Tuesday, July 30, 2013

[FANFIC] Plastic Umbrella 3



Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 3/
7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013




Die sedang menunggu Kaoru di sebuah kedai kopi sore itu. Ada sesuatu yang harus mereka bicarakan, dan hal itu tidak bisa dibicarakan di kamar Die maupun kamar Kaoru, meskipun kamar Kaoru berada di lantai bawah apartemen yang Die tinggali. Riskan sekali.
                Tidak lama kemudian, pintu kedai kopi kecil itu terbuka. Die menoleh, syukurlah Kaoru yang datang, bersama Toshiya. Kaoru mendatangi meja tempat Die duduk, lalu duduk dihadapannya. Toshiya mengambil tempat di antara keduanya.
                “Jadi? Apa yang ingin kau bicarakan?”
                “Kenapa kau ajak dia?” Die melirik ke arah Toshiya.
         “Aku ada perlu dengannya tadi, jadi kuajak saja sekalian. Ada apa?” Kaoru tak berbasa-basi.
                “Oh,” jawab Die singkat dengan ekspresi jahil.
                “Ayolah, Die. Ada apa sebenarnya?”
                Die diam sejenak, menatap kedua pria itu dengan wajah tak yakin. “Aku ingin bicara tentang...” Die menghentikan ucapannya. Seorang pelayan mendatangi meja mereka, menanyakan pesanan. Setelah selesai mencatat pesanan, pelayan itu berlalu.
                “Tentang apa?” kali ini Toshiya yang penasaran.
                “.....tentang Kyo.”
                “Kyo? Ada apa dengannya?” Kaoru mengernyit keheranan.
            “Kau tahu? Sudah sejak beberapa minggu yang lalu aku sering mendengar suara-suara dari kamarnya. Bukan Cuma aku, tapi Gara pun terkadang mendengarnya.”
              “Lalu dimana letak keanehannya? Siapa tahu ia sedang nonton tv kan?” giliran Toshiya mengernyitkan dahinya.
           “Awalnya aku pun berpikir demikian. Tapi suatu kali, karena aku penasaran, aku mencoba mencuri dengar dari pintu kamarnya. Aku tahu itu tindakan yang kurang ajar dan tidak sopan, karena aku merasa suara itu aneh.”
             “Lalu?” kali ini Kaoru mulai penasaran. Meskipun mereka tinggal satu apartemen, Kaoru tidak terlalu tahu kehidupan mereka yang tinggal di lantai atas, khususnya Kyo. Padahal mereka satu tempat kerja, namun Kyo sangat tertutup. Dia bukan tipe orang yang suka bicara dan lebih senang menyendiri. Tipikal orang aneh yang seringkali dijauhi oleh orang yang tidak benar-benar mengenalnya.
           Kaoru sendiri baru benar-benar mengenal Kyo saat Die mengajaknya ikut minum-minum sepulang kerja. Saat itupun Kyo tak banyak bicara, tapi sekalinya bicara, Kyo suka melucu. Itulah sebabnya Kyo jadi sering diajak ikut. Dipaksa ikut lebih tepatnya. Kyo sebenarnya orang yang menyenangkan, hanya saja ia terlalu diam. Tipe orang yang baru berbicara jika ditanya atau ketika melihat atau mendengar suatu hal yang unik, baru ia akan bersuara. Mengeluarkan komentarnya dengan gaya jenaka yang tak dibuat-buat. Namun seringkali Kyo pamit duluan. Dia sering bilang, wanita yang tinggal bersamanya tidak suka mendapati kamar yang kosong saat ia pulang. Jadi Kyo harus pulang lebih awal sebelum wanita itu pulang.
                “Aku tahu betul itu suara Kyo. Ia seperti bicara dengan seseorang. Tapi aku tidak bisa mendengar suara lawan bicaranya...”
                “Ahahahaha! Die! Kau habis nonton film apa sih? Bisa saja ia sedang bicara dengan seseorang lewat telepon, bukan?” Toshiya tertawa geli mendengar cerita Die yang dianggapnya konyol.
                “Kyo tinggal dengan seorang wanita, seingatku,” Kaoru akhirnya buka suara.
                “Iya, aku tahu. Wanita itu bernama Kasumi. Aku sempat beberapa kali berpapasan dengannya di koridor. Tapi sudah hampir dua bulan ini aku tidak melihatnya. Pernah sekali kutanya pada Kyo, apakah ia masih tinggal bersama Kasumi. Masih, katanya. Tapi aku tidak pernah melihatnya lagi.”
                “Ayolah, Die. Hanya karena kau tidak pernah melihatnya lagi, bukan berarti ia tidak tinggal lagi disana, bukan?”
                “Tapi kenapa aku tak mendengar suara Kasumi? Hanya suara Kyo yang kudengar. Gara juga begitu. Dia hanya mendengar suara Kyo, tanpa lawan bicaranya,” Die bersikeras.
                “Mungkin suaranya kecil sekali. Ayolah, Die. ini seperti bukan dirimu saja,” Kaoru berusaha menyudahi pembicaraan yang baginya tak ada keanehan sama sekali.
                “Entahlah... Mungkin memang aku yang terlalu perasa.”
                Tapi Die yakin sekali memang ada hal yang aneh.
               
