Tuesday, June 25, 2013

Delusi



Title: Delusi
Author: DEADBORN
Rating: PG15
Genre: Angst
Chapter: One shot
Finishing: June 2013


Berulang kali, setiap malam...
                Kamu membuatku tak pernah sabar menanti malam. Karena hanya ketika malam tiba aku dapat membebaskan imajinasi terliarku, dengan kamu. Setiap hari. Sejak aku mulai mengenal kamu, enam tahun yang lalu, pada pertengahan bulan ketiga. Hingga saat ini, hingga nanti.
                Karena aku mencintaimu.
                Lebih dari itu. Tergila-gila, obsesi, sebut saja. Dan mungkin saja benar. Tapi bagiku, aku tetap bisa merasakan cinta sekalipun perasaan itu kadang menjadi saru dengan nafsu yang kurasa setiap kali aku mulai menjamahmu. Senyummu, desahmu, tangismu. Hembusan nafas yang menghangatkan ruang jiwa. Sapuan halus yang tenangkan kalbu. Bisikan rindu yang bangkitkan gairah. Uap hangat dari sisa-sisa cinta yang penuhi udara.
                Dan rasanya aku mulai gila.
                Tentu saja karena setiap kali malam tiba, kamu tak pernah alpa membawaku serta turut larut dalam permainan panjang yang kamu susun sedemikian rupa hingga akalku surut dan tak lagi aku bisa berlogika. Apa yang bisa kulakukan ketika otakku pun hanya mematuhimu? Kamu buat aku mabuk dengan secawan nafsu yang terhidang dalam arak bernama cinta.
                Bicaralah sesukamu.
               Akan kudengar, akan kupatuhi, akan kujalankan. Setiap untaian kata yang kamu keluarkan dari bibir semanis ceri itu, laksana titah. Apapun akan kulakukan. Sekalipun aku hancur, sekalipun aku harus mengakhiri hidupku dengan tanganku sendiri.
                Aku tak tahan lagi.
                Aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Delusi. Kamu dan semua yang pernah kita alami hanya sebagian dari ledakan imajinasi akan kamu yang kini terlalu sulit untuk aku raih. Meskipun kenikmatan yang kurasa itu bukan ilusi. Seremah surga yang kukecap hanya dengan hadirkan kamu kembali dalam setiap malamku, bermain dalam imajinasi yang membusuk dalam nafsu. Kamu turut mati bersama masa lalu. Aku hidupkan kamu lagi dalam kepalaku, dan kita tak akan pernah berhenti bercinta. Sebuah mimpi buruk yang berhasil memuaskan nafsu binatangku.
                Pagi akan segera tiba, dan kamu akan hangus dalam sinarnya.
                Kututup rapat semua pintu dan jendela. Kunyalakan lampu. Lihat, tidak ada yang berubah. Rasa pahit itu masih ada, dan akan selalu ada. Tidak seperti kamu yang kini tidak ada. Yang hanya ada di masa lalu, lalu kuhidupkan kembali dalam kepalaku, jika malam tiba. Aku selalu berharap matahari akan lupa bersinar, sehingga aku bisa bersamamu lebih lama. Tapi itu sama saja dengan berharap kamu hadir kembali.
                Matahari mulai meninggi, membakar malam.
                Aku mencintai kamu yang menyimpan keindahan yang tersirat dalam sedih yang kamu sebarkan. Aku yang egois, tak pernah ingin membagimu dengan siapapun. Keindahan yang hadir secara sembunyi-sembunyi dalam kehancuran emosi, kamu yang tak pernah sadari itu, hanya milikku sampai kapanpun. Meskipun aku harus mati dalam delusi ini, aku tidak peduli. Tidak ada yang bisa mencemari indahmu yang terlukis dalam guratan halus pada pergelangan tanganmu. Pada bekas-bekas cintamu yang mendalam pada rasa sakit. Hanya aku. Biarkan kini semua terbakar bersama malam. Tak apa. Malam nanti, kamu tak ubahnya burung phoenix yang akan kembali bangkit dari abu kematiannya, dan kita bisa menghabiskan satu lagi malam tenggelam dalam darah, keringat dan air mata.
                Apakah kamu mencintaiku?
                Pertanyaan yang tak pernah kuizinkan terlontar dari bibirku, dan tidak akan pernah kuucapkan padamu. Sejak awal kita bertemu, hingga fisikmu lebur bersama masa lalu. Hanya satu yang perlu aku tahu, kamu milikku. Dan hanya satu yang selalu kamu tahu, aku mencintaimu.
                Hari ini, kubiarkan diriku jatuh dalam jurang terdalam nafsu. Kudengar suara kamu memanggilku dari bawah sana.

Wednesday, June 12, 2013

Matahari



Title: Matahari
Author: DEADBORN
Genre: Fluff
Rating: PG15
Chapter: One shot
Finishing: May 2013


Pagi ini langit mendung, sayang.
                Saat aku membuka mata, tidak ada sapaan hangat matahari yang senantiasa membujukku untuk bangkit dari tempat tidur. Tidak ada lagi paksaan halus yang memintaku untuk meninggalkan sarang mungilku demi satu lagi pengalaman hidup. Aku berjuang bangkit dari tempat tidur. Kita bertemu setiap hari, tapi kini ini, tak kujumpai kamu sekalipun sinarmu. Aku rindu matahariku.
                Siang ini gerimis menitik, sayang.
                Saat aku duduk dihadapan pekerjaanku, kudengar ketukan-ketukan halus. Tak bisa kubedakan darimana ketukan itu berasal. Entah dari jendela, atau dari dalam hati. Rintik hujan itu tak bisa menjamah tubuh ini, namun hati terasa kuyup. Rindu itu rupanya menjelma, dan payungku berlubang. Meskipun mataku tak basah, bukan berarti air mata tak mengalir. Pertahananku terlalu lemah, tapi aku masih ingin berusaha menambal hati yang mengusang akibat terlalu merindu.
                Sore ini hujan menderas, sayang.
                Seharusnya aku pulang, tapi hujan ini menghalangiku untuk sampai ke rumah. Dari jendela, kulihat betapa muramnya langit. Tangisnya menderas. Suara guntur meraung, gemanya sampai ke hati. Itukah suaramu ketika merindu? Aku mencoba menutup indera pendengaranku dari semua suara. Gelegar guntur, suaraku, bahkan suara hatiku. Tapi aku tetap bisa mendengar suara kamu.
                Malam ini badai, sayang.
                Aku menyerah. Kubiarkan pertahananku rubuh dan tambalan rindu berlubang. Kubiarkan air mata tetap mengalir membasahi hati. Satu saja tombol untuk mengakhiri ini semua. Bahkan bulan pun membutuhkan matahari, bukan?
                “Ya?”
                “....aku kangen.”
                “Tunggu, ya. Aku akan segera tiba.”
                “Selalu.”
                Kusibak tirai hujan. Kutemukan kamu disana, di kaki pelangi. Matahariku.