Sunday, October 13, 2013

Pada Suatu Senja



Title: Pada Suatu Senja
Author: DEADBORN
Rating: PG-15
Chapter: One Shot
Genre: Slice of Life, Society

Finishing: September 2013


Ada kalanya saya merenung.
                Senja itu, di salah satu tempat menunggu bis pulang, saya terdiam memandangi lalu lintas ibukota yang ramai, menanti kendaraan umum yang dapat cepat membawa saya pulang ke rumah setelah satu hari yang melelahkan.
                Diamnya saya membuat otak saya memutar kembali peristiwa satu hari yang baru saja saya lalui. Mungkin saya harus berterima kasih pada telepon genggam yang baterainya akan segera mencapai titik penghabisan. Karena jika tidak, mungkin saya sama seperti orang-orang di sekeliling saya. Sibuk dengan dunia maya tanpa menghiraukan dunia nyata.
                Hari itu saya mendapat panggilan tawaran kerja. Pekerjaan yang sudah lama saya inginkan dengan bulanan yang menggiurkan. Sayangnya, kemampuan saya meluluh-lantakkan harapan saya. Terima nasib saja, pikir saya, meskipun saya hanya bisa meringis. Kemudian kata ‘seharusnya tadi...’ mulai mengisi kepala saya. Namun percuma saja.
                Saya perhatikan sekitar saya. Mereka yang turut menunggu kendaraan umum, mereka yang berlalu-lalang. Pakaian rapi, necis, berkelas. Pegawai kantoran, mahasiswa, murid sekolah menengah, mereka yang sekedar cuci mata  di mall-mall besar.
                Apakah mereka bahagia dengan kehidupan mereka yang sekarang?
                Bangun pagi, meninggalkan hunian nyaman mereka untuk bertarung dengan individu lain demi kelangsungan hidup di ibukota, lalu pulang dengan benak yang babak belur. Begitu seterusnya sampai mereka menemukan satu saja lubang dalam rutinitas. Tinggal mereka yang memilih, apakah mengabaikan lubang kecil itu, atau melompati lubang itu sehingga rutinitas tak lagi mengekang.
 Pernahkan mereka menyesali kehidupan mereka yang seperti itu?
Perempuan muda yang duduk di sebelah saya bangkit. Dari jauh, saya lihat bis berwarna putih menghampiri tempat kami menunggu. Perempuan muda yang tadi duduk di sebelah saya lalu kembali duduk di sebelah saya dengan wajah kecewa. Sepertinya bukan bis itu yang ia tunggu. Dalam hitungan detik, si perempuan muda sudah tenggelam kembali dalam dunia maya lewat telepon genggamnya.
                Saya melanjutkan lamunan saya. Penantian. Saya dan mereka sama-sama menanti kendaraan. Mungkin perbedaannya adalah tujuan kami setelah ini, meskipun pada akhirnya tujuan itu berakhir pada satu tempat, rumah.
                Berapa lama kita harus menunggu suatu hal yang hasilnya bisa saja berujung pada kekecewaan?
                Seperti perempuan muda yang di samping saya. Entah sejak kapan ia menunggu, yang pasti lebih lama dari saya. Mungkin sudah beberapa kali ia kecewa karena perkiraannya akan bis yang datang bukanlah bis yang ia tunggu. Tetapi ia masih tetap sabar. Padahal bisa saja ia minta seseorang menjemputnya, atau naik kendaraan lain yang lebih nyaman dan bisa langsung sampai ke tempat tujuan. Tapi ia lebih memilih untuk tetap menunggu bis. Ia paham, sekalipun lama dan bisa saja penuh, tapi bis itu pasti datang. Ada berbagai kemungkinan yang saya pikirkan mengenai perempuan muda dan bis yang ditunggunya. Lalu saya kembali pada diri saya.
                Saya pun bisa saja naik bis mana saja yang berhenti pada satu halte, lalu ganti kendaraan umum beberapa kali. Lebih cepat sebetulnya. Tapi saya bersikeras untuk menunggu bis lain yang lebih ingin saya tumpangi. Alasannya sederhana, meskipun ongkosnya lebih mahal dari bis lain, tapi halte bus itu tidak terlalu jauh dari rumah saya. Dan lagi, biasanya dari tempat saya menuggu, selalu ada kursi kosong. Itulah yang membuat saya rela menunggu lama. Saya pun bisa saja memilih kendaraan lain yang lebih nyaman, namun ongkosnya tentu saja jauh lebih besar. Belum lagi jika dihadapkan pada kemacetan yang seringkali terjadi.
                Lalu pikiran saya melompat ke sektor lain. Menghadirkan suatu pertanyaan baru. Apakah mereka sesabar itu menanti orang yang akan mendampingi hidup mereka?