               

                Dua hari setelah Die memintanya bertemu di kedai kopi, Kaoru yang baru pulang dari mini market selihat seorang pemuda berparas manis yang belum pernah ia lihat turun dari tangga apartemen. Pemuda itu berambut ikal pirang dengan poni menutupi sebelah matanya. Ketika mata mereka bertemu, pemuda itu menganggukkan kepalanya. Kaoru balas mengangguk.
                “Habis menemui saudara?” tanya Kaoru.
                “Oh, aku habis menemui teman lamaku yang tinggal di kamar yang berada di ujung koridor,” jawab pemuda itu dengan suaranya yang pelan.
                “Oh, kau temannya Kyo?” 
         “Iya, namaku Shinya. Terima kasih sudah menjaga temanku,” pemuda itu membungkukkan badannya.
                “Eh, tak perlu begitu. Aku Kaoru,” Kaoru merasa sikap Shinya begitu formal.
                “Tidak apa-apa. Karena Kyo sedang dalam masa sulit sekarang ini,” lanjut pemuda itu.
                “Masa sulit?”
                “Ya. Kehilangan orang yang dicintai tentu berat bukan?”
             “Ah, ya. Tentu saja,” apakah Kyo baru saja kehilangan salah satu anggota keluarganya? pikir Kaoru. Kyo benar-benar tertutup, tidak ada yang tahu apa yang sedang ia pikirkan atau rasakan.
                “Terlebih lagi untuk orang yang sudah tak memiliki kerabat lagi. Tolong jaga Kyo, ya. Karena aku belum bisa sering-sering mengunjunginya. Untung sekali kali ini aku bisa ambil cuti untuk menemuinya. Aku permisi dulu, lain waktu kuusahakan datang lagi,” sebelum Kaoru dapat mencerna kalimatnya, Shinya sudah pamit.
                Kaoru diam cukup lama sampai akhirnya ia merasa kakinya pegal karena terlalu lama berdiri. Ada yang aneh dari kata-kata seseorang bernama Shinya itu. Sulit bagi Kaoru untuk memahami kalimatnya apalagi suara Shinya begitu pelan dan kecil.
                Awalnya, saat mendengar suara Shinya, Kaoru pikir, dia lah yang Die bicarakan dua hari lalu. Seorang lawan bicara yang suaranya tak terdengar. Atau nyaris tak terdengar, begitu pendapat Koru waktu itu. Tapi barusan, jika Kaoru tidak salah dengar, dia bilang Shinya tak bisa sering datang berkunjung. Sudah pasti itu bukan Shinya.
                Bukankah masih ada Kasumi? Aneh bukan jika mereka tinggal sekamar tapi tidak bercakap-cakap? Tapi suara Kasumi tidak sepelan itu. Memang Kaoru sudah lama tidak bertemu lagi dengan Kasumi. Kaoru pikir, mungkin memang Kasumi pulang larut. Lagipula, Kyo pernah bilang, Kasumi tidak suka pulang dengan keadaan kamar kosong, jadi bisa saja ia pulang lebih dulu daripada Kaoru yang jam kerjanya sama dengan Kyo sehingga mereka tidak pernah bertatap muka lagi.
                Semakin Kaoru pikirkan, semakin ia merasakan kejanggalan. Benar kata Die. Ada yang aneh.



