Setiap kali aku ke kedai kopi,
ingatanku selalu kembali ke masa 5 tahun yang lalu.
5 tahun yang lalu, pertama kalinya kita bertemu. Kamu dan
kedua kawan karibmu, selalu duduk di meja yang sama pada kedai kopi tua dekat
kampus. Saat itu, aku masih belum tahu kalau kita satu almamater. Yang aku tahu
saat itu, kamu menaruh perhatian lebih padaku.
Bukan aku bermaksud terlalu percaya diri, tapi tak hanya
sekali aku menangkap pandanganmu yang malu-malu. Dengan semu kemerahan di pipi,
kamu memalingkan wajahmu. Awalnya, kukira kita hanyalah dua orang yang tidak
akan saling mengenal dan akan melupakan satu sama lain segera setelah kamu
langkahkan kakimu keluar kedai kopi tua ini, tapi ternyata aku salah.
Saat aku kembali keesokan harinya, dan hari esoknya, kamu
ada di meja yang sama, masih dengan kedua sahabatmu. Dan secangkir es kopi caramel macchiato di hadapanmu.
Penasaran, akhirnya suatu hari, saat kulihat meja tempat
kamu tempati kosong, kutanyakan kamu pada pemilik kedai. Pemilik kedai kopi tua
ini adalah pasangan suami-istri yang sangat rukun. Sang suami, yang senang ngobrol
dengan para tamu, tentu tahu siapa kamu.
“Oh, dia anak kampus juga. Baru semester 4. Dari dulu
memang sudah sering kemari dengan kedua temannya itu. Kenapa tanya-tanya, he?
Naksir, ya? Hayoo.”
Aku hanya tertawa. Ingin kujawab bukan aku, tapi dia.
Tetapi kutahan kata-kata itu. Setelah itu, kami tidak membicarakan kamu lagi,
hanya obrolan basa-basi singkat, lalu Bapak Pemilik Kedai pergi karena harus
melayani tamu lain.
Baru semester 4, artinya kamu adalah juniorku. Oh, aku
sudah jadi alumni di kampus. Kadang, saat penat, aku suka kembali ke kedai kopi
ini sepulang bekerja. Kadang kutemui beberapa teman angkatanku yang memang
masih sering berkumpul. Ngobrol sampai malam, lalu kembali pulang. Cukup untuk
menjadi penghiburan ditengah kesibukan hari-hari kerja.
Ada juga hari-hari dimana kamu tidak datang. Entah itu
kamu sibuk kuliah, atau sedang tidak ada kuliah. Bukannya aku jadi mengharapkan
pertemuan dengan kamu, tapi entah kenapa, setiap kali aku melangkah masuk ke
dalam kedai kopi tua ini, yang pertama kali kulihat adalah meja tempatmu selalu
duduk.
Kalau kamu ada disana, segera setelah mata kita saling
beradu pandang, kamu dengan cepat memalingkan wajah. Lalu sibuk mengerjakan
apapun. Membuka ponsel, mencatat atau kembali ngobrol dengan teman-temanmu. Aku
hanya bisa tersenyum dalam hati sambil menjaga air mukaku untuk tetap tenang.
Saat aku tidak menemukanmu duduk di mejamu yang biasa,
aku hanya menghela nafas. Lalu, setelah memesan segelas minuman, dalam diam aku
memainkan ponselku.
***
“Sekarang sedang liburan semesteran, makanya sepi.”
Bapak Pemilik Kedai memberi informasi yang tak
kutanyakan. Aku hanya merespon sekenanya. Pertama kalinya setelah 2 minggu tak
ke kedai kopi tua ini. Pekerjaanku sedang banyak-banyaknya, membuatku sulit
untuk bersantai.
Aku berdiri di depan kasir, menimban-nimbang akan memesan
apa.