                Saya berusaha menahan tawa. Jika kamu mau tertawa, silahkan saja. Otak saya kadang memang seringkali tak terduga, tapi saya sudah terbiasa. Orang lain yang tidak. Tapi tidak masalah. Saya tidak pernah meminta mereka paham, hanya harap maklum.
                Kita tidak akan pernah tahu bukan, dengan siapa kita menghabiskan hari tua kita nanti. Sudah berapa kali kita terjebak dalam hubungan yang bukan dengan yang seharusnya? Berapa kali kita menangisi orang-orang yang pergi begitu saja, yang entah turut kehilangan juga seperti yang kita rasakan atau tidak. Sudah berapa lama kita menunggu orang yang kita impikan untuk berada di sisi kita hingga maut menjemput?
                Jika menunggu pasangan hidup dapat dilihat dari seberapa sabar menanti kendaraan umum, mungkin saja saya termasuk orang yang lama mendapat jodoh. Karena seperti yang saya bilang tadi, ada banyak alasan kenapa saya hanya ingin naik bis yang saya tunggu itu. Ada banyak kriteria yang saya inginkan pada orang yang saya pilih. Meskipun tidak ada yang sesempurna itu. Saya paham, namun kekeras-kepalaan saya membuat saya terus menunggu.
               Rasa penasaran dan rasa percaya adalah dua rasa yang ampuh untuk membuat kita terus menunggu atau memburu. Saya lebih milih untuk menunggu. Entah pada kamu.
                Beberapa menit kemudian, saya lihat bis yang ingin saya naiki. Namun, sebelum saya berdiri, bis itu tidak berhenti alih-alih memasuki jalur cepat, lalu pergi. Kemudian saya termangu. Mungkin begitu rasanya dikhianati. Setelah penantian yang panjang, kepercayaanmu akan kedatangannya justru hancur karena ia pergi begitu saja. Ya, persis! Mungkin begitu rasanya ditinggal pergi oleh seseorang yang sudah lama kamu nantikan. Sesak, kesal, kecewa. Tapi entah kenapa, saya tetap menunggu. Saya percaya, bis yang sama pasti akan lewat lagi. Dan jika kamu pikir ulang, apa gunanya bersedih terlalu lama setelah harapanmu dipalsukan oleh oknum tidak bertanggung jawab? Padahal selalu ada pengganti yang Tuhan sudah siapkan. Segera setelah kamu siap, kamu akan dipertemukan lewat cara-cara yang bisa saja belum pernah kamu pikirkan sebelumnya.
                Bisa saja ternyata ia adalah orang yang belum pernah kamu temui sama sekali. Lalu suatu hari, kalian bertemu di suatu tempat, di suatu waktu. Atau bisa saja ia adalah orang yang sudah kamu kenal lama. Saking lamanya, kalian sudah mengenal satu sama lain seperti mengenal diri sendiri. Atau mungkin, bisa saja dia adalah satu dari orang yang berlalu-lalang di depan kita, atau yang beberapa jam yang lalu duduk di belakang kita ketika kita nonton di bioskop, atau salah satu dari gerombolan remaja yang sedang makan sore di restoran cepat saji yang kamu kunjungi sehabis dari bioskop.
Tidak ada yang tahu, bukan? Inilah cara Semesta bermain dengan kita. Apakah kita ikut tertawa atau justru menghujat, itu terserah kita.
                 Selang 15 menit, bis yang saya nanti tiba. Saya cepat-cepat menuju ke arah pintu bis yang terbuka. Beruntung masih ada tempat duduk kosong. Saya duduk di kursi paling belakang, bersama 5 orang lainnya. Sepanjang perjalanan, saya tertidur sampai saya dibangunkan perempuan bermasker disebelah saya yang hendak turun. Saya pindah ke tempat ia duduk, di sebelah jendela. Saya memandangi pemandangan luar yang familiar. Gedung-gedung, lampu lalu lintas, jalanan. Semua yang hampir setiap minggu saya lewati.
               Sisa seperempat perjalanan pulang saya habiskan dengan mendiamkan otak saya. Otak saya pun butuh beristirahat, bukan? Setelah semua yang saya pikirkan sesorean tadi. Mungkin saya akan menuliskan semua yang saya pikirkan ke dalam sebuah jurnal. Ya, tentu saja. Kamu boleh baca. Jika kamu pikir membosankan, berhenti di tengah pun tidak mengapa. Toh ini hanya renungan absurd dari separuh hari yang sudah saya lewati. Dengan tema dan analogi yang aneh hasil kreatifitas otak saya. Sekali lagi, saya tidak minta kamu paham, namun harap maklum.
                Ketika malam tiba, dengan segelas kopi hangat pada laptop tua, saya mulai menulis.