                Kyo merebahkan tubuh lelahnya disamping Kasumi yang sedang duduk menonton acara lawak di tv dengan volume kecil. Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Seperti biasa, Kasumi membiarkan kamar itu berpenerangan remang dari tv dan cahaya lampu jalan yang jauh di seberang sungai. Tidak apa-apa, Kyo tidak keberatan.
                Kasumi tertawa. Suara tawa Kasumi begitu khas sampai-sampai Kyo turut tersenyum hanya karena mendengar suara tawanya. Setiap minggu, Kasumi tidak pernah melewatkan acara lawak itu. ia suka tertawa, ia suka lelucon. Dan Kyo sering berlelucon untuk membuatnya tertawa, untuk mendengar suara tawanya yang khas.
                “Jangan terlalu serius, Kyo. Sini, ikut nonton denganku,” Kasumi menarik tangan Kyo.
                “Aku selalu berpikir, apakah ini benar?”
               Kasumi menghela nafasnya, “tidak ada benar dan salah, bukan? Konsekuensi, resiko, atau apapun namanya, ada untuk dijalani. Bukan untuk dinilai kebenaran atau kesalahannya. Berhentilah menakar benar atau salah, Kyo.”
                “Kamu paham, bukan itu maksudku.”
                Kasumi diam. Ia mengarahkan tubuhnya kearah Kyo, manatapnya. “Kyo, ini adalah kenyataan, dan kamu tinggal didalamnya.”
                “Kalau begitu, aku ingin mengajakmu tinggal disana juga.”
                “Jangan bercanda.”
                “Aku serius, Kasumi.”
                “Kamu tahu betul-“
                Tok!Tok! Tok!
                Kalimat Kasumi terpotong oleh suara ketukan di pintu. Kyo bangkit menuju pintu, mengintip. Ia melihat Die berdiri di depan pintu kamarnya. Membawa sesuatu di tangannya.
                Kyo membuka pintu kamarnya, “oh, Die. Ada apa?”
           “Ah, maaf mengganggu malam-malam. Ini, aku mau mengembalikan dvd yang beberapa waktu lalu kupinjam. Kupikir, sudah saatnya kukembalikan,” Die menyerahkan beberapa buah keping dvd pada Kyo.
              “Terima kasih. Padahal kau bisa mengembalikannya kapan saja, “ Kyo mengambil dvd itu dari tangan Die.
             “Aku hanya merasa tidak enak sudah meminjamnya terlalu lama, Kyo. Baiklah, sampai besok, ya,” Die menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju kamarnya.
                Kyo menutup pintu kamarnya. Kasumi sedang duduk menghadap balkon, melamun menatap langit malam yang kemerahan.
                “Kamu tahu? Mungkin Shinya benar.”
                “Apa?”
                “Mungkin kamu harus lebih sering bertemu dengan teman-temanmu. Tidak baik terus menerus mengurung diri.”
                “Aku tidak mau.”
                “Paling tidak, seminggu sekali.”
                “Aku sudah sering bertemu dengan mereka, di tempat kerjaku.”
                “Kamu tahu bukan itu yang kumaksud.”
                “Kamu bilang, kamu benci sendirian.”
                “Memang. Dan masih. Tapi aku tidak mau membawamu.”
                “Kenapa?”
                “Karena belum saatnya...” Kasumi memutar tubuhnya, menghadap Kyo. Air mata mengalir di pipinya yang pucat.
                “Maaf...” Kyo meraih wanita itu kedalam pelukannya.
            “Aku tidak membenci realitas, aku hanya tidak suka kamu yang belum bisa beradaptasi dengan kehidupanmu yang sekarang.”
                “Karena sulit sekali. Seandainya kamu yang jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?”
                Kasumi menggelengkan kepalanya, “entahlah...”
             “Kalau begitu, paling tidak, biarkan aku hidup dalam kenanganku, bersama denganmu.”