“Lho, kok tumben datang? Lagi libur, toh?” suara Bapak
Pemilik Kedai mengagetkanku. Bapak Pemilik Kedai memiringkan tubuhnya,
berbicara dengan seseorang di balik badanku. Aku menoleh sedikit.
“Iya, Pak. Lagi janjian sama anak-anak di sini.”
Pertama kalinya aku mendengar suara kamu.
“Jadi pesan apa?” Bapak Pemilik Kedai bertanya padaku.
Hampir aku kehilangan ketenanganku, namun aku lekas
mengendalikan diri dari rasa kaget. Nanti saja, kataku.
“Ya sudah. Mau pesan apa? Yang biasa?”
“Iya, es caramel
macchiato ya, Pak.”
“Sip. Bu! Caramel
macchiato satu, yang biasa buat adeknya!”
“Makasih, pak!” lalu kamu berlalu, duduk di meja tempat
kamu biasa duduk.
Dengan agak pelan, aku berkata pada Bapak Pemilik Kedai.
“Caramel macchiato
satu, ya, pak.”
“Oke.”
Aku segera duduk mejaku yang biasa. Bukan, bukannya aku
ingin ikut-ikut samaan dengan kamu. Aku hanya penasaran saja dengan rasa
minuman yang selalu kamu pesan itu.
Tapi, kenapa juga, aku penasaran...? Uh...
Kenapa aku jadi pusing sendiri? Kulirik kamu, kulihat
kamu sedang asik main ponsel. Ah, sudahlah, kenapa aku jadi aneh begini?
Saat kopi pesananku datang, yang diantar berbarengan
dengan kopimu, aku mulai mengaduk saus karamel di kopi itu.
“Kopi di sini kualitasnya gak kalah sama kedai-kedai kopi
yang terkenal itu. Bapak pakai biji kopi terbaik, diantar langsung dari Wamena
sana, Papua! Pokoknya dijamin uenak!”
Kuhirup
sedikit dari sedotan. Oh, ini rasa favoritmu? Rasa pahit espreso berpadu dengan
lembut foam milk dan sedikit rasa
manis dari karamel.
“Gimana? Gak
terlalu pahit, tho? Biji Kopi Wamena memang spesial. Rasanya gak terlalu asam,
jadi siapa saja bisa minum. Uenak lah pokoknya. Makanya si Adeknya itu seneng
sekali pesan kopi. Tiap kesini, pasti pesan kopi ini.”
Aku hanya mengangguk kecil. Memang benar, rasa kopinya
tak sepahit dan sekuat kopi yang pernah kucoba di kedai kopi lain. Karena setiap
kali ke kedai kopi ini aku hanya memesan es teh, jadi baru kali ini aku
benar-benar merasakan rasa kopi yang diracik pasangan pemilik kedai kopi ini. Kulirik
lagi, kamu sedang menghirup caramel
macchiato-mu dengan pelan. Mencecapnya seolah ingin rasa itu merasuk dalam
diri. Kenapa?
Saat aku tersadar, sudah banyak pertanyaan berawalan
‘kenapa’ memenuhi pikiranku hari ini. Dan yang paling membuatku bingung adalah,
kenapa aku jadi memikirkan kamu?
***
Lama sekali aku memikirkan hal ini.
Apakah aku hanya sekedar penasaran dengan kamu? Aku tidak
tahu.
Dan aku tidak berniat untuk mencari tahu.
Aku tahu kamu tahu kita sama-sama tahu.
Kamu tahu aku tahu bahwa kamu menyukaiku. Aku tahu karena
itulah kamu menungguku untuk berkenalan secara langsung. Tapi kita sama-sama
tahu bahwa itu tidak akan pernah terjadi.
Bukanku bermaksud memainkan perasaanmu atau apa, tapi aku
sendiri bukan tipe orang yang mudah mengajak seseorang berkenalan. Aku terlalu
tua, dan terlalu kuno untuk berkenalan dengan anak yang jauh lebih muda
daripadaku. Dan aku sendiri sudah tidak lagi berada di masa berkenalan untuk
mencari pacar seperti anak muda lainnya.