[THE END]          

Tuesday, October 8, 2013

[FANFIC] 24 Cylinders 1

Title: 24 Cylinders
Author: DEADBORN
Rating: NC-17
Chapter: 1/on going
Genre: Angst, Society, Crime, Drama

Finishing: Agustus 2013
Note: Sedang belajar membuat cerita berchapter. Nah, selamat membaca
:)



_CHAPTER 1_

“THE KINGDOM OF DEMONS”


Siang itu, matahari tak terlihat. Awan hitam berarak dari timur, sebentar lagi hujan akan tiba. Sambil memperhatikan gumpalan awan hitam, seorang anak kecil melihat sesuatu yang janggal. Sebenarnya sudah lama ia ingin menanyakan hal itu pada ibunya, dan hari ini ia memutuskan untuk bertanya.
                “Mamaaa..”
                “Ya, sayang?”
                “Itu apa?” jari mungil anak itu menunjuk pada tiang-tiang tinggi yang mencuat menghujam langit mendung. Anak itu sering melihat tiang-tiang ganjil itu dari taman bermain dekat rumahnya.
                “Hmm.. itu merupakan tempat yang menyeramkan, nak. Jangan sekalipun kamu melangkahkan kakimu ke sana, ya?”
                “Memang kenapa, mama?”
                “Karena mereka bilang tempat itu berhantu. Jadi, jangan pernah ke sana, ya?”
                Karena mendengar kata ‘hantu’, anak kecil itu bungkam. Ia menjawab permintaan ibunya dengan anggukan kepalanya. Namun matanya tak lepas dari tiang-tiang tipis yang menantang langit itu.
                Si ibu menyadari arah tatapan anaknya. Dalam hatinya mulai khawatir. Anaknya harus diperingatkan mengenai tempat itu, sesegera mungkin.