                Die mengetuk pintu kamar Kaoru dengan tak sabar. Ia bisa mendengar suara langkah Kaoru yang terburu-buru dari dalam kamarnya. Wajahnya terlihat sebal ketika melihat Die yang berdiri di depan pintu kamarnya.
                “Tidak bisa sabar sedikit, ya?” gerutu Kaoru.
                Die menyerbu masuk ke dalam kamar Kaoru.
                “Hey, ada apa?!”
               Die menutup pintu kamar Kaoru, lalu berbalik menghadap Kaoru. “Aku baru dari kamar Kyo.”
                “Ya? Lalu?”
                “Beberapa saat sebelum aku mengetuk pintu kamarnya, aku sempat berdiri di depan pintu kamarnya. Lagi-lagi aku mendengar suara bercakap-cakap dari dalam sana.”
                “Jangan bertele-tele, Die,” Kaoru mulai tidak sabar.
                “Aku mendengar Kyo menyebut nama Kasumi. Kupikir, Kasumi memang berada di dalam. Saat itu, kuketuk pintu kamarnya. Ketika Kyo membuka pintu kamarnya, aku sempat melirik sekilas ke dalam kamarnya. Dan kau tahu? Kamar itu kosong, Kao! Kosong! Kyo sedang sendirian!”
                “Mungkin Kasumi sedang ke kamar mandi.”
                “Tapi tidak dalam waktu sesingkat itu, Kao.”
                Tiba-tiba Kaoru teringat pembicaraannya dengan Shinya.
                “Die, aku baru ingat, kemarin aku bertemu dengan seseorang yang mengaku teman lama Kyo. Dia bilang namanya Shinya. Seingatku, Shinya bicara tentang kehilangan seseorang yang dicintai. Sepertinya Kyo sedang berduka. Kupikir Kyo baru kehilangan salah satu anggota keluarganya. Tapi kalimat lanjutan Shinya terasa janggal bagiku.”
                “Apa katanya?”
                “Dia bilang, Kyo sudah tidak memiliki kerabat lagi.”
            Dari air muka Die, jelas sekali ia seperti menyadari sesuatu. “Kaoru. Apakah mungkin... apakah mungkin Kasumi sudah...” Die menelan ludahnya sebelum melanjutkan kata-katanya, “...meninggal?”

[to be continued]

[FANFIC] Plastic Umbrella 4

Title: Plastic Umbrella
Author: DEADBORN
Rating: G
Genre: Fluff, Sad Romance, Angst
Chapter: 4/
7
Fandom: Dir en Grey
Pairing: Kyo X OFC
Finishing: July 2013


Toshiya sedang bermalas-malasan menonton tv ketika didengarnya telepon genggamnya berbunyi. Dengan malas, ia meraih ponselnya. Ketika dilihatnya caller id yang muncul dilayar ponselnya, matanya langsung membulat. Ia segera menggeser panel hijau pada layarnya.
                “Halo!”
         Toshiya begitu senang menerima telepon itu. meskipun percakapan itu hanya berlangsung tidak lebih dari lima menit karena sepertinya si penelepon lebih ingin bercakap-cakap langsung dengan Toshiya.
                “Baik, pukul enam sore ini, ya? Oke, kutunggu di depan stasiun. Aku tahu kedai oden yang enak di dekat stasiun. Sampai nanti, Shin!” Toshiya menutup teleponnya dengan riang. Ia segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap menemui si penelepon yang ia sapa “Shin.”