Kamu masih terlampau muda. Jalanmu masih panjang. Kamu
masih akan bertemu dengan berbagai orang. Nikmati saja hidupmu. Kamu tidak akan
pernah tahu yang mana jodohmu. Percayalah, jika kita memang ditakdirkan untuk
menua bersama, jalan kita akan
bersinggungan sekali lagi. Lalu, jika saat itu tiba, aku berjanji, saat itu,
aku akan menjadi orang pertama yang akan mengulurkan tanganku padamu dan
menyebutkan namaku sambil tersenyum.
***
Hari berganti minggu. Minggu menjadi bulan dan bulan
berubah menjadi tahun.
Tahun-tahun berlalu sampai akhirnya kamu lulus.
Sesekali, setelah kamu lulus, kita masih sering saling
berjumpa di kedai kopi tua itu. Tapi, setelah beberapa waktu, kamu semakin jarang,
sampai akhirnya tidak pernah sama sekali datang ke kedai kopi tua itu.
Aku mengerti, kamu mulai disibukkan dengan
pekerjaan-pekerjaan yang tidak akan pernah tuntas itu. Kini kamu telah memulai
duniamu sendiri.
Meskipun begitu, aku tetap memesan segelas es caramel macchiato. Merasakan pahitnya
espreso pada lidahku. Mengingatkanku akan keegoisanku yang membuatmu merasakan
penolakan, bahkan sebelum kita pernah saling berjabat tangan. Tapi, jangan
lupakan kelembutan foam milk yang
serupa dengan tatapan matamu yang penuh harap saat kita berdua saling bertukar
pandang dalam kesunyian yang hanya dimiliki oleh kita berdua. Juga manisnya
karamel, yang semanis perasaan kamu padaku, walaupun hanya sedikit. Perasaan yang kemudian harus mati,
bahkan sebelum ia sempat berbunga.
Apakah karena kamu tahu itu jadi kamu selalu memesan
segelas es caramel macchiato?
Tidakkah kamu terlalu pesimis? Biar bagaimanapun, di umurmu yang masih muda,
tak pantaslah untuk merasa pesimis.
Lucunya, aku merasa paham kenapa kamu pesimis. Karena
sejak awal aku memperhatikanmu, kita sama. Sama-sama terlalu pesimis dalam
memandang hidup. Lihat saja, bahkan sejak awal aku yang merasa tak pantas
bersanding denganmu karena aku merasa aku terlalu tua untukmu. Itulah sebabnya
kita berakhir seperti ini. Menyimpan perasaan yang sudah saling kita ketahui,
yang sebenarnya, tidak ada gunanya untuk saling menutup-nutupi.
Tapi, ah, dasar orang tua dan pikiran kunoku. Aku terlalu
keras kepala untuk menjaga hatiku sendiri. Jadilah kamu yang kena imbas atas
keegoisanku. Maafkan aku.
Karena kini kamu sudah hampir tidak pernah datang,
mungkin aku juga tidak perlu datang lagi ke kedai kopi tua itu. Dan meskipun
kamu datang, kesempatan kita untuk berpapasanpun kecil sekali.
Tetapi, kemanapun aku pergi, sejak 5 tahun yang lalu hingga saat ini, saat aku bersantai di
kedai kopi lain bersama kawan-kawanku, atau makan-makan di restoran, aku akan
selalu memesan segelas es caramel
macchiato. Sekalipun rasa pahit kopinya berbeda dengan racikan pasangan
suami-istri tua pemilik kedai, tapi es caramel
macchiato yang aku tahu hanyalah tentang kamu.
Pahit-manisnya
akan selalu mengingatkanku dengan kamu dan perasaan kita yang tidak akan pernah
memiliki kesempatan untuk hidup.
(Tamat)
No comments:
Post a Comment