Title: New Year’s Wish
Author: DEADBORN
Rating: PG15
Genre: Fantasy
Fandom: Dir en Grey
Chapter: One shot
Finishing: December 2013
Note; I made it far before Kyo’s new project, sukekiyo, was announced and I’m too lazy to edit it lol. And it supposed to be posted on 31th December, but since my condition lately is not very well, so it’s postponed. Happy reading! :)
Author: DEADBORN
Rating: PG15
Genre: Fantasy
Fandom: Dir en Grey
Chapter: One shot
Finishing: December 2013
Note; I made it far before Kyo’s new project, sukekiyo, was announced and I’m too lazy to edit it lol. And it supposed to be posted on 31th December, but since my condition lately is not very well, so it’s postponed. Happy reading! :)
“10 menit menjelang tahun baru, guys!”
Suara
Toshiya tertelan di arena terbuka sebuah kuil yang disesaki ratusan manusia.
Meskipun hujan salju terus turun, orang-orang nampak tak terlalu peduli. Mereka
datang dengan keluarga, sahabat, atau pasangan, yang pasti, semuanya sama-sama ingin
melewati pergantian tahun bersama-sama.
Kyo
menghela nafas panjang. Bukan inginnya datang ke tempat ini melainkan Die.
Dasar Die, selalu saja punya akal untuk menarik Kyo keluar dari sarangnya. Dan
kali ini pun Kyo terbujuk. Padahal rencananya, Kyo ingin menikmati tahun baru
di flat kecilnya. Menikmati kelap-kelip kembang api yang terlihat dari kejauhan
di beranda mungil flatnya ditemani mi soba panjang umur, segelas teh hijau
hangat dan kerupuk sembei. Begitu tentu lebih hangat dibandingkan berada di
luar pada musim seperti ini. Toh ia bisa melakukan Hatsumode* esok harinya.
“10
menit lagi, Kyo. Ayolah. Tidak ada salahnya kan setahun sekali seperti ini?”
Die menepuk pelan kepala Kyo. Kyo hanya mengusap kepalanya sambil memajukan
bibirnya dengan ekspresi sebal. Memang sih, tidak ada salahnya juga sesekali o-mairi**. Tapi memang pada dasarnya Kyo
kurang suka pada keramaian, jadi agak sulit baginya untuk dapat beradaptasi
dengan cepat. Belum lagi udara malam hari di musim seperti ini benar-benar
dingin.
Kyo
melirik ke arah jam tangannya, masih ada 8 menit lagi sampai tahun resmi
berganti. Benar-benar waktu bagaikan berlari. Apa saja yang sudah ia lakukan
selama setahun ini?
Sekellingnya
begitu ramai. Mereka yang datang beramai-ramai bersama teman-teman dekat
mereka. Menghabiskan malam pergantian tahun bersama orang-orang yang mereka
sayangi. Sedangkan dirinya? Sudah berapa lama ia tidak mengunjungi orang tuanya
di Kyoto? Hanya selembar kartu pos tahun baru sebagai media komunikasi bahwa
tahun ini keluarganya di sana masih sehat. Mungkin siang nanti ia akan
menelepon rumah.
Diliriknya
Die yang asyik berbincang dengan Shinya. Kaoru dan Toshiya hilang entah kemana.
Mungkin sedang mengantri untuk meminum sake manis nan hangat yang dibagikan
gratis kepada para pengunjung kuil. Pelan-pelan, Kyo menyelinap pergi, mencari
tempat sepi. Paling tidak, tempat dimana ia bisa duduk. Kakinya mulai terasa
kebas.
Sayangnya
tidak ada tempat yang bisa ia jadikan sebagai tempat duduk. Jadi Kyo hanya
berdiri menyandarkan tubuhnya di bawah pohon pinus kering yang agak jauh dari
keramaian. Jauh dari bayang-bayang api unggun. Uap putih menghembus ketika ia
menghela nafas. Diliriknya lagi jam tangannya. 5 menit menjelang tahun baru.
Lima
menit? Astaga. Rasanya baru kemarin ia sembuh dari sakit yang menyerang
tenggorokannya. Kyo menatap langit gelap tak berbintang. Dalam hatinya,
sebetulnya ia merasa bersyukur sekali karena masih bisa menikmati pergantian
tahun kali ini.
Ia
belum punya rencana apapun selain menelepon orang tuanya. Karena kesibukannya
akhir-akhir ini membuatnya tidak sempat berkomunikasi dengan keluarganya.