                Toshiya dapat melihat stasiun yang kini hanya berjarak beberapa meter saja. Ia mempercepat langkahnya. Matanya menyapu muka stasiun, mencari seraut wajah yang berusaha ia ingat akibat nyaris terkikis waktu. Syukurlah wajah itu belum sepenuhnya hilang dari ingatannya dan pada kenyataannya, nyaris tidak ada yang berubah pada wajah itu.
                “Shinya!”
                Yang dipanggil menoleh ke arah suara. Dilihatnya teman masa kuliahnya berlari kecil sambil melambaikan tangan ke arahnya. Shinya balas melambaikan tangannya sambil tersenyum.
                “Maaf terlambat. Sudah lama menunggu?”
                “Aku juga baru sampai, kok. Totchi tidak berubah sama sekali, ya.”
                “Shin-chan juga. Ayo, kita segera ke kedai oden langgananku. Kamu pasti suka.”
                Shinya manut, ia berjalan disamping Toshiya. Temannya yang satu ini memang tidak berubah sama sekali. Sifat kekanakkannya pun belum hilang.
                “Tumben sekali kamu kemari. Apakah ada sesuatu?”
            “Iya. Aku baru saja menemui teman semasa kecilku. Dia sedang terkena musibah. Karena saat ini aku adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya, aku merasa harus menemaninya. Jadi aku memutuskan untuk mengambil cuti agar bisa menemaninya walau hanya sebentar.”
                “Shin-chan tidak berubah, ya. Baik sekali.”
         “Ah, bukan begitu. Aku hanya merasa pasti sulit sekali kehilangan orang yang benar-benar dicintai. Kita tidak bisa membiarkan orang yang sebetulnya membutuhkan bantuan kita, bukan? Sekalipun dari luar, orang tersebut terlihat tegar, namun orang yang seperti itu justru orang yang paling rapuh.”
                “Benar juga, sih. Eh, ini dia kedainya. Ayo.”
                Kedai oden itu kecil dan sedang tidak begitu ramai. Hanya ada dua-tiga orang yang sedang menikmati oden mereka. Toshiya dan Shinya mengambil tempat disisi lain gerobak.
                “Oh, Toshiya-kun. Sudah lama tidak mampir,” sapa paman pemilik kedai itu.
   “Yo, paman. Oden dua, ya.”
                “Yosh!”
           Sambil menunggu pesanan, Toshiya menuangkan air pada gelas dan menyorongkannya pada Shinya. Shinya menggumamkan terima kasih.
           “Silahkan oden-nya,” paman pemlik kedai meletakkan dua mangkuk oden panas di hadapan mereka.
                “Terima kasih, paman. Selamat makan.”
                Shinya mengambil tahu goreng lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, “enak.”
                “Benar kaan?” Toshiya tersenyum senang.
                “Um. Ngomong-ngomong, sekarang apa pekerjaanmu?”
                “Karyawan biasa di F Company. Kau, Shin?”
                “Aku sekarang mengajar di TK dekat rumahku. Eh? F Company?”
                “Yah. Ada apa?”
                “Tidak apa. Temanku itu juga bekerja di sana.”
                “Eh? Benarkah? Siapa namanya?”
                “Ng.. entahlah kau mengenalnya atau tidak, karena ia tipe orang yang kurang suka bergaul dan pendiam.”
                “Katakan saja, mungkin aku tahu,” desak Toshiya.
                “Ng... Namanya Kyo.”
                “Kyo?!”
                “Iya. Apakah Totchi mengenalnya?”
                “Apakah ia bertubuh kecil dengan wajah murung?”
                “Hmm bisa dibilang demikian.”
                “Iya, aku tahu. Dia sering diajak Die dan Kaoru bergabung minum-minum sepulang kerja. Ia lebih sering ikut karena terpaksa, sih. Hahahaha.”
                “Begitu, ya?”
                “Yaa. Padahal ia cukup menyenangkan, loh. Ia suka melontarkan komentar-komentar lucu. Tapi sayangnya ia seringkali pulang lebih awal karena ia bilang pacarnya tidak suka mendapati kamar dalam keadaan kosong ketika pulang. Padahal ia satu apartemen dengan Kaoru dan Die juga.” 
          “Oh, Kaoru. Aku sempat bertemu dengannya tadi sehabis menemani Kyo. Aku memintanya untuk menjaga Kyo karena sekarang Kyo sedang berduka.”
                “Eh? Berduka?”
                “Iya. Totchi tidak tahu? Kasumi sudah meninggal hampir dua bulan yang lalu. Apakah Kyo tidak bilang apa-apa?”
                Toshiya betulan terkejut mendengarnya, “tidak. Kyo tidak bilang apa-apa. Sungguh aku tidak tahu.”
                “Begitukah? Upacara pemakamannya sepi sekali. Kyo sendiri menolak datang. Hanya ada aku dan beberapa temen Kasumi. Kasumi sendiri memang sudah tidak memiliki keluarga lagi, kawannya pun sedikit. Ia hanya bergantung pada Kyo. Mereka saling bergantung karena kondisi yang serupa, sama-sama tidak memiliki kerabat.”
                Toshiya hanya diam mendengar penjelasan Shinya. Masih segar dalam ingatannya, empat hari yang lalu, ketika mereka sedang minum-minum sepulang kerja, Kyo lagi-lagi pamit duluan. Alasannya karena Kasumi sudah akan pulang. Begitupun hari-hari sebelumnya, selama dua bulan ini. Bulu kuduknya meremang.
                “Kyo sengaja tidak membuang barang-barang Kasumi alih-alih tetap menyimpannya. Sudah seringkali kubilang untuk tetap melanjutkan hidupnya tanpa Kasumi. Ia memang melanjutkan hidupnya, tapi ia terjebak di dalam kenangannya dengan Kasumi.”
                “Shin-chan, bagaimana Kasumi meninggal?”
                “Ia meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Hari itu hujan. Mereka pulang bersama. Ketika hendak menyeberang jalan, sebuah mobil kehilangan kendali atas mobilnya dan menabrak Kasumi. Kyo terserempet namun lukanya tidak terlalu parah dibandingkan luka yang dialami Kasumi karena saat itu Kasumi tertabrak langsung oleh mobil itu hingga akhirnya mobil itu menabrak pembatas jalan dengan benturan yang keras. Kyo, Kasumi dan pengemudi mobil itu segera dilarikan ke rumah sakit. Pengemudi mobil itu meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit. Kyo sendiri siuman malam itu. Ia sempat menunggui Kasumi yang belum siuman. Ia sudah diperbolehkan pulang, hanya saja ia bersikeras untuk menemani Kasumi. Kasumi sendiri sempat siuman pada keesokan paginya, tapi sayangnya malam harinya Kasumi meninggal.”
                Toshiya ingat. Kyo sempat tidak masuk kerja selama tiga hari. Die dan Kaoru pun tidak tahu menahu. Die bilang, ia sempat bertemu dengan Kyo sekali waktu itu di hari ketiga ia tak masuk kerja. Ketika ditanya, Kyo hanya menjawab bahwa ia sedang kurang enak badan. Die percaya. 
       “Totchi, jika kau benar mengenal Kyo, kumohon, jaga dia untukku, ya? Aku ingin menemaninya, tapi aku belum bisa meninggalkan pekerjaanku.”
             “Te-tentu saja, Shin-chan. Tenang saja,” Toshiya berusaha tersenyum. Ia belum sanggup menceritakan kebiasaan Kyo yang belum hilang jika ia hendak pamit pulang duluan sehabis minum-minum atau pergi dengan Die, Kaoru dan dirinya pada Shinya. Bisa ia bayangkan betapa khawatirnya Shinya jika ia tahu.



