Wednesday, August 10, 2016

Macchiato

Setiap kali aku ke kedai kopi, ingatanku selalu kembali ke masa 5 tahun yang lalu.
            5 tahun yang lalu, pertama kalinya kita bertemu. Kamu dan kedua kawan karibmu, selalu duduk di meja yang sama pada kedai kopi tua dekat kampus. Saat itu, aku masih belum tahu kalau kita satu almamater. Yang aku tahu saat itu, kamu menaruh perhatian lebih padaku.
           Bukan aku bermaksud terlalu percaya diri, tapi tak hanya sekali aku menangkap pandanganmu yang malu-malu. Dengan semu kemerahan di pipi, kamu memalingkan wajahmu. Awalnya, kukira kita hanyalah dua orang yang tidak akan saling mengenal dan akan melupakan satu sama lain segera setelah kamu langkahkan kakimu keluar kedai kopi tua ini, tapi ternyata aku salah.
            Saat aku kembali keesokan harinya, dan hari esoknya, kamu ada di meja yang sama, masih dengan kedua sahabatmu. Dan secangkir es kopi caramel macchiato di hadapanmu.
            Penasaran, akhirnya suatu hari, saat kulihat meja tempat kamu tempati kosong, kutanyakan kamu pada pemilik kedai. Pemilik kedai kopi tua ini adalah pasangan suami-istri yang sangat rukun. Sang suami, yang senang ngobrol dengan para tamu, tentu tahu siapa kamu.
            “Oh, dia anak kampus juga. Baru semester 4. Dari dulu memang sudah sering kemari dengan kedua temannya itu. Kenapa tanya-tanya, he? Naksir, ya? Hayoo.”
            Aku hanya tertawa. Ingin kujawab bukan aku, tapi dia. Tetapi kutahan kata-kata itu. Setelah itu, kami tidak membicarakan kamu lagi, hanya obrolan basa-basi singkat, lalu Bapak Pemilik Kedai pergi karena harus melayani tamu lain.
            Baru semester 4, artinya kamu adalah juniorku. Oh, aku sudah jadi alumni di kampus. Kadang, saat penat, aku suka kembali ke kedai kopi ini sepulang bekerja. Kadang kutemui beberapa teman angkatanku yang memang masih sering berkumpul. Ngobrol sampai malam, lalu kembali pulang. Cukup untuk menjadi penghiburan ditengah kesibukan hari-hari kerja.
            Ada juga hari-hari dimana kamu tidak datang. Entah itu kamu sibuk kuliah, atau sedang tidak ada kuliah. Bukannya aku jadi mengharapkan pertemuan dengan kamu, tapi entah kenapa, setiap kali aku melangkah masuk ke dalam kedai kopi tua ini, yang pertama kali kulihat adalah meja tempatmu selalu duduk.
            Kalau kamu ada disana, segera setelah mata kita saling beradu pandang, kamu dengan cepat memalingkan wajah. Lalu sibuk mengerjakan apapun. Membuka ponsel, mencatat atau kembali ngobrol dengan teman-temanmu. Aku hanya bisa tersenyum dalam hati sambil menjaga air mukaku untuk tetap tenang.
            Saat aku tidak menemukanmu duduk di mejamu yang biasa, aku hanya menghela nafas. Lalu, setelah memesan segelas minuman, dalam diam aku memainkan ponselku.

***

            “Sekarang sedang liburan semesteran, makanya sepi.”
            Bapak Pemilik Kedai memberi informasi yang tak kutanyakan. Aku hanya merespon sekenanya. Pertama kalinya setelah 2 minggu tak ke kedai kopi tua ini. Pekerjaanku sedang banyak-banyaknya, membuatku sulit untuk bersantai.
            Aku berdiri di depan kasir, menimban-nimbang akan memesan apa.
            “Lho, kok tumben datang? Lagi libur, toh?” suara Bapak Pemilik Kedai mengagetkanku. Bapak Pemilik Kedai memiringkan tubuhnya, berbicara dengan seseorang di balik badanku. Aku menoleh sedikit.
            “Iya, Pak. Lagi janjian sama anak-anak di sini.”
            Pertama kalinya aku mendengar suara kamu.
            “Jadi pesan apa?” Bapak Pemilik Kedai bertanya padaku.
            Hampir aku kehilangan ketenanganku, namun aku lekas mengendalikan diri dari rasa kaget. Nanti saja, kataku.
            “Ya sudah. Mau pesan apa? Yang biasa?”
            “Iya, es caramel macchiato ya, Pak.”
            “Sip. Bu! Caramel macchiato satu, yang biasa buat adeknya!”
            “Makasih, pak!” lalu kamu berlalu, duduk di meja tempat kamu biasa duduk.
            Dengan agak pelan, aku berkata pada Bapak Pemilik Kedai.
            “Caramel macchiato satu, ya, pak.”
            “Oke.”
            Aku segera duduk mejaku yang biasa. Bukan, bukannya aku ingin ikut-ikut samaan dengan kamu. Aku hanya penasaran saja dengan rasa minuman yang selalu kamu pesan itu.
            Tapi, kenapa juga, aku penasaran...? Uh...
            Kenapa aku jadi pusing sendiri? Kulirik kamu, kulihat kamu sedang asik main ponsel. Ah, sudahlah, kenapa aku jadi aneh begini?
            Saat kopi pesananku datang, yang diantar berbarengan dengan kopimu, aku mulai mengaduk saus karamel di kopi itu.
            “Kopi di sini kualitasnya gak kalah sama kedai-kedai kopi yang terkenal itu. Bapak pakai biji kopi terbaik, diantar langsung dari Wamena sana, Papua! Pokoknya dijamin uenak!”
Kuhirup sedikit dari sedotan. Oh, ini rasa favoritmu? Rasa pahit espreso berpadu dengan lembut foam milk dan sedikit rasa manis dari karamel.
“Gimana? Gak terlalu pahit, tho? Biji Kopi Wamena memang spesial. Rasanya gak terlalu asam, jadi siapa saja bisa minum. Uenak lah pokoknya. Makanya si Adeknya itu seneng sekali pesan kopi. Tiap kesini, pasti pesan kopi ini.”
            Aku hanya mengangguk kecil. Memang benar, rasa kopinya tak sepahit dan sekuat kopi yang pernah kucoba di kedai kopi lain. Karena setiap kali ke kedai kopi ini aku hanya memesan es teh, jadi baru kali ini aku benar-benar merasakan rasa kopi yang diracik pasangan pemilik kedai kopi ini. Kulirik lagi, kamu sedang menghirup caramel macchiato-mu dengan pelan. Mencecapnya seolah ingin rasa itu merasuk dalam diri. Kenapa?
            Saat aku tersadar, sudah banyak pertanyaan berawalan ‘kenapa’ memenuhi pikiranku hari ini. Dan yang paling membuatku bingung adalah, kenapa aku jadi memikirkan kamu?

