Saturday, August 24, 2013

[FANFIC] Plastic Umbrella 7

Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 7/7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: Agustus 2013



“Payung itu... masih ada. Kuletakkan di sana. Temuilah dia.”

Hujan terus membasahi malam dengan irama yang konstan. Kyo berjalan menembusnya, seolah rintikan hujan itu tidak ada. Langkahnya mantap, ia tahu tujuannya. Selama berjalan, pikirannya penuh dengan monolog-monolog dua arah yang saling berkaitan, menjadi suatu dialog yang ganjil. Antara dirinya dan Kasumi yang hidup dalam kenangannya.
                Lampu-lampu jalan terlihat redup di dalam rinai hujan. Membuat kota terbungkus dalam bayang-bayang suram. Hujan dan malam yang kian larut membuat jalanan menjadi begitu sepi. Kyo mulai menggigil di balik jaketnya. Langkahnya melambat. Sebentar lagi ia tiba di persimpangan jalan, tempat yang selalu hadir dalam mimpinya.
                Kyo berhenti di sisi jalan. Di hadapannya lampu lalu lintas menyala hijau, namun tak ada satu mobilpun yang lewat. Di bawah lampu lalu lintas itu terdapat setangkai bunga krisan putih yang lazim ada dalam upacara pemakaman. Seseorang yang telah meletakkan bunga itu di sana pasti tahu kejadian apa yang pernah terjadi di tempat itu untuk menghormati mereka yang menjadi korban.
                “Terima kasih..” lirih Kyo, untuk siapapun yang meletakkan bunga itu. ia berjongkok, mengusap bunga krisan yang terguyur hujan. Satu kelopaknya terlepas. Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Dihadapannya, terhampar jalanan yang sepi. Tapi ia bisa melihat mobil yang rusak, menabrak pembatas sisi jalan satunya, dengan asap hitam mengepul dari sela kap mobil. Ia bisa melihat dirinya yang tertelungkup, berusaha dengan sisa-sisa tenaganya untuk melindungi Kasumi yang tergeletak tak jauh darinya dengan cara yang sanggup ia lakukan. Mata Kasumi terpejam, darah mengalir dari mulut dan hidung Kasumi. Darah dari luka di belakang kepala Kasumi menyatu bersama air hujan.
                Kyo merasa ingatannya begitu kuat hingga ia dapat melihat semua itu sejelas ia melihat bunga krisan puith. Seperti kembali ke hari terburuk sepanjang ia hidup, hanya saja ia hanya dapat menjadi penonton.

                Mereka berjalan berdampingan di bawah payung bening yang memantulkan hujan. Sambil menunggu lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau, mereka bercanda.
                “Payung bening ini lucu, ya. Aku bisa melihat butir-butir air yang jatuh di atasnya. Aku bisa melihat bagaimana ia melindungiku dari hujan,” Kasumi mendongak menatap hujan yang jatuh di atas payung bening itu sambil tersenyum.
                “Kamu juga bisa melihatku melindungimu, kan?” balas Kyo.
                “Ahahaha iya, iyaa Kyo. Tapi aku juga ingin menjadi seperti payung bening ini.”
                “Tidak, selama aku masih bisa melindungimu.”
                Mereka berdua tertawa-tawa. Kasumi mengaitkan lengannya pada lengan Kyo. Lampu lalu lintas berganti warna. Sebuah mobil berjalan dengan kecepatan penuh. Warna kuning berganti merah. Kasumi melangkahkan kakinya, Kyo mengiringinya. Mobil itu tidak berhenti, tidak dapat berhenti.
                Kyo dapat mendengar suara pekikan Kasumi. ia tidak sempat menarik tubuh Kasumi untuk menyingkir. Terdengar bunyi benturan keras. Kyo bisa merasakan sesuatu menyambar lututnya. Bunyi decit rem lalu suara benturan yang lebih keras. Suara hujan terdengar samar.
  Kyo bisa merasakan aspal yang basah dan dingin di bawah tubuhnya. Lututnya nyeri, ia tak mampu berdiri. Kepalanya terasa berputar. Kyo dapat merasakan sesuatu dalam genggamannya, ia menyipitkan matanya, gagang payung bening itu masih berada dalam genggamannya. Dalam buram akibat hujan, ia berusaha menoleh ke sisi satunya, mencari Kasumi. itu dia, tergolek tak berdaya dalam siraman hujan. Kyo berusaha membalikkan tubuhnya. Berusaha memayungi Kasumi. Berusaha melindunginya. Namun...  

