa berlama-lama.”
                “T-tunggu dulu! Kenapa Cuma aku?” akhirnya pertanyaan itu terlontar dari mulut Kyo.
                “Ahahaha! Itu bukan masalah. Aku hanya memilih, dan pilihanku jatuh padamu. Mudah, kan?”
                Kyo menelan ludah. Apa-apaan sih ini? Pikirnya. Ia menoleh ke belakang. Orang-orang yang mengantri, yang menunggu pergantian tahun masih tetap disana, membeku.
                “ini bukan mimpi, kan?”
                “Tentu saja bukan!”
                Permohonan, ya? Kyo tersadar, selama ini ia tidak pernah punya keinginan yang muluk. Ia hanya menjalani hidupnya seperti apa yang ia inginkan. Ia sadar, semakin tua dirinya, semakin sedikit waktu yang ia punya untuk melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan. Belum lagi dengan segala kesibukannya di dunia musik. Kyo tak pernah mengeluh, karena memang hidup yang seperti itulah yang ia pilih untuk ia jalani sehingga ia tidak pernah merasakan penyesalan.
                Ia merasa telah hidup dengan baik sesuai dengan apa yang ia mau selama ini. Tidak ada yang benar-benar ia inginkan. Mungkin kecuali...
                “Sudah memutuskan?”
                “Yah... kalau kubilang aku tidak punya keinginan apa-apa karena aku selama ini merasa sudah hidup sesuai dengan apa yang aku inginkan, itu pasti munafik. Meskipun keinginanku ini terdengar mustahil, meskipun permohonanku ini tidak masuk akal, meskipun aku sudah merasa berkecukupan dengan apa yang kumiliki saat ini, tentu saja masih ada hal-hal yang kuinginkan, yang ingin kucapai, yang ingin kuraih.
                “Ada satu hal yang ingin terus aku perjuangkan. Sekalipun nanti aku tidak lagi diijinkan memiliki permohonan, satu keinginanku ini akan selalu menetap dalam diriku sebelum menjadi kenyataan walaupun harus terkabul di kehidupanku yang selanjutnya.”
                Kyo menatap mahluk bersinar di hadapannya yang kini tersenyum.
                “Aku mengerti.”
                Kyo menutup matanya. Ia bisa merasakan hembusan angin melewati dirinya. Samar-samar, ia mendengar suara-suara. Semakin lama, suara itu semakin dekat. Ramai.
                “...1! Selamat tahun baruuu!”
                Kyo membuka matanya. ia sudah kembali berada di tengah kerumunan orang-orang, bersama keempat rekannya. Teriakan dan sorakan orang-orang yang mengucapkan selamat tahun baru mengisi udara.
                “Selamat tahun baru!” mereka mengucapkannya pada satu sama lain dengan wajah bahagia.
                Antrian di depan mereka semakin lama semakin memendek. Tibalah giliran Kyo untuk berdoa. Ia membungkuk dua kali sebelum membunyikan lonceng, lalu menepuk tangannya dua kali seraya berdoa.
                Untuk kali ini saja, satu permohonannya yang benar-benar ia inginkan untuk menjadi kenyataan. Semoga.
                Setelah membungkuk satu kali lagi, ia menuruni tangga kuil menuju keempat rekannya yang sudah menunggunya. Mereka berlima berjalan pulang sambil bersenda gurau, membicarakan harapan, doa, dan rencana-rencana mereka untuk tahun ini. Ketika kelimanya berpisah jalan, Kyo yang jalan sendirian, menatap langit yang bertaburan kilau putih redup salju yang berjatuhan.
                Kyo mengingat kejadian yang ia alami tadi. Ia yakin betul itu bukan mimpi. Sungguh ia merasa beruntung dapat bertemu dengan... Dewa? Kyo tertawa kecil mengingat keberuntungannya yang aneh. Dan jika demikian, ia yakin tidak perlu lagi menunggu begitu lama untuk satu keinginan begitu ingin ia wujudkan.
                Dengan senyum samar, Kyo berbisik, “aku harap kau bersamaku.”




[THE END]



*Hatsumode: kunjungan kuil pertama setelah tahun baru.
**O-mairi: kegiatan mengunjungi kuil.

Sunday, December 15, 2013

The Absurd Art of Me 1

Hello there! :D
Today, I would like to share some of my drawings. Yup, I love drawing, too. Some of it was an absurd thing. Well,  I know I'm not a great artist, but who cares? lol. 
Hope you enjoy it. Oh, you don't have to understand what's the meaning of each pics and feel free to interpreted it with your own assumption :)
All of the pics in here was taken by a handphone camera, not a scanner, so I must edited the lightning so that it would be clear enough to be seen.