Rintik hujan mulai turun perlahan. Jalanan mulai sepi, sebagian orang mencari tempat berteduh, sebagian lagi sudah aman di dalam rumah nyaman mereka. Matahari sudah lama kehilangan sinarnya semenjak mendung menggantikannya mewarnai hari. Kabut tipis menyelimuti senja, mengambang di antara gedung gedung pencakar langit, di antara ke-24 tiang silinder yang berdiri memagari taman hiburan tua yang terbengkalai di pusat kota.
Taman hiburan itu terlihat lengang, begitupun dengan pabrik-pabrik liar yang terbengkalai di sekeliling taman hiburan itu. Namun jika kau lihat lebih dekat, kau akan melihat kelebatan orang-orang yang sesekali melintas. Ya, tidak salah lagi, manusia. Beberapa orang menganggap bahwa bayang-bayang yang sesekali berkelebat itu merupakan hantu-hantu penunggu pabrik atau hantu korban kecelakaan fatal yang tak diharapkan dari taman bermain itu. Gosip mengenai hantu, yang entah sengaja atau tidak tersebar melalui mulut ke mulut, cukup ampuh untuk membuat penduduk kota menjauhi tempat tersebut. Terlebih lagi, gosip macam apapun pasti selalu dibumbui oleh hal-hal lain yang dapat membuat kenyataannya menjadi samar. Tidak ada yang cukup berani untuk mendekati bangunan-bangunan ganjil yang berada di pusat kota metropolis itu.
Hujan semakin menderas. Menghujam atap-atap kubah gudang-gudang besar tak berpenghuni di sekeliling taman hiburan yang mati. Di antara gudang-gudang itu, seorang pemuda jangkung berjalan dengan langkah cepat. Matanya memperhatikan sekelilingnya dengan awas. Ia tidak memedulikan tubuhnya yang mulai kuyup akibat hujan. Benda dalam dekapannya yang tersembunyi di balik kaus dan jaketnya lebih berharga ketimbang dirinya sendiri.
Ada seseorang di depan pintu sebuah gudang kecil. Pemuda jangkung itu menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih jelas dalam hujan. Orang yang diperhatikannya nampak tidak menyadari kehadiran si pria jangkung. Ia terduduk. Tubuhnya kotor, bajunya lusuh, dan jenggot kasar kelabu tumbuh di sisi wajahnya. Gelandangan, pikir si pemuda jangkung. Dengan berhati-hati, ia melangkah lebih cepat. Suara air hujan yang memerciki jalan dan atap meredam suara langkahnya.
            Mata si pemuda jangkung menelusuri gudang-gudang di sekelilingnya. Harusnya disekitar sini, pemuda jangkung itu merutuk. Hujan semakin lebat, dan ia semakin sulit bernapas. Ah, itu. sebuah gudang yang tak begitu besar dengan tulisan dari cat hijau bertuliskan [KR]. Akhirnya ia dapat menemukan tempat yang ia cari.
Pemuda jangkung itu memandangi sekeliling, memastikan tidak ada siapapun sebelum mendorong pintu gudang itu. Sebuah celah sempit saja sudah cukup baginya untuk dapat menarik dirinya masuk ke dalam pabrik. Ia mendorong pintu sampai menutup dengan tanpa suara. Gudang itu remang-remang. Samar-samar tercium bau rumah sakit. Di dalam terdapat tiga orang lelaki yang sedang bersantai bermain kartu. Salah satunya menghisap rokok yang tinggal setengah.
“Tendou Daisuke! Lama!” seorang pria bertubuh pendek membentak si pemuda jangkung tanpa melihatnya.
             “Jangan begitu, Gotoh. Hujan sudah cukup menyulitkannya,” si penghisap rokok melempar as clover ke tengah meja, diikuti erangan dari pria ketiga.
“Aku bahkan belum duduk, tapi sudah kena omel. Kalau kau masih mengomel setelah melihat apa yang kubawa untuk kalian, kucekoki mulut sampahmu itu dengan obat yang Tora buat sampai mulutmu berbusa hitam,” sambil berkata begitu, si pemuda jangkung mengeluarkan benda yang ia dekap sejak tadi. Sebuah buntalan berwarna hitam. Di bawanya buntalan itu ke tengah meja, lalu dihamburkan isinya disana. Uang-uang kertas menghujani meja. Ketiga orang yang sedang bermain kartu memandang takjub uang tersebut.
  “Die! Kau berhasil membawa uangnya?!” seru Gotoh.
             “Obat buatanmu rupanya mulai laris, ya?” si penghisap rokok membereskan uang yang berhamburan menjadi tumpukan-tumpukan yang rapi.
“Bukan aku yang membuatnya, hey Aoi. Aku hanya menjual. Dia yang meraciknya,” Die mengedikkan kepalanya pada pria ketiga yang terlihat lebih pendiam.
“Oi, Tora! Berkat kau, kita kaya raya sekarang! Hahahaha!” Aoi merangkul Tora. Tora hanya tersenyum.
 “Bukan masalah. Aku akan membuat lebih banyak lagi obat-obat penenang itu. Orang-orang bodoh itu akan menjadi ketagihan dan kita bisa jauh lebih kaya dari ini,” sekilas, Die dapat melihat kilatan cahaya dari mata Tora dalam remangnya ruangan. Tanpa disadari, tengkuk Die merinding.
“Nah, Gotoh, pergilah beli makanan. Kita harus merayakan hari ini!” Aoi menyerahkan beberapa lembar uang pada Gotoh yang bertubuh kecil.
“Nanti, setelah hujan reda. Lagipula aku juga sekalian mau ke Gate 24,” sahut Gotoh sambil membetulkan letak kacamatanya.
 “Baiklah, terserah. Hujan memang membuat siapapun enggan berpergian. Aku tahu, aku tahu...” Aoi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terus membereskan uang-uang di atas meja bersama Tora.
“Aku ke atas. Mau tidur,” pamit Die. Hanya anggukan yang ia terima dari ketiga temannya sebagai penanda mereka mendengarnya. Die menaiki tangga yang terkadang menderit karena bobot tubuhnya. Di atas, Die melepas pakaiannya yang basah, menggantinya dengan yang kering. Pakaian basahnya ia peras di kamar mandi. Setelah selesai menggantung pakaiannya di sisi ruangan, ia menggelar futonnya yang berbau debu. Sudah tiga hari ia meninggalkan gudang yang menjadi sudah ia anggap menjadi rumah selama 7 tahun ini bersama ketiga orang lainnya. Gudang yang mereka namakan [KR] Cube karena huruf [KR] yang tertulis di depan bangunan itu dan karena gudang-gudang itu menyerupai kubus-kubus besar. Tiga hari untuk transaksi obat penenang ilegal demi menyambung hidup.
Die merebahkan tubuh kurusnya. Pikirannya tak berfokus. Sebelum jatuh tertidur, otaknya dipenuhi berbagai kejadian dari masa lalunya hingga perasaan aneh yang kini ia rasakan.