***

            Lama sekali aku memikirkan hal ini.
            Apakah aku hanya sekedar penasaran dengan kamu? Aku tidak tahu.
            Dan aku tidak berniat untuk mencari tahu.
            Aku tahu kamu tahu kita sama-sama tahu.
            Kamu tahu aku tahu bahwa kamu menyukaiku. Aku tahu karena itulah kamu menungguku untuk berkenalan secara langsung. Tapi kita sama-sama tahu bahwa itu tidak akan pernah terjadi.
            Bukanku bermaksud memainkan perasaanmu atau apa, tapi aku sendiri bukan tipe orang yang mudah mengajak seseorang berkenalan. Aku terlalu tua, dan terlalu kuno untuk berkenalan dengan anak yang jauh lebih muda daripadaku. Dan aku sendiri sudah tidak lagi berada di masa berkenalan untuk mencari pacar seperti anak muda lainnya.
            Kamu masih terlampau muda. Jalanmu masih panjang. Kamu masih akan bertemu dengan berbagai orang. Nikmati saja hidupmu. Kamu tidak akan pernah tahu yang mana jodohmu. Percayalah, jika kita memang ditakdirkan untuk menua bersama,  jalan kita akan bersinggungan sekali lagi. Lalu, jika saat itu tiba, aku berjanji, saat itu, aku akan menjadi orang pertama yang akan mengulurkan tanganku padamu dan menyebutkan namaku sambil tersenyum.

***

            Hari berganti minggu. Minggu menjadi bulan dan bulan berubah menjadi tahun.
            Tahun-tahun berlalu sampai akhirnya kamu lulus.
            Sesekali, setelah kamu lulus, kita masih sering saling berjumpa di kedai kopi tua itu. Tapi, setelah beberapa waktu, kamu semakin jarang, sampai akhirnya tidak pernah sama sekali datang ke kedai kopi tua itu.
            Aku mengerti, kamu mulai disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak akan pernah tuntas itu. Kini kamu telah memulai duniamu sendiri.
            Meskipun begitu, aku tetap memesan segelas es caramel macchiato. Merasakan pahitnya espreso pada lidahku. Mengingatkanku akan keegoisanku yang membuatmu merasakan penolakan, bahkan sebelum kita pernah saling berjabat tangan. Tapi, jangan lupakan kelembutan foam milk yang serupa dengan tatapan matamu yang penuh harap saat kita berdua saling bertukar pandang dalam kesunyian yang hanya dimiliki oleh kita berdua. Juga manisnya karamel, yang semanis perasaan kamu padaku, walaupun hanya sedikit.          Perasaan yang kemudian harus mati, bahkan sebelum ia sempat berbunga.
            Apakah karena kamu tahu itu jadi kamu selalu memesan segelas es caramel macchiato? Tidakkah kamu terlalu pesimis? Biar bagaimanapun, di umurmu yang masih muda, tak pantaslah untuk merasa pesimis.
            Lucunya, aku merasa paham kenapa kamu pesimis. Karena sejak awal aku memperhatikanmu, kita sama. Sama-sama terlalu pesimis dalam memandang hidup. Lihat saja, bahkan sejak awal aku yang merasa tak pantas bersanding denganmu karena aku merasa aku terlalu tua untukmu. Itulah sebabnya kita berakhir seperti ini. Menyimpan perasaan yang sudah saling kita ketahui, yang sebenarnya, tidak ada gunanya untuk saling menutup-nutupi.
            Tapi, ah, dasar orang tua dan pikiran kunoku. Aku terlalu keras kepala untuk menjaga hatiku sendiri. Jadilah kamu yang kena imbas atas keegoisanku. Maafkan aku. 
            Karena kini kamu sudah hampir tidak pernah datang, mungkin aku juga tidak perlu datang lagi ke kedai kopi tua itu. Dan meskipun kamu datang, kesempatan kita untuk berpapasanpun kecil sekali.
            Tetapi, kemanapun aku pergi, sejak 5 tahun yang lalu hingga saat ini, saat aku bersantai di kedai kopi lain bersama kawan-kawanku, atau makan-makan di restoran, aku akan selalu memesan segelas es caramel macchiato. Sekalipun rasa pahit kopinya berbeda dengan racikan pasangan suami-istri tua pemilik kedai, tapi es caramel macchiato yang aku tahu hanyalah tentang kamu.
Pahit-manisnya akan selalu mengingatkanku dengan kamu dan perasaan kita yang tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk hidup.


(Tamat)

No comments:

Post a Comment