 (1) Dead Tree -06092013-

I draw it using a pencil and edited the lightning so it could be seen.
Absurd enough, eh? :)















(2) The Eye -13062013-
t
I made it using a pencil too. Hmm.. I think for this one, I forgot to edited the lighting. Hehe. But at least, it still can be seen, right?
















(3) Lotus -18042013-
I love tattoo! But sadly, I can't have it but a temporary one. Once, I made some temporary tattoo used a black-hair dye. With the leftover, I made this. A Lotus flower on a mud.














(4) Dying -18042013-
This art made by a leftover hair dye too. I'm interested in a dark-grotesque pict, so I tried to make one.















(5) Serpent -18042013-
 Made it from a leftover hair dye too hahaha.

















(6) Ayumi -
I forgot when I made her. I just remember that I made her when I was so bored waiting on my friend, and I named her Ayumi.














Well, that's it for today. I'm gonna post another pics (and another story) another time :)

Saturday, December 7, 2013

Hujan Senja



Senja memuram. Semesta seolah paham.
                Setelah sekian lama berjalan jauh bersama, kini setapak kita terbagi. Tak lagi kita beriringan. Kamu lebih memilih dirinya yang kamu sadari memiliki lebih banyak kelebihan daripada aku. Berpayungan kalian berdua dalam rintik hujan, sedang aku menggigil mencari teduhan dari sisa-sisa kenangan usang. Yang mana air mata, yang mana hujan, kamu pun tidak akan bisa bedakan air apa yang mengalir di wajahku.
                Senja turut menangis bersama aku.
                Hujaman air mata langit turut menghancurkan pertahananku. Remah-remah hati berserakan. Tinggal aku yang bingung, apakah harus kukumpulkan lagi atau kubiarkan saja luluh lantak, mengalir begitu saja terbawa air mata yang kemudian bermuara pada kubangan dendam.
                Bukannya aku ingin kalian berpisah. Sekalipun aku mendendam, tapi bukan itu yang aku inginkan. Jika kamu lebih bahagia bersamanya, kenapa aku harus menahan kebebasanmu? Lagipula, dia tidak memiliki salah apapun padaku. Kenal pun tidak. Jadi kenapa aku harus membencinya pula? Bukan berarti aku benci padamu. Aku tidak bisa benci meskipun ingin.
                Tangis langit menderas. Tangisku berhenti.
                Kupikir, sudah cukup aku menghabiskan stok air mata. Kubiarkan semua kenangan, semua perasaan, semua rindu yang masih tersisa mengalir jauh bersama air hujan yang akan kembali ke laut. Dan ketika nanti hujan kembali turun, kubiarkan kenangan yang teresonansi dalam suara air hujan yang jatuh ke bumi meresapi hatiku, agar aku bisa belajar dari sana.
Berhentilah menangis, Semesta, terima kasih telah menemani aku dalam hati yang redam. Hari ini kamu istirahatkan mentari, jadi biarkan besok ia bersinar seperti sedia kala. Jangan egois dengan air matamu sekalipun air matamu menjadi pewarna tercantik yang kemudian melukisi langit dengan warna senja terindah. Langit barat yang kemerahan, seolah matahari melelehkan cahayanya pada sekelilingnya tersaput abu-abu kebiruan gelap yang justru menjadikan wajah senjamu cantik, bukan seperti aku yang selepas menangis berakhir dengan mata merah, wajah sembab kemerahan dan sengguk tak usai. Tetapi tidak apa, aku terbebas kini.
                Semesta merajut malam, tanpa bulan, tanpa bintang.
Gelap meraja. Di langit, di hati.
               

