Friday, August 15, 2014

Secluded Inner Room



Aku kenal seseorang yang aneh.
Dia seorang yang pendiam. Oke, mungkin dia tidak aneh, hanya sekedar pendiam. Pandangan oranglah yang membuatnya terlihat seperti orang aneh. Mungkin karena tutur katanya, cara berpakaiannya, atau tindak tanduknya. Tapi dia terlihat tidak begitu peduli dengan semua anggapan orang lain. Dia seperti membangun tembok perlindungan dengan dunia luar agar tidak ada siapapun yang mampu menerobos pertahanan dirinya. Melindungi keberadaannya yang rapuh. Ya, dia sama rapuhnya dengan batang kayu lapuk.
Kenapa aku bisa tahu?
Karena ia hanya terbuka padaku.
Tidak banyak orang yang dapat memahaminya. Aku adalah satu dari sedikit sekali orang yang memahaminya. Atau, mau dan mampu memahaminya. Ia mengizinkanku melihat bagian dari dirinya yang ditutupnya rapat-rapat dari dunia luar. Dirinya yang selalu dilindungi agar tak terjamah dari kebusukan disekelilingnya. Kepercayaan merupakan suatu hal yang paling berharga yang dapat ia berikan, dan aku menjaganya dengan sangat hati-hati. Sebagai gantinya, dia selalu ada untukku, kapanpun.
Suatu hari ia bercerita. Dia bilang, ada satu jendela di sisi kamarnya yang setiap hari, setiap waktu, menampakkan pemandangan hujan. Sekalipun sedang musim panas, matahari sedang terik-teriknya bersinar, tapi pemandangan di sisi jendela itu selalu hujan. Dengan latar langit kelabu dan kabut tipis. Tanahnya begitu jauh sehingga tidak terlihat. Seolah-olah kamarnya berada di sebuah gedung yang tinggi padahal kamarnya hanya berada di flat dua lantai yang sederhana. Jika ia mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh rintik hujan, ia hanya akan merasakan udara kosong yang sejuk. Tangannya tidak akan basah sama sekali. Seperti air hujan itu jatuh menembusi tangannya yang padat.
Aku mempercayainya. Sulit jika kau tanya alasan kenapa aku mempercayainya. Mungkin karena aku tahu ia tidak akan pernah berbohong. Selama aku mengenalnya, ia tidak akan pernah berbicara bohong mengenai apapun. Semua yang ia katakan adalah kebenaran, atau ia hanya akan diam. Sekalipun ucapannya terdengar aneh, tapi semua itu benar. Mungkin karena kebenaran yang ia katakan melampaui nalar orang lain, mereka jadi menganggapnya aneh. Yah, mayoritas selalu menang. Minoritas selalu tertindas. Kita hidup di dalam masyarakat yang seperti itu. Tak heran jika ia membuat tembok perlindungan agar dirinya mampu bertahan.
Aku bertanya, kenapa bisa demikian. Ia hanya diam, lama sekali. Tapi aku sabar menunggunya. Lalu dengan ekspresi seperti sedang mengeja, ia menjawab,
‘karena disana air mata tidak ada.’
Kucerna kalimat itu pelan-pelan. Setiap hari, aku memikirkan kata-katanya.
Suatu hari ia menghilang. Aku mencarinya kemana-mana tapi tidak dapat menemuinya. Satu-satunya hal yang ditinggalkannya hanya secarik surat yang ia taruh di atas tempat tidurnya. Kubaca surat singkat itu, isinya;

"Jauh di dalam, hujan ini menggenapi. Aku selalu berada di sana, terkunci dalam ruang gelap yang terisolasi."

Aku paham.
Disana tidak ada air mata. Hujan menggenapi rasa. Dia yang selalu terkunci di dalam ruang terdalam yang gelap dan terisolasi. Di sanalah dia berada.
Kuarahkan pandanganku pada jendela itu. Hujan masih turun dengan deras tanpa menimbulkan suara. Kubuka jendela itu. Dan dalam hitungan ketiga, aku sudah melayang bersama rintikannya yang menembusi tubuhku. Merasakan kesejukkan yang menggigiti kulit. Menemui separuh dari diriku yang bersembunyi bersama hujan di ruang terdalam yang terisolasi. Di dalam otakku.

No comments:

Post a Comment