                Visualisasi itu terlihat sungguhan. Kyo berdiri diam di tempatnya, di samping bunga krisan putih yang umurnya tak lama. Wajah Kyo kuyup oleh hujan dan air mata.
                “Kamu sudah memutuskan?”
                “Aku lihat kamu terbaring di sana. Tapi aku bisa apa?”
                “Kamu bisa lanjutkan hidup kamu.”
                “Aku harus memutuskan.”
                “Payung bening itu ada di sana.”
                “Aku tahu. Dan akan aku ambil.”
                “Kita bertemu di sana, ya?”
                Kyo terhuyung. Lampu lalu lintas itu berwarna merah. Tak ada satupun mobil yang melintas. Ia menyebrangi jalan. Terus berjalan di dalam hujan yang belum ingin berhenti, seolah masih ingin menemani.
                Kyo berhenti di depan sebuah tangga batu dengan gerbang merah besar di atasnya. Satu persatu, dinaikinya tangga batu itu. ia berjalan terus ke dalam, berbelok ke sebelah kiri, di mana penuh siluet-siluet persegi yang tinggi. Nisan-nisan batu yang dingin dan basah dalam guyuran hujan. Kyo berjalan terus melewati nisan-nisan batu itu. Pada nisan ke-sembilan, ia berhenti.
                Ukuran batu nisan itu tidak besar. Hanya seperti lempengan batu sederhana yang berdiri kokoh di atas batu datar dengan dua vas putih di sisinya dan tempat dupa di tengahnya. Di bawah tempat dupa itu, terdapat sebuah benda yang tak asing. Sebuah payung bening.
                “Maaf, aku tidak membawa apa-apa.”
                Kyo berlutut di hadapan nisan itu, tangannya menyapu nama yang terukir di atasnya.
   Kurokawa Kasumi.
   Matanya menatap payung plastik yang teronggok di bawah nisan Kasumi. Kyo mengambil payung itu perlahan, lalu membukanya. Kyo berdiri, memayungi dirinya dengan payung bening yang kini kusam termakan cuaca. Ia menatap nisan Kasumi yang memburam dalam air matanya.
  “Selama setahun, payung ini menunggu kita untuk kembali berteduh di bawah naungannya. Waktu kecelakaan itu terjadi, aku terus menggenggam payung ini, berusaha menaungi kamu yang terkapar tak berdaya dengan sisa tenagaku. Ketika aku sadar di rumah sakit, payung ini ada di sisi tempat tidurku. Kupindahkan payung ini kekamarmu dengan harapan kamu sadar aku selalu ada di sisimu untuk melindungimu. Kamu bangun pagi itu. Dengan tawa khas kamu dan air mata dipelipismu ketika mendengar tangisanku.
              “Kamu bilang, kamu senang aku selamat. Kamu senang karena kamu bisa menjadi seperti payung bening ini, melindungi dan bisa dilihat oleh orang yang kamu lindungi ketika kamu melindunginya. Aku tidak senang jika itu berarti kamu harus terluka. Sore hari, kamu bilang kamu akan pulang. Kamu tidak bilang kemana akan pulang, hanya saja kamu minta aku untuk hidup tanpa sesal karena ketika kecelakaan itu terjadi, justru aku yang dilindungi kamu. Dan kalimat itu menjadi kutukan bagiku setelah kamu pergi karena itu adalah permintaan terakhirmu. Kamu memintaku tetap hidup sementara kamu mati.
  “Aku menuruti inginmu. Aku tetap hidup, hingga saat ini. Dan kamu tidak pernah mati. Kamu selalu ada, hadir dalam kepalaku yang dipenuhi kenangan tentang kamu. Kamu hadir dalam monolog dua arah di dalam pikiranku, yang kemudian kuvisualisasikan. Apakah aku sudah gila? Aku tidak tahu. Aku hanya terus hidup, seperti yang kamu inginkan, dengan caraku sendiri.”
Kyo mendongakkan kepalanya. Menatap rintikan hujan yang jatuh pada payung yang kini salah satu rusuknya patah.
“Aku kemari untuk mengambil payung ini. Aku akan membereskan semua barang-barangmu. Aku akan membakar semuanya dan membawa abunya kemari, kecuali payung bening ini. Sebagai pengingat bahwa kamu sudah melindungi aku...”
Kasumi berdiri di belakang nisannya. Tersenyum pada Kyo. Dalam hujan, ia nampak seperti sedang menangis.
“Inikah perpisahan yang kamu inginkan?”
“Tidak ada seorangpun yang menginginkan perpisahan.”
“Semua monolog itu tidak akan berhenti. Tapi tidak ada lagi namamu.”
“Aku paham.”
“Kamu selalu ada.”
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
             “Aku hanya meninggalkan jasadmu di tempat ini. Menerima kematianmu merupakan hal tersulit yang pernah kulakukan selama aku hidup. Kenanganmu akan tetap hidup bersamaku, tapi aku tak perlu membawamu serta ke dalam realitas seperti yang selama ini aku coba untuk lakukan.”
             “Jangan khawatirkan aku.”
             “Aku tidak bisa bicara pada siapapun tentang ini sekalipun mereka mengerti kondisiku dan aku tidak meminta mereka untuk mengerti. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun atas semua yang sudah terjadi.”
             “Tidak ada lagi yang harus kamu katakan karena aku sudah paham. Kesempatan yang kuberikan ketika aku melindungimu dulu tidak pernah kusesali, itu sebabnya aku meminta kamu untuk hidup tanpa penyesalan juga. Semoga kamu mengerti.”
             “Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal.”
             “Ini bukan perpisahan. Bukan juga sebuah awal pertemuan. Kita hanya berlari di atas punggung Ouroboros.”
             Kyo berbalik. Berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya. Kasumi masih berdiri di sana, memandangnya sambil tersenyum. Kyo balas senyum. Ini bukan akhir, juga bukan awal.
              Kyo berjalan pulang ke apartemennya di dalam tirai hujan dengan payung bening kusam dan rusak menaunginya. Siluetnya semakin menjauh dan mengecil hingga akhirnya menghilang sama sekali dalam hujan.