Sunday, October 13, 2013

Pada Suatu Senja



Title: Pada Suatu Senja
Author: DEADBORN
Rating: PG-15
Chapter: One Shot
Genre: Slice of Life, Society

Finishing: September 2013


Ada kalanya saya merenung.
                Senja itu, di salah satu tempat menunggu bis pulang, saya terdiam memandangi lalu lintas ibukota yang ramai, menanti kendaraan umum yang dapat cepat membawa saya pulang ke rumah setelah satu hari yang melelahkan.
                Diamnya saya membuat otak saya memutar kembali peristiwa satu hari yang baru saja saya lalui. Mungkin saya harus berterima kasih pada telepon genggam yang baterainya akan segera mencapai titik penghabisan. Karena jika tidak, mungkin saya sama seperti orang-orang di sekeliling saya. Sibuk dengan dunia maya tanpa menghiraukan dunia nyata.
                Hari itu saya mendapat panggilan tawaran kerja. Pekerjaan yang sudah lama saya inginkan dengan bulanan yang menggiurkan. Sayangnya, kemampuan saya meluluh-lantakkan harapan saya. Terima nasib saja, pikir saya, meskipun saya hanya bisa meringis. Kemudian kata ‘seharusnya tadi...’ mulai mengisi kepala saya. Namun percuma saja.
                Saya perhatikan sekitar saya. Mereka yang turut menunggu kendaraan umum, mereka yang berlalu-lalang. Pakaian rapi, necis, berkelas. Pegawai kantoran, mahasiswa, murid sekolah menengah, mereka yang sekedar cuci mata  di mall-mall besar.
                Apakah mereka bahagia dengan kehidupan mereka yang sekarang?
                Bangun pagi, meninggalkan hunian nyaman mereka untuk bertarung dengan individu lain demi kelangsungan hidup di ibukota, lalu pulang dengan benak yang babak belur. Begitu seterusnya sampai mereka menemukan satu saja lubang dalam rutinitas. Tinggal mereka yang memilih, apakah mengabaikan lubang kecil itu, atau melompati lubang itu sehingga rutinitas tak lagi mengekang.
 Pernahkan mereka menyesali kehidupan mereka yang seperti itu?
Perempuan muda yang duduk di sebelah saya bangkit. Dari jauh, saya lihat bis berwarna putih menghampiri tempat kami menunggu. Perempuan muda yang tadi duduk di sebelah saya lalu kembali duduk di sebelah saya dengan wajah kecewa. Sepertinya bukan bis itu yang ia tunggu. Dalam hitungan detik, si perempuan muda sudah tenggelam kembali dalam dunia maya lewat telepon genggamnya.
                Saya melanjutkan lamunan saya. Penantian. Saya dan mereka sama-sama menanti kendaraan. Mungkin perbedaannya adalah tujuan kami setelah ini, meskipun pada akhirnya tujuan itu berakhir pada satu tempat, rumah.
                Berapa lama kita harus menunggu suatu hal yang hasilnya bisa saja berujung pada kekecewaan?
                Seperti perempuan muda yang di samping saya. Entah sejak kapan ia menunggu, yang pasti lebih lama dari saya. Mungkin sudah beberapa kali ia kecewa karena perkiraannya akan bis yang datang bukanlah bis yang ia tunggu. Tetapi ia masih tetap sabar. Padahal bisa saja ia minta seseorang menjemputnya, atau naik kendaraan lain yang lebih nyaman dan bisa langsung sampai ke tempat tujuan. Tapi ia lebih memilih untuk tetap menunggu bis. Ia paham, sekalipun lama dan bisa saja penuh, tapi bis itu pasti datang. Ada berbagai kemungkinan yang saya pikirkan mengenai perempuan muda dan bis yang ditunggunya. Lalu saya kembali pada diri saya.
                Saya pun bisa saja naik bis mana saja yang berhenti pada satu halte, lalu ganti kendaraan umum beberapa kali. Lebih cepat sebetulnya. Tapi saya bersikeras untuk menunggu bis lain yang lebih ingin saya tumpangi. Alasannya sederhana, meskipun ongkosnya lebih mahal dari bis lain, tapi halte bus itu tidak terlalu jauh dari rumah saya. Dan lagi, biasanya dari tempat saya menuggu, selalu ada kursi kosong. Itulah yang membuat saya rela menunggu lama. Saya pun bisa saja memilih kendaraan lain yang lebih nyaman, namun ongkosnya tentu saja jauh lebih besar. Belum lagi jika dihadapkan pada kemacetan yang seringkali terjadi.
                Lalu pikiran saya melompat ke sektor lain. Menghadirkan suatu pertanyaan baru. Apakah mereka sesabar itu menanti orang yang akan mendampingi hidup mereka?