             Hari itu mereka pergi ke bar yang sama sepulang kerja. Tanpa Kyo yang kali ini berhasil menghindar dari paksaan mereka bertiga. Mereka bertiga hanya diam sambil sesekali menyesap sake. Tidak tahan dengan suasana yang aneh itu, akhirnya Toshiya mulai buka suara.
                “Tadi... apa alasan Kyo untuk tidak ikut?”
                Die menoleh, “kau tahu, seperti biasa.... Kasumi...”
                Toshiya menghela nafasnya. Kaoru heran, “apa kau tahu sesuatu?”
          Toshiya tahu ia harus membicarakan ini dengan kedua temannya. Apalagi mereka tinggal satu apartemen dengan Kyo.
                “Kalian tahu? Kasumi sebetulnya... sudah meninggal.”
                Die menepukkan tangan ke dahinya, “sudah kuduga...” gumamnya.
                “Apa maksudmu, Die? Kau sudah tahu?”
            “Begini, Totchi, beberapa hari yang lalu, Die mendatangi kamarku. Dia bilang, dia habis dari kamar Kyo. Sebelum ia mengetuk pintu kamar Kyo, ia lagi-lagi mendengar suara-suara aneh yang waktu itu ia ceritakan pada kita. Namun ketika pintu kamar itu dibuka, ia tidak melihat siapapun selain Kyo.”
                “Itu kan bisa saja dia menerima telepon dari seseorang, kan?”
                “Dan kau belum mendengar ceritaku. Sebelumnya, aku bertemu dengan seseorang bernama Shinya-“
                “Itu temanku semasa kuliah,” potong Toshiya, “ia teman masa kecil Kyo, dia juga yang menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.”
                “Yah. Dia bilang dia teman lama Kyo. Dia memintaku untuk menjaga Kyo karena ia sedang berada dalam masa sulit, kehilangan seseorang yang dicintai. Dan Shinya menambahkan bahwa ia tidak lagi memiliki kerabat. Kita semua tahu bahwa Kyo tinggal dengan Kasumi. Secara otomatis, Kasumi lah orang terdekat dengan Kyo. Siapa lagi yang dekat dengan Kyo disini? Bahkan kita pun tidak sedekat itu dengannya. Shinya, sekalipun ia teman lama, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk menjadi tempat bergantung bagi Kyo. Terlebih lagi Shinya bilang orang yang dicintai, sudah pasti untuk Kyo yang tidak lagi memiliki kerabat, itu adalah Kasumi.”
                “Kaoru awalnya tidak begitu percaya. Tapi kau dengar sendiri kan, Kao? Shinya adalah teman masa kecil sekaligus teman Toshiya semasa kuliah. Shinya yang bilang bahwa Kasumi sudah meninggal. Jadi itu tidak mungkin bohong,” kata Die.
                “Coba ceritakan pada kami apa yang Shinya ceritakan, Totchi,” pinta Kaoru. Maka Toshiya menceritakan semuanya. Dari awal, hingga akhir tanpa ada bagian yang terlewat. Kaoru dan Die mendengarkan dengan serius. Mereka bisa merasakan bulu kuduk mereka meremang di balik kemeja mereka.