Tepat sebelum Die terlelap, beberapa ratus meter dari tempat Die berbaring, di sebuah gudang besar di dekat pintu masuk taman hiburan terbengkalai, terdengar suara dering telepon. Seorang pria dengan lengan yang dipenuhi tato mengangkat telepon itu.
“Ya? Benar, ini Niihara Kaoru. Baik, dimana? Jam 9? Oke.” Lelaki yang dipanggil Kaoru itu lalu memutuskan percakapan. Percakapan itu begitu singkat. Setelah meletakkan telepon genggamnya di meja kecil, Kaoru berpaling pada deretan 4 bilah pisau dengan mata pisau berbeda dan 3 pucuk pistol koleksinya yang terhampar di meja. Tidak terlalu banyak, namun dengan pemakaian yang tepat, dapat mematikan.
Kaoru mengambil saputangan yang berada di samping sebuah pisau dengan mata pisau bergerigi. Sambil bersiul, ia membersihkan pisau itu agar semakin berkilau.
“Sepertinya hari ini akan mendapat pekerjaan lagi. Bersiaplah...” bisiknya sambil terus membersihkan pisau-pisau itu.  
“Pakai cara seperti apa? Hmm.. aku harus melihat dulu seperti apa rupanya agar aku tahu cara menghabisinya. Aku sudah tidak sabar...” Kaoru menyeringai. Ia dapat melihat pantulan wajahnya pada mata pisaunya.


Malam semakin larut. Gerimis tipis menemani malam bersama kabut yang menyelimuti sekeliling pabrik dan taman hiburan terbengkalai itu. Membuat suasana menjadi lebih mencekam. Seorang gelandangan berjalan sempoyongan di dalam taman hiburan. Samar-samar dapat terdengar suara percakapan atau suara dari radio. Beberapa titik lampu menyala. Si gelandangan mencari tempat yang gelap, paling tidak cukup hangat untuk mengistirahatkan dirinya malam itu.
Seorang pemuda memperhatikan gelandangan itu dari jendela. Pemuda kecil itu mematikan lampu tempel tempat ia tinggal, di sebuah ruangan yang dulunya merupakan kantin taman hiburan itu. Dengan sedikit kerja keras, ia menyulap bekas kantin itu menjadi sebuah tempat tinggal yang cukup untuk dirinya.
Si gelandangan tidak cukup sadar bahwa ia tengah di perhatikan. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, mencari tempat bernaung yang pas. Pemuda di balik jendela menjilat bibirnya yang merah.
“Hati... limpa... otak... makan besar....”