                Saya berusaha menahan tawa. Jika kamu mau tertawa, silahkan saja. Otak saya kadang memang seringkali tak terduga, tapi saya sudah terbiasa. Orang lain yang tidak. Tapi tidak masalah. Saya tidak pernah meminta mereka paham, hanya harap maklum.
                Kita tidak akan pernah tahu bukan, dengan siapa kita menghabiskan hari tua kita nanti. Sudah berapa kali kita terjebak dalam hubungan yang bukan dengan yang seharusnya? Berapa kali kita menangisi orang-orang yang pergi begitu saja, yang entah turut kehilangan juga seperti yang kita rasakan atau tidak. Sudah berapa lama kita menunggu orang yang kita impikan untuk berada di sisi kita hingga maut menjemput?
                Jika menunggu pasangan hidup dapat dilihat dari seberapa sabar menanti kendaraan umum, mungkin saja saya termasuk orang yang lama mendapat jodoh. Karena seperti yang saya bilang tadi, ada banyak alasan kenapa saya hanya ingin naik bis yang saya tunggu itu. Ada banyak kriteria yang saya inginkan pada orang yang saya pilih. Meskipun tidak ada yang sesempurna itu. Saya paham, namun kekeras-kepalaan saya membuat saya terus menunggu.
               Rasa penasaran dan rasa percaya adalah dua rasa yang ampuh untuk membuat kita terus menunggu atau memburu. Saya lebih milih untuk menunggu. Entah pada kamu.
                Beberapa menit kemudian, saya lihat bis yang ingin saya naiki. Namun, sebelum saya berdiri, bis itu tidak berhenti alih-alih memasuki jalur cepat, lalu pergi. Kemudian saya termangu. Mungkin begitu rasanya dikhianati. Setelah penantian yang panjang, kepercayaanmu akan kedatangannya justru hancur karena ia pergi begitu saja. Ya, persis! Mungkin begitu rasanya ditinggal pergi oleh seseorang yang sudah lama kamu nantikan. Sesak, kesal, kecewa. Tapi entah kenapa, saya tetap menunggu. Saya percaya, bis yang sama pasti akan lewat lagi. Dan jika kamu pikir ulang, apa gunanya bersedih terlalu lama setelah harapanmu dipalsukan oleh oknum tidak bertanggung jawab? Padahal selalu ada pengganti yang Tuhan sudah siapkan. Segera setelah kamu siap, kamu akan dipertemukan lewat cara-cara yang bisa saja belum pernah kamu pikirkan sebelumnya.
                Bisa saja ternyata ia adalah orang yang belum pernah kamu temui sama sekali. Lalu suatu hari, kalian bertemu di suatu tempat, di suatu waktu. Atau bisa saja ia adalah orang yang sudah kamu kenal lama. Saking lamanya, kalian sudah mengenal satu sama lain seperti mengenal diri sendiri. Atau mungkin, bisa saja dia adalah satu dari orang yang berlalu-lalang di depan kita, atau yang beberapa jam yang lalu duduk di belakang kita ketika kita nonton di bioskop, atau salah satu dari gerombolan remaja yang sedang makan sore di restoran cepat saji yang kamu kunjungi sehabis dari bioskop.
Tidak ada yang tahu, bukan? Inilah cara Semesta bermain dengan kita. Apakah kita ikut tertawa atau justru menghujat, itu terserah kita.
                 Selang 15 menit, bis yang saya nanti tiba. Saya cepat-cepat menuju ke arah pintu bis yang terbuka. Beruntung masih ada tempat duduk kosong. Saya duduk di kursi paling belakang, bersama 5 orang lainnya. Sepanjang perjalanan, saya tertidur sampai saya dibangunkan perempuan bermasker disebelah saya yang hendak turun. Saya pindah ke tempat ia duduk, di sebelah jendela. Saya memandangi pemandangan luar yang familiar. Gedung-gedung, lampu lalu lintas, jalanan. Semua yang hampir setiap minggu saya lewati.
               Sisa seperempat perjalanan pulang saya habiskan dengan mendiamkan otak saya. Otak saya pun butuh beristirahat, bukan? Setelah semua yang saya pikirkan sesorean tadi. Mungkin saya akan menuliskan semua yang saya pikirkan ke dalam sebuah jurnal. Ya, tentu saja. Kamu boleh baca. Jika kamu pikir membosankan, berhenti di tengah pun tidak mengapa. Toh ini hanya renungan absurd dari separuh hari yang sudah saya lewati. Dengan tema dan analogi yang aneh hasil kreatifitas otak saya. Sekali lagi, saya tidak minta kamu paham, namun harap maklum.
                Ketika malam tiba, dengan segelas kopi hangat pada laptop tua, saya mulai menulis.


[THE END]