                Lagi-lagi dihantui mimpi buruk. Atau mungkin itu memang bukan mimpi. Pukul 4 pagi, dengan nafas terengah-engah Kyo terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
                “Kyo.”
                “Mimpi yang sama. Atau aku memang tidak bermimpi?”
                “Tenangkan dirimu.”
                “Kembalilah.”
                “Tidurlah kembali.”
                “Jangan pergi.’
                Kepalanya terasa sakit.
                “Aaarrrgh!”
               Ia tidak bisa menghentikan pikirannya sendiri yang menunjukkan gambaran-gambaran yang pernah terekam matanya.
            Kilatan cahaya. Langit dan gedung yang berputar dalam hujan. Tubuh kurus Kasumi yang tergeletak di aspal yang keras dan basah. Rintikan hujan yang membasahi tubuh Kasumi. Genangan darah yang melebar dan bercampur dengan hujan disekelilingnya. Wajah pucat Kasumi dengan mata terpejam, dan ada darah di sudut bibir dan hidungnya. Rumah sakit. Profil Kasumi yang pucat dan lemah. Kasumi yang menutup mata dan tak pernah lagi membuka matanya lagi.
                Rasa pusing itu menurunkan tingkat kesadarannya. Dalam sisa-sisa kesadarannya, ia bisa melihat wajah khawatir Kasumi disisinya. Kyo tersenyum.
                 
                 Apakah sudah saatnya, Kasumi? Payung bening itu ada dimana? Ayo kita ambil.
               
           Dilihatnya Kasumi menutup matanya lalu menggelengkan kepalanya. Pandangannya menggelap. Ia masih bisa merasakan bibir Kasumi mengecup matanya yang kini terpejam sebelum kesadarannya benar-benar hilang.



[to be continued]