Jika aku kembali nanti, aku pastikan kamu ada di sisiku, di bawah payung bening ini.



[THE END]

Thursday, August 15, 2013

[FANFIC] Plastic Umbrella 6

Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 6/
7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: Agustus 2013


                “Kyo-kun, sudah saatnya kau merelakan Kasumi...”
                “Aku... belum bisa, Shin. Berat sekali.”
                “Kau hanya belum ingin melupakannya,” tutur Shinya lembut.
                Seratus hari sudah Kasumi pergi. Shinya menggunakan hari liburnya untuk mengunjungi Kyo. Ia ingin menemani Kyo sesering yang ia bisa. Ketika ia tiba, Kyo memang terlihat baik-baik saja, namun Shinya tahu kesepian tengah menggerogoti jiwanya dari dalam dan membuatnya rapuh. Dan Kyo menutupnya rapat dengan penampilan yang seolah ia tak pernah mengalami hal yang mengerikan. 
                “Aku paham keinginanmu, tapi aku sudah memilih. Kau ingin aku terus melanjutkan hidup normalku seperti keinginan Kasumi sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, dan inilah yang kulakukan. Hidup normal seperti biasanya, seperti saat ada Kasumi.”
                “Tapi kau tidak menghilangkan kenangan tentang Kasumi.”
                “Karena dalam kehidupan normalku, Kasumi adalah bagian dari keseharianku, Shin. Sulit sekali melepaskan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan.”
                Kyo menghembuskan asap rokoknya sambil menatap sungai di luar jendela. Matahari sore memantul di permukaan sungai yang mengalir tenang.
                Shinya sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mungkin jika Kyo melakukannya secara tidak sadar, Shinya masih bisa menyadarkannya. Tapi Kyo tahu betul apa yang dilakukannya. Apa lagi yang bisa ia lakukan?