Selebihnya... hmm... mungkin ia akan membuat atau mengerjakan proyek baru yang
ia minati disamping kegiatan bermusiknya.
“Oooiii,
Kyooo! Kemariiii~”
Itu
suara Toshiya. Ternyata mereka menemukannya. Yah, tidak terlalu sulit menemukan
Kyo. Cari saja tempat yang tak begitu ramai, malah cenderung sepi, di ruang
terbuka yang ramai, maka hampir bisa dipastikan Kyo berada disana sendirian.
Diam, merenung. Atau jika ia sedang membawa kamera, ia akan memotret hal-hal
yang menarik perhatiannya.
Kyo
melangkahkan kakinya menuju teman-temannya yang sudah lebih dari 15 tahun
bersama. Kali ini mereka memutuskan untuk merayakan tahun baru di kuil
bersama-sama. Meskipun mereka sering keluar negeri, bukan berarti mereka
melupakan budaya lama mereka. Mereka tetaplah orang Jepang yang mengikuti
tradisi.
Kyo
mengekor di belakang keempat temannya kembali menuju keramaian. Lonceng tahun
baru sudah dibunyikan sejak 10 menit yang lalu. Entah sudah hitungan ke berapa,
yang pasti dentangnya akan menggenapi pergantian tahun hingga dentang ke-108.
Orang-orang
sudah ramai mengantri di depan kuil. Mereka berlima turut berbaris. Mereka
semua ingin berdoa kepada Dewa untuk tahun yang lebih baik.
“Semenit
lagi!” pekik Toshiya girang. Sekeliling mereka pun mulai ramai. Mulai
menghitung detik-detik pergantian tahun. Kyo memandangi sekelilingnya.
“10...
9... 8... 7...”
Anak-anak
kecil dengan wajah polos yang digendong ayahnya. Keluarga kecil yang bahagia. Gerombolan pemuda-pemudi
dengan wajah penuh tawa. Pasangan-pasangan yang saling bergandengan tangan.
“...6...”
Kyo
memandangi satu persatu wajah keempat rekannya.
“...5...”
Kaoru
menghembuskan uap putih ke udara. Melankolis.
“...4...”
Toshiya
turut menghitung detik-detik pergantian tahun dengan semangat.
“...3...”
Die
juga ikut berseru menghitung. Wajahnya tampak sumringah.
“...2...”
Shinya
tertawa melihat kelakuan Toshiya dan Die yang begitu bersemangat seperti anak
kecil.
Sesaat
Kyo merasa seperti bermimpi. Detik tiba-tiba menjadi panjang.
Waktu
terhenti.
Sekelilingnya
membeku. Bahkan butiran salju mengapung dalam ruang terbuka. Mengerikan, namun
begitu indah. Seperti lukisan.
Apa
yang terjadi?
Dengan
bingung Kyo melihat sekelilingnya. Tetapi semua diam, tidak bergerak. Apakah
ini ilusi atau mimpi? Sihir apa yang mampu membekukan waktu? Dan mengapa hanya
dirinya yang tidak terkena sihir itu?
Lonceng
kuil berbunyi, membuat Kyo menoleh. Adakah orang lain yang tidak terpengaruh
sihir aneh ini?
Dilihatnya
seberkas cahaya disana.
“Siapa
disana?”
Suara
Kyo mengapung bersama butiran salju di udara. Dengan langkah pelan, ia berjalan
melewati tubuh-tubuh yang tak bergerak menuju kuil. Wajah-wajah yang membeku
dalam kebahagiaan.
Semakin
dekat, ia dapat melihat cahaya itu semakin terang. Sesosok tubuh sedang duduk
di ujung tangga, tepat di bawah lonceng. Kyo tidak tahu ia lelaki atau
perempuan. Rambutnya hitam panjang tergerai. Kulitnya putih, hampir transparan.
Pakaiannya pun seperti yang pernah ia lihat di lukisan-lukisan yang
menggambarkan dewa-dewi. Apakah ia Dewa?
“Siapa
kau?”
Yang
ditanya hanya tersenyum. “Katakan permintaanmu, aku akan mengabulkannya.”
“Hah?”
“Hari
ini, semua orang yang berada di sini berdoa, memohon agar impian dan cita-cita
mereka terkabul. Meskipun mereka tidak tahu apakah doa mereka akan terkabul di
tahun selanjutnya atau mungin nanti. Kau tentu tak terkecuali, bukan? Nah, kau
adalah orang yang beruntung dapat melihatku di sini. Jadi, aku akan mengabulkan
satu permohonanmu.”