Hujan telah berhenti. Meninggalkan genangan-genangan yang melebar di beberapa sisi jalan. Dingin terasa menusuk, bahkan burung hantu sekalipun enggan berdekut. Seekor anjing kurus mendengking pelan ditempatnya bergelung mencari hangat karena melihat sepasang mata yang berkilauan dari jendela. Mata itu menyipit seolah tersenyum. Si anjing menutupi matanya dengan telinganya yang menjuntai.
24 Cylinders malam itu begitu sunyi meskipun setan-setan tengah berpesta pora di sana.




[TO BE CONTINUED]

Tuesday, October 1, 2013

I'm On Your Back



Title: I’m on Your Back
Author: DEADBORN
Rating: PG15
Chapter: One Shot
Genre: Slice of life, Sad Romance,

Finishing: September 2013



Saya jatuh cinta.
                Dia orang yang sederhana. Bukan si glamor, bukan pula si tukang pesta. Dia senang berbicara, mengenai apa saja, dengan teman-temannya. Tapi ia lebih sering diam.
                Dia tidak rupawan seperti artis-artis ibukota maupun mancanegara. Menyukai seseorang bukan selalu mengenai wajah, bukan? Hanya saja, ada perasaan teduh yang menenangkan jika saya memandangnya. Membuat mata saya betah menelisik tiap sudut profil wajahnya.
                Lantas apa yang membuat saya jatuh cinta?
                Jika kamu tanya, maka dengan mantap saya menjawab; punggung.
                Tidak usah heran ataupun bingung. Juga jangan tanya mengapa, karena saya pun belum menemukan jawabannya. Tapi setiap berhadapan dengan punggung itu, rasanya saya bisa tersandung lalu jatuh cinta berulang kali.
                Ketika dia sedang berjalan di depan saya. Ketika dia sedang berdiri diam memunggungi saya. Maka saya hanya dapat diam, terkesima. Menikmati sepotong punggung dari orang yang diam-diam saya sukai. Seperti ada daya pikat tersendiri yang memancar dari punggung itu dan mampu membuat saya menjadi orang yang aneh karena jatuh cinta pada punggung.
               Mungkin kamu pikir itu menyedihkan. Bisa saja demikian. Tapi jika kamu memakai kacamata seperti yang saya pakai, mungkin kamu akan paham mengapa saya lebih memilih untuk menikmati bagian yang paling aneh untuk ditatap.
                Ketika saya berjalan di tempat ramai, mata saya akan memandangi punggung-punggung manusia yang berjalan di depan saya. Tapi saya belum menemukan punggung yang seperti miliknya. Dan mungkin memang punggung seperti itu hanya ada satu di seluruh dunia. Siapa yang tahu?
                Saya tidak minta kamu untuk paham saat mendengar cerita saya. Hanya saja jangan tertawa. Apa yang salah dari mencintai seseorang karena punggungnya? Saya rasa itu lebih baik daripada mencintai seseorang karena harta atau semata-mata wajah rupawan. Jika saya tanya kamu, apa yang membuatmu jatuh cinta dengan orang pilihanmu, saya tentu akan percaya. Seaneh apapun alasan yang kamu kemukakan. Karena bagi cinta, semua sama. Yang berbeda hanya pada kacamata dan label apa yang akan kita gunakan pada substansi berjudul ‘cinta’ tersebut.
                Dan setelah sekian lama saya mengenalnya, setelah sekian lama kami saling berbagi cerita, dia tidak akan pernah tahu bahwa selama ini saya menjaganya dalam diam. Mengawasi, menikmati sepotong punggung yang telah membuat saya jatuh cinta.
                Mungkin itulah sebabnya saya mencintai punggung itu. Karena sang pemilik punggung itu lebih sering menghadapkan punggungnya pada saya dan menghadapkan wajah yang penuh keteduhan itu pada orang lain. Orang yang ia cintai.



[THE END]