                “Psikiater?”
              “Ya, Shin. Bagaimana kalau kita bawa Kyo ke psikiater? Kurasa jiwanya terguncang hebat akibat kehilangan Kasumi..” tutur Toshiya. pada akhirnya Toshiya tahu bahwa Shinya sudah tahu perihal Kyo yang selalu menggunakan Kasumi sebagai alasan untuk menolak ajakan pergi.
                “Tapi kurasa itu akan menyakiti hati Kyo karena ia pikir kita menganggap dia sudah gila. Kau tahu, hampir sebagian besar orang berpikir bahwa orang yang membutuhkan psikiater adalah orang yang hampir kehilangan kewarasannya meskipun aku tahu bahwa pandangan itu keliru.”
                “Tapi hanya itu satu-satunya cara.”
                “Begitukah?” Shinya meragu. Ia ingin sekali membantu Kyo, tapi ia kurang setuju dengan saran Toshiya. Dengan teman terdekatnya saja Kyo jarang mengeluh, apalagi ini. Sama saja dengan menunjukkan luka bernanah pada orang yang tak kau kenal, memalukan, sekalipun ada kemungkinan orang asing itu memiliki obat untuk menyembuhkannya.
                “Kurasa, lebih baik kita lihat perkembangan Kyo dulu. Aku tidak ingin Kyo merasa terbebani dengan gagasan ini.”
                Shinya berada dalam posisi sulit. Ia paham Toshiya, Die dan Kaoru ingin membantu agar Kyo dapat lepas dari kenangan tentang Kasumi dapat melanjutkan hidup tanpa Kasumi, sama seperti dirinya. Akan tetapi, ia tahu betul Kyo bukan tipe orang yang dapat dipaksa melakukan hal yang tidak ia inginkan. Dan jika ia sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, ia akan terus melakukannya hingga merasa cukup dan akan berhenti jika ia menginginkannya, bukan karena orang lain. Ia tidak bisa memaksa Kyo untuk berhenti hidup dalam kenangannya dengan Kasumi.
                Shinya menghela nafas berat. Sebagai sahabat, tentu ia menginginkan apapun yang terbaik untuk Kyo. Jika hidup dalam kenangan Kasumi merupakan satu-satu jalan Kyo untuk dapat terus menjalani kehidupan normalnya, Shinya sudah pasti mendukungnya. Tapi kita tidak bisa terus menerus hidup dalam keadaan seperti itu bukan?
                Shinya benar-benar khawatir.


 *


                Satu tahun sudah berlalu sejak kematian Kasumi. Tidak ada yang berubah. Kyo tetap menganggap Kasumi masih tinggal bersamanya. Die, Kaoru dan Toshiya, meskipun tidak sesering dulu, masih tetap mengajaknya minum-minum sepulang kerja atau menonton dvd di kamar Kaoru. Setiap kali menolak, alasan Kyo tetap sama; ia ingin pulang sebelum Kasumi pulang. Ketiga temannya itu sudah tahu dan paham meskipun sesekali mereka tetap memaksa Kyo untuk ikut. Jika Kyo ikut, Kyo seperti biasa akan melontarkan komentar-komentar jenaka yang memancing tawa pendengarnya. Suasana terasa lebih menyenangkan jika Kyo ikut. Namun, Kyo lebih memilih untuk tinggal bersama kenangannya.
                Shinya berusaha sesering mungkin mengunjungi Kyo. Menemaninya disela kesibukannya. Kyo sangat menghargai usaha yang dilakukan Shinya untuk menghiburnya, tapi ia tetap belum bisa lepas dari kenangan tentang Kasumi yang begitu kuat.
Shinya tidak pernah membicarakan masalah gagasan Toshiya pada Kyo karena ia yakin betul Kyo tidak akan mau. Selama setahun ini, yang Shinya bisa lakukan hanyalah menemani Kyo sesering yang ia bisa atau meminta Toshiya, Die atau Kaoru untuk menemaninya. Toshiya sendiri juga tidak berani menyarankan Kyo langsung untuk ke psikiater. Mereka bertiga lebih memilih untuk tetap bungkam dan bersikap tidak tahu menahu mengenai kematian Kasumi. Lebih baik Kyo tidak tahu jika mereka tahu sehingga ajakan-ajakan main mereka terasa lebih natural dan Kyo tidak perlu merasa bahwa ia tengah dikasihani sekalipun mereka bertiga tidak ada niat untuk mengasihani Kyo. Mereka hanya ingin Kyo menjalani kehidupan yang normal.