Kyo
memandangi orang –jika ia bisa dibilang manusia- itu dengan tatapan tidak
mengerti. Ini mimpi bukan, sih? Tanyanya dalam hati.
“Katakan
saja, aku tidak bisa berlama-lama.”
“T-tunggu
dulu! Kenapa Cuma aku?” akhirnya pertanyaan itu terlontar dari mulut Kyo.
“Ahahaha!
Itu bukan masalah. Aku hanya memilih, dan pilihanku jatuh padamu. Mudah, kan?”
Kyo
menelan ludah. Apa-apaan sih ini? Pikirnya. Ia menoleh ke belakang. Orang-orang
yang mengantri, yang menunggu pergantian tahun masih tetap disana, membeku.
“ini
bukan mimpi, kan?”
“Tentu
saja bukan!”
Permohonan,
ya? Kyo tersadar, selama ini ia tidak pernah punya keinginan yang muluk. Ia
hanya menjalani hidupnya seperti apa yang ia inginkan. Ia sadar, semakin tua
dirinya, semakin sedikit waktu yang ia punya untuk melakukan hal-hal yang ingin
ia lakukan. Belum lagi dengan segala kesibukannya di dunia musik. Kyo tak
pernah mengeluh, karena memang hidup yang seperti itulah yang ia pilih untuk ia
jalani sehingga ia tidak pernah merasakan penyesalan.
Ia
merasa telah hidup dengan baik sesuai dengan apa yang ia mau selama ini. Tidak
ada yang benar-benar ia inginkan. Mungkin kecuali...
“Sudah
memutuskan?”
“Yah...
kalau kubilang aku tidak punya keinginan apa-apa karena aku selama ini merasa
sudah hidup sesuai dengan apa yang aku inginkan, itu pasti munafik. Meskipun
keinginanku ini terdengar mustahil, meskipun permohonanku ini tidak masuk akal,
meskipun aku sudah merasa berkecukupan dengan apa yang kumiliki saat ini, tentu
saja masih ada hal-hal yang kuinginkan, yang ingin kucapai, yang ingin kuraih.
“Ada
satu hal yang ingin terus aku perjuangkan. Sekalipun nanti aku tidak lagi
diijinkan memiliki permohonan, satu keinginanku ini akan selalu menetap dalam
diriku sebelum menjadi kenyataan walaupun harus terkabul di kehidupanku yang
selanjutnya.”
Kyo
menatap mahluk bersinar di hadapannya yang kini tersenyum.
“Aku
mengerti.”
Kyo
menutup matanya. Ia bisa merasakan hembusan angin melewati dirinya.
Samar-samar, ia mendengar suara-suara. Semakin lama, suara itu semakin dekat.
Ramai.
“...1!
Selamat tahun baruuu!”
Kyo
membuka matanya. ia sudah kembali berada di tengah kerumunan orang-orang,
bersama keempat rekannya. Teriakan dan sorakan orang-orang yang mengucapkan
selamat tahun baru mengisi udara.
“Selamat
tahun baru!” mereka mengucapkannya pada satu sama lain dengan wajah bahagia.
Antrian
di depan mereka semakin lama semakin memendek. Tibalah giliran Kyo untuk
berdoa. Ia membungkuk dua kali sebelum membunyikan lonceng, lalu menepuk
tangannya dua kali seraya berdoa.
Untuk
kali ini saja, satu permohonannya yang benar-benar ia inginkan untuk menjadi
kenyataan. Semoga.
Setelah
membungkuk satu kali lagi, ia menuruni tangga kuil menuju keempat rekannya yang
sudah menunggunya. Mereka berlima berjalan pulang sambil bersenda gurau,
membicarakan harapan, doa, dan rencana-rencana mereka untuk tahun ini. Ketika
kelimanya berpisah jalan, Kyo yang jalan sendirian, menatap langit yang
bertaburan kilau putih redup salju yang berjatuhan.
Kyo
mengingat kejadian yang ia alami tadi. Ia yakin betul itu bukan mimpi. Sungguh
ia merasa beruntung dapat bertemu dengan... Dewa? Kyo tertawa kecil mengingat
keberuntungannya yang aneh. Dan jika demikian, ia yakin tidak perlu lagi
menunggu begitu lama untuk satu keinginan begitu ingin ia wujudkan.
Dengan
senyum samar, Kyo berbisik, “aku harap kau bersamaku.”
[THE END]
*Hatsumode:
kunjungan kuil pertama setelah tahun baru.
**O-mairi:
kegiatan mengunjungi kuil.
No comments:
Post a Comment