Aku kenal seseorang yang aneh.
Dia seorang yang
pendiam. Oke, mungkin dia tidak aneh, hanya sekedar pendiam. Pandangan oranglah
yang membuatnya terlihat seperti orang aneh. Mungkin karena tutur katanya, cara
berpakaiannya, atau tindak tanduknya. Tapi dia terlihat tidak begitu peduli dengan
semua anggapan orang lain. Dia seperti membangun tembok perlindungan dengan
dunia luar agar tidak ada siapapun yang mampu menerobos pertahanan dirinya.
Melindungi keberadaannya yang rapuh. Ya, dia sama rapuhnya dengan batang kayu
lapuk.
Kenapa aku bisa
tahu?
Karena ia hanya
terbuka padaku.
Tidak banyak orang
yang dapat memahaminya. Aku adalah satu dari sedikit sekali orang yang
memahaminya. Atau, mau dan mampu memahaminya. Ia mengizinkanku melihat bagian
dari dirinya yang ditutupnya rapat-rapat dari dunia luar. Dirinya yang selalu
dilindungi agar tak terjamah dari kebusukan disekelilingnya. Kepercayaan
merupakan suatu hal yang paling berharga yang dapat ia berikan, dan aku
menjaganya dengan sangat hati-hati. Sebagai gantinya, dia selalu ada untukku,
kapanpun.
Suatu hari ia
bercerita. Dia bilang, ada satu jendela di sisi kamarnya yang setiap hari,
setiap waktu, menampakkan pemandangan hujan. Sekalipun sedang musim panas,
matahari sedang terik-teriknya bersinar, tapi pemandangan di sisi jendela itu
selalu hujan. Dengan latar langit kelabu dan kabut tipis. Tanahnya begitu jauh
sehingga tidak terlihat. Seolah-olah kamarnya berada di sebuah gedung yang
tinggi padahal kamarnya hanya berada di flat dua lantai yang sederhana. Jika ia
mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh rintik hujan, ia hanya akan
merasakan udara kosong yang sejuk. Tangannya tidak akan basah sama sekali.
Seperti air hujan itu jatuh menembusi tangannya yang padat.
Aku mempercayainya.
Sulit jika kau tanya alasan kenapa aku mempercayainya. Mungkin karena aku tahu
ia tidak akan pernah berbohong. Selama aku mengenalnya, ia tidak akan pernah
berbicara bohong mengenai apapun. Semua yang ia katakan adalah kebenaran, atau
ia hanya akan diam. Sekalipun ucapannya terdengar aneh, tapi semua itu benar.
Mungkin karena kebenaran yang ia katakan melampaui nalar orang lain, mereka
jadi menganggapnya aneh. Yah, mayoritas selalu menang. Minoritas selalu
tertindas. Kita hidup di dalam masyarakat yang seperti itu. Tak heran jika ia
membuat tembok perlindungan agar dirinya mampu bertahan.
Aku bertanya,
kenapa bisa demikian. Ia hanya diam, lama sekali. Tapi aku sabar menunggunya.
Lalu dengan ekspresi seperti sedang mengeja, ia menjawab,
‘karena disana air
mata tidak ada.’
Kucerna kalimat itu
pelan-pelan. Setiap hari, aku memikirkan kata-katanya.
Suatu hari ia
menghilang. Aku mencarinya kemana-mana tapi tidak dapat menemuinya.
Satu-satunya hal yang ditinggalkannya hanya secarik surat yang ia taruh di atas
tempat tidurnya. Kubaca surat singkat itu, isinya;
"Jauh
di dalam, hujan ini menggenapi. Aku selalu berada di sana, terkunci dalam ruang
gelap yang terisolasi."
Aku paham.
Disana tidak ada
air mata. Hujan menggenapi rasa. Dia yang selalu terkunci di dalam ruang
terdalam yang gelap dan terisolasi. Di sanalah dia berada.
Kuarahkan
pandanganku pada jendela itu. Hujan masih turun dengan deras tanpa menimbulkan
suara. Kubuka jendela itu. Dan dalam hitungan ketiga, aku sudah melayang
bersama rintikannya yang menembusi tubuhku. Merasakan kesejukkan yang
menggigiti kulit. Menemui separuh dari diriku yang bersembunyi bersama hujan di
ruang terdalam yang terisolasi. Di dalam otakku.
No comments:
Post a Comment