                Malam itu hujan turun. Kyo menatap butir-butir air yang menempel pada kaca pintu gesernya. Kamarnya terbias cahaya dari televisi yang volumenya dimatikan. Kasumi turut memandang butiran air hujan sambil tiduran dipangkuan Kyo. Mereka diam, menikmati suara air hujan yang tengah memerciki wajah sungai. Kasumi menutup matanya.
                “Kamu tahu? Seharusnya aku benci hujan.”
                “Kenapa?”
                “Karena kita berpisah saat hujan.”
                “Kita tidak pernah berpisah.”
                “Kyo...”
                “Kamu ada. Selalu ada.”
                “Eksistensiku hanya serupa hantu. Aku hidup namun tidak nyata karena aku hanya hidup di dalam kenanganmu.”
                “Itu sudah cukup.”
                “Itu tidak sehat.”
                “Aku tidak peduli. Bagiku, kamu ada, dan itu cukup.”
                “Kyo, kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kamu punya kehidupan yang harus kamu jalani. Kenapa kamu tidak mau membuka diri pada orang lain?”
                “Ayolah, Kasumi. Kita sudah hidup bersama selama 10 tahun dan kamu masih belum paham?”
                “Tapi kamu bisa mempercayaiku.”
                “Karena kamu mau dan bisa memahamiku. Tidak banyak orang yang mau dan bisa memahami orang yang sulit sepertiku.”
                “Kamu tidak akan pernah tahu diluar sana masih ada yang mau peduli padamu jika kamu tidak mencoba.”
                “Aku tidak mau mengambil resiko dengan sakit hati atau yang lebih parah, kehilangan lagi. Tidak. Kehilanganmu sudah sangat berat.”
                Kasumi bangkit dari posisinya. Ia menatap mata Kyo.
                “Kamu terlalu menutup diri.”
                “Aku hanya melindungi diriku sendiri dengan satu-satunya cara yang aku tahu.”
                “Resiko ada untuk dihadapi, bukan dihindari.”
                “Dan aku memilih resiko yang lain. Yang lebih sanggup untuk kujalani.”
               Kyo mengalihkan pandangannya dari Kasumi. menatap rintik hujan yang tersinari lampu jalan, membentuk tirai tipis.
                “Aku selalu ingat kata-katamu ketika kamu terbangun di rumah sakit pagi itu.”
                “Bahwa aku akan pulang bersama denganmu.”
                “Kamu memang pulang, tapi tidak ke kamar ini dan tanpa aku.”
                “Kamu harap apa? Itu sudah kehendak-Nya.”
                “Dan aku selalu yakin kamu akan kembali.”
                “Padahal kamu tahu aku tidak akan pernah pulang secara utuh.”
                Keduanya diam. Membiarkan kembali suara hujan menghancurkan keheningan yang mereka bangun. Kyo jengah.
                “Aku tidak suka.”
                “Semua berubah. Kamu yang memutuskan, apakah itu baik atau tidak.”
                “Aku tidak tahu. Aku hanya tidak suka perubahan ini.”
                “Suka atau tidak, kamu toh harus menghadapinya.”
                “Rasanya seperti tersesat.”
                “Kamu selalu tahu di mana pintu keluarnya.”
                “Temani aku.”
                “Selalu.”
                Kyo bangkit untuk berpakaian, ia hanya menggunakan jaketnya untuk menghadapi derasnya hujan. Kasumi mengikutinya.
    Ia sudah tahu kemana Kyo akan pergi.

                Ayo kita ambil payung bening itu sekarang. Sudah terlalu lama dia menunggu.


[to be continued]

Tuesday, August 6, 2013

[FANFIC] Plastic Umbrella 5

Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 5/
7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013


Satu bulan berlalu sejak Die, Kaoru dan Toshiya mengetahui keadaan Kyo yang sebenarnya. Selama itu, Shinya masih belum bisa mengunjungi Kyo lagi. Menurut Toshiya, Shinya memang tengah sibuk dengan pekerjaannya sebagai guru Taman Kanak-kanak.
               Meskipun mereka tidak terlalu dekat, tapi Die, Kaoru dan Toshiya berusaha menghibur Kyo dengan segala cara yang mereka bisa lakukan. Mereka tidak ingin mengasihani Kyo karena tentu saja itu akan menyakiti hati Kyo. Mereka hanya ingin Kyo tetap menjalani hidupnya secara ‘normal’.
                Ya, normal tanpa harus dihantui oleh kenangan Kasumi lagi. Bukannya mereka ingin Kyo melupakan Kasumi, akan tetapi Kyo sudah melewati batas sehingga ia tak lagi bisa membedakan lagi antara realitas dan kenangan selalu hadir. Bukan hantu yang menghantuinya, melainkan kenangan yang enggan dilupakan.
                “Sudah satu bulan kita berusaha menghiburnya. Sudah hampir tiga bulan Kasumi meninggal, sedangkan dia belum ingin menjejak pada realitas! Apa lagi yang harus kita lakukan agar ia kembali menapak pada kenyataan?” keluh Toshiya. Ia masih bungkam pada Shinya mengenai tingkah laku Kyo karena tak ingin membuat temannya itu semakin khawatir.
                Die mengangkat bahunya, “entahlah, aku sendiri juga bingung. Aku tahu kehilangan itu memang suatu hal yang tidak menyenangkan, tapi apakah harus sampai seperti itu?”
                “Pikirkan lah, Die. Yang pergi itu orang yang paling kau cintai, tempatmu bergantung. Apa jadinya jika kehadirannya tak lagi ada? Bisa kubayangkan betapa hancurnya Kyo di dalam sana,” komentar Kaoru.
                “Aku tidak tahu apakah itu hebat atau tidak, tapi Kyo pandai sekali menyembunyikan perasaannya,” Toshiya setengah bergidik.
                “Aku rasa, dia tidak menyembunyikan apa-apa. Dia hanya menganggap Kasumi masih hidup, dan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa,” kata Kaoru pelan.



                Shinya sebetulnya khawatir sekali dengan Kyo. Sebagai sahabat sejak kecil, Shinya benar-benar memahami Kyo meskipun Kyo seorang yang tertutup. Shinya teringat dulu sekali, masa-masa ketika mereka harus berpisah karena Shinya melanjutkan studinya ke Osaka, sedangkan Kyo tetap di Kyoto. Terpisah selama 4 tahun, tapi komunikasi diantara mereka terjalin dengan baik. Sesekali Kyo mengunjungi Shinya di Osaka.
                Suatu waktu, Kyo datang ke Osaka bersama dengan seorang wanita.
                “Kenalkan, namanya Kasumi.”
Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan kurus. Wajahnya bulat dengan mata sipit yang memancarkan keramahan. Kasumi tersenyum pada Shinya. Cantik. Kyo bilang, mereka sudah saling mengenal sejak Kyo baru masuk kuliah. Tapi selama ini, Kyo tidak pernah bercerita apapun mengenai wanita itu sampai kemudian Kyo membawanya ke Osaka untuk dikenalkan langsung pada Shinya. Tidak masalah, selama Kyo bahagia.
                Sewaktu Shinya pergi ke Osaka, Kyo sudah tinggal dengan neneknya. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dan pada tahun pertama Kyo kuliah, Shinya mendapat kabar bahwa nenek Kyo meninggal. Mungkin karena itu, secara tidak langsung, Kyo menjadi bergantung pada Kasumi.
                Shinya sendiri baru tahu bahwa Kasumi juga hidup sendiri. Ia sudah tidak pernah menemui kedua orang tuanya lagi sejak memutuskan untuk pergi dari rumah. Kedua orang tuanya pun tidak bersusah payah untuk memintanya kembali, sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing.
                Kedua orang yang sama-sama hidup sendiri. Merasa saling membutuhkan hingga akhirnya mereka memutuskan untuk hidup bersama. Shinya bersyukur, paling tidak, ada yang menjaga Kyo.
                Ketika Shinya mendengar berita kecelakaan itu dari Kyo, ia sendiri menolak untuk percaya. Shinya segera berkemas menuju Tokyo. Menuju rumah sakit tempat Kyo dan Kasumi dirawat. Shinya bisa melihat dari mata Kyo, ia hancur perlahan. Melihat Kasumi yang terbaring tak sadarkan diri dihadapannya. Malam ketika Kasumi meninggal, Kyo duduk disisi tempat tidurnya. Membiarkan wajah Kasumi tak tertutup kain. Ia memandangi Kasumi terus. Shinya memintanya untuk pulang dan mengurus upacara pemakamannya, tapi Kyo marah. Dia bersikeras Kasumi hanya sedang tidur dan akan pulang. Ketika upacara pemakaman berlangsung, Kyo tetap tinggal di kamarnya. Menunggu Kasumi.
                Ketika Shinya bisa menemui Kyo kembali dua bulan setelah kematian Kasumi, Shinya tahu Kyo masih belum merelakan kepergiannya. Kyo masih terjebak dalam kesehariannya yang tak pernah lepas dari Kasumi. Shinya berusaha menyadarkan Kyo, tapi sesungguhnya usahanya tidak terlalu berhasil. Karena Kyo melakukan semuanya dalam keadaan sadar.
                Shinya bergidik. Kyo melakukan semua itu bukan semata-mata karena tidak sadar, tapi ia justru melakukannya dengan kesadaran penuh. Berusaha menghadirkan kembali sosok Kasumi. Berbicara seolah-olah Kasumi benar-benar berada di sana. Padahal percakapan itu hanya terjadi di dalam kepalanya. Ia hanya berbicara dengan dirinya sendiri.



                Apa rasanya memiliki dua kubu yang bertentangan di dalam pikiranmu? Itulah yang seringkali Kyo hadapi. Biasanya, Kasumi akan membantunya. Tapi kali ini Kasumi tidak ada untuk membantunya. Ia harus melakukan semuanya sendiri.
                Ia menerka-nerka, inikah pendapat yang akan Kasumi kemukakan? Atau yang seperti itu? Atau mungkin Kasumi akan memberi masukan baru? Hidup bersama dengan Kasumi selama 10 tahun membuat Kyo hapal semua tingkah lakunya. Dan ia berusaha menghadirkan itu kembali, semampunya.
                Ia tahu Kasumi sudah tiada, tapi sebagian dari dirinya bersikeras bahwa Kasumi pasti akan kembali, dan semua yang sudah terjadi itu tidak nyata. Menyangkal tidak ada gunanya. Kasumi memang sudah meninggal. Kesepian dan kehilangan membuatnya gila. Sebagian dari dirinya ingin segera menyusul Kasumi, tapi bagian dirinya yang lain memaksanya untuk terus hidup. Mungkin itu adalah salah satu keinginan Kasumi yang menetap dalam dirinya, seperti kutukan yang tersegel di dalam dirinya, tanpa bisa ia hapus dan hampir gila Kyo dibuatnya.
                Shinya tidak salah untuk memintanya kembali pada realitas. Tidak. Ia sadar betul dirinya sedang hidup di dalam realitas, tapi di satu sisi ia juga tidak bisa menyalahkan tindakannya, meskipun bukan berarti ia mendapatkan pembenaran atas tindakannya. Ia sudah memilih untuk hidup bersama kenangan Kasumi, dan inilah konsekuensinya. Bangun setiap pukul 4 pagi dengan peluh disekujur tubuhnya. Siksaan berupa mimpi buruk yang tak seperti mimpi. Seperti kembali ke hari-hari indah yang ia habiskan bersama Kasumi dan berakhir dengan melihat Kasumi yang tergeletak tak berdaya dengan mata terpejam dan darah yang mengalir dari hidung dan sudut mulutnya.
                Tidak ada yang bisa Kyo lakukan. Kyo tidak bisa meminta pada dewa untuk menghidupkan Kasumi kembali. Kyo tidak percaya akan hantu. Kyo hanya ingin Kasumi hadir disisinya, utuh. Tapi itu kini merupakan hal yang mustahil.
                Kini ia hanya dapat menunggu saatnya kembali hidup bersama dengan Kasumi. Kapanpun itu. Jika saatnya tiba, ia pasti akan segera pergi, meskipun itu harus mengotori tangannya sendiri.
                Aku memang berharap kamu kembali meskipun itu tidak mungkin, apakah aku mulai gila? Mungkin saja. Payung bening yang kita cari itu, sampai kapan ia menunggu kita kembali berteduh dibawahnya?

